Yogyakarta,6 Mei 2009
Dua dosa besar yang diwariskan oleh Orde Baru adalah utang bangsa ini yang begitu besar sehingga harus ditanggung oleh generasi selanjutnya dan pemiskinan ideologi sehingga generasi muda tak lagi memiliki cita-cita tinggi. Persoalan pertama memang mampu diatasi dengan pemberdayaan dan kekuatan ekonomi yang mampu dibangun oleh suatu negara, namun persoalan kedua bukanlah hal yang mudah karena terkait masalah mental dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa ini nantinya.
Kemiskinan ideologi ini ditunjukkan oleh ketidakmampuan para generasi muda untuk meneladani para pendahulunya, the founding fathers (bapak pendiri bangsa). Keluasan wawasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki para pendahulu juga kecintaan dan pengabdian sepenuhnya pada bangsa tentunya patut untuk diteladani. Mereka tidak berpikir untuk kepentingan diri mereka sendiri, kelompok ataupun golongan. Mereka berpikir dalam konteks bangsa dan dunia, mereka bekerja dan hidup untuk kedua hal tersebut. Oleh karena itu, capaian-capaian besar terjadi pada masa mereka baik dalam lingkup bangsa maupun dunia.
Miskinnya ideologi juga tampak pada dangkalnya pikiran dan target hidup yang ingin dicapai oleh generasi muda saat ini. Orientasi generasi muda saat ini tidak jauh dari menjadi populer (terkenal), kaya raya, hiburan dan kesenangan hidup atau keshalihan pribadi hingga mati masuk surga. Hampir tidak ada sebersit pun pikiran untuk masyarakat, bangsa dan negara, apalagi dunia. Alhasil, generasi muda Indonesia hidup dalam individualitas dan merasa asing antara satu dengan yang lainnya. Mereka tidak hidup bersama sebagai satu bangsa, memikirkan kepentingan bersama dan menomorsekiankan kepentingan pribadi/kelompok.
Ada dua skenario yang bakal muncul dari keadaan yang demikian. Skenario tersebut diantaranya adalah:
- Jika bangsa ini bisa maju, maka akan terjadi ketimpangan yang besar, yakni antara yang kaya dengan miskin, maju dan terbelakang, pintar dan bodoh, karena bangsa ini hidup dalam individualitas bukan kebersamaan (kegotongroyongan).
- Bangsa ini sulit maju karena entitas bangsa sibuk memikirkan tentang dirinya masing-masing, bukan memikirkan dan bertindak atas dasar satu kesatuan entitas tersebut. Alhasil, keadaan bangsa ini hanya berlangsung seperti sekarang ini (dalam wujud yang berbeda-beda) atau menjadi lebih parah dan memprihatinkan.

0 Tanggapan ke “Miskin Ideologi”