Bintang Berlari

Dini hari ini, aku keluar kost. Perutku sedikit sakit, tadinya kukira hal ini akibat perutku yang keroncongan karena kelaparan. Ternyata tidak, bisa jadi hal ini terjadi akibat mie yang kusantap malam tadi. Memang, mie begitu tajam rasanya sehingga berpengaruh pada perutku. Kuharap hal ini tak berlangsung lama. Aku butuh konsentrasi untuk mengerjakan skripsi ini. Aku tak ingin dihantui rasa bersalah lagi dari hari ke hari.

Aku makan burjo di warung di persimpangan dekat gang. Burjo di sini memang lebih enak dan kental dibandingkan dengan warung DM. Pemiliknya adalah penduduk setempat, bukan orang Sunda seperti biasanya pemilik warung burjo, aku lupa, aku tak sempat berkenalan dengannya. Rasa solidaritas sosialku memang lemah. Aku mesti memperbaiki hubungan sosial dan cara berkomunikasiku dengan baik. Di dalam hidup ini ada banyak manusia, ada banyak makna. Tidak ada hidup yang tak bermakna.

Setelah menyantap burjo dan berbincang beberapa hal dengan penjual burjo tersebut, aku bergegas kembali ke kost, bukan karena hendak menunaikan tugasku lagi. Hal ini karena ada pelanggan lain yang datang, seorang laki-laki dan perempuan. Yang aku tak kuasa, perempuan itu mengenakan setelan kaos dan celana pendek yang ketat.Aku tak tahan saja, imanku bisa goyah jika pandangan liarku dibiarkan begitu saja.

Hawa nafsu liarku bisa turut serta, syetan pun akan kegirangan dengan kondisi yang demikian. Aku belum menikah, jadi aku perlu lebih waspada terhadap hal-hal yang dapat memicu birahi (hawa nafsu). Apalagi aku masih muda, dengan jiwa dan semangat yang berapi-api, amatlah berbahaya bila hal itu hanya menjadi pemuasan hawa nafsu belaka. Tidak, aku tidak mau diriku seperti itu.

Di perjalanan pulang, aku menikmati indahnya langit. Langit begitu hitam pekat malam ini. Gemerlap bintang begitu tampak cerahnya karena baru saja sore hingga malam ini turun hujan. Gugusan bintang itu begitu luar biasa, aku terkagum padanya. Aku berusaha melihat lebih jelas keteraturan bintang itu di angkasa.

Aku coba mengarahkan jemariku ke langit agar diantara bintang itu terhubung sebuah pola. Aku percaya bahwa segala hal di dalam ini berada dalam keteraturan, meskipun ada ketidakteraturan (keacakan) tetap ada keteraturan didalamnya. Aku tak berhasil menyusunnya. Namun, ketika kutarik jemariku, aku melihat sesuatu yang lain.

Ada pola yang tersusun di langit sana.

Pola tangan, badan, kaki, menunjukkan posisi seseorang sedang berlari.

“Bintang Berlari”

Ya Allah, inikah petunjuk-Mu? Engkau memberikan mozaik di dalam kehidupanku, menunjukkan padaku pola ciptaanmu berbentuk manusia berlari. Engkau menunjukkan kemahakuasaan diri-Mu atas diriku dan segala ciptaan-Mu di dunia ini.

Aku berkaca pada diriku, memang inilah masalah fundamental pada diriku. Aku begitu lamban. Aku tak cepat. Aku tak gesit. Allah Maha Tahu tentang hamba-Nya. Aku sadar. Aku bergegas menuju ke kost. Aku tersenyum bangga dan bahagia.

Aku akan berlari. Berlari di dalam kehidupanku. Berlari mengejar cita-citaku. Berlari menghampiri cintaku. Berlari semakin mendekat kepada Allah SWT. Aku tak ingin lamban lagi. Hidupku terlalu singkat hanya untuk berjalan lamban. Kelambanan itu penting sebagai penyeimbang atas kecepatan. Namun, bukan berarti seluruh kehidupan menjadi lamban. Begitu pula, bukan berarti seluruh kehidupan menjadi cepat. Lamban segala-galanya, ataupun cepat segala-galanya, sama-sama tidak baik.

Yogyakarta, Selasa, 21 April 2009

0 Tanggapan ke “Bintang Berlari”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Blog Stats

  • 4,942 pembaca

Arsip

e-mail:

luqman_satriya@yahoo.com