Arsip untuk Kategori 'Teknologi'

Jatuhnya Pesawat Hercules

Yogyakarta, Rabu, 20 Mei 2009

Pagi ini, tepatnya jam 6.20, sebuah pesawat Hercules jatuh di daerah Magetan, Jawa Timur. Pesawat ini jatuh dan terbakar di daerah persawahan dan mengenai sejumlah rumah di daerah tersebut. Hingga malam ini, sudah ada 98 korban yang diketemukan meninggal dunia.
Aku sedih.
Semakin banyak manusia Indonesia yang menjadi korban akibat ditelantarkannya pengelolaan transportasi yang ada di Indonesia. Karena peralatan telah memasuki usia lanjut, orang-orang pengguna transportasi tersebut seperti diantar dengan menggunakan “peti mati”.

Aku heran.
Kecelakaan transportasi sering sekali terjadi di bumi pertiwi ini. Dari mulai tenggelamnya kapal laut, kecelakaan darat hingga jatuh atau tergelincirnya pesawat, makin menambah daftar panjang kejadian kecelakaan transportasi. Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh peralatan yang sudah tidak layak pakai (berusia lanjut), kesalahan manusia dan keadaan cuaca. Ada pula persoalan teknis (suku cadang dan perawatan) yang seringkali terkendala persoalan biaya. Tak heran, musibah demi musibah terus terjadi namun tak ada tindakan pencegahan dan penanganan lebih lanjut.

Sains Teknologi dan Ekonomi

Yogyakarta, Senin, 27 April 2009

Sains Teknologi dan Ekonomi. Demikian kiranya kompetensi diri yang harus kubangun mulai saat ini. Beberapa waktu lalu memang sempat tersusun komitmen. Namun penyakitku kambuh, aku tak konsisten. Komitmen tersebut tak kupegang kuat. Aku menjadi insan yang lemah tanpa kompetensi, harga diri dan percaya diri yang tinggi.
Dalam kerangka sains teknologi, aku memfokuskan diri pada matematika, fisika, sains dan teknik. Hal ini untuk menunjang profesionalisme diriku yang tergerus akibat ketidakjelasan arah dan tujuan hidupku. Sisa-sisa dari ketidakjelasan tersebut masih nampak hingga kini. Aku tak hendak membuangnya (hal-hal yang tidak sesuai dengan arah dan tujuan awalku). Aku akan menjadikannya pelengkap dan penunjang, hal yang akan memberikan pencapaian luar biasa pada diri dan kehidupanku pada jangka panjang, bukan di waktu ini saja.
Aku akan menguatkan kompetensi dan alur berpikir (nalar logika) sesuai dengan basis disiplin ilmu (profesionalitas keilmuan) yang kumiliki, Teknik Industri. Pemahaman yang kuat akan bidang ilmu akan membuatku memiliki suplemen harga diri dan percaya diri yang luar biasa. Aku akan mampu bertindak dan memimpin di bidang yang aku geluti.
Aku tidak akan berpikir keliru lagi, melakukan pembacaan yang salah dan menghasilkan negativitas di dalam kehidupanku. Misalnya, aku memandang miring mereka yang mencapai prestasi akademik tinggi namun secara sosial bermasalah (kecerdasan emosional dan berorganisasi nol). Namun, aku melawannya dengan tidak menunjukkan prestasi akademik yang setara. Seharusnya, aku mampu menunjukkan teladan bahwa prestasi akademik yang tinggi (luar biasa) dapat pula dihasilkan bersamaan dengan kecerdasan emosional dan berorganisasi (kepemimpinan) yang tinggi pula. Jadi diantara keduanya tidak saling menegasikan.
Dalam kerangka ekonomi, terutama bisnis, hal pertama yang mesti kujadikan orientasi adalah tabungan, baik itu tabungan dunia maupun tabungan akhirat. Orientasiku ke tabungan tersebut perlu didukung oleh kerja keras-produktif dan hidup sederhana. Hal ini dikarenakan tanpa keduanya, maka aktivitas menabung akan tumpul dan tidak bertahan lama. Sedangkan orientasi ke hal lain seperti investasi dan berwirausaha menunggu hingga alokasi tabungan cukup dan ada alokasi pula untuk investasi dan berwirausaha. Dengan demikian, impianku bakal terwujud secara perlahan karena ada langkah-langkah yang kulakukan untuk mewujudkannya.
Kepercayaan pada masa depan yang baik, cerah dan tidak bermasalah secara keuangan harus senantiasa terpatri di dalam diriku. Aku mengorientasikan diriku menjadi orang kaya, kaya bukan berarti tamak, serakah dan tukang menimbun. Namun kaya yang kumaksudkan adalah kaya yang gemar berbagi (beramal), dimana keberlimpahan itu berlangsung terus sepanjang hidupnya dan aktivitas berbagi (beramal) kelimpahan itu juga berlangsung dalam jangka waktu yang sama. Lagipula, orang yang kuat secara ekonomi (kaya/tidak miskin) akan menunjang pertumbuhan dan kematangan dirinya sebagai manusia apalagi manusia yang beragama, karena pada hakikatnya kemiskinan dekat dengan keterbelakangan dan kebodohan begitu pula dengan kekafiran (dalam konteks agama).

Jatuhnya Fokker-27

Pesawat Fokker-27 merupakan pesawat rakitan Belanda yang dibuat pada tahun 1975, lalu didatangkan ke Indonesia tahun 1976. Pesawat Fokker ini digunakan sebagai pesawat angkut berkapasitas kecil. Di Indonesia, pesawat ini salah satunya dipakai oleh TNI Angkatan Udara (TNI-AU).

Malangnya, Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh di hanggar PT. Dirgantara Indonesia siang kemarin. Seluruh penumpang pesawat tersebut, yakni 24 orang prajurit TNI AU meninggal akibat kecelakaan tersebut dengan keadaan yang mengenaskan. Kondisi cuaca hari itu memang buruk dan kondisi ini menjadi salah satu faktor dugaan sementara terhadap penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Dalam cuaca buruk, hal yang sangat membahayakan adalah tekanan angin dari atas maupun dari samping.

Namun, ada pula dugaan lain terkait penyebab kecelakaan tersebut yakni kondisi teknis pesawat tersebut. Hal ini dikarenakan pertimbangan pesawat tersebut tidak bermasalah di atas udara, namun kecelakaan terjadi ketika mendarat dengan adanya ketidakseimbangan akibat buruknya maintenance pesawat. Kebakaran terjadi karena pesawat menabrak hanggar dan sejumlah pesawat yang ada di sana.

Usia pakai juga menjadi pertimbangan terkait kondisi teknis pesawat tersebut. Yakni, pesawat tersebut berusia lebih dari masa pakainya, yakni 34 tahun (2009). Akibatnya, problematika operational dan maintenance dari pesawat tersebut. Analogi umur pesawat dengan umur manusia, dikonversikan 2.93 yakni 102 tahun, sehingga peralatan pesawat ini sudah uzur. Pesawat ini seharusnya di-recycle dan sudah tidak dipakai lagi.

Yogyakarta, Selasa, 7 April 2009

Engineer berkeadilan sosial

Menjadi insinyur (lulusan sarjana teknik) yang bekerja di perusahaan bonafide dan bergaji tinggi tentulah menjadi idaman setiap orang yang pernah menempuh perkuliahan di disiplin ilmu keteknikan. Insinyur memang menjanjikan kehidupan nyaman dan penuh fasilitas dimana pekerjaan menumpuk dan penuh beban menjadi tak terasa karena sebanding dengan hal yang diperoleh saat itu maupun sesudahnya. Insinyur menjadi incaran pilihan hidup sebagian besar manusia Indonesia.

Namun, semakin banyak insinyur di negeri ini tidaklah menjamin negeri ini menjadi semakin baik, makmur, dan berkeadilan. Insinyur yang hidup di dalam perusahaan-perusahaan atau badan-badan milik negara tidak memberikan kontribusi yang berarti di luar kompetensi mereka terhadap peri kehidupan sosial. Insinyur lebih menekankan kontribusi pekerjaan sesuai dengan kompetensi masing-masing dan hal tersebut dipandang sudah cukup untuk ukuran kontribusi profesi terhadap kebaikan dan kemajuan suatu bangsa.

Tak heran, jika perubahan sosial politik di negeri ini tidak lagi ditentukan oleh para insinyur, yang pernah menjadi pelopor perubahan fundamental di negeri ini, salah satunya Sukarno dan Habibie. Ruang gerak insinyur hanya terjebak pada ikatan alumni dan kepercayaan yang terbangun sebatas kesamaan almamater saja. Di sisi lain, ilmu di dalam bidang keteknikan tidak berkembang karena insinyur Indonesia sering rendah diri terhadap kemajuan teknologi luar negeri dan hanya mampu melakukan adopsi terhadap teknologi tersebut, bukannya melakukan reengineering.

Tidak hanya itu, insinyur terjebak pada logika pasar yang menawarkan pasar bebas, bahwa pasar adalah segala-galanya, bahkan melampaui wewenang negara (pemerintah). Sektor-sektor yang bukan menjadi komoditas perdagangan tidak diperhatikan, meski turut mendukung kondusifnya pertumbuhan sektor pasar itu sendiri. Akhirnya, insinyur menjadi rakus akan harta (bukan akan ilmu) yang menyebabkan terjadinya akumulasi uang (harta) pada segelintir orang dan kelangkaan uang pada jutaan manusia lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya ketidakadilan sosial (ekonomi).

Insinyur mestinya mampu menjadikan faktor ilmu (kompetensi, keahlian, hasil) menjadi ukuran pencapaian keberhasilan kerja keinsinyurannya. Pengembangan dan kemajuan di dalam sektor ini, baik bagi diri sendiri, perusahaan, maupun bangsa dan negara harus jadi prioritas. Memang, pemasukan yang diperoleh (dalam bentuk gaji, tunjangan) juga menjadi pertimbangan, namun bukanlah yang utama. Dalam ukuran minimal, pemasukan untuk menunjang kehidupan masa kini dan mendatang insinyur dan lingkungannya, lalu dalam ukuran maksimal pemasukan itu dapat digunakan dalam bentuk pemberian yang sebesar-besarnya bagi kepentingan agama, masyarakat, bangsa dan negara. Perwujudan pemberian dari insinyur itu sendiri dapat berbentuk macam-macam, bisa berupa sumbangan langsung, koperasi, badan usaha, perpustakaan, tempat ibadah dan amal sosial. Dengan demikian, seorang insinyur dapat turut serta dalam mewujudkan kehidupan berkeadilan sosial pada bangsa ini dan juga turut mendorong terjadinya perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Yogyakarta, Selasa, 17 Maret 2009

REFLEKSI SISTEM TI KPU

Masalah kerentanan sistem TI KPU (Teknologi Informasi Komisi Pemilihan Umum) memang sudah basi untuk dibicarakan, namun pengalaman Pemilu Legislatif 5 April 2004 bisa dijadikan pelajaran. Meski hasil perhitungan TI KPU hanya menjadi data sekunder (dikarenakan hasil yang sah ialah perhitungan manual) tidak ada salahnya saya coba me-review sedikit tentang sistem TI KPU. Apalagi hal ini sesuai dengan keterlibatan langsung penulis sebagai Supervisor Data Entry di Kecamatan Depok, Sleman, DIY (salah satu kecamatan terpadat di Indonesia, dengan 464 TPS).
Pemilu 2004 membutuhkan waktu lebih dari 1 bulan ketika perhitungan dilakukan secara manual dengan jumlah pemilih lebih 150 juta orang. Dukungan teknologi informasi dapat mempercepat proses ini dikarenakan waktu pernghitungan menjadi tak lebih dari dua pekan.
Sistem TI KPU ini telah menghasilkan kalkulator seharga 200 miliar, hal ini sudah lebih kecil dari desain sebelumnya yang bernilai 2,3 triliun. Dengan anggaran 200 miliar, jaringan tim TI KPU membangun jaringannya hingga tingkat kecamatan dengan lebih dari 8005 unit PC (Personal Computer) untuk PC tiap kecamatan, sedangkan desain sebelumnya hanya sekitar 350 unit PC di kabupaten atau kota.
Penghitungan suara pemilu dengan alat bantu TI akan menggunakan basis kecamtan sebagai entri data. Suara pemilih akan langsung dibawa ke kecamatan dari tiap TPS di seluruh Indonesia. Operator akan memasukkan data dari TPS ke komputer di kecamatan. Data yang telah dimasukkan ke komputer tersebut langsung dikirimkan ke Data Center di KPU Pusat. Operator direkrut dari para mahasiswa guna menghindari kesalahan input data, dengan jumlah sekitar 15 ribu orang. Alasan memilih mahasiswa sebagai operator ialah mereka sekaligus bisa menjadi kontrol apabila ada pihak yang berusaha berbuat curang. KPU akan mulai melakukan penghitungan dengan menggunakan suatu aplikasi, di mana aplikasi tersebut tetap melakukan analisis terhadap data yang berubah setiap waktu.
Data tidak akan terkirim melalui jalur internet karena jaringan internet bersifat publik dan rawan terhadap gangguan. Data dari kecamatan terkirim melalui jalur khusus yang akan digunakan untuk pengiriman data, di mana jalur tersebut tidak menggunakan jalur yang sudah ada namun Telkom benar-benar menarik kabel baru yang digunakan khusus untuk kepentingan Pemilu. Tim TI KPU bekerja sama dengan PT Telkom dan Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dalam hal ini.
Dengan jalur khusus ini, setiap operator di kecamatan akan memiliki user dan password yang khusus, jalur inipun hanya bisa digunakan untuk mengirimkan data itu, tidak bisa digunakan untuk browsing ke Internet sehingga bisa meminimalisir risiko gangguan.
Jaringan TI KPU yang dibangun sudah sedemikian aman dan realistis dengan pengamanan berlapis-lapis, termasuk memasang suatu aplikasi yang bisa mendeteksi adanya intrusi ke dalam sistem jaringan, yakni IDS (Intrusion Detection System), namun mengapa masih bobol juga?
Untuk mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan dan ketidaksamaan data yang dikirim oleh operator ke kecamatan ke Data Center, KPU telah membuat setiap komputer yang dikirim ke kecamatan memiliki setting seragam dan tidak dapat diutak-atik lagi.
Memang, sehebat apapun sistem yang dirancang oleh manusia tetap masih ada sisi kelemahannya. Tinggal bagaimana kita meminimalisir sisi kelemahan tersebut dan mendukung salah satu upaya memajukan bangsa kita lewat teknologi informasi.
Fastabiqul khairat