Melihat maupun mengalami sendiri bencana gempa tersebut, tentulah bukan hal yang menyenangkan. Namun, kita harus yakin, takdir telah ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Terhadap rahasia di balik bencana, kita hendaklah selalu berbaik sangka (husnuzh-zhan) terhadap Allah.
Yogyakarta, Bantul, Klaten dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter, akhir Mei lalu. Lebih dari 5.000 orang korban meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka. Tidak hanya itu, ratusan ribu rumah hancur dan rusak. Bencana alam ini sangat menyentuh hati kita semua. Bukan hanya karena hal ini tidak diduga sebelumnya, tetapi karena dampak yang diakibatkan. Bagaimanapun, gempa terjadi ketika sebagian besar orang masih belum beranjak keluar rumah, bahkan tidak sedikit yang masih tertidur pulas.
Hari itu juga, bantuan berdatangan dari segala penjuru. Relawan yang membawa bantuan kesehatan dan bahan makanan berdatangan secara perorangan maupun atas nama organisasi. Mereka lalu mendirikan posko-posko untuk membantu korban bencana. Segenap kemampuan dikerahkan guna menolong korban yang berjatuhan. Tampak sekali tingginya rasa persaudaraan yang tumbuh karena adanya kepedulian akan kesusahan umat manusia.
Di sisi lain, korban gempa maunya tidak berpikir dan tidak mau mengingat kejadian itu lagi, karena setiap pikiran dan ingatan selalu saja berujung pada ketakutan. Ketakutan akan ketidak pastian tanah tempat berdiri, tempat mencari nafkah dan tempat beristirahat. Di samping itu, ketakutan akan ketidakpastian meneruskan hidup setelah kehilangan sanak saudara, rumah runtuh dan gedung sekolah yang roboh.
Hal yang memprihatinkan terjadi manakala bantuan terus berdatangan tetapi ada korban gempa yang sampai turun ke jalan untuk meminta-minta, krido lumahing asta (menadahkan tangan minta bantuan), karena belum mendapatkan bantuan. Tidak sedikit pula korban gempa yang larut dalam bencana dan ketergantungan akan bantuan untuk menyokong hidup sehari-hari, sehingga semakin sulit bagi mereka untuk bangkit.
Berbaik Sangka Kepada Allah
Melihat maupun mengalami sendiri bencana gempa tersebut, tentulah bukan hal yang menyenangkan. Namun, kita harus yakin, takdir telah ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Terhadap rahasia di balik bencana, kita hendaklah selalu berbaik sangka (husnuzh-zhan) terhadap Allah.
Bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, bila kita mau dan mampu menerima apapun yang menimpa diri kita dan meyakini bahwa ada kebaikan dalam setiap kejadian walaupun tampaknya merugikan, bahkan malah bersyukur untuk semua itu. Pemahaman akan kebesaran dan keagungan Allah akan menyadarkan kita akan hal tersebut. Kita hanyalah makhluk yang lemah dalam cahaya kekuasaan dan kehebatan Allah yang tiada batasnya. Kita tak akan mampu bertahan tanpa kemurahan dan kasih sayang Allah.
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa bencana, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.”
(HR. Muslim)
Dengan bersikap seperti ini bukan berarti mengabaikan kenyataan dari bencana gempa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, kita bertanggung jawab untuk mengambil tindakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Situasi harus bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Tak lupa, alasan di balik bencana gempa tersebut harus kita temukan. Jika kita telah berusaha memahami alasan ini, dengan seizin Allah, kita akhirnya akan berhasil. Bahkan, meski kita belum berhasil menemukan maksud di baliknya, kita masih tetap yakin bahwa pastilah semua itu demi kebaikan dan maksud tertentu.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”
(Ali-Imran:14)
“…jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…”
(al-Hadiid: 23)
Tanda kita tidak bersyukur kepada Allah ialah berputus asa atas hilangnya kekayaan dan terlalu bersuka cita dalam kekayaan. Sebagian masyarakat menganggap boleh-boleh saja merasa kecewa akan hilangnya harta kekayaan. Kenyamanan hidup yang dinikmati dari kekayaan berkat usaha keras kita tiba-tiba rusak atau lenyap karena gempa. Rumah hancur dalam sekejap mata, padahal rumah itu didapatkan setelah menyimpan uang selama bertahun-tahun. Kalau kita tidak menyadari fitrah hidup kita maka dalam kondisi ini kita akan kebingungan karena mengalami kehilangan rumah yang begitu berarti. Putus asa dan pemberontakan kepada Allah pun timbul hingga kita menjadi lelah sendiri karenanya.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 46)
Harta kekayaan tersebut hendaknya kita hargai. Kita akan menggunakan segala milik kita, termasuk kekayaan, karena Allah. Jika kehilangan harta kekayaan, kita tahu bahwa hal itu adalah ujian dari Allah. Kita akan bersabar dan terus mencari kebaikan atas peristiwa tersebut.
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (al-A’raaf: 42)
Bencana gempa yang kita dihadapi kini berada dalam rangkaian batasan kemampuan kita untuk mengatasinya. Di samping itu, bantuan dan pertolongan dari Allah selalu ada sepanjang hidup kita. Kita dapat menghadapi segala macam cobaan dan kesulitan hidup, sehingga kita tidak pernah menyesal dan berkata, ”Seandainya ini tidak terjadi padaku”. Kita percaya bahwa ada suatu kebaikan yang akan ditemukan dalam bencana gempa ini.
Usaha dan Doa
Lalu, cukupkah dengan hanya menyadari bahwa peristiwa bencana gempa ini adalah ujian dari Allah? Tentu tidak. Kalau kita ingin keluar dari bencana yang menimpa, kita tidak bisa hanya berpangku tangan. Artinya, memang harus ada usaha yang kita kerjakan. Allah berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’du: 11)
Bersamaan dengan usaha yang kita lakukan itu, maka kita menyerahkan hasilnya kepada Allah semata. Sekeras apapun usaha kita, kepastian tetap di tangan Allah jua. “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Ath-Thalaq: 3)
Tentunya, yang paling utama ialah jika kita ditimpa bencana, kita akan senantiasa berusaha dekat dengan Allah, jalan keluar akan selalu ada, urusan-urusan kehidupan akan mudah dijalani, dan banyak karunia akan diberikan oleh Allah kepada kita. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah. Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2)
Dari mana kita akan bangkit?
Kita akan bangkit dengan menentukan sendiri arah perbaikan kehidupan setelah bencana gempa ini. Kita akan bergotong royong membersihkan rumah-rumah yang rusak. Kita akan turut serta dalam membangun kembali rumah dan bangunan milik umum yang rusak, lewat tradisi gotong royong dan kebersamaan. Rumah dengan kerusakan tidak parah diperbaiki lebih dahulu supaya bisa dihuni secara aman. Di samping itu, kita tidak sepatutnya serakah akan bantuan yang datang, baik itu keuangan, bahan makanan dan bahan bangunan, hendaknya kita bisa berbagi kepada yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perlahan kita bisa menata kembali keadaan ke kehidupan seperti biasanya.
Luqman Satriya Siambodo
Anggota Muda angkatan ke-6 Forum Lingkar Pena Yogyakarta
Pesan dan Kesan