Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Golkar hari ini mengamanatkan kepada Jusuf Kalla untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Pemilu Presiden bulan Juni mendatang. Fatsun politik partai Golkar begitu tinggi, partai dengan tradisi pemerintahan yang kuat ini tentunya begitu berkeinginan untuk mendudukan orangnya pada kursi presiden, setelah era Presiden Soeharto dan Habibie dahulu.
Golkar memang partai pemerintah. Golkar begitu kuat di akar rumput dan basis massa, meskipun dirinya digembosi oleh Gerindra dan Hanura. Golkar masih solid. Kekalahan di Pemilu legislatif lalu kiranya jadi pelajaran buat Golkar untuk tak mengulang kesalahan yang sama. Tingkat kematangan organisasi yang telah bercokol di negeri ini lebih dari 40 tahun tentunya berdampak pada banyaknya kader-kader potensial yang dapat memimpin negeri ini. Hal ini berbeda dengan partai-partai baru yang lebih mengandalkan figuritas dan belum menciptakan kader-kader yang punya kapabilitas dan kompetensi.
Golkar memang punya strategi yang bagus. Dia akan tetap mengukuhkan posisinya sebagai partai pemerintah. Hal ini dikarenakan Jusuf Kalla mengajukan diri sebagai calon presiden, calon lainnya bisa jadi SBY dan Mega. Akbar Tanjung, yang juga berasal dari Golkar, mendeklarasikan diri siap menjadi calon wakil presiden SBY. Ada tiga skenario yang bakal terjadi di Pemilu Juni nanti, yakni:
- JK menang, SBY dan Mega urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika JK melawan SBY maka JK bisa menang karena suara pendukung Mega tidak akan lari ke SBY, namun ke JK. Jika JK melawan Mega, maka JK juga menang karena suara pendukung SBY tidak akan lari ke Mega, namun memilih ke JK.
- SBY menang, JK dan Mega urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika SBY melawan JK maka JK bisa menang karena suara Mega lari ke JK. Jika SBY melawan Mega, maka Mega akan menang karena suara JK lari ke Mega.
- Mega menang, SBY dan JK urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika Mega melawan SBY maka Mega akan menang karena suara JK ke Mega. Jika Mega melawan JK, maka JK akan menang karena suara SBY akan ke JK.
Dilihat dari skenario penalaran tersebut, maka kans SBY untuk kembali memenangi kursi kepresidenan kecil (0%), Mega (33,33%), dan JK (66,66%). Oleh karena itu, kemenangan SBY di Pilpres ditentukan oleh akan berada di mana posisi partai Golkar. Tampaknya, Golkar akan memainkan strategi ganda, mengusung calon presiden sendiri lewat Jusuf Kalla, jika JK kalah, maka akan terjadi deal dengan PDI-Perjuangan dan mengusung Mega. Tidak hanya itu, Golkar juga mengajukan kadernya, Akbar Tandjung sebagai cawapres SBY. Hal ini untuk menjaga posisi Golkar untuk tetap kukuh di pemerintahan. Memang, di dalam politik tidak ada teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi!

Saya benar2 heran membaca artikel ini. Soalnya dari sekian banyak artikel yang saya baca tentang pilpres, semua menjagokan Pak SBY sebagai pemenang, tapi di tulisan ini justru peluang Pak SBY 0%. Peluang SBY menang hanya jika SBY bisa memenangkan pilpres dalam satu putaran. Sebuah pemikiran yang melawan arus…. Tapi dari segi logika, memang masuk akal….
terimakasih, salam kenal….