Yogyakarta, Jum’at, 19 Juni 2009
Manajemen proyek merupakan buku yang kucicil untuk kubaca hari ini. Buku ini kubeli secara diskon di toko buku Toga Mas kurang lebih sebulan yang lalu. Niatan diriku waktu itu adalah mengumpulkan kembali buku-buku yang menjadi kompetensi inti sehingga aku dapat kembali menjadi seorang industrial engineer yang baik, bahkan hebat.
Aku menemui hambatan di dalam hidup ini. Memang, aku terkendala dalam persoalan cakupan, waktu dan biaya dalam manajemen hidupku. Aku tidak bergerak dalam kompetensi inti, namun terlalu sibuk, bahkan terlalu banyak kompetensi sampingan (penunjang) yang ingin aku tempuh. Padahal, kompetensi intiku juga butuh konsentrasi tenaga, waktu, biaya dan pikiran. Oleh karena itu, hasil yang kuperoleh tidak dapat maksimal karena sumber daya yang kumiliki terpecah-pecah.
Aku jadi tahu, aku mesti memfokuskan diri pada hal-hal yang benar-benar penting di dalam hidupku. Dalam penggunaan segenap sumber daya: tenaga, waktu, biaya dan pikiran haruslah demikian. Hal ini jika aku ingin maju dengan cepat, efektif dan efisien. Kekeliruan yang terjadi padaku selama ini menyebabkan langkah-langkah di dalam hidupku tidak menjadikanku efektif dan efisien.
Dalam penggunaan tenaga, waktu dan pikiran, prioritasi faktor untuk hal-hal yang ingin ditempuh (dilakukan) merupakan langkah yang penting. Aku mengupayakan diriku untuk berkonsentrasi pada hal-hal terpenting untuk saat ini, misalnya studi, bahasa Inggris, dan kemampuan logika. Hidupku juga dipenuhi dengan target baik itu soal ketiga hal tadi maupun dalam soal agama (ibadah). Jadi, dari hari ke hari, hidupku senantiasa terpacu untuk berbuat lebih baik dan menjadi hebat.
Dalam penggunaan keuangan, terkait persoalan biaya, konsentrasiku pada kebutuhan primer terlebih dahulu, kebutuhan mendesak dan penting, baru kebutuhan sekunder (seperti majalah Tempo, Intisari, SM, dan buku). Aku mengerucutkan sumber pengetahuanku pada sejumlah referensi di atas saja, mengingat kemampuan keuanganku belumlah menunjang untuk pemenuhan kebutuhan referensi dari sumber lainnya (yang lebih banyak dan bagus). Dengan demikian, alokasi keuangan yang dapat dihemat dapat disimpan (ditabung) guna kesiapan masa depan, memperbesar kekayaan, membangun aset dan pemasukan pasif, serta beramal di kemudian hari.
Aku butuh langkah-langkah taktis, cepat dan strategis, mengingat aku sudah jauh tertinggal dan mengalami keterlambatan studi. Tidak hanya itu, keterlambatan dan keteledoran ini juga tercermin dari perjalanan sehari-hari yang tidak beres. Memang, secara perlahan aku mulai membenahi segalanya, mulai dari penjadwalan, target ibadah, target harian, pekanan, bulanan dan tahunan dalam hidup, dan aku memantapkan kedisiplinan diriku. Jujur, aku membutuhkan ruang untuk bekerja (menghasilkan pemasukan bentuk apapun secara halal) dalam waktu dekat, selepas studi ataupun sebelumnya. Jika aku tidak melakukan reformasi diri secara mendasar, maka aku tidak akan dapat bangkit dari keterpurukan hidup ini. Aku sadar, aku masih punya kesempatan untuk kembali memainkan peranan penting dalam kehidupan ini.