Yogyakarta, Senin, 4 Mei 2009
Kecerdasan emosional memegang peranan penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosioanl menumbuhkan kesadaran diri dan kesadaran lingkungan (kepekaan sosial). Kecerdasan emosional juga memainkan perannya dalam perkembangan kehidupan seseorang secara bertahap. Seseorang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan mengalami kesuksesan (baca: kebahagiaan) di dalam hidupnya meskipun dirinya memiliki kecerdasan intelektual yang rendah.
Analogi terhadap kecerdasan emosional pernah diujicobakan di Stanford University, uji coba ini dinamakan “uji marshmallow”. Pada suatu saat, dua orang anak kecil ditempatkan pada ruang balon tertutup berbentuk marshmallow. Kedua anak itu masing-masing diberikan satu potong kue oleh gurunya. Sang guru lalu memberikan petunjuk bahwa masing-masing boleh memakan kue itu jika terasa lapar (atau saat ini juga), namun jika si anak mau menunggu hingga satu jam hingga gurunya datang kembali, maka anak yang masih memiliki kue yang utuh akan diberikan tambahan satu potong kue lagi.
Di sinilah letak kecerdasan emosional seseorang terukur, meski tak terlalu nampak dalam masa kanak-kanak, namun hal tersebut dapat saja diprediksi ketika si anak telah menjelang dewasa. Anak yang memilih memperturutkan rasa laparnya dan memakan sepotong kue tersebut kurang memiliki kecerdasan emosional yang baik. Dirinya tidak mampu bersabar untuk menahan diri sejenak hingga tiba waktunya dirinya mendapatkan satu potong kue lagi dan dapat menyantap keduanya. Si anak hanya berpikir tentang dirinya sendiri, kedisinian dan kekinian.
Hal ini berbeda dengan anak kedua (anak yang menahan rasa laparnya dan membiarkan sepotong kuenya utuh). Anak ini memiliki kecerdasan emosional yang baik karena dirinya tidak memperturutkan rasa laparnya dan mampu bersabar untuk mendapatkan potongan kue yang kedua. Si anak juga belajar bahwa ada proses, usaha dan kesabaran dalam jalan seseorang dalam memperoleh sesuatu (target, cita-cita, impian, harapan) sehingga kecerdasan emosionalnya terbentuk dengan baik. Tidak hanya itu, ada perasaan lebih yang tumbuh pada dirinya ketika mendapatkan hasil (yakni potongan kue yang kedua) karena mampu melewati ujian dibandingkan dengan anak yang pertama. Dirinya merasa lebih baik dari anak pertama.
Tayangan stasiun televisi di Indonesia memang sebagian besar tak bermutu. Suguhan kepada pemirsa hanya seputar gosip artis, sinetron dan reality show. Tak heran, pemirsa televisi menjadi tidak cerdas. Bagaimanapun, mereka memperoleh tayangan demikian dengan gratis (tanpa harus membayar seperti pay-TV) sehingga tayangan televisi seperti apapun mau tidak mau, suka tidak suka mereka telan juga. Parahnya, pemilik stasiun televisi teramat berpatokan pada rating suatu tayangan, bukan pada mutu tayangan tersebut. Hal ini berakibat jika suatu tayangan tidak bermutu namun rating bagus (jumlah penonton banyak), maka akan dipertahankan dan dipoles sedemikian rupa sebagai ajang pengeruk pemasukan dari iklan.
Pesan dan Kesan