Arsip untuk Kategori 'Da'wah'

Biografi Muhammad

Yogyakarta, Ahad, 14 Juni 2009

Siang hari kemarin, aku berkunjung ke Toko Buku Toga Mas. Aku hendak membeli majalah Horison, Intisari dan Basis, namun yang dapat kuperoleh hanya kedua majalah yang pertama kusebutkan itu. Alhasil, aku melihat-lihat pula sejumlah buku lainnya yang ada di sana.
Aku menilik buku-buku filsafat dan agama. Di rak-rak buku agama, aku mencari buku yang terkait tema Muhammad. Aku mengamati sejumlah buku biografi Muhammad, mulai dari karangan Hasan Haekal, Martin Lings, namun tak kutemukan karangan Karen Armstrong. Aku memang tengah berminat untuk mengkaji lebih mendalam terkait sejarah Rasulullah ini. Bagiku, menyimak, meneladani dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidupnya merupakan langkah terarah dan konsisten terhadap upaya pemahaman Islam yang lebih baik.
Memang, keterlambatan dalam dunia intelektual terjadi di dalam kehidupanku. Aku tak lincah dan gesit dalam menggali sumber-sumber informasi dan penguat terhadap definisi keilmuan yang hendak kubangun, salah satunya Islam. Kerangka dalam mempelajari dan memahami Islam juga perlu diperkuat atas pemahaman terhadap perjalanan hidup Muhammad itu sendiri.
Muhammad adalah manusia yang paling berpengaruh di dunia versi Michael H. Hart. Pengaruhnya yang begitu kuat dalam lingkup agama, politik, sosial budaya membuat dirinya menjadi pribadi yang akan terus dikagumi sepanjang masa. Pemahaman secara mendasar terhadap sejarah kehidupan Muhammad akan membawa kepada pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh.

Enterpreneur Santri

Yogyakarta, Ahad, 7 Juni 2009

Kalangan pedagang muslim menjadi barang langka di negeri ini. Etos kerja muslim lebih banyak menjadi pegawai dan profesional, bukan menjadi seorang pengusaha. Alhasil, kelas kaya lebih banyak didominasi oleh anak bangsa yang beragama lain. Sehingga, gerakan Islam tidak memiliki taring yang kuat dan tajam karena tidak ditopang oleh kemampuan ekonomi yang kuat dari jiwa wirausaha.
Kombinasi wirausaha santri dan cendekiawan pada bangsa ini pernah tercermin pada masa pendirian Sarekat Dagang Islam. Pada waktu itu, inisiatif pedangang batik muslim untuk menghadang bisnis etnis Tionghoa dan Eropa. Gerakan ini lebih merupakan gerakan perlawanan atas dominasi kedua etnis tersebut.
Indonesia membutuhkan lebih banyak enterpreneur daripada pegawai. Hal ini dikarenakan enterpreneur mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi, apalagi sektor produktif. Enterpreneur muslim juga dibutuhkan sebagai basis gerakan Islam yang kuat. Tanpa adanya enterpreneur muslim, maka gerakan Islam hanya akan senantiasa dilanda oleh minimnya dana. Budaya organisasi gerakan pun bertumbuh menjadi budaya enterpreneur yang tidak terbelit oleh urusan birokrasi.

Aku terlalu banyak berteori.
Semestinya aku lebih banyak berbuat. Berbuat hal apapun, mengerjakan apapun yang aku bisa. Dengan demikian, aku belajar untuk survive (mandiri), aku tak menggantungkan hidupku pada orang tua lagi, apalagi orang lain. Aku tak lagi malas, miskin, bodoh, terbelakang (tertinggal) dan manja. Aku akan membalikkan segala hal yang melekat pada diriku itu di saat ini.
Aku hanya butuh waktu, waktu untuk berproses, bukan untuk merenung dan terlalu banyak berpikir. Aku butuh waktu untuk bekerja, mengumpulkan uang, sehingga aku bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri. Aku berusaha tak lagi manja hingga menghilangkan ketergantungan finansialku pada orang tua. Aku juga tak lagi miskin, yang hanya bisa menengadahkan tangan untuk meminta bantuan. Aku berusaha untuk kaya dan menjadi kaya. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap dariku untuk selalu cerdas dan kreatif, ingin di depan (maju) dan mandiri. Dengan demikian, aku yakin, pintu rejeki pelan-pelan akan terbuka dengan sendirinya. Allah itu Maha Adil dan Penyayang, Dia tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Aku dan Agamaku

Yogyakarta, Selasa, 19 Mei 2009
Aku dan agamaku. Kacau. Tak berkorelasi positif. Hal ini tampak dari catatan harianku yang tak menunjukkan sama sekali kepedulianku terhadap persoalan agama, bahkan untuk persoalan kecil sekalipun, kehidupan keagamaanku secara pribadi.
Aku jadi heran. Jadi, selama ini ibadah yang kulakukan untuk apa, mengapa dan kulakukan dengan kesadaran apa. Aku tak habis pikir akan hal yang terjadi padaku. Aku diliputi oleh hawa nafsu dan dipermainkan oleh syetan.
Aku khilaf.
Keimananku rapuh bahkan mendekati runtuh. Bersyukurlah diriku tak mengenai hal tersebut. Aku masih bisa jaga diri, aku masih bisa menyeimbangkan diriku, kehidupanku, pikiranku dan emosiku.
Entahlah, aku jadi ngeri membayangkan akan hukuman yang kuterima atas dosa yang kulakukan diatas pengetahuan agama yang telah kumiliki.
Terkadang aku jadi sedih ketika mengingat hal tersebut. Emosiku tak stabil sehingga kemampuan agama yang sekuat apapun maka hanya akan terhenti pada pikiran saja. Disinilah kekeliruan pilihan hdiupku. Perlahan, aku mencoba menafikan hal agama dari kehidupanku, dalam kurun waktu terakhir.
Alhasil, jadilah diriku yang seperti sekarang ini. Dengan keliaran berpikir dan bertindak. Aku tak mengindahkan norma-norma dan menopang diri pada individu dan kerelatifan.
Semoga aku dapat melakukan putar balik. Aku telah salah jalan. Aku tersesat. Aku tak terlalu jauh. Aku masih bisa berbalik. Aku ingin bertobat. Tobat yang sebenar-benarnya, bukan “tobat sambal”. Bukan tobat karena situasi dan kondisi.
Aku ingin menjalani kehidupan sehari-hariku ke depannya dan berusaha sebagai sebaik-baiknya muslim yang berguna bagi masyarakat, umat, bangsa dan dunia. Aku tak ingin menjadi seorang muslim yang tidak jelas standar-standar dan kebiasaan hidupnya, apalagi seorang muslim yang tidak tahu bahwa dirinya tahu akan sesuatu hal, salah satunya terkait perkara agama.

Luqman, kembalilah kepada Islam secara kaffah!!

Yang jelas, pemahamanku terhadap Islam masih minim. Aku tak pantas menjadi orang yang merasa sok telah paham agama, apalagi jika sumber (pengetahuan) agama itu aku peroleh secara tidak langsung (hanya melalui orang ketiga/pengajian-pengajian semata). Memang, pengajian cukup kuat untuk menjaga dan meningkatkan pengetahuan agamaku. Namun, hal itu tentulah belum cukup jika tidak dibarengi oleh kemampuan dan penguasaan terhadap ilmu agama yang dipelajari tersebut.

MENGGUGAT SINETRON RELIGI

Rating penayangan sinetron religi yang cukup tinggi merupakan pengaruh dalam bentuk lain daripada pembentukan persepsi oleh media pertelevisian. Dapat kita lihat, akhir-akhir ini, sinetron religi dengan beragam variasinya, begitu marak di dunia pertelevisian.

Budaya menonton televisi telah demikian mengakar pada bangsa Indonesia. Masuknya media elektronik berupa televisi dan maraknya stasiun pertelevisian swasta yang menawarkan beraneka macam hiburan, juga turut menopang lestarinya budaya tersebut. Memang, bangsa kita tengah mengalami lompatan budaya, dimana belum tercapainya reading society, maka telah didahului oleh watching society sebagai gambaran yang tidak asing lagi dalam masyarakat kita. Masyarakat kita berada dalam posisi kenyamanan dalam kebudayaan kelisanan (watching society termasuk di dalamnya), seakan tidak mengenal budaya tuisan (literer).

Ketika dalam masyarakat kita terbentuk watching society, maka content dari media pertelevisian menjadi teramat penting. Apapun yang disuguhkan oleh lebih dari 10 stasiun televisi berskala nasional, dan sejumlah besar stasiun televisi lokal sebagai media hiburan dan informasi, akan menimbulkan pengaruh pada pembentukan persepsi umum yang ada di masyarakat.

Maraknya infotainment tentang kehidupan selebritis menunjukkan besarnya pengaruh tersebut. Dari pagi hingga menjelang petang, kita sebagai penonton televisi disuguhkan beraneka rupa info tentang selebritis. Dari mulai gosip, kehidupan sehari-hari, rencana ke depan, pesta, dan banyak lagi seakan tiada pernah habisnya. Yang hampir pasti, meski dengan format dan nama acara yang berbeda-beda, bisa dipastikan content yang disuguhkan dalam satu hari penayangan tidak jauh berbeda. Hal ini tidaklah masalah bila dalam hal content saja, namun keserupaan ini juga ada pada pengambilan gambar dan kesimpulan yang dapat diambil, seakan masyarakat penonton diajak untuk melakukan replikasi terhadap informasi tersebut.

Rating penayangan sinetron religi yang cukup tinggi merupakan pengaruh dalam bentuk lain daripada pembentukan persepsi oleh media pertelevisian. Dapat kita lihat, akhir-akhir ini, sinetron religi dengan beragam variasinya, begitu marak di dunia pertelevisian. Sineron religi banyak mengungkap kisah-kisah kehidupan tentang sifat dan perilaku manusia yang mendapat ganjaran di kehidupan di dunia. Memang, sinetron bertema religi ini dominan bertemakan agama Islam, sebagai agama yang mayoritas dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Namun, jangan berharap bahwa selalu tema Islam yang diangkat dalam sinetron berjenis ini, terkadang tidak ada muatan Islamnya sama sekali.

Ketika menyimak sinteron bertema religi, maka ada dua sudut pandang yang akan sama-sama kuat. Di satu sisi ada kepentingan pasar, penyadaran untuk berIslam dengan baik (meski baru sekadar simbolis). Namun di sisi lain adanya pendangkalan aqidah dan perusakan terhadap Islam itu sendiri. Dari sudut kepentingan pasar, jelaslah media pertelevisian dan periklanan paling diuntungkan saat ini. Dengan maraknya permintaan akan sinetron bertemakan religi, bisa jadi masyarakat Indonesia memang membutuhkan `pencerahan’ secara agama, dan tayangan televisi menjadi solusinya. Media televisi, merupakan salah satu hiburan bagi masyarakat yang tengah dihimpit tekanan krisis ini. Hiburan maupun informasi melalui tayangan televisi dapat diperoleh secara murah dengan cukup memiliki pesawat televisi beserta antenanya, dengan tunai ataupun kredit, dan membayar rekening tagihan listrik setiap bulannya. Ironinya, masyarakat Indonesia lebih senang mempergunakan uangnya untuk mendapatkan hiburan melalui televisi daripada menggunakannya sebagai modal usaha.

Jikalau kita melihat dari citra yang ditampilkan sinetron religi ini, maka akan tampak simbol-simbol Islam di sana. Bagaimana istri yang sholehah dan kerap teraniaya itu mengenakan jilbabnya dengan anggun. Secara tidak sadar, hal ini bisa berpengaruh terhadap proses penyadaran kepada Kaum Hawa untuk mengenakan jilbab. Memang, hal ini tidaklah cukup karena penyadaran untuk mengenakan jilbab semacam itu hanya sebatas simbol dan bukan kesadaran secara internal yang konsisten. Penguatan lebih lanjut tentunya diperlukan dengan pendalaman pengetahuan agama dan giat dalam beribadah. Nuansa Islam secara simbolis yang ditampilkan sinetron religi ini bisa menyadarkan umat Islam untuk meningkatkan kadar keberagamaannya. Semisal, yang mulanya tidak pernah sholat menjadi rajin sholat karena takut kepada Allah. Karena pencitraan orang yang mendapatkan ganjaran di sinetron tersebut memang tidak menunaikan sholat (atau memang terlewatkan), sedangkan pribadi yang teraniaya dan selamat dari peristiwa mistis tersebut adalah muslim yang taat beribadah. Hal ini juga dapat menumbuhkan semangat bagi masyarakat pada umumnya untuk mengenali dan mengkaji Islam lebih mendalam.

Yang menjadi dampak negatif dari sinetron religi ini ialah adanya mekanisme pendangkalan aqidah secara terselubung, bahwa ada siksa kubur yang bisa membuat umat Islam jera dan takut. Hal ini tentunya dapat berakibat syirik karena Islam pada prinsipnya tidak mengenal adanya hukum karma. Dalam arti, di dalam Islam tidak semua kesalahan manusia yang dilakukan semasa hidupnya akan dibalas di dunia (ditampakkan dalam peristiwa menjelang atau setelah kematian seseorang). Karena segala apa yang dilakukan manusia di dunia ini, kelak akan dipertanggung jawabkan di Hari Akhir. Peristiwa mistis yang terjadi tersebut merupakan peringatan dari Allah bagi manusia agar manusia dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Di samping itu, sinetron religi ini bisa disinyalir sebagai tindakan perusakan terhadap Islam itu sendiri. Karena Islam, dengan ayat-ayat suci maupun simbolisasinya, menjadi komoditi barang dagangan oleh media hiburan. Kadang memang sulit untuk membedakan penggunaan Islam ini antara penggunaannya sebagai sarana dakwah dengan menjadikannya sebagai barang dagangan. Dangkalnya penggunaan Islam seperti ini, dapat merusak citra Islam itu sendiri. Apalagi dalam logika pasar, adalah karena dalam logika pasar maka pasarlah (hukum penawaran dan permintaan) yang menentukan. Memang, dalam teori ekonomi, ada yang dinamakan invisible hand, dimana proses penawaran dan permintaan ini berlangsung secara alami. Namun, di dalam pasar tetap saja ada yang mengatur dan orang-orang yang bermain di dalamnya, yang tentunya masing-masing punya kepentingan baik secara individu maupun kelompok. Semoga saja, Islam tidak menjadi layaknya komoditi yang diperjual belikan oleh media hiburan sehingga Islam tidak bergantung pada kepentingan pasar.

Memperhatikan dampak yang diberikan oleh sinetron religi tersebut, sebagai salah satu produk tayangan televisi kontemporer, maka hendaklah kita dapat secara bijak untuk selektif dalam memilih tayangan yang ditampilkan televisi. Alih-alih ingin mendapatkan hiburan dari tayangan televisi yang ada, kita malah terpengaruh dan terjebak oleh dampak negatif yang dihasilkan oleh tayangan televisi

tersebut.

8 Desember 2005

KORBAN GEMPA 27 MEI, BANGKITLAH!

Melihat maupun mengalami sendiri bencana gempa tersebut, tentulah bukan hal yang menyenangkan. Namun, kita harus yakin, takdir telah ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Terhadap rahasia di balik bencana, kita hendaklah selalu berbaik sangka (husnuzh-zhan) terhadap Allah.

Yogyakarta, Bantul, Klaten dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter, akhir Mei lalu. Lebih dari 5.000 orang korban meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka. Tidak hanya itu, ratusan ribu rumah hancur dan rusak. Bencana alam ini sangat menyentuh hati kita semua. Bukan hanya karena hal ini tidak diduga sebelumnya, tetapi karena dampak yang diakibatkan. Bagaimanapun, gempa terjadi ketika sebagian besar orang masih belum beranjak keluar rumah, bahkan tidak sedikit yang masih tertidur pulas.

Hari itu juga, bantuan berdatangan dari segala penjuru. Relawan yang membawa bantuan kesehatan dan bahan makanan berdatangan secara perorangan maupun atas nama organisasi. Mereka lalu mendirikan posko-posko untuk membantu korban bencana. Segenap kemampuan dikerahkan guna menolong korban yang berjatuhan. Tampak sekali tingginya rasa persaudaraan yang tumbuh karena adanya kepedulian akan kesusahan umat manusia.

Di sisi lain, korban gempa maunya tidak berpikir dan tidak mau mengingat kejadian itu lagi, karena setiap pikiran dan ingatan selalu saja berujung pada ketakutan. Ketakutan akan ketidak pastian tanah tempat berdiri, tempat mencari nafkah dan tempat beristirahat. Di samping itu, ketakutan akan ketidakpastian meneruskan hidup setelah kehilangan sanak saudara, rumah runtuh dan gedung sekolah yang roboh.

Hal yang memprihatinkan terjadi manakala bantuan terus berdatangan tetapi ada korban gempa yang sampai turun ke jalan untuk meminta-minta, krido lumahing asta (menadahkan tangan minta bantuan), karena belum mendapatkan bantuan. Tidak sedikit pula korban gempa yang larut dalam bencana dan ketergantungan akan bantuan untuk menyokong hidup sehari-hari, sehingga semakin sulit bagi mereka untuk bangkit.

Berbaik Sangka Kepada Allah

Melihat maupun mengalami sendiri bencana gempa tersebut, tentulah bukan hal yang menyenangkan. Namun, kita harus yakin, takdir telah ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Terhadap rahasia di balik bencana, kita hendaklah selalu berbaik sangka (husnuzh-zhan) terhadap Allah.

Bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, bila kita mau dan mampu menerima apapun yang menimpa diri kita dan meyakini bahwa ada kebaikan dalam setiap kejadian walaupun tampaknya merugikan, bahkan malah bersyukur untuk semua itu. Pemahaman akan kebesaran dan keagungan Allah akan menyadarkan kita akan hal tersebut. Kita hanyalah makhluk yang lemah dalam cahaya kekuasaan dan kehebatan Allah yang tiada batasnya. Kita tak akan mampu bertahan tanpa kemurahan dan kasih sayang Allah.

“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa bencana, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.”

(HR. Muslim)

Dengan bersikap seperti ini bukan berarti mengabaikan kenyataan dari bencana gempa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, kita bertanggung jawab untuk mengambil tindakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Situasi harus bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Tak lupa, alasan di balik bencana gempa tersebut harus kita temukan. Jika kita telah berusaha memahami alasan ini, dengan seizin Allah, kita akhirnya akan berhasil. Bahkan, meski kita belum berhasil menemukan maksud di baliknya, kita masih tetap yakin bahwa pastilah semua itu demi kebaikan dan maksud tertentu.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”

(Ali-Imran:14)

“…jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…”

(al-Hadiid: 23)

Tanda kita tidak bersyukur kepada Allah ialah berputus asa atas hilangnya kekayaan dan terlalu bersuka cita dalam kekayaan. Sebagian masyarakat menganggap boleh-boleh saja merasa kecewa akan hilangnya harta kekayaan. Kenyamanan hidup yang dinikmati dari kekayaan berkat usaha keras kita tiba-tiba rusak atau lenyap karena gempa. Rumah hancur dalam sekejap mata, padahal rumah itu didapatkan setelah menyimpan uang selama bertahun-tahun. Kalau kita tidak menyadari fitrah hidup kita maka dalam kondisi ini kita akan kebingungan karena mengalami kehilangan rumah yang begitu berarti. Putus asa dan pemberontakan kepada Allah pun timbul hingga kita menjadi lelah sendiri karenanya.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 46)

Harta kekayaan tersebut hendaknya kita hargai. Kita akan menggunakan segala milik kita, termasuk kekayaan, karena Allah. Jika kehilangan harta kekayaan, kita tahu bahwa hal itu adalah ujian dari Allah. Kita akan bersabar dan terus mencari kebaikan atas peristiwa tersebut.

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (al-A’raaf: 42)

Bencana gempa yang kita dihadapi kini berada dalam rangkaian batasan kemampuan kita untuk mengatasinya. Di samping itu, bantuan dan pertolongan dari Allah selalu ada sepanjang hidup kita. Kita dapat menghadapi segala macam cobaan dan kesulitan hidup, sehingga kita tidak pernah menyesal dan berkata, ”Seandainya ini tidak terjadi padaku”. Kita percaya bahwa ada suatu kebaikan yang akan ditemukan dalam bencana gempa ini.

Usaha dan Doa

Lalu, cukupkah dengan hanya menyadari bahwa peristiwa bencana gempa ini adalah ujian dari Allah? Tentu tidak. Kalau kita ingin keluar dari bencana yang menimpa, kita tidak bisa hanya berpangku tangan. Artinya, memang harus ada usaha yang kita kerjakan. Allah berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’du: 11)

Bersamaan dengan usaha yang kita lakukan itu, maka kita menyerahkan hasilnya kepada Allah semata. Sekeras apapun usaha kita, kepastian tetap di tangan Allah jua. “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Ath-Thalaq: 3)

Tentunya, yang paling utama ialah jika kita ditimpa bencana, kita akan senantiasa berusaha dekat dengan Allah, jalan keluar akan selalu ada, urusan-urusan kehidupan akan mudah dijalani, dan banyak karunia akan diberikan oleh Allah kepada kita. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah. Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2)

Dari mana kita akan bangkit?

Kita akan bangkit dengan menentukan sendiri arah perbaikan kehidupan setelah bencana gempa ini. Kita akan bergotong royong membersihkan rumah-rumah yang rusak. Kita akan turut serta dalam membangun kembali rumah dan bangunan milik umum yang rusak, lewat tradisi gotong royong dan kebersamaan. Rumah dengan kerusakan tidak parah diperbaiki lebih dahulu supaya bisa dihuni secara aman. Di samping itu, kita tidak sepatutnya serakah akan bantuan yang datang, baik itu keuangan, bahan makanan dan bahan bangunan, hendaknya kita bisa berbagi kepada yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perlahan kita bisa menata kembali keadaan ke kehidupan seperti biasanya.

Luqman Satriya Siambodo

Anggota Muda angkatan ke-6 Forum Lingkar Pena Yogyakarta

Halaman Berikutnya »