Oleh: Luqman Satriya Siambodo
Yogyakarta dilanda gempa bumi, akhir Mei lalu. Dukuh kami pun turut menjadi bagian dari wilayah korban gempa tersebut. Puluhan rumah roboh. Ada sembilan orang yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan. Belasan lainnya menderita luka-luka. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan.
Sebagian rumah yang masih berdiri tampak miring dan retak-retak. Kondisi rumah yang demikian tidaklah layak huni. Suatu saat bangunan itu bisa saja runtuh.
Kami masih merasa was-was akan terjadi gempa besar kembali. Apalagi gempa kecil kerap kali susul-menyusul terjadi. Karena masih khawatir, kami memilih untuk berada di luar ruangan.
Hari pertama kami terpaksa menggigil kedinginan karena hanya berteduh di pinggir-pinggir jalan. Sebagian lagi rela kehujanan karena tidak kebagian tempat berteduh. Malam itu gelap gulita karena listrik tidak menyala, mati sejak pagi hari. Hujan deras mengguyur, menambah dingin suasana hingga dinginnya menusuk tulang. Keadaan ini tidak banyak berubah hingga pagi menjelang.
Beruntung kami hanya mengalaminya pada hari pertama. Di hari ketiga, kami sudah bisa mendiami tenda. Bantuan tenda itu datang sehari sebelumnya. Untuk membuat tenda tersebut digunakan peralatan sederhana dan bahan yang ada di sekitar.
Untuk memenuhi kebutuhan tidur, kami harus berdesakan di dalam tenda. Tempat tidur laki-laki dan perempuan dipisahkan. Di sini kami semakin memaknai akan arti pentingnya memiliki tetangga. Di saat kami bisa merasakan tidur di bawah satu atap, tenda bersama.
Selain dipenuhi dengan orang, tenda ini juga menyimpan barang-barang berharga. Barang yang mudah diambil dan bisa diselamatkan warga juga ditempatkan di dalam tenda.
Tenda ini sejatinya bukan milik kami. Entah bantuan dari mana. Aku cuma menerima distribusi tenda ini dari Pak RT. Aku tidak terlalu mempersoalkan. Meski kuyakin bahwa setiap bantuan diberikan membawa misi, baik itu organisasi, partai politik, ataupun agama. Tidak semata-mata atas dasar kemanusiaan.
Kuterima saja bantuan yang berdatangan. Bukan masalah bagiku bantuan tersebut berasal dari mana, yang penting saat ini adalah kebergunaan dari barang bantuan tersebut. Apakah itu bahan makanan, tenda, atau penerangan.
Kami tidak rakus dan mementingkan diri sendiri. Gempa tidak membuat kami lupa dengan tetangga dan sanak saudara di sekeliling. Bantuan itu kemudian kami bagi rata. Tak lama setelah itu, kami distribusikan dari tenda ke tenda.
Memang, di saat seperti ini, masih ada saja manusia yang egois dan rakus. Sejumlah bantuan disimpan untuk kepentingan sendiri. Bahkan bantuan tersebut bertumpuk di tempat persembunyian. Bisa dikatakan, rasa solidaritas menjadi hilang. Ketika kepentingan perut diutamakan, keagungan hati dan ketajaman rasional menjadi dangkal. Sejalan dengan itu, nilai-nilai luhur seakan sirna karena terdesak oleh kebutuhan. Padahal, dalam kondisi setelah bencana seperti ini, amatlah dibutuhkan kebersamaan dan kegotongroyongan yang tinggi.
Kebersamaan kami sedang diuji. Seiring dengan ketiadaan akan apa-apa yang pernah dimiliki. Sanak saudara yang dicintai. Harta benda. Canda ria anak cucu yang tempo hari masih kami nikmati, kini telah hilang. Rumah yang senantiasa melindungi kami dari panas dan hujan. Dimana kami menyaksikan anak-anak tumbuh, kini roboh. Bangunan yang dulu kokoh berdiri, hilang dalam sekejap.
Kami yang masih hidup bersyukur masih diberi nyawa. Dengan demikian kami masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan hidup ini. Meski hari depan masih belum jelas dalam bayangan.
Hari depan yang tidak jelas juga muncul dari tidak adanya tempat untuk bernaung. Yang biasanya hidup nyaman di bawah atap rumah, kini terpaksa lebih banyak melihat langit angkasa sebagai atapnya.
Tidak hanya itu, sanak saudara yang meninggal tentu menimbulkan dampak kehilangan yang teramat sangat. Ada beberapa warga dukuh depresi. Gila. Hingga harus dilarikan ke rumah sakit jiwa. Memang, orang yang tidak kuat secara mental akan shock bila menerima bencana semacam ini. Hanya orang tabah dan rasionallah yang mampu menghadapi segala cobaan ini.
Aku pun masih sering kalut. Di hari pertama, aku cuma duduk dan melamun. Kebutuhan makan tercukupi dari bantuan yang datang, Bahkan kadang tidak makan di hari berikutnya, karena bantuan yang datang telah habis.
Beruntung aku punya Halimah, istriku yang tabah. Ketabahan akan kondisi mengenaskan yang menimpa keluarga kami dihadapinya dengan tegar. Konon, perempuan memang lebih tegar dalam menghadapi masalah bila dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki sebenarnya rapuh dan cenderung menutupi kelemahan itu dengan citra badan yang kuat dan perkasa.
Di saat itu, aku hanya mengamati satu-persatu puing-puing reruntuhan. Tak terasa kenangan manis yang terekam dalam pikiran terpanggil kembali. Kenangan akan masa-masa indah mendiami rumah tersebut, tentu tak akan bisa hilang.
Rumah ini dahulu hanya bisa kami kontrak. Setelah perlahan kami mulai bisa menabung tiap bulan, akhirnya rumah ini terbeli.
Aku dan istriku bekerja sebagai buruh pabrik susu di Yogyakarta. Dari hasil pekerjaan tersebut, kami bersusah payah memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan hingga melunasi rumah ini. Dengan begitu, kami sering mengorbankan keinginan hidup yang menggiurkan.
Aku masih berprinsip bahwa dalam keluargaku kebutuhan pokok yang terlebih dahulu harus terpenuhi. Kebutuhan akan makan dan minum, pakaian, dan tempat tinggal. Hal yang diluar itu sering hanya menjadi keinginan. Keinginan ini tidak akan habis bila terus kita turuti. Karena itu, sebisa mungkin, kami meminimalkan pemenuhan keinginan tersebut.
Hal ini berbuah pada tiadanya kemewahan dan kemegahan akan harta benda yang kami miliki. Ajaran ini hampir mirip dengan apa yang disampaikan dalam mata pelajaran Ekonomi semasa aku di Sekolah Menengah Pertama. Meski bangunan sekolah itu kini runtuh, namun bangunan ilmu yang diajarkan oleh guru-guru di sana kepadaku tidak turut runtuh. Masih relevan terpakai hingga kini.
Harta benda kami yang paling berharga adalah rumah. Rumah kami pun tampak sederhana. Hanya ada pagar tanaman menghias di bagian depan. Pohon jambu peninggalan pemilik lama masih kokoh di tempat. Buah yang manis dihasilkan tatkala musim berbuah tiba. Dedaunannya rimbun menambah asri.
Tanaman hias berjejeran di pinggir tembok rumah, tak kuingat masing-masing namanya. Istriku yang terbiasa menyirami dan merawat, di pagi maupun sore hari. Ketelatenan istriku tidak dapat kutandingi. Waktu tersebut biasa kugunakan untuk menimba air untuk keperluan kami. Atau mencari kayu bakar di hutan bersama Hamka, putra laki-lakiku semata wayang.
Di bagian dalam rumah hanya ada satu set kursi tamu lusuh warisan dari orang tuaku. Tidak ada hiasan dinding yang terpasang. Karena dinding itu sendiri belum kami plester dengan alasan klasik. Belum ada dana.
Ruang keluarga merangkap ruang tamu ini tidak menjadikan televisi sebagai barang hiburan utama. Melainkan yang kami punyai hanya sebuah akuarium bekas dengan salah satu sisi bagian yang agak retak. Akuarium itu pun berisi ikan yang tidak menarik, bukan ikan emas atau koi, seperti yang biasa dimiliki oleh pemilik akuarium. Namun, hanya ikan sungai yang kami dapatkan dari hasil memancing.
Dapur kami masih menggunakan kompor alam buatan sendiri. Bila hendak memasak, maka kami harus menggunakan kayu bakar. Memang pernah ada pemberian kompor minyak dari saudara atas kepindahan kami ke rumah yang baru. Namun, properti itu lebih banyak menganggur karena untuk menggunakan saja butuh biaya mahal. Harga bahan bakar yang digunakan kompor itu kini melambung tinggi. Kami tidak sanggup untuk memenuhi. Kami pun kembali ke alam.
Sayang, semua itu kini hilang. Tertimbun dalam reruntuhan yang ada di depan mataku. Aku belum tahu apakah benda-benda kenangan itu masih utuh atau tidak. Di pojok reruntuhan, masih berdiri dengan posisi miring lemari pakaian yang kami miliki. Lemari itu bersandar di dinding yang telah rontok sebagian. Adapun tempat tidur kayu yang kami biasa terlelap di atasnya tidak nampak. Timbunan reruntuhan itu mengubur semuanya.
Adzan maghrib telah berkumandang. Di sebelah barat tampak cahaya emas kemerahan. Sinar hangat itu muncul seiring mentari yang hendak berpamitan. Mereka hendak berganti giliran dengan malam yang bermandikan cahaya rembulan. Langit perlahan merangkak menuju gelap.
Aku bergegas menuju masjid pedukuhan seberang. Tak lupa kuajak Hamka. Sambil berjalan, dia masih sibuk membenahi sarung dan peci kecil yang dipakai. Halimah tidak ikut ke masjid, dia sedang menjalani siklus bulanan.
Aku bersyukur, hingga saat ini kami masih bisa menjaga shalat. Hal ini telah dibiasakan dalam keluarga sejak kecil, baik itu dari keluargaku maupun keluarga istriku. Didikan keluarga yang keras dalam hal agama menjadikan kami insan yang tidak tolerir terhadap hal-hal yang mengenyampingkan ibadah. Ibadah adalah nomor satu. Titik.
Aku masih ingat, almarhum ayah senantiasa mengajak shalat ke masjid. Masjid serasa menjadi rumah kedua kami. Betapa riangnya ayah mengajak anak-anak ke masjid. Guna mengisi waktu hingga shalat Isya tiba, aku dan teman-teman diajari mengaji oleh beliau. Ya, beliau seorang guru mengaji yang handal.
Tidak hanya itu, dakwah juga dijadikan sebagai panggilan hati. Beliau sering berdakwah ke pelosok daerah. Terutama daerah yang dijadikan incaran pemurtadan. Ataupun ke daerah yang masih sarat dengan aktivitas TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churofat).
Aktivitas dakwahnya tidak berhenti manakala bertemu dan menikahi ibuku. Bahkan, sering kami ditinggal selama beberapa pekan guna memenuhi tugas, panggilan dakwah. Meskipun sering bepergian, perhatian ke anak-anaknya tak berkurang. Belaian, nasihat, ajakan, sindiran halus, dan larangan masih terngiang di kepala. Kehadiran beliau masih terasa, walau telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Masjid terdekat ada di seberang sungai. Dukuh yang kami tinggali belum didirikan masjid. Kami harus menyeberangi jembatan untuk dapat mencapai ke sana. Hamka berlari ke teman-temannya ketika tahu mereka telah berada di sana. Aku sendirian menyusuri jalan setapak. Hanya ditemani gelapnya malam dan suara jangkrik. Padang ilalang melambai tertiup angin.
Di kejauhan terdengar sayup-sayup lagu pujian kepada Tuhan dan rasul. Bentuk budaya yang ada di daerah kami, sembari menunggu jamaah berkumpul. Budaya yang dianggap sebagai bid’ah oleh sebagian kalangan. Namun, budaya ini belum bisa hilang. Telah turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.
Dua dukuh yang berseberangan sungai ini amat kontras. Dukuh seberang terkenal sebagai dukuh santri. Anak-anak gemar shalat berjamaah dan mengaji, tak lupa pula yang telah berusia dewasa. Pemuda-pemudi dukuh ini tak jarang yang menempuh pendidikan pesantren di selatan kota Yogyakarta.
Hal ini jauh berbeda dengan dukuh yang kami tinggali, bisa dikatakan dukuh abangan. Orang yang rajin shalat berjamaah di masjid bisa dihitung dengan sebelah jari. Entah bila mereka melakukan kegiatan itu di rumah, atau bahkan tidak sama sekali. Yang kutahu, sebagian besar warga dukuh ini memiliki pesawat televisi bahkan merelakan untuk memiliki secara kredit. Cukup banyak waktu yang dihabiskan guna menyimak acara televisi. Apalagi tawaran hiburan dari televisi yang kian beragam membuat penonton enggan untuk beranjak dari menyimak acara televisi.
Tidak hanya itu, pos siskamling yang sedianya difungsikan untuk menjaga keamanan dan ketertiban malah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hampir tiap malam, pos tersebut dijadikan tempat berkumpul baik itu kaum tua dan muda. Mereka berkumpul untuk main kartu, karambol, pasang judi togel, bahkan hingga pesta mabuk-mabukan. Tidak heran bila setan pun turut pula berpesta pora dalam perkumpulan itu.
Apalah daya, nasihatku sering tak digubris. Mereka mengatakan aku sok alim dan sok suci. Anjuran untuk menunaikan shalat pun hanya jadi bahan tertawaan. Sebagai orang baru, aku diultimatum untuk tidak banyak tingkah dan membiarkan apa yang telah menjadi budaya di tempat yang kami tinggali.
Seakan mereka berujar, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa yang menganjurkan agar seseorang yang menetap di suatu tempat menaati aturan yang ada pada warga di tempat tersebut. Apakah mereka benar-benar memahami peribahasa ini? Atau mereka sengaja menafsirkan dengan seenak perutnya?
Yang jelas, jumlah mereka yang dominan tentunya mendukung untuk melanggengkan kemaksiatan yang dilakukan. Tidak hanya itu, beberapa santri dari dukuh seberang yang pernah ditugaskan ke dukuh kami untuk berdakwah banyak yang menyerah di tengah jalan. Mereka putus asa akan tekanan fisik maupun mental yang diberikan oleh penduduk dukuh abangan ini.
Namun, kondisi di dukuh santri lebih mengenaskan. Bukannya dalam hal keadaan warganya yang rusak, namun kondisi lingkungan yang timbul akibat bencana. Rumah yang ada di dukuh santri sebagian besar roboh, sedangkan jumlah rumah yang roboh di dukuh abangan yang kutempati tidak sampai separuh dari jumlah rumah keseluruhan. Konon, kampung dukuh santri termasuk jalur patahan gempa, sehingga efeknya begitu terasa. Lain halnya dengan kondisi rumah-rumah di dukuh abangan yang tidak separah itu. Aku jadi bertanya-tanya: adilkah jika Tuhan menghukum hamba-Nya yang alim dan taat beribadah sementara Dia malah membiarkan hamba-Nya yang lalim terus hidup? Bahkan hanya mau mengingat-Nya sejenak seusai gempa.
Hampir tiap waktu shalat berjamaah di masjid ini dipenuhi jamaah. Mungkin, hal itu pula yang masih membuat rumah Allah ini masih terus berdiri. Memang, jamaah waktu shalat Dhuhur dan Ashar paling sedikit jumlahnya, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Saat itu, warga tengah asyik di sawah dan ladang. Pakaian dan badan mereka kotor bercampur tanah. Kondisi yang tidak nyaman untuk melangsungkan shalat. Bisakah hal itu dijadikan alasan?
Muadzin mengumandangkan iqomah. Shalat berjamaah segera dimulai. Jamaah saling merapatkan shaf. Suasana mulai gelap, yang jelas membedakan hanya cahaya bulan. Kami shalat dalam keadaan remang-remang. Kurang menyenangkan, memang. Tapi, kami harus terbiasa dengan kondisi seperti ini. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Listrik memang belum menyala di tempat kami, semenjak gempa lalu. Maklum, daerah kami memang bukan jalur utama di daerah ini. Sehingga, pembenahan sarana prasarana umum amatlah wajar bila terlambat. Kami lalu menggunakan sarana yang ada. Lampu teplok pun jadi pilihan.
Bila dibandingkan dengan sebelum gempa, saat ini jamaah bertambah banyak. Syukurlah, berarti kesadaran warga untuk dekat dengan Tuhan makin tinggi. Kuharap hal ini bukan menjadi obat penenang sementara. Semoga bisa berlanjut hingga seterusnya. Shalat berjamaah yang terus terjaga dan warga bersama-sama meramaikan masjid dengan ibadah.
Meski demikian, kedekatan dengan Tuhan ini tidak lalu menjadikan hamba-Nya pasif. Kami pun harus menatap realitas kehidupan. Menata kembali kehidupan ke keadaan normal. Membangun lagi rumah yang telah ambruk. Dengan perlengkapan seadanya. Kami tetap harus kembali bekerja, sebagai penyambung hidup sehari-hari, meski belum ada kepastian bahwa tempat kerja kami selamat dari bencana. Entah kami akan mencari bantuan dan pekerjaan ke mana bila tempat kerja kami turut hancur. Kami hanya bisa bersabar, berdoa dan berusaha. Masalah hasil biarlah Allah yang menentukan.
Malam semakin gelap. Sebagian warga sudah mulai tertidur. Sedangkan beberapa kaum Adam masih terjaga.
Keesokan harinya, warga dukuh kami berembug di tanah yang cukup lapang dan teduh. Ada kesepakatan untuk membangun kembali rumah-rumah yang ada satu-persatu. Dengan bahan seminimal mungkin yang bisa didapatkan dari sisa-sisa reruntuhan.
Bangunan yang tidak terlalu parah kerusakannya, baik itu rumah, sekolah, maupun tempat ibadah, kami perbaiki terlebih dahulu. Supaya bisa segera dihuni dan digunakan untuk kemanfaatan bersama. Sedangkan bangunan yang miring akan dirobohkan. Hal ini kami lakukan sambil menunggu janji Pemerintah yang akan mengucurkan bantuan untuk membangun kembali daerah kami.
Ya, janji tinggallah janji ……
Yogyakarta, 29 Juni 2006
Pesan dan Kesan