Yogyakarta, Kamis, 23 April 2009
Kuntowijoyo (alm.), seorang intelektual muslim yang amat luar biasa secara pencapaian intelektual. Sepuluh tahun akhir hidupnya, Kuntowijoyo terserang penyakit yang membuat dirinya lumpuh, sehingga tak mampu menggerakkan bagian-bagian tubuhnya. Jadilah selama itu dirinya ditemani sang istri dalam mengarungi kehidupannya, disamping itu menulis karya-karyanya yang luar biasa. Kuntowijoyo menulis sedikitnya 6 halaman setiap hari di tengah sakit yang dideritanya. Kuntowijoyo selalu berpikir positif dan produktif meski kondisi yang dihadapinya begitu parah dan membuat sebagian besar orang yang menderita penyakit serupa bakal cepat menyerah dan putus asa.
Aku malu pada Kuntowijoyo. Aku terlalu manja di dalam hidup ini. Sakit yang hanya sedikit dan masih bisa aku tanggung deritanya sudah membuat diriku tak mampu melakukan apapun di dunia ini. Padahal, orang yang sakit sekalipun, jika masih bisa menggunakan fungsi pikirnya (otaknya) maka pada hakikatnya hidupnya tak pernah berhenti. Hanya ketidaksadaran seperti orang gilalah yang tidak dimasukkan dalam kriteria ini.
Aku tak akan manja lagi. Aku akan tegar di dalam hidup ini. Yang pasti, aku memiliki cinta. Cinta yang menggebu-gebu di dalam hidupku. Cinta, mencintai sesuatu karena Allah. Baik ataupun buruk, hal itu merupakan petunjuk dari Allah, agar aku mampu berkaca dan memilih. Yang jelas, cinta yang ada pada diriku dan selalu kubagi tidak membuatku kehilangan pikiran positif dan produktif.
Cinta yang menggerakkan, cinta yang menghidupkan, cinta yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Cinta untuk mencintai. Cinta yang membuat seluruh hidup menjadi baik, indah bahkan luar biasa. Cinta yang membuat kehidupan sehari-hari jadi penuh keajaiban. Cinta membuat keseharian yang merupakan kebiasaan menjadi hal-hal yang luar biasa.

0 Tanggapan ke “Berpikir Positif dan Produktif”