Arsip untuk April, 2009

Shaleh, Pintar dan Kaya

Shaleh, pintar dan kaya merupakan impianku. Aku ingin ketiganya ada pada diriku. Aku akan mengusahakan diriku untuk mengarah ke sana. Aku akan menjadi orang yang shaleh (secara agama dan sosial), aku juga pintar (cerdas dan berwawasan luas) juga kaya (harta dan amal shalih).

Kesalehan dibentuk dari kebiasaan spiritual yang terbentuk dalam sehari-hari. Kesalehan ini juga ditunjang oleh lingkungan agamis yang mendukung. Jadi, tidak hanya mengandalkan secara genetis seseorang saja, lingkungan juga berpengaruh dalam membentuk kesalehan seseorang.

Pintar disusun dari kebiasaan belajar yang kuat. Tidak kenal henti, berhenti ketika lelah, lalu beristirahat, makan ketika lapar, dan segala sesuatunya digunakan sesuai kebutuhan bukan menurut keinginan. Kepintaranku bukan karena hanya hasil kerja kerasku saja, melainkan ada faktor lingkungan orang-orang cerdas dan terutama anugerah yang luar biasa dari Allah SWT berupa otak.

Kekayaanku bukan disusun atas dasar ketamakan (keserakahan) atau hasrat ingin menimbun, namun kekayaan itu akan digunakan dalam kerangka penguatan diri dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam hal amal shalih tanpa kemudian hendak menjadi sombong dan pamer. Kekayaanku mesti tumbuh dari sikap hidup yang sederhan, mencintai apa yang ada, tidak memiliki impian yang berlebihan, dan memiliki ketenangan dan kebahagiaan hidup yang dijalani.

Bagiku, ketiganya merupakan satu kesatuan. Tidak bisa hanya salah satu atau dua saja, karena hal itu hanya akan menjadi kelemahan diri. Misalnya, jika hanya shaleh saja, tidak pintar dan tidak kaya, maka aku akan terjebak pada fundamentalisme ekstrim agama atau kekafiran karena kemiskinan. Jika hanya pintar saja, maka aku cenderung melupakan agama dan mempergunakan kepintaranku untuk mengumpulkan kekayaan, atau kepintaranku bisa dibeli oleh kepentingan jahat orang lain. Jika hanya kaya saja, tidak pintar dan tidak shaleh, maka hidupku hanya bergelimang harta namun diriku tidak bahagia, karena kebahagiaan tidak terletak pada kepemilikan materi.

Ketiga sifat yang terkumpul di dalam diri satu orang merupakan sebuah keluarbiasaan. Boleh dikatakan, ada kelengkapan hidup yang dimiliki olehnya. Kepintaran, keshalehan dan kekayaan. Ketiganya akan menunjang seorang manusia untuk dapat hidup dengan baik di dalam komunitas manusia bahkan untuk kelangsungan peradaban. Shaleh karena penguasaan ilmu agama yang baik dan baik secara sosial, pintar akibat kemampuan otodidak yang luar biasa dengan referensi yang terbentang luas lintas disiplin ilmu, juga kaya karena kekuatan pengelolaan harta dan kemampuan berdagang (berwirausaha) yang dikuatkan pula oleh amal shaleh.

Yogyakarta, Kamis, 23 April 2009

Jusuf Kalla Jadi Capres

Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Golkar hari ini mengamanatkan kepada Jusuf Kalla untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Pemilu Presiden bulan Juni mendatang. Fatsun politik partai Golkar begitu tinggi, partai dengan tradisi pemerintahan yang kuat ini tentunya begitu berkeinginan untuk mendudukan orangnya pada kursi presiden, setelah era Presiden Soeharto dan Habibie dahulu.

Golkar memang partai pemerintah. Golkar begitu kuat di akar rumput dan basis massa, meskipun dirinya digembosi oleh Gerindra dan Hanura. Golkar masih solid. Kekalahan di Pemilu legislatif lalu kiranya jadi pelajaran buat Golkar untuk tak mengulang kesalahan yang sama. Tingkat kematangan organisasi yang telah bercokol di negeri ini lebih dari 40 tahun tentunya berdampak pada banyaknya kader-kader potensial yang dapat memimpin negeri ini. Hal ini berbeda dengan partai-partai baru yang lebih mengandalkan figuritas dan belum menciptakan kader-kader yang punya kapabilitas dan kompetensi.

Golkar memang punya strategi yang bagus. Dia akan tetap mengukuhkan posisinya sebagai partai pemerintah. Hal ini dikarenakan Jusuf Kalla mengajukan diri sebagai calon presiden, calon lainnya bisa jadi SBY dan Mega. Akbar Tanjung, yang juga berasal dari Golkar, mendeklarasikan diri siap menjadi calon wakil presiden SBY. Ada tiga skenario yang bakal terjadi di Pemilu Juni nanti, yakni:

  1. JK menang, SBY dan Mega urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika JK melawan SBY maka JK bisa menang karena suara pendukung Mega tidak akan lari ke SBY, namun ke JK. Jika JK melawan Mega, maka JK juga menang karena suara pendukung SBY tidak akan lari ke Mega, namun memilih ke JK.
  2. SBY menang, JK dan Mega urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika SBY melawan JK maka JK bisa menang karena suara Mega lari ke JK. Jika SBY melawan Mega, maka Mega akan menang karena suara JK lari ke Mega.
  3. Mega menang, SBY dan JK urutan berikutnya. Di putaran kedua, jika Mega melawan SBY maka Mega akan menang karena suara JK ke Mega. Jika Mega melawan JK, maka JK akan menang karena suara SBY akan ke JK.

Dilihat dari skenario penalaran tersebut, maka kans SBY untuk kembali memenangi kursi kepresidenan kecil (0%), Mega (33,33%), dan JK (66,66%). Oleh karena itu, kemenangan SBY di Pilpres ditentukan oleh akan berada di mana posisi partai Golkar. Tampaknya, Golkar akan memainkan strategi ganda, mengusung calon presiden sendiri lewat Jusuf Kalla, jika JK kalah, maka akan terjadi deal dengan PDI-Perjuangan dan mengusung Mega. Tidak hanya itu, Golkar juga mengajukan kadernya, Akbar Tandjung sebagai cawapres SBY. Hal ini untuk menjaga posisi Golkar untuk tetap kukuh di pemerintahan. Memang, di dalam politik tidak ada teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi!

Berpikir Positif dan Produktif

Yogyakarta, Kamis, 23 April 2009

Kuntowijoyo (alm.), seorang intelektual muslim yang amat luar biasa secara pencapaian intelektual. Sepuluh tahun akhir hidupnya, Kuntowijoyo terserang penyakit yang membuat dirinya lumpuh, sehingga tak mampu menggerakkan bagian-bagian tubuhnya. Jadilah selama itu dirinya ditemani sang istri dalam mengarungi kehidupannya, disamping itu menulis karya-karyanya yang luar biasa. Kuntowijoyo menulis sedikitnya 6 halaman setiap hari di tengah sakit yang dideritanya. Kuntowijoyo selalu berpikir positif dan produktif meski kondisi yang dihadapinya begitu parah dan membuat sebagian besar orang yang menderita penyakit serupa bakal cepat menyerah dan putus asa.

Aku malu pada Kuntowijoyo. Aku terlalu manja di dalam hidup ini. Sakit yang hanya sedikit dan masih bisa aku tanggung deritanya sudah membuat diriku tak mampu melakukan apapun di dunia ini. Padahal, orang yang sakit sekalipun, jika masih bisa menggunakan fungsi pikirnya (otaknya) maka pada hakikatnya hidupnya tak pernah berhenti. Hanya ketidaksadaran seperti orang gilalah yang tidak dimasukkan dalam kriteria ini.

Aku tak akan manja lagi. Aku akan tegar di dalam hidup ini. Yang pasti, aku memiliki cinta. Cinta yang menggebu-gebu di dalam hidupku. Cinta, mencintai sesuatu karena Allah. Baik ataupun buruk, hal itu merupakan petunjuk dari Allah, agar aku mampu berkaca dan memilih. Yang jelas, cinta yang ada pada diriku dan selalu kubagi tidak membuatku kehilangan pikiran positif dan produktif.

Cinta yang menggerakkan, cinta yang menghidupkan, cinta yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Cinta untuk mencintai. Cinta yang membuat seluruh hidup menjadi baik, indah bahkan luar biasa. Cinta yang membuat kehidupan sehari-hari jadi penuh keajaiban. Cinta membuat keseharian yang merupakan kebiasaan menjadi hal-hal yang luar biasa.

Pilihlah Aku, SBY!

Pemilu legislatif 2009 telah berlalu. Partai Demokrat dapat dipastikan sebagai pemenang, mengingat hasil perhitungan Quick Count lembaga survey dan Real Count KPU menunjukkan hal tersebut. Figur SBY (Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat) memegang peranan penting dalam menentukan kemenangan Partai Demokrat.

Masa-masa perhitungan suara memang belum selesai, namun partai-partai yang masuk di dalam 9 besar, diantaranya Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra dan Hanura, telah menjalin pembicaraan seputar Pemilu dan koalisi untuk pemilihan Presiden. Kubu yang berseberangan masih sama dari tahun 2004 yakni SBY melawan Megawati. Artinya, dalam lima tahun perjalanan bangsa ini, tidak terjadi peralihan kepemimpinan bangsa yang berarti, kaum muda belum mampu tampil.

Megawati sibuk menjalin koalisi dengan Prabowo dan Wiranto. Kubunya juga menghitung-hitung lawan tanding di pemilihan presiden nantinya, SBY, hendak memilih siapa sebagai calon wakil presidennya. Nama yang santer beredar yakni masih berduet dengan Jusuf Kalla, Akbar Tanjung (Golkar), Hidayat Nur Wachid (PKS) atau Sri Mulyani. Lawan berat dari Megawati akan terjadi jika SBY tetap berduet dengan Jusuf Kalla, karena kekuatan duet ini sudah massif dan punya posisi yang kuat. Lain halnya jika SBY memilih cawapres yang lain, dirinya perlu menyolidkan barisan terlebih dahulu dan “menjual” duet ini dengan lebih gencar kepada publik.

Yogyakarta, Selasa, 21 April 2009

10.000 Jam

Dalam mencapai kesuksesan, seseorang tidak hanya bergantung pada kemampuan dirinya semata. Namun, ada pula yang dinamakan faktor kesempatan dan lingkungan. Lingkungan berpengaruh untuk perkembangan kemampuan diri tersebut, jika lingkungan mendukung, maka perkembangan kemampuan itu akan signifikan, begitu pula sebaliknya. Kesempatan yang sama tidak datang dua kali, begitu kata pepatah. Manusia yang mampu dan didukung oleh lingkungannya juga memerlukan kesempatan agar bisa membuktikan bahwa dirinya mampu, sehingga akhirnya dirinya menjadi orang yang sukses.

10.000 jam merupakan ukuran capaian seseorang, ketahanan mental seseorang dalam menjalani sesuatu hal, baik itu belajar, bekerja, prestasi, maupun menekuni hal yang spesifik. Misalnya, seorang pilot pesawat terbang dapat dikatakan menjadi pilot yang handal (utama) jika telah menempuh jam terbang sebanyak 10.000 terbang. Hal ini dibuktikan oleh sertifikat jam terbang yang dikeluarkan oleh maskapai penerbangan dan badan regulasi penerbangan terkait capaian profesi pilot seseorang. Ukuran jam tersebut mencerminkan kehandalan, ketekunan, kedisiplinan, profesionalisme dan pengabdian yang tinggi.

10.000 jam dapat dikalkulasikan dalam kehidupan sehari-hari seseorang. Jika dialokasikan sehari 3 jam, maka ukuran kesuksesan seseorang baru akan terlihat dalam 10 tahun. Jika dialokasikan waktu dalam sehari 6 jam, maka ukuran kesuksesan seseorang akan terlihat dalam waktu 5 tahun. Begitu seterusnya, semakin banyak waktu yang diberikan seseorang pada sesuatu hal dan tekun di dalamnya serta memiliki ketahanan mental yang tinggi, maka akan semakin cepat pula dirinya meraih buah dari kesuksesan tersebut. Hal ini tentu dengan tidak mengabaikan dua faktor di atas, yakni kesempatan dan lingkungan.

Yogyakarta, Selasa, 21 April 2009

Halaman Berikutnya »