Arsip untuk Kategori 'Filsafat'

Sema Dance

Sema Dance merupakan tarian yang diajarkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, seorang mistikus dan sufi abad Pertengahan. Tarian ini merupakan pengiring dari pengajian yang diadakannya oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Tarian ini menjadi salah satu pertunjukan musik dan tari di negeri asalnya, Turki. Aku menikmati liputan tentang Sema Dance malam ini di salah satu stasiun televisi.

Penari Sema mengenakan baju panjang (mirip gamis) berwarna putih. Di awal pengajian maupun selama penayangan pertujunjukan, para performer mengenakan baju putih yang dirangkap baju berlengan panjang berwarna hitam. Warna hitam ini melambangkan alam akhirat (keabadian), sedangkan warna putih melambangkan alam dunia. Tidak hanya itu, para performer mengenakan topi sejenis peci namun lebih panjang yang melambangkan nisan, dimana hal ini berarti manusia dianjurkan untuk selalu mengingat (memikirkan) kematian.

Tarian Sema dimainkan oleh beberapa orang yang menari dengan cara berputar-berputar dengan perlahan tangan kiri diangkat ke atas dan tangan kanan di samping. Di samping itu, kepala juga menengok ke samping. Hal ini melambangkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya tujuan. Pada hakikatnya kehidupan ini adalah cinta kasih. Cinta kasih tersebut lalu disebarkan ke seluruh dunia. Makna yang dalam diungkapkan lewat tarian yang mistis dan religius ini.

Bisa dikatakan, Sema Dance diciptakan oleh Jalaluddin Rumi sebagai sarana untuk menyampaikan maksud dan isi ajaran-ajarannya kepada khalayak umum. Aku yakin, pemahaman filsafat Jalaluddin Rumi begitu mendalam sehingga mampu menyampaikan hal yang hakiki dalam hidup ini dalam bentuk simbol-simbol seperti dalam tarian Sema. Aku jadi semakin termotivasi untuk menekuni filsafat sebagai basis ilmu dasar yang hendak aku kuasai. Ternyata, filsafat memang benar-benar bermanfaat untuk menemukan hakikat kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.

Yogyakarta, Senin, 6 April 2009

Cita-cita Marx

Cita-cita Marx, sebagai seorang intelektual, sebagaimana tergambarkan di dalam karya-karyanya, salah satunya yakni masterpiece-nya yang berjudul Das Kapital, adalah masyarakat tanpa kelas. Marx memang mengidealkan sebuah kondisi masyarakat dimana tidak ada kelas di dalam masyarakat. Menurut analisis Marx, selama ini masyarakat terbagi di dalam dua kelas, yakni power (memiliki kekuatan) dan power less (tak memiki kekuatan). Kalangan yang tidak memiliki kekuatan seringkali menjadi ajang penindasan bagi kalangan yang memiliki kekuatan. Hal inilah yang mengakibatkan Marx mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi ketidakadilan (ketimpangan) di dalam masyarakat.

Seharusnya, di dalam ruang masyarakat tersebut, masyarkat yang power less diberikan pemberdayaan. Pemberdayaan ini bertujuan agar mereka dapat memiliki daya tawar dengan kelas masyarakat yang memiliki kekuatan. Ketidakberdayaan kelas yang tak memiliki kekuatan tertutupi oleh adanya negosiasi (ruang dialog) yang terjadi diantara kedua kelas yang berbeda tersebut. Harapannya, setelah terjadi negosiasi diantara keduanya, terjadi kelas yang sama, dimana tidak ada sekat lagi yang memisahkan.

Kupikir hal inilah gambaran secara kasar terhadap cita-cita Marx. Aku memang belum mengenal Marx dengan baik. Baik itu diriku memahami sejarah hidupnya maupun pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya. Aku memang kurang membaca karya-karya beliau. Tentunya hal ini menjadi kekurangan yang parah bagiku, yang dapat diartikan perkembangan intelektualku tak berkembang cukup signifikan karena kurang membaca dan memahami karya-karya orang besar. Aku harap aku bisa mengoreksi kekurangan ini. Aku mesti mampu mengalokasikan waktu yang ada untuk membaca salah satu karya-karya intelektual Marx.

Yogyakarta, Kamis, 26 Maret 2009

Pengetahuan, Kebijaksanaan dan Nurani

Tidak semua hal di dunia ini yang harus terukur oleh materi. Dunia kontemporer memang telah menggila, manakala hampir keseluruhan sendi kehidupan diukur oleh materi. Hampir tidak ada hal yang tidak dinilai dengan ukuran uang (harta). Hal ini akibat meluapnya individualitas dan rasa kepemilikan yang tinggi, bukannya kolektivitas dan keinginan untuk berbagi. Namun, di tengah dunia yang menilai segala hal dengan ukuran harga, ada tiga hal yang tidak ternilai harganya di dunia ini. Ketiga hal itu adalah pengetahuan, kebijaksanaan dan nurani.

Pengetahuan merupakan hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia. Seseorang dapat saja kehilangan harta, teman, sahabat, kekuasaan dan hal itu tak menjadi malapetaka secara keseluruhan di dalam hidupnya. Namun, seseorang tidak dapat menjalani kehidupan ini tanpa memiliki pengetahuan. Tentunya, perjalanan kehidupan yang ditempuh juga dipengaruhi oleh faktor tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Tingkat pengetahuan seseorang ini didukung oleh faktor pendidikan formal, kuantitas dan kualitas bacaan, pergaulan, kemampuan untuk disiplin pada sejumlah guru (pakar) di bidangnya.

Kebijaksanaan merupakan buah dari pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka dia akan semakin tahu akan banyak hal. Di satu sisi, dirinya dapat menjadi sombong hingga tiba masa-masa kejatuhannya. Namun di sisi lain, dirinya akan semakin sadar diri bahwa dia baru tahu secuil (tidak tahu apa-apa) di tengah luasnya dunia ilmu yang ada. Kesadaran diri inilah yang menjadi titik awal dari kebijaksanaan yang muncul dari seseorang yang berpengetahuan.

Nurani yang akan mengendalikan kebijaksanaan dan pengetahuan ke arah nilai dan norma. Nurani selalu menyandarkan dirinya pada kekuatan hati yang terdalam, terlepas dari segala simbol-simbol keduniawian. Nurani menjadi salah satu ukuran di dalam menentukan baik, benar, tepat suatu sikap, tindakan dan perilaku yang ada di dalam fenomena sosial.

Ketiga hal ini tidaklah dapat dipertukarkan dengan segala hal yang ada di dunia ini. Usaha untuk mempertukarkan pengetahuan akan kebenaran, kebijaksanaan, hati nurani dengan kesenangan duniawi, yakni harta, tahta, seks adalah kebodohan terbesar di dalam hidup. Apalagi dalam konteks sederhana, seseorang yang berpengetahuan tentunya tahu jika ketiga hal itu tidak dapat dipertukarkan dengan hal lainnya. Seseorang yang memiliki ketiga hal tersebut berarti memiliki kekayaan jiwa yang luar biasa.

Yogyakarta, Rabu, 25 Maret 2009

Logika itu Tidak Mudah

Belajar logika memang tidak mudah. Aku pusing mempelajari logika dasar. Aku menyadari pentingnya menguatkan logika dasar yang kumiliki. Hal ini penting guna membangun argumentasi yang aku gunakan untuk menganalisis skripsiku. Bagiku, belajar logika itu ibarat belajar matematika. Ada hukum-hukum pasti yang mesti diketahui, ada konsep-konsep yang harus dipahami di luar kepala, karena pengembangan-pengembangan konsep logika selanjutnya akan berdasarkan pada dasar-dasar hukum yang telah diutarakan di awal.

Logika memang pengantar menuju ke matematika. Penguasaan terhadap logika berarti penguasaan yang mudah pula pada matematika. Ibarat saudara, maka logika adalah kakak dan matematika adalah adik. Sang adik (matematika) berkembang dengan pesat hingga sekarang ini dan mempengaruhi hampir keseluruhan bidang kehidupan dengan perkembangannya itu.

Aku melatih belajar logika agar aku mampu berpikir logis. Berpikir logis dibutuhkan di dalam dunia modern. Berpikir logis juga dibutuhkan di dalam upaya penggalian dan pemenuan pengetahuan. Kelogisan berpikir merupakan syarat dimana pikiran seseorang dapat diterima, hal ini berlaku pula sebaliknya. Ada pula persyaratan keruntutan berpikir, dalam hal ini penyusunan kata, kalimat hingga mengambil kesimpulan atas hal yang diutarakan. Hal-hal yang janggal diantaranya tentu akan mengakibatkan ketidaklogisan dalam berpikir.

Yogyakarta, Selasa, 24 Maret 2009

Urip kuwi mung mampir ngombe

Urip kuwi mung mampir ngombe. Hidup (di dunia) itu layaknya seperti orang (dalam perjalanan) mampir untuk minum. Oleh karena sedang dalam perjalanan, maka orang tersebut hanya sebentar saja di dunia ini. Tidak lama. Tidak abadi. Orang yang dalam perjalanan (musafir) itu hanya sejenak untuk minum, (mungkin) berteduh dan melepas lelah.

Segala hal yang mengenakkan dan nyaman memang ada ketika musafir tengah rehat di tengah perjalanan. Namun bagaimanapun, perjalanannya masih harus dilanjutkan. Dia tidak bisa hanya berhenti di tempat rehat sementara itu, dia tidak dapat hanya berhenti (merasa cukup) dengan minum di tengah perjalanan tersebut. Harus ada cara pandang yang lebih jauh bahwa tujuan perjalanan yang masih harus ditempuh. Ada tempat tujuan abadi yang hendak dituju.

Tidak sedikit manusia yang hidup di dunia ini terlena oleh kehidupan dunia. Mereka merasa kehidupan di dunia ini telah mencakup segalanya, bahkan melingkupi segalanya. Mereka telah merasa cukup dengan dunia ini saja, hal itu pun tidak disadari karena mereka terkena penyakit tidak pernah merasa cukup akan kelebihan dunia yang mereka terima. Selalu saja ada perasaan kurang, bahkan jika bisa mereka juga akan membeli kematian sehingga mereka akan terus hidup.

Manusia tidak pernah merasa cukup dengan segala hal yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, manusia yang benar dan baik selalu mensyukuri akan hal-hal yang telah dinikmatinya di dunia ini. Demikianlah salah satu filosofi Jawa yang coba aku maknai hari ini.

Yogyakarta, Jum’at, 2 Januari 2009