Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009
Ada fenomena menarik yang aku tangkap dari membaca sejumlah biografi tokoh-tokoh besar bangsa ini, salah satunya Tan Malaka. Bagaimanapun, aktivitas keilmuan para tokoh bangsa tidak dapat dilepaskan dari membaca, menulis dan mendidik. Mereka pasti melibatkan ketiga hal tersebut dalam kehidupannya. Jika dirunut lebih dalam akan perjalanan hidup mereka, maka dapat ditemukan bahwa tiga aktivitas tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya.
Ketika para tokoh itu menulis, maka ada yang menggunakan tulisan tangan, namun ada pula yang menggunakan mesin ketik. Di masa lalu, melalui pendidikan, diajarkan pula cara menulis indah. Sehingga, pada masa tersebut, dapat kita dapati generasi yang dapat menulis dengan indah dan bagus. Menulis dengan tangan menjadi bagian dari rasa seni dan artikulasi keilmuan yang dimiliki oleh seseorang.
Namun, tidak sedikit yang ditemukan bahwa alat bantu seperti mesin ketik juga telah mulai digunakan. Mesin ketik ini lebih memudahkan dalam urusan penggandaan tulisan dan pembuatan format baku dalam kebutuhan penulisan formal. Alhasil, mesin ketik juga menjadi bagian dari aktivitas menulis, disamping menulis dengan tangan.
Memang, pekerjaan utama para juru tulis (ketik) adalah menulis (mengetik). Bagiku, aktivitas menulis atau mengetik yang dilakukannya bukanlah aktivitas sambil lalu dimana dirinya hanya sebatas melaksanakan pekerjaan saja. Aktivitas tersebut juga melibatkan olah rasa dan olah pikiran dari penulis (pengetik) tersebut. Artinya, secara tidak langsung, menulis (mengetik) yang dikerjakan juga memacu aktivitas pikir yang ada di dirinya. Alhasil, dirinya juga ikut berpikir akan hal yang dituliskan atau diketikkan tersebut. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang pada mulanya hanya menjadi seorang juru ketik namun mampu mentransformasikan diri menjadi penulis pemula bahkan mampu menghasilkan sejumlah karya di kemudian hari. Hal ini dikarenakan aktivitas menulis (mengetik) yang dilakukannya telah menjadi kebiasaan yang menyatu di dalam kehidupannya.



Pesan dan Kesan