Arsip untuk Kategori 'Economic'

HIPMI dan Kadin

Yogyakarta, Rabu, 17 Juni 2009

Siang hari Senin kemarin, aku menemani Zul mencari sejumlah informasi usaha di Yogyakarta. Kami bergerak menuju ke HIPMI DIY dan Kadin DIY. Kedua institusi ini merupakan penjaga gawang kegiatan ekonomi bisnis di wilayah DIY. Tentunya, mereka memiliki informasi terkait sektor usaha (bisnis) di wilayah DIY ini.
HIPMI merupakan wadah pengusaha muda yang berada di Indonesia. Mereka memiliki perwakilan di masing-masing propinsi, seperti layaknya organisasi-organisasi lainnya. Aku memandang bahwa HIPMI merupakan wadah yang baik bagi pengusaha muda untuk semakin mengembangkan diri dan usaha mengingat kekuatan jejaring dan tender proyek (usaha) yang bisa dimenangkan dan saling berbagi. Entahlah, bisa jadi ada juga persaingan di tingkat pengurus dan anggota HIPMI sendiri terkait kekuasaan di HIPMI mengingat HIPMI mempunyai akses dan daya tawar yang cukup tinggi ke kalangan penguasa (pemerintah).
Kadin merupakan lembaga pemerintah yang membidangi urusan dagang dan industri. Bisa jadi, urusan kebijakan, standardisasi, pelatihan merupakan bagian yang diurusi oleh Kadin ini. Kadin merupakan ruang dimana pemerintah mempunyai tangan kuasa dan pengelolaan terhadap kepentingan bersama atas perusahaan (dagang dan industri).
Tidak hanya itu, aku juga mengontak rekanku Sumartono yang berada di Dinas Perdagangan Pusat di DIY. Kuharap dia bisa membantu kami juga, ternyata tidak, namun dia menyarankan agar kami menuju ke Dinas Perindustrian dan Koperasi DIY. Kami sudah merasa cukup dengan data dari HIPMI dan Kadin, jadi kami menganggap pencarian ini cukup sudah.

Kecerdasan finansial

Yogyakarta, Sabtu, 23 Mei 2009
Ada satu pekerjaan rumah besar yang masih kuhadapi dalam hidup ini, yakni persoalan kecerdasan finansial. Aku tahu, aku teramat lemah dalam sektor ini, apabila dibandingkan tiga kecerdasan yang lain (intelektual, emosional dan spiritual).
Persoalan kemandirian, kontrol emosi terhadap uang, sikap terhadap uang, dan bagaimana aku begitu tergantung pada uang. Padahal, seharusnya aku tak boleh tergantung pada uang. Uanglah yang bergantung padaku, uanglah yang bekerja padaku, uanglah yang menghasilkan pemasukan bagiku. Meski kutahu, uang bukanlah segala-segalanya. Karena, Allah-lah yang mencukupi segala-galanya dalam hidupku, dalam hidup manusia, namun aku tak hendak menjadi fatalis dengan semata-mata menyerahkan seluruhnya kepada Allah secara langsung, tanpa kemudian berusaha terlebih dahulu mengubah nasib (hidup)ku.
Berarti keinginan besarku untuk bisa cerdas secara finansial tidak hanya sebatas keinginan saja. Keinginan itu terbentuk lagi menjadi komitmen, ketekunan dan kebiasaan, hingga akhirnya membentuk kebiasaan. Aku menjadi cerdas secara finansial melalui proses yang panjang.
Aku jadi sadar. Aku pernah mengalami kegagalan secara finansial, sama halnya kegagalanku dalam permasalahan intelektual, emosional dan spiritual. Namun, bukannya aku memilih untuk mengabaikannya. Aku tetap mengembangkan ketiga, bahkan keempatnya, dalam porsi yang wajar, optimal dan terbaik. Aku tak bisa menguatkan salah satunya saja lalu menafikan yang lain. Aku pikir, keempat kecerdasan tersebut akan saling mendukung, manakala aku mampu secara cerdas menempatkannya secara proporsional.
Dalam persoalan uang, aku akan meminimalkan pengeluaran, hanya terkait soal kebutuhan saja. Sisa keuangan akan aku tabung, tabungan yang lebih besar aku depositokan, dan lebih besar daripada itu aku investasikan. Memang, saat ini, aku tak bisa segera melompat untuk berinvestasi. Aku memfokuskan diri untuk menabung dan mempunyai deposito terlebih dahulu. Dengan demikian, aku mulai merasakan manfaat dari memiliki uang dan uang yang menghasilkan pemasukan bagi diriku, meskipun baru kecil adanya. Dengan demikian, aku akan semakin terlatih untuk makin memperbesar kolom aset (tabungan, deposito, investasi) sehingga pemasukan keuanganku akan menjadi semakin besar.
Tidak hanya itu, aku mesti mampu menahan diri untuk mengonsumsi secara berlebihan terlebih dahulu. Prinsip yang aku gunakan bukan berarti ketidakmampuan untuk membeli (memiliki), namun aku akan berpikir keras agar aku dapat memilikinya, bagaimana caranya? Dengan demikian, otak dan tubuhku tak menjadi malas berpikir dan bergerak. Hidupku akan menjadi dinamis dan produktif, bukan lagi menjadi seseorang yang tidak berdaya.

Berbisnis Cara Cina dan Pribumi

Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009

Berbisnis memiliki ruang hidupnya sendiri-sendiri. Berbisnis cara Cina (peranakan/etnis Tionghoa) tentunya berbeda dengan berbisnis cara pribumi. Keduanya pun menghasilkan tingkat kekayaan yang berbeda dan keberhasilan bisnis yang berbeda pula.

Orang pribumi (Jawa pada umumnya) berbisnis dengan masih memperhatikan fungsi sosial. Jika ada acara tetangga, kematian maupun hal-hal yang terkait dengan fungsi sosial (keluarga maupun masyarakat) dan tidak ada kaitannya dengan bisnis yang dilakukan, maka bisnis orang pribumi akan ditutup untuk sementara. Jika bisnis berupa toko, kantor, deal, ataupun perjanjian jual beli yang telah direncanakan sebelumnya, maka hal tersebut akan ditunda hingga pemenuhan kebutuhan sosialnya itu tunai.

Hal ini berbeda dengan ketika orang Cina berbisnis (etnis Tionghoa maupun keturunan Cina). Mereka tetap membuka bisnis yang dijalankan meski ada kegiatan sosial yang mesti dijalankan. Bagi mereka, kesempatan dan waktu teramat berharga sehingga kehilangan pelanggan (pembeli) adalah hal yang teramat malang bagi usaha (bisnis) mereka. Oleh karena itu, semangat bisnis orang Cina tidak redup oleh keadaan di luar diri dan bisnisnya, fungsi sosial berjalan sebagaimana mestinya, seiring sejalan dengan aktivitas bisnis yang terus dijalankan olehnya.

Ketika orang pribumi memiliki pendapatan dari bisnis tersebut, maka kecenderungan untuk melakukan investasi kembali teramat kecil. Keuntungan itu cenderung untuk pemenuhan kebutuhan bahkan keinginan untuk mengonsumsi. Seringkali, kebutuhan untuk mengonsumsi (pengeluaran) lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh. Bahkan, tak jarang dalam bisnis pribumi, tak bisa dipisahkan antara pendapatan pribadi (keluarga) dan pendapatan bisnis. Patut disayangkan, uang (harta) yang didapatkan dari bisnis itu tak menjadi entitas yang produktif lagi.

Lain halnya dengan ketika orang Cina memiliki pendapatan dari bisnis, maka dia akan berkecenderungan untuk menginvestasikannya dalam usaha penunjang bisnis utamanya. Pendapatan dari keuntungan usaha penunjang inilah yang dijadikan kebutuhan konsumsi, atau pemenuhan kebutuhan dilakukan melalui sektor lain yang juga dijadikan sebagai mata pencaharian. Dalam prinsip Cina, tidak boleh berlaku pasak lebih besar daripada tiang, namun pendapatan harus sebesar mungkin jika dibandingkan dengan pengeluaran.  Tidak hanya itu, dalam pengelolaan keuangan, pendapatan pribadi (keluarga) orang Cina dipisahkan dari pendapatan bisnis. Sehingga, keduanya dapat terpisah dan terkelola secara baik. Akhirnya, uang (harta) hasil bisnis itu dapat menjadi entitas yang lebih produktif lagi.

Dalam berbisnis, seorang pebisnis akan mencintai dengan sangat bisnis yang dijalankannya. Ibarat mata pencaharian, maka diri dan keluarga yang ditanggungnya atupun masa depan diri dan generasi penerus berada di tangan kendali bisnis yang dilakukan. Bisnis adalah kehidupannya sehingga dari waktu ke waktu tak hentinya pebisnis tersebut memikirkan bisnis yang dilakukannya, laba/rugi, ekspansi dan diversifikasi usaha. Bahkan, jika masih belum memungkinkan bagi pebisnis untuk memiliki rumah sendiri dari pendapatannya, maka dia akan menjadikan toko/kantor tempat menjalankan bisnis sebagai rumahnya pula (tentu dengan pembagian ruang yang berbeda). Alhasil, bisnis dan kehidupan pribadi pebisnis jadi menyatu.

Hemat Pangkal Kaya

Seseorang yang hemat, dalam segala hal, dapat mendorongnya secara perlahan untuk menjadi seseorang yang kaya. Sebaliknya, seseorang yang boros (pemboros), hanya akan menjerumuskannya pada kefakiran, atau jika dirinya kaya harta maka dirinya akan terjebak pada sifat kikir.

Hemat bukanlah pelit. Hemat adalah sikap kreatif di dalam hidup, dimana sejumlah hal yang digunakan untuk mencapai orientasi (tujuan) dapat dilakukan dengan cara yang lain. Dengan analogi kalkulus multi-variabel, sering kali ada banyak solusi untuk satu masalah. Oleh karena itu, perubahan paradigma (pandangan) hidup terhadap kehidupan sehari-hari yang dijalani amatlah penting.

Usaha untuk mengadopsi budaya dan kehidupan yang baru, seringkali tidak enak, nyaman dan praktis, akan menemukan tantangan dan hambatan. Kegigihan dan ketekunan seseorang untuk tetap berpegang teguh pada pandangan baru yang diyakini lebih baik, akan mendorong seseorang untuk dapat mengatasi tantangan dan hambatan tersebut. Dalam konteks penghematan, langkah-langkah penghematan yang sudah diambil, patut mendapat ujian akan ketangguhan langkah tersebut.

Yang jelas, usaha penghematan yang dilakukan saat ini tidak akan menemui hasil yang cepat dan instant (segera). Seseorang mesti sabar untuk menantikan hasil yang dicita-citakan, meskipun hal tersebut juga diperoleh dalam jangka waktu yang cukup lama. Penantian yang dilakukannya akan terbayar jika dirinya dapat menikmati hasil jerih payah tersebut di akhir penantian nantinya.

Yogyakarta, Selasa, 31 Maret 2009

FORMALIN: UKM vs PENGUASA MODAL

Sejumlah makanan yang disinyalir mengandung formalin ialah

mie basah, tahu, dan ikan.

Beberapa waktu lalu, cukup santer diberitakan di media massa mengenai penggunaan formalin pada makanan. Riset dan inspeksi mendadak yang dilakukan menunjukkan tingkat penggunaan bahan kimia berbahaya ini pada makanan. Sejumlah makanan yang disinyalir mengandung formalin ialah mie basah, tahu, dan ikan. Penggunaan zat pengawet ini pada makanan dikhawatirkan dapat mengganggu metabolisme tubuh pengguna. Yang justru mengenaskan ialah bahwa dampak yang ditimbulkan oleh asupan formalin ke dalam tubuh ini baru akan terasa dalam jangka waktu 5-10 tahun.

Terlepas dari bahaya penggunaan formalin dari segi medis ini, ternyata secara terselubung saya menangkap adanya skenario global penguasa modal. Bagaimanapun, tidak hanya penggunaan formalin yang diungkap, namun juga pada penggunaan boraks, zat pewarna, fenomena bakso tikus yang notabene dilakukan oleh sektor informal, dalam hal ini industri kecil dan menengah. Pengusaha-pengusaha skala kecil ini berusaha untuk masih tetap eksis dalam mempertahankan usaha dan karyawannya dengan menekan sekecil mungkin biaya produksi. Hal ini beda halnya dengan perusahaan besar dimana ketika tercipta kerugian karena inefisiensi dan meningkatnya biaya produksi, maka solusi yang diambil adalah menutup usaha dengan mengorbankan nasib banyak orang melalui Pemutusan Hubungan Kerja ribuan karyawan yang bekerja pada perusahaan tersebut.

Tekanan untuk memperketat harga sebagai akibat dari krisis ekonomi dan naiknya harga Bahan Bakar Minyak membuat beberapa pengusaha kecil menggunakan bahan pengolah yang sebelumnya tidak digunakan, dengan alasan murah dan dapat memperkecil biaya produksi. Hal ini disadari oleh kaum penguasa modal, dengan kekuatan modal dan jaringan media yang dimiliki, segenap isu yang mengungkap kebobrokan pengelolaan usaha industri kecil dan menengah dijadikan isu yang hangat di masyarakat. Masyarakat digiring ke sebuah persepsi bahwa produk buatan usaha kecil dan menengah berbahaya buat kesehatan mereka. Mau tidak mau, persepsi yang telah terbentuk ini akan mengalihkan pola konsumsi masyarakat yang pada awalnya menggunakan produk dari sektor informal ke produk dari industri yang padat modal.

Hal ini tampak pada beberapa sampel produk yang diindikasi mengandung formalin ataupun zat pewarna, bukan merupakan merek dagang yang umum, bahkan tidak bermerek. Dari persoalan di atas, muncul konflik mengenai sertifikasi bebas formalin antara Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Departemen Kesehatan. Bagaimanapun, sertifikasi ini juga akan kembali menekan sektor usaha kecil karena akan meningkatnya biaya permodalan usaha, ditunjukkan dengan adanya tambahan biaya izin sertifikasi bebas formalin. Tentunya, sektor usaha kecil yang tidak mampu untuk membayar sertifikasi tersebut akan menutup usahanya akibat kehilangan konsumen. Hal ini dikarenakan kepercayaan konsumen telah dibawa dan dibentuk bahwa produk makanan yang sehat harus mempunyai sertifikasi bebas formalin. Benar-benar permainan kaum pemodal yang licik dan canggih!

Kesehatan memang penting bagi setiap manusia. Ketika harga barang semakin mahal karena himpitan krisis ekonomi, bukan berarti selera kita turun dan mengabaikan faktor kesehatan. Namun, sebaiknya permasalahan ini semata-mata tidak dipandang secara hitam dan putih, karena sektor informal merupakan sektor usaha yang mampu bertahan dalam krisis bila dibandingkan dengan industri bermodal raksasa. Industri bermodal raksasa belum tentu kuat secara permodalan karena bisa jadi modal yang diperolehnya melalui utang yang menyebabkan beban pada kas negara. Kita harus bisa menempatkan diri secara bijak antara pilihan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi sektor usaha kecil dan menengah yang tidak lain adalah saudara sebangsa setanah air kita sendiri. Memilih untuk menghindari mengkonsumsi produk UKM dengan alasan kesehatan dan persepsi yang telah dibentuk oleh media, merupakan pilihan kita untuk turut berpartisipasi pada kerusakan bangsa yang lebih parah. Karena, kita turut andil dalam mematikan sektor usaha kecil dan menengah, sehingga kemudian bisa timbul pengangguran. Jikalau tidak mendapat sumber pendapatan sebagai pengganti usahanya tersebut, maka pengangguran ini akan menimbulkan kerawanan sosial dan tindak kriminalitas. Hal ini hanyalah upaya beberapa orang pencari nafkah agar masih bisa mengepulkan asap di dapur mereka.

15 Januari 2006

Halaman Berikutnya »