Yogyakarta, Rabu, 17 Juni 2009
Hidupku tersusun atas mozaik. Kumpulan bagian kehidupan yang mesti cerdas kurangkaikan sehingga menjadi secara keseluruhan kehidupanku. Tidak banyak manusia yang mengerti tentang mozaik hidupnya. Lebih banyak dari mereka yang menjalani hidup ini apa adanya, menjalaninya seperti air yang mengalir. Mereka tidak memaknai dan mengenali hidup mereka sendiri.
Mozaik dalam hidupku adalah bagian dari hidupku. Aku berusaha mengenali, memaknai dan mengambil hikmah perjalanan hidupku darinya, apalagi di masa-masa golden age (0-5 tahun), di masa-masa itulah, keseluruhan perjalanan hidupku tidak akan jauh berputar, meski aku tidak menafikan faktor lingkungan dan perkembangan diri. Namun, aku yakin, pasti ada keterkaitan antara capaian-capaian dan perjalanan hidupku saat ini dengan pengalaman hidupku di masa golden age tersebut.
Salah satunya pilihanku terhadap bidang keteknikan industri, maka jika ditarik garis lurus terhadap kehidupan masa kecilku, maka aku hidup di Ujung Pandang (Makassar) dahulu ada di lingkungan yang bertetanggaan dengan pabrik roti dan ladang tebu. Keduanya adalah bentuk manifestasi dari hal yang kucapai di saat ini.
Kehidupan keagamaan yang kumiliki tidak lepas dari didikan yang baik dari kedua orang tuaku, mulai dari pengajaran shalat, puasa, shalat jum’at, mengaji, buku-buku tafsir Al-Azhar dan Kisah Nabi dan Rasul karangan Hamka membuat hidupku di saat ini juga tidak jauh dari tema-tema agama. Aku bersyukur memiliki kedua orang tuaku sebaik beliau berdua, dalam kehidupan keagamaan yang menuju matang.
Begitu pula dengan minatku pada hal-hal yang berbau sosial, budaya, ekonomi dan politik, dikarenakan di masa kecil aku begitu akrab dengan tembang-tembang Iwan Fals dalam album “Surat Buat Wakil Rakyat”. Alhasil, nyanyian-nyanyian masa kecil membentukku jadi pribadi yang seperti ini.
Tidak hanya itu, dalam soal prinsip, aku tidak begitu menyukai menjadi bagian dari arus massa, pandangan umum, ataupun pendapat banyak orang. Aku menyakini kebenaran maupun sikap yang kutunjukkan adalah berdasarkan hasil pemikiran dan perenungan yang kulakukan, bukan berdasarkan atas pengaruh massa atau trend yang berkembang. Hal ini tercermin pula pada masa kecilku yang tidak mau mengalah pendapat terhadap sekelompok kawanku sehingga terpaksa harus berkelahi untuk mempertahankan pendapatku. Meskipun akhirnya aku tahu bahwa sebenarnya dirikulah yang salah, aku bangga karena aku telah mampu mempertahankan prinsip dan keyakinanku.
Aku yakin, akan ada banyak bagian-bagian dari hidupku yang bisa ditarik garis lurus terkait kehidupan yang kujalani kemarin, saat ini dan mendatang dengan masa-masa golden age yang pernah kulalui. Aku hanya perlu melihat kembali, merenung, memaknai, bertindak atasnya dan menjalani kehidupan ke masa depan dengan lebih baik.
Cash Flow Quadrant adalah buku yang kubaca habis dan kuresume dalam beberapa hari terakhir ini. Aku lupa pada tahun berapa aku pernah membaca buku ini sebelumnya, buku yang sama pula kupinjam dari Perpustakan UPT II. Yang jelas, aku ingin membaca, memaknai dan mengambil tindakan penerapan atas hal yang sesuai dan benar menurutku berasal dari buku ini (sang penulis buku). Sejumlah hal bisa kuambil sebagai intisari dan kesimpulan dari buku ini.
Ya, kebiasaan seseorang akan mempengaruhi kehidupannya. Jalan hidup, pilihan hidup, bahkan nasibnya. Misalnya, seseorang yang terbiasa bangun pagi, lebih pagi daripada orang yang bangun pagi pada umumnya, berarti dirinya paling awal memulai hari ini, paling awal dalam menjemput rejeki, paling awal dalam membentuk kebiasaan baik di dalam hidupnya.
Pesan dan Kesan