Matematika, Fisika dan Bahasa Inggris

Posted: 28 July 2009 in Science & Technology

Yogyakarta, Senin, 1 Juni 2009

Aku akan menekuni matematika, fisika dan bahasa Inggris dalam sebulan ini. Aku ingin mengejar ketertinggalan dan ketidakmampuanku dalam mengolah logika. Aku ingin menjadi orang yang expert dalam ketiga hal tersebut. Hal ini ditunjang pula oleh penguasaan terhadap filsafat ilmu dan teknologi.
Aku memfokuskan diri pada hal tersebut. Meskipun aku tak menafikan bahwa diriku juga mempelajari hal lainnya, namun kekuatan terbesarku tetap aku berikan kepada ketiga ranah tersebut. Paling-paling, persoalan agama dan sosial humaniora yang menjadi perhatianku, itu pun tidak terlalu luas dan mendalam.
Kebutuhanku akan matematika dan fisika jelas adanya. Sebagai seorang calon sarjana teknik (industri), penguasaan akan kedua bidang ilmu ini adalah kewajiban. Bidang teknik merupakan bidang aplikasi praktis dari matematika dan fisika. Keteknikan industri yang kutekuni merupakan kombinasi antara matematika, fisika dan ekonomi bisnis dalam praktik industri. Jadi, matematika dan fisika menjadi salah satu pilar dalam penguasaan keilmuan teknik industri.
Aku memang pernah mencapai nilai terbaik (10) dalam Ebtanas (Ujian Akhir) ketika Sekolah Dasar dahulu. Memang, prestasi dari kehidupan akademikku selanjutnya hanya biasa-biasa saja, tak pernah sebaik dan sehebat itu lagi, namun aku yakin, pondasi pemikiranku dalam hal matematika pasti masih kuat. Aku pun tak hanya menempatkan matematika sebagai bagian dari kehidupan akademik (sekolah/kuliah) saja. Aku menempatkan matematika sebagai bagian integral dari kehidupanku, hal ini dikarenakan ilmu matematika (misalnya himpunan dan logika) adalah hal-hal mendasar yang digunakan dalam kehidupan manusia, baik sadar ataupun tidak.
Aku memang menyukai fisika, karena fisika merupakan aplikasi teknis matematika dalam bentuk yang konkret. Jika hendak membedakan antara matematika dan fisika, maka matematika adalah bentuk logika yang abstrak sedangkan fisika merupakan bentuk logika yang konkret. Hal terburuk yang pernah kualami dalam menekuni bidang ilmu fisika adalah nilai 5 yang tertera pada raporku semasa kelas 1 SMU dahulu. Sejak itu, aku malah semakin meluangkan waktu belajarku untuk mempelajari fisika karena tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.
Dalam persoalan bahasa Inggris, memang, setahun yang lalu, aku pernah mencapai nilai 517 untuk skor ujian TOEFL. Namu, aku selalu yakin, bahwa aku masih dapat lebih baik lagi dalam pencapaian skor TOEFL saat itu. Kondisiku waktu itu sedang tidak mendukung, lingkungan yang panas karena terik matahari dan ketidaksiapanku dalam menyiasati soal-soal ujian TOEFL tersebut. Memang, ujian TOEFL tidak jauh berbeda dengan ujian akhir kenaikan tingkat di Lembaga Bahasa LIA yang pernah aku ikuti dahulu. Tetapi, jarak aku mengikuti ujian di LIA dan TOEFL setahun lalu sudah terlalu lama, jelas aku juga membutuhkan penyesuaian. Aku pikir, sudah waktunya di bulan ini aku memperbaharui skor TOEFL-ku, artinya aku memiliki andil untuk kehidupan pasca-kampusku ini, kerja dan/atau kuliah ke luar negeri.
Dasar-dasar bahasa Inggrisku masih lemah. Aku lebih mengandalkan feeling (rasa berbahasa) dalam memahami bahasa Inggris. Tentulah hal ini menjadi lemah jika hendak dikaitkan dengan kemampuan seseorang berbahasa (tata bahasa). Aku mesti menguasai kosa kata dan tata bahasa Inggris dengan baik, hal ini jika diriku masih ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisku, terutama ditunjukkan salah satunya oleh skor TOEFL yang dapat kuraih.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s