Arsip untuk Kategori 'Organization'

Intelektualitas HMI

Yogyakarta, Ahad, 14 Juni 2009

Intelektualitas kader-kader HMI memang patut diakui. Kecintaan mereka terhadap dunia buku begitu tinggi, tidak hanya itu, kemampuan dan kemauan mereka membaca buku pun begitu kuat. Kemampuan dan kemauan tersebut ditunjang oleh kuatnya diskusi yang dibangun baik itu secara formal maupun non-formal.
Kekuatan bacaan nampak pada banyaknya buku-buku kunci dalam disiplin keilmuan pergerakan kemahasiswaan, yang menjadi koleksi perpustakaan pribadi mereka. Mereka bukan orang yang buta terhadap pemikiran di luar disiplin ilmu mereka. Mereka juga tidak terjebak menjadi spesialis ilmu yang sempit dan hanya menaruh perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan bidang perkuliahan saja.
Wawasan mereka begitu luas sehingga mampu melihat permasalahan dalam berbagai sudut pandang, terutama pada persoalan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan (dalam konteks trilogi gerakan mereka). Memang, disamping kelebihan-kelebihan tersebut, aku menyimak sejumlah kekurangan (ada yang berkorelasi dengan intelektualitas, ada pula yang tidak) yakni soal logika yang terbangun masih rapuh, dan kekuatan berislam dan bermasyarakat tidak kuat (lebih cenderung ke jaringan dan politik).
Dalam kurun waktu kontemporer, aku melihat figur-figur semacam Natsir Siregar, Oka Aditya, Ulil, M Iqbal, Sigit Pamungkas merupakan ikon-ikon intelektualitas di dalam tubuh HMI, yakni HMI Cabang Bulaksumur. Aku yakin, mereka juga akan memiliki peranan penting dalam pergolakan politik yang terjadi di Tanah Air. Jejaring dan kekerabatan yang kuat di dalam tubuh dan jiwa intelektualitas mereka menumbuhkan semangat pengabdian (jika tidak dikatakan politis) pada bangsa ini. Bagiku, hal ini merupakan intelektualitas gerakan yang perlu diteladani baik itu secara pribadi maupun organisasi.

DAM IMM BSKM 2009

Yogyakarta, Kamis, 4 Juni 2009

Pekan ini dilangsungkan DAM (Darul Arqam Madya) di gedung PWM DIY dari tanggal 1-6 Juni 2009, penyelenggaranya adalah PC IMM BSKM, organisasi tempatku bernaung tempat dimana pula aku pernah mengemban amanah. Aku mengira bahwa DAM hari ini diadakan di Gedung PWM DIY, ternyata tidak, dikarenakan tempat tersebut (PWM DIY) digunakan untuk pertemuan Majlis Dikdasmen, maka pelaksanaan DAM dipindah ke gedung PP Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Tenyata, aku salah tempat. Sekiranya aku mengetahui sejak di jl. KH Ahmad Dahlan tadi, aku tak perlu lebih jauh berkendara menuju ke Jl. Gedong Kuning.
DAM ini diikuti oleh 40 orang peserta. Aku hanya mengamati dari luar ruangan, bahwa ada Ghifari, Imi dan Qolbi yang terlibat. Di sana juga ada Kiti, Ana, Isni, Ari yang terlibat sebagai panitia. Tidak hanya itu, aku bertatapan pula dengan Irawan, Ketua Umum IMM BSKM, yang pada saat itu juga merangkap sebagai Instruktur DAM. Aku sempat memberitahukan tentang telah hadirnya Arie Sujito, pembicara pada sesi berikutnya (jam 10 pagi).
Aku juga bersua dengan (Mas) Arif Nur Kholis. Dia sedang mengambil sejumlah gambar (foto) dengan kamera terbaru yang dibawanya. Aku diceritakan tentang beberapa gambar yang telah diambilnya hari itu. Mas Arif masih tetap sama, orientasi dan pembahasan teknisnya begitu tinggi, namun dia selalu tak berkeberatan untuk menjelaskan pada orang lain. Hari itu, Mas Arif juga kebagian sarapan dari panitia, namun aku menolak karena hanya sebentar saja berada di sana. Aku mesti segera pulang. Tugas utamaku pekan ini menanti di rumah (kost).
Aku bangga bahwa generasi penerusku, di bawah kepemimpinan Irawan sebagai Ketua Umum, mampu menyelenggarakan event tersebut. Artinya, terjawab sudah keresahanku selama ini akan optimalisasi perkaderan, regenerasi dan keberlanjutan di ruang lingkup organisasi ini. Aku sudah legawa untuk melepas perjalanan PC IMM BSKM ini selanjutnya tanpa kemudian diriku terlalu banyak terlibat (hanya dalam forum-forum utama dan informal saja/sekilas). Akhirnya, aku siap untuk mengabdikan diriku pada konteks yang lebih luas, pada masyarakat dunia, bangsa, umat dan persyarikatan.

Pelantikan LSG DPD

Yogyakarta, Ahad, 17 Mei 2009

Aku datang ke pelantikan LSG DPD pagi ini, setelah diriku menyempatkan diri untuk ke toko buku Toga Mas terlebih dahulu. Pelantikan ini berlangsung di gedung PWM DIY. Aku berinisiatif untuk hadir dalam pertemuan ini karena diundang oleh pengurus DPD (yakni Jefri Fahana). Sebagai muslim yang baik, tentunya aku harus memenuhi undangan tersebut. Aku ingin menjalin silaturahim dengan lebih baik bersama kawan-kawan IMM (Muhammadiyah) yang telah kubangun selama ini. Tidak hanya itu, ada sejumlah info yang berhasil kudapatkan di forum kali ini. Informasi tersebut adalah:
1. Adanya pengajian keluarga sakinah yang diadakan di PWM dengan inisiatif dan kepesertaan Khatib, Farid, Sucipto, Fatur, Asrofi dan diselenggarakan tiap Ahad pagi. Tidak hanya itu, pengajian ini diisi oleh pemateri Bapak Khoiruddin Bashori.
2. Bakal diselenggarakannya resepsi pernikahan Immawan Ajip pada tanggal 31 Mei 2009 di Ngawi. Sejumlah rekanan IMM berencana untuk bertandang ke sana. Aku juga berencana akan turut serta dalam rombongan ini.
3. Ada niatan dari Tifa dan Asih untuk mengikuti pengajian Padang mBulan yang diasuh oleh Cak Nun. Pengajian ini biasanya diselenggarakan pada tanggal 17 malam. Aku sudah lama ingin terlibat dalam acara ini, namun belum kesampaian. Lagipula, esok hari aku mesti ujian komprehensif dan konsultasi skripsi di kampus, aku tak bisa mengabaikannya.
Seharusnya, cintaku juga turut dilantik hari ini. Namun apalah dinyana, sakit yang masih dideritanya membuatnya tak bisa bergerak kemana-kemana (artinya, mobilitas dirinya sangat terbatas). Aku sempat tersenyum simpul tatkala Anang (Ketum DPD IMM DIY) melantik kala itu dan menyebutkan bahwa cintaku tidak bisa hadir dikarenakan sakit, tidak hanya itu, seluruh peserta dimohonkan doanya agar cintaku bisa segera sembuh. Cintaku telah banyak didoakan, apalagi oleh rekanan seorganisasinya.
Ada banyak hal yang dapat ditemui ketika aku mau merajut jalinan silaturahim. Ada kenangan manis dan pahit yang terjalin bersamaan dengan terbangunnya sebuah hubungan. Kedewasaan berpikir dan bersikap amat menentukan manakala seseorang itu dapat hidup bersamaan dengan orang lain di sekitarnya. Benar kata Nabi, bahwa silaturahim itu memperpanjang umur dan memperbanyak rejeki. Aku akan mengembangkan sayap silaturahimku lebih luas lagi, ke FAM (PII), FLP, lintas agama, lintas gerakan mahasiswa. Aku harap hal ini bukan hanya bualanku belaka.

MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH KULTURAL

Sebuah lompatan tengah dilakukan oleh salah satu organisasi modern terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yakni dengan melakukan Dakwah Kultural. Muhammadiyah yang selama perjalanannya dikenal anti Takhayul, Bid’ah, dan Churofat (TBC) dalam hal ini akan berhadapan dengan budaya sebagian besar masyarakat Indonesia yang kental dengan nuansa ketiga hal di atas. Anggapan bahwa dengan purifikasi yang dilakukan Muhammadiyah berarti Muhammadiyah anti terhadap budaya juga tidak sepenuhnya benar, namun di sini Muhammadiyah belum bisa menempatkan diri mana budaya yang bisa mendukung gerakan da’wah yang dilakukannya.

Mengangkat budaya lokal sebagai media dakwah tentunya cukup menarik karena fenomena berdirinya Muhammadiyah identik dengan pengadopsian kemajuan kala itu, yakni dalam hal media amal usaha yang berupa wilayah pendidikan dengan pendirian sekolah-sekolah; wilayah kesehatan dengan pendirian rumah sakit; dan wilayah sosial dengan pendirian panti asuhan. Di sini bisa dikatakan Muhammadiyah telah bergerak melampaui zamannya karena waktu itu Islam identik dengan pendidikan pesantren tradisional. Definisi kemajuan pada kala itu juga perlu dipertegas karena dalam hal ini Muhammadiyah mengadopsi pola-pola (budaya) Barat dalam menjalankan gerakan dakwahnya, terutama dalam rangka membendung Kristenisasi. Di sini akan jadi pertanyaan, mengapa tidak dengan budaya lokal?

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemantik lahirnya gagasan Dakwah Kultural. Ranah dakwah yang kurang disentuh oleh Muhammadiyah, terbukti dengan kurang efektifnya Lembaga Seni dan Budaya yang dimiliki oleh organisasi ini dirasakan keberadaannya dalam masyarakat Indonesia. Memang bisa dikatakan Lembaga ini sudah bermain di belakang layar dalam beberapa sinetron yang bertemakan Islam yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta. Dan ini bisa dikatakan sukses dalam perspektif organisasi dikarenakan dakwah kultural bisa dijalankan lewat media televisi yang notebene untuk saat ini berpengaruh besar pada pembentukan budaya masyarakat Indonesia.

Memang muncul beberapa pandangan terhadap Dakwah Kultural, sebuah konsep yang dihasilkan dari Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar Bali pada bulan Januari tahun 2002. Pandangan pertama yakni kekhawatiran bahwa Dakwah Kultural ini mempunyai makna Muhammadiyah akan membenarkan praktik-praktik keagamaan yang sarat dengan TBC. Dakwah itu pada hakikatnya kultural sehingga tidak perlu diberi kata sifat kultural, merupakan ciri pandangan kedua. Dan pandangan ketiga bahwa dakwah kultural ini merupakan sebuah keniscayaan atas realitas sosial budaya yang selama ini diabaikan oleh gerakan dakwah Muhammadiyah.

Fenomena Dakwah Kultural ini cukup menarik bila kita hendak melakukan studi empiris terhadap dua ormas Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. NU yang bercorak berpegang teguh pada nilai-nilai tradisi, dari kalangan mudanya terjadi lompatan pembebasan pemikiran, begitu pula secara institusi NU mulai membangun sekolah-sekolah modern karena selama ini pesantren yang dimiliki merupakan hak milik/ atas nama kyai yang mendirikan, bukan atas nama organisasi. Di sisi lain, Muhammadiyah melirik pengembangan dakwah melalui pesantren, bisa jadi karena keterbatasan sekolah yang selama ini telah didirikan dimana harus mengikuti kurikulum Pemerintah.

Dakwah Kultural ini bisa jadi sebuah kilas balik dari gerakan dakwah yang selama ini dilakukan oleh Muhammadiyah, bisa jadi ini sebuah kemunduran jikalau kemodernan yang dilakukan Muhammadiyah dalam tiga konsentrasi wilayah garap dakwahnya tidak mampu mengikuti perkembangan zaman lagi (dalam sebuah anekdot Muhammadiyah telah berpikir dan bergerak melampaui zamannya-kala itu). Namun hal ini bisa dikatakan sebuah kemajuan manakala Muhammadiyah berusaha memperluas wilayah dakwahnya terhadap masyarakat Indonesia, terutama yang anti terhadap gerakan purifikasi anti TBC, dan setidaknya bisa memperkecil potensi konflik yang selama ini jadi penyebab antara dua organisasi Islam di Indonesia ini.

Pola Dakwah yang berkembang saat ini bisa dikatakan tidak mampu mengakomodir terhadap perkembangan

Lalu bagaimana sebaiknya Muhammadiyah bergerak dalam Dakwah Kulturalnya ini?

MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI

Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri.

Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau telah tergerus pula oleh arus globalisasi. Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan. Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan. Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem, sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini. Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan. Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah alternatif yang dapat menampung ekonomi lemah tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah negeri, Nasrani, bahkan internasional.

Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai sekarang.

Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah. Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan kader-kader yang masih idealis bertahan pada prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.

Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri. Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa struktural pusat memang tidak mengakar dan asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah yang berada di Ranting terhadap Pusat atas inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.

Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting. Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu dilaksanakan dalam konteks lokal oleh Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang, maupun ranting.

Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah. Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau. Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah. Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit independen terhadap struktural maupun amal usaha Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan dengan norma agama dan standart profesionalitas organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah organisasi.

Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah cenderung memihak yang dominan dan banyak materi, seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang kreatif dan autonom. Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa ksatria pasti menjawab sanggup

*Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa

Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006

Halaman Berikutnya »