Yogyakarta, Jum’at, 19 Juni 2009
Dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah mendukung pasangan presiden dan calon presiden Jusuf Kalla-Wiranto dalam Pemilihan Presiden 2009. Hal ini diangkat sebagai tema berita oleh surat kabar Republika. Hal itu pulalah yang tersirat dari pengajian malam selasa PP Muhammadiyah di Kauman, dimana pengajian yang diisi oleh Ayahanda Kastolani itu mengetengahkan Maklumat PP Muhammadiyah terbaru terkait Pemilihan Presiden 2009.
Meski dalam Maklumat tersebut tidak secara tegas menyebutkan figur Jusuf Kalla sebagai calon presiden, namun dari pemillihan kata dan maksud yang terkandung dalam Maklumat itu mudah ditebak ke arah mana preferensi pilihan keputusan PP Muhammadiyah tersebut. Faktor identitas kemuslimanlah yang paling menjadi sorotan atas figur calon presiden dan wakil presiden berikut istri pendampingnya (keluarga).
Dalam konteks keluarga, Jusuf Kalla merupakan keturunan H. Kalla, seorang pedagang muslim yang giat di NU Sulawesi Selatan. Bisnis yang diturunkan ke generasi berikutnya, yakni kepada Jusuf Kalla makin berkembang pesat, sehingga menempatkan Jusuf Kalla sebagai salah satu pengusaha muslim nasional.
Latar belakang organisasi yang digeluti Jusuf Kalla adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga tidaklah diragukan komitmen dan keberpihakan beliau terhadap Islam. Beliau juga beristrikan Mufidah Kalla, seorang pegiat Aisyiah dan dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah di Sumatera Barat.
Begitu pula dengan Wiranto, purnawirawan TNI ini menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren Modern Gontor, sehingga jelaslah bahwa ada keberpihakan dirinya terhadap Islam. Memang, latar belakang keislaman Wiranto tidaklah sekental Jusuf Kalla, karena beliau dibesarkan dalam karir militer, bukan sipil berbasis Islam.
Pasangan ini juga pantas menyebut dirinya pasangan Nusantara, mengingat Jusuf Kalla berasal dari Sulawesi, Mufidah dari Sumatera, Wiranto dari Jawa dan istrinya berdarah Kalimantan. Memang, duet ini menjadi kombinasi yang unik akan pasangan calon presiden dan wakil presiden dibandingkan dengan pasangan lainnya, SBY-Boediono dan Mega-Prabowo yang lebih kental bernuansa Jawa.
Alhasil, pasangan ini memang pantas untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah (maupun NU) dan umat Islam dalam pemilihan Presiden 8 Juli nanti.
Arsip untuk Kategori 'Social'
Yogyakarta, Kamis, 4 Juni 2009
Pergulatan politik terjadi semakin sengit dalam waktu dekat ini. Perjalanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari pergulatan politik yang terjadi di dalamnya. Dalam pergulatan politik tersebut banyak diwarnai oleh para politisi yang mewarnai namun tak nampak adanya seorang negarawan.
Seorang negarawan adalah orang yang langka di negeri ini. Sebagian besar manusia Indonesia tergerus nilai-nilai kegotongroyongan dan kebangsaannya, menjadi individualis dan oportunis, begitu pula para politisi. Para politisi tak mampu bertransformasi menjadi negarawan, yakni meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok (golongan). Alhasil, pergulatan yang terjadi bukanlah pertarungan visi-misi dan ideologi, namun pergulatan antara kepentingan pribadi dan golongan para politisi.
Mampukah setiap anak bangsa ini menjadi seorang negarawan?
Negarawan di sini dalam arti mampu meletakkan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan pribadi ataupun golongan. Negarawan tidak mesti berasal dari wilayah politik, dalam bidang wilayah lainnya juga mampu menghasilkan para negarawan (misalnya ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi). Sehingga, dari setiap bidang wilayah mampu melahirkan kolektifitas para negarawan. Para negarawan inilah yang akan memikirkan, bertindak dan menjadi solusi atas permasalahan bangsa Indonesia.
Yogyakarta, Senin, Juni 2009

Pemilihan Presiden akan dilaksanakan tanggal 8 Juli mendatang, namun gemanya telah terasa sekarang. Ketiga calon presiden-wakil presiden, SBY-Boediono, Jusuf Kalla-Wiranto, Megawati-Prabowo terus gencar menggelar deklarasi, dukungan massa, dan dari berbagai kalangan dan tempat.
Yang tampak paling gencar dari ketiganya adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Mereka sangat gencar bahkan Jusuf Kalla sendiri hingga 9-12 kali menghadiri acara dalam satu hari. Alhasil, hal ini diperlukan dalam rangka menggempur kedigdayaan SBY yang menempati posisi yang menguntungkan karena sebagai presiden saat ini. SBY ditantang oleh dua kandidat, yakni JK dan Mega. Siapa yang bakal keluar sebagai pemenang? Aku lihat nanti.
Yogyakarta, Jum’at, 15 Mei 2009
SBY, sang Presiden Indonesia saat ini, akhirnya mendeklarasikan dirinya dan pasangan calon wakil presidennya yang baru, yakni Boediono. Deklarasi itu berlangsung meriah di Gedung Sabuga, Bandung. Deklarasi besar yang dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan para petinggi partai politik pendukung SBY.
Tepat sekali jika SBY memilih Boediono sebagai pasangan calon wakil presidennya. Boediono merupakan seorang muslim yang baik, loyal dan pekerja keras. Jelas, ketika dirinya pisah koalisi dengan Jusuf Kalla, maka dibutuhkan partner dirinya yang setia padanya. Dia tidak ingin ada konflik kepentingan politik terjadi di internal pemerintahan yang dipimpinnya.
Kombinasi dua orang cerdas di nusantara ini, terbukti dengan gelar doktor yang diraih oleh SBY dan gelar profesor ekonomi yang dimiliki oleh Boediono, maka tentunya akan menjadi panutan bahwa bangsa ini kembali dipimpin oleh orang-orang yang cerdas. Bahkan, bukan berarti terlalu jauh, ibarat Soekarno-Hatta, dengan analogi Boediono dengan Hatta yang ahli secara ekonomi pula. Ahli ekonomi memang begitu dibutuhkan bagi bangsa yang tengah membangun ini. Upaya penyelamatan bangsa ini dari jurang kehancuran krisis finansial membuat peran serta para ahli ekonomi dibutuhkan oleh bangsa ini.
Bagiku, duet ini menjadi duet yang cukup kuat untuk memimpin bangsa ini ke depan. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan pasangan capres-cawapres lainnya, Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo, kapabilitas mereka dalam hal intelektualitas dan kepemimpinan diragukan. Aku sangsi mereka mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini. Aku bisa menebak bahwa duet SBY-Boediono akan menang mudah di putaran pertama pemilu presiden kelak. Atau bahkan akan menang secara aklamasi karena tidak ada pesaing sebagai calon presiden dan wakil presiden.
Selamat melanjutkan, SBY-Boediono!!
Yogyakarta, Rabu, 13 Mei 2009
Beberapa bulan lagi, Zul akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Tepatnya di semester pendek ini. Dia mengobrol dengaku terkait kebutuhannya selama KKN nanti. Aku melayani pembicaraannya dengan harapan aku bisa membantu semampuku.
Satu hal yang cukup bermasalah dari KKN Tematik tentang Briket yang hendak dijalaninya adalah tema tersebut tidaklah berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Tema tersebut lebih bercirikan upaya penerapan teknologi baru yang tentunya tidaklah mudah apalagi dengan masyarakat desa dengan tingkat pendidikan yang rendah. Memang, kerap kali mahasiswa terjebak pada cara pandang yang demikian, berusaha menerapkan hal yang melangit pada masyarakat yang tidak sepenuhnya membutuhkan hal tersebut.
Seharusnya dalam pengelolaan pendampingan terhadap masyarakat, salah satu modelnya melalui KKN, mahasiswa dapat mendekatkan diri kepada masyarakat sehingga dapat melihat persoalan yang dihadapi masyarakat secara jernih. Mahasiswa tidaklah menempati menara gading sehingga berjarak dengan masyarakat. Upaya pemenuhan tema juga lebih diarahkan pada kaitan antara permasalahan yang dihadapi masyarakat dengan kemampuan analisis dan problem solving yang dimiliki oleh mahasiswa. Dengan demikian, melalui cara ini, KKN dapat menjadi benar-benar bermanfaat baik itu bagi pengembangan diri mahasiswa itu sendiri maupun pemberdayaan masyarakat.
KKN bukanlah ajang implementasi program dari pikiran mahasiswa yang muluk-muluk namun mentah dalam strategi dan teknis penerapannya. Lagipula, tingkat keterdidikan yang rendah dari masyarakat yang dihadapi tentunya menjadi halangan tersendiri untuk diterapkannya program KKN yang tidak sesuai dengan basis kebutuhan masyarakat. Alhasil, program KKN yang dicanangkan menemui jalan buntu atau sia-sia karena tidak ada dukungan yang cukup dari masyarakat.

Pesan dan Kesan