Sema Dance merupakan tarian yang diajarkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, seorang mistikus dan sufi abad Pertengahan. Tarian ini merupakan pengiring dari pengajian yang diadakannya oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Tarian ini menjadi salah satu pertunjukan musik dan tari di negeri asalnya, Turki. Aku menikmati liputan tentang Sema Dance malam ini di salah satu stasiun televisi.
Penari Sema mengenakan baju panjang (mirip gamis) berwarna putih. Di awal pengajian maupun selama penayangan pertujunjukan, para performer mengenakan baju putih yang dirangkap baju berlengan panjang berwarna hitam. Warna hitam ini melambangkan alam akhirat (keabadian), sedangkan warna putih melambangkan alam dunia. Tidak hanya itu, para performer mengenakan topi sejenis peci namun lebih panjang yang melambangkan nisan, dimana hal ini berarti manusia dianjurkan untuk selalu mengingat (memikirkan) kematian.
Tarian Sema dimainkan oleh beberapa orang yang menari dengan cara berputar-berputar dengan perlahan tangan kiri diangkat ke atas dan tangan kanan di samping. Di samping itu, kepala juga menengok ke samping. Hal ini melambangkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya tujuan. Pada hakikatnya kehidupan ini adalah cinta kasih. Cinta kasih tersebut lalu disebarkan ke seluruh dunia. Makna yang dalam diungkapkan lewat tarian yang mistis dan religius ini.
Bisa dikatakan, Sema Dance diciptakan oleh Jalaluddin Rumi sebagai sarana untuk menyampaikan maksud dan isi ajaran-ajarannya kepada khalayak umum. Aku yakin, pemahaman filsafat Jalaluddin Rumi begitu mendalam sehingga mampu menyampaikan hal yang hakiki dalam hidup ini dalam bentuk simbol-simbol seperti dalam tarian Sema. Aku jadi semakin termotivasi untuk menekuni filsafat sebagai basis ilmu dasar yang hendak aku kuasai. Ternyata, filsafat memang benar-benar bermanfaat untuk menemukan hakikat kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri.
Yogyakarta, Senin, 6 April 2009

Pesan dan Kesan