Kecerdasan finansial

Posted: 28 July 2009 in Business & Economy

Yogyakarta, Sabtu, 23 Mei 2009
Ada satu pekerjaan rumah besar yang masih kuhadapi dalam hidup ini, yakni persoalan kecerdasan finansial. Aku tahu, aku teramat lemah dalam sektor ini, apabila dibandingkan tiga kecerdasan yang lain (intelektual, emosional dan spiritual).
Persoalan kemandirian, kontrol emosi terhadap uang, sikap terhadap uang, dan bagaimana aku begitu tergantung pada uang. Padahal, seharusnya aku tak boleh tergantung pada uang. Uanglah yang bergantung padaku, uanglah yang bekerja padaku, uanglah yang menghasilkan pemasukan bagiku. Meski kutahu, uang bukanlah segala-segalanya. Karena, Allah-lah yang mencukupi segala-galanya dalam hidupku, dalam hidup manusia, namun aku tak hendak menjadi fatalis dengan semata-mata menyerahkan seluruhnya kepada Allah secara langsung, tanpa kemudian berusaha terlebih dahulu mengubah nasib (hidup)ku.
Berarti keinginan besarku untuk bisa cerdas secara finansial tidak hanya sebatas keinginan saja. Keinginan itu terbentuk lagi menjadi komitmen, ketekunan dan kebiasaan, hingga akhirnya membentuk kebiasaan. Aku menjadi cerdas secara finansial melalui proses yang panjang.
Aku jadi sadar. Aku pernah mengalami kegagalan secara finansial, sama halnya kegagalanku dalam permasalahan intelektual, emosional dan spiritual. Namun, bukannya aku memilih untuk mengabaikannya. Aku tetap mengembangkan ketiga, bahkan keempatnya, dalam porsi yang wajar, optimal dan terbaik. Aku tak bisa menguatkan salah satunya saja lalu menafikan yang lain. Aku pikir, keempat kecerdasan tersebut akan saling mendukung, manakala aku mampu secara cerdas menempatkannya secara proporsional.
Dalam persoalan uang, aku akan meminimalkan pengeluaran, hanya terkait soal kebutuhan saja. Sisa keuangan akan aku tabung, tabungan yang lebih besar aku depositokan, dan lebih besar daripada itu aku investasikan. Memang, saat ini, aku tak bisa segera melompat untuk berinvestasi. Aku memfokuskan diri untuk menabung dan mempunyai deposito terlebih dahulu. Dengan demikian, aku mulai merasakan manfaat dari memiliki uang dan uang yang menghasilkan pemasukan bagi diriku, meskipun baru kecil adanya. Dengan demikian, aku akan semakin terlatih untuk makin memperbesar kolom aset (tabungan, deposito, investasi) sehingga pemasukan keuanganku akan menjadi semakin besar.
Tidak hanya itu, aku mesti mampu menahan diri untuk mengonsumsi secara berlebihan terlebih dahulu. Prinsip yang aku gunakan bukan berarti ketidakmampuan untuk membeli (memiliki), namun aku akan berpikir keras agar aku dapat memilikinya, bagaimana caranya? Dengan demikian, otak dan tubuhku tak menjadi malas berpikir dan bergerak. Hidupku akan menjadi dinamis dan produktif, bukan lagi menjadi seseorang yang tidak berdaya.

Advertisement
Comments
  1. SAYIDATUL MUHSINATIN says:

    YG SULIT ITU JAGA DIRI UNTUK TIDAK JATUH CINTA PADA JENIS NVESTASI TERTENTU (TANAH/RUMAH) DAN MENJADIKANNYA KLANGENAN (KOLEKTOR),KALKULASI INVESTASI JADI BLONG!HE..HE..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s