Bucket List

Tadi malam, aku, Zul dan Mufid menyimak film Bucket List. Film ini diperankan oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Film ini berceritakan tentang dua orang dengan usia yang lewat paruh baya dan masing-masing divonis menderita kanker otak stadium lanjut. Artinya, jangka waktu hidup mereka hanya tinggal beberapa bulan hingga satu tahun lagi. Mereka bertemu ketika masing-masing dirawat di dalam satu kamar rumah sakit yang sama.

Morgan Freeman memerankan Carter, seorang montir kulit hitam yang sederhana, cerdas dan berpengetahuan luas. Carter memiliki keluarga yang harmonis dan hidup untuk membahagiakan orang lain. Sedangkan, Jack Nicholson merupakan seorang kaya raya yang hidup sendiri, pernah cerai dalam pernikahan selama empat kali, hidup sendirian dan tidak mampu membahagiakan orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna.

Pertemanan itu muncul ketika tiap hari mereka berbincang selama dirawat di rumah sakit tersebut. Pertemanan itu berlanjut manakala Carter menulis sebuah daftar yang didasarkan oleh guru filsafatnya yang memberikan tugas untuk menuliskan sejumlah hal yang diinginkan dalam hidup, lalu menuliskannya dalam sebuah ember, dinamakan ember cita-cita.

Ember cita-cita inilah yang menjadi awal terwujudnya perjalanan mewujudkan cita-cita tersebut dan segenap dinamikanya. Hal-hal yang telah dicapai disisihkan dari daftar tersebut. Hal-hal yang terlintas dan akan dicapai sebelum ajal menjemput dituliskan di dalam daftar itu, memotivasi diri untuk mewujudkannya.

Aku menemukan makna film ini pada persahabatan/kekeluargaan, perwujudan cita-cita, dan pentingnya membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Persahabatan tidak didasarkan atas materi (uang/harta) dan kuasa, namun hal tersebut didasarkan atas saling percaya dan cinta. Perwujudan cita-cita menjadi penting manakala hal tersebut dituliskan, terpatri di dalam diri dan diusahakan untuk mewujudkannya. Kebahagiaan yang diperoleh ketika berhasil mewujudkan cita-cita tersebut juga bukan untuk diri sendiri saja, karena pada hakikatnya kebahagiaan itu tidak lengkap, namun kebahagiaan itu juga untuk orang lain. Di sanalah hakikat kebahagiaan yang sebenarnya.

Yogyakarta, Senin, 20 April 2009

0 Tanggapan ke “Bucket List”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan