“Memimpin Muhammadiyah sama terhormatnya dengan memimpin negara”. Demikian ungkapan Yudi Latif, direktur Reform Institute, mantan Rektor Universitas Paramadina, di majalah Suara Muhammadiyah edisi dua pekan awal bulan ini.
Muhammadiyah sendiri lebih tua daripada negara Indonesia. Negara ini baru genap berusia 69 tahun pada Agustus mendatang. Sedangkan, Muhammadiyah tengah menjelang usianya yang satu abad. Tentunya, bisa dikatakan bahwa Muhammadiyah lebih besar daripada bangsa ini dan berjasa banyak bagi perkembangan dan kemajuan negara ini.
Menjadi pemimpin Muhammadiyah tentunya sama terhormat dengan memimpin negara ini, mengingat Muhammadiyah menjadi salah satu pilar penting terbentuknya negara ini. Kegiatan amal usaha dan amal sosial Muhammadiyah juga turut menopang terselenggaranya negara bangsa ini dengan lebih baik. Hal tersebut dapat terjadi berkat kepemimpinan yang baik di kalangan Muhammadiyah. Oleh karena itu, pemimpin negara tak dapat melupakan begitu saja peran para pemimpin Muhammadiyah.
Di samping itu, dari rahim Muhammadiyah, lahir pemimpin-pemimpin berkualitas nasional bahkan internasional yang membawa bangsa ini meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, melaksanakan reformasi, dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam setiap denyut nadi perjalanan kehidupan negara-bangsa ini, Muhammadiyah selalu mengambil peranan penting. Muhammadiyah tak pernah ketinggalan untuk memberikan kontribusi sebesar-besarnya bagi kemajuan bangsa ini.
Aku memang tak lagi memimpin Muhammadiyah saat ini. Saat ini aku masih mengalami krisis kepemimpinan diri sendiri. Aku sedang mengalami masalah akut terkait persoalan diri sendiri yang tak bisa menjadikanku mampu memimpin orang lain, organisasi (Muhammadiyah) bahkan bangsa ini. Aku masih berusaha untuk membenahi diriku dari waktu ke waktu.
Yogyakarta, Kamis, 2 April 2009

Pesan dan Kesan