Arsip untuk Maret, 2009

Engineer berkeadilan sosial

Menjadi insinyur (lulusan sarjana teknik) yang bekerja di perusahaan bonafide dan bergaji tinggi tentulah menjadi idaman setiap orang yang pernah menempuh perkuliahan di disiplin ilmu keteknikan. Insinyur memang menjanjikan kehidupan nyaman dan penuh fasilitas dimana pekerjaan menumpuk dan penuh beban menjadi tak terasa karena sebanding dengan hal yang diperoleh saat itu maupun sesudahnya. Insinyur menjadi incaran pilihan hidup sebagian besar manusia Indonesia.

Namun, semakin banyak insinyur di negeri ini tidaklah menjamin negeri ini menjadi semakin baik, makmur, dan berkeadilan. Insinyur yang hidup di dalam perusahaan-perusahaan atau badan-badan milik negara tidak memberikan kontribusi yang berarti di luar kompetensi mereka terhadap peri kehidupan sosial. Insinyur lebih menekankan kontribusi pekerjaan sesuai dengan kompetensi masing-masing dan hal tersebut dipandang sudah cukup untuk ukuran kontribusi profesi terhadap kebaikan dan kemajuan suatu bangsa.

Tak heran, jika perubahan sosial politik di negeri ini tidak lagi ditentukan oleh para insinyur, yang pernah menjadi pelopor perubahan fundamental di negeri ini, salah satunya Sukarno dan Habibie. Ruang gerak insinyur hanya terjebak pada ikatan alumni dan kepercayaan yang terbangun sebatas kesamaan almamater saja. Di sisi lain, ilmu di dalam bidang keteknikan tidak berkembang karena insinyur Indonesia sering rendah diri terhadap kemajuan teknologi luar negeri dan hanya mampu melakukan adopsi terhadap teknologi tersebut, bukannya melakukan reengineering.

Tidak hanya itu, insinyur terjebak pada logika pasar yang menawarkan pasar bebas, bahwa pasar adalah segala-galanya, bahkan melampaui wewenang negara (pemerintah). Sektor-sektor yang bukan menjadi komoditas perdagangan tidak diperhatikan, meski turut mendukung kondusifnya pertumbuhan sektor pasar itu sendiri. Akhirnya, insinyur menjadi rakus akan harta (bukan akan ilmu) yang menyebabkan terjadinya akumulasi uang (harta) pada segelintir orang dan kelangkaan uang pada jutaan manusia lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya ketidakadilan sosial (ekonomi).

Insinyur mestinya mampu menjadikan faktor ilmu (kompetensi, keahlian, hasil) menjadi ukuran pencapaian keberhasilan kerja keinsinyurannya. Pengembangan dan kemajuan di dalam sektor ini, baik bagi diri sendiri, perusahaan, maupun bangsa dan negara harus jadi prioritas. Memang, pemasukan yang diperoleh (dalam bentuk gaji, tunjangan) juga menjadi pertimbangan, namun bukanlah yang utama. Dalam ukuran minimal, pemasukan untuk menunjang kehidupan masa kini dan mendatang insinyur dan lingkungannya, lalu dalam ukuran maksimal pemasukan itu dapat digunakan dalam bentuk pemberian yang sebesar-besarnya bagi kepentingan agama, masyarakat, bangsa dan negara. Perwujudan pemberian dari insinyur itu sendiri dapat berbentuk macam-macam, bisa berupa sumbangan langsung, koperasi, badan usaha, perpustakaan, tempat ibadah dan amal sosial. Dengan demikian, seorang insinyur dapat turut serta dalam mewujudkan kehidupan berkeadilan sosial pada bangsa ini dan juga turut mendorong terjadinya perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Yogyakarta, Selasa, 17 Maret 2009

Temu Alumni IMM UGM

Sore ini berlangsung temu kangen alumni IMM UGM di Food Court Plaza Kampus UGM. Memang, aku yang mengkoordinir terselenggaranya acara ini, namun rencana bentukan acara ini adalah hasil diskusi antara diriku dengan Mas Taufiq. Aku datang tepat pada waktunya di tempat tersebut, aku tak ingin mengecewakan rekan-rekan yang telah hadir terlebih dahulu dan mesti menunggu sang koordinator (pengundang, aku) yang terlambat hadir. Betapa memalukannya jika sampai terjadi hal yang demikian. Aku akan kehilangan kepercayaan, aku tak bisa menepati janji bahkan untuk janji yang kubuat sendiri.

Banyak pula alumni yang hadir sore ini, diantaranya aku, Irawan, Anggun (pulang lebih dulu karena ada agenda acara yang bersamaan), Totok, Widi, Arie, Ghufron, Surya, Mas Taufiq, Mas Arief, Surya, Husni, Chanif, Sony, dan Ima (datang paling terakhir). Sedianya beberapa rekan alumni yang lain juga hendak hadir, namun ketika acaranya dimulai ternyata tak nampak batang hidung mereka. Tak apalah, berpikir positif bahwa mereka ada kesibukan sendiri sehingga tak sempat meminta ijin untuk tidak bisa hadir di acara ini.

Acara ini bermula dengan makan-makan dari masing-masing peserta. Pesanan makanan dengan menu kesukaan masing-masing mulai ramai berdatangan. Tentunya penjual makanan yang berada di sana senang-senang saja, apalagi jika kebanjiran order seperti sekarang ini, mereka tentu tak berkeberatan untuk terus memberi layanan makanan. Apalagi, kabar yang kudengar, pendapatan mereka turun drastis semenjak dipindah dari Boulevard ke Food Court ini. Banyak pelanggan yang belum tahu atau mungkin tak bisa menikmati sensasi sore hari berada di kampus kerakyatan ini. Suasana yang berbeda tentunya ditawarkan Food Court tak mampu menggantikan kenikmatan suasana tersebut.

Di akhir waktu, aku meminta waktu untuk saling berbagi mengenai arah dan bentukan forum alumni kami kali ini. Aku mencoba untuk membuka ruang diskusi yang intensif diantara teman-teman, namun rupanya aku hanya mendapatkan sikap pasif dari sejumlah rekan. Hampir tidak ada usulan konkrit yang mempu mengambil inisiatif serta menggerakkan roda perkumpulan alumni ini ke arah yang lebih baik. Aku khawatir, forum alumni ini gagal memenuhi tujuannya, atau baru hanya sebatas temu kangen dan makan-makan saja. Jikalau demikian, maka suatu saat nanti forum akan menemui kejumudan, tidak bergerak dan akhirnya ditinggalkan satu persatu oleh peserta forumnya.

Aku tak ingin hal tersebut terjadi. Aku berharap kegagalan hal yang dihasilkan di forum perdana ini tak membawa dampak buruk bagi kesatuan alumni IMM UGM ke depannya. Memang, perlu ada langkah-langkah lanjutan yang akan membuka ruang dan dimensi komunikasi diantara alumni sehingga menjadi lebih intensif, massif dan berdaya guna. Tidak hanya sekadar kumpul-kumpul dan kekuatan hubungan antar pribadi saja.

Yogyakarta, Sabtu, 7 Maret 2009

Slumdog Millionaire

Siang ini aku menonton film Slumdog Millionaire. Film ini merupakan film peraih penghargaan Oscar. Film ini juga dinobatkan sebagai salah satu film terbaik versi majalah TIME. Memang, ketika menyimak cerita dan jalan ceritanya, aku memang salut bahwa film ini memang pantas meraih penghargaan Oscar.

Banyak hal yang bisa kupetik sebagai pelajaran dari film ini.

Dengan adanya cinta, segala hal di dunia akan dilakukan untuk hal yang dicintai itu. Aral melintang tak akan dianggap, usaha untuk menemukan hal (seseorang) yang dicintai menjadi penggerak utama dalam hidup ini. Hidup digerakkan oleh daya dan gairah cinta yang membara.

Kekayaan (harta/uang) yang melimpah ternyata tak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan tidak mesti ada pada kekayaan yang melimpah, malah seringkali kekayaan mendatangkan kecemasan (kekhawatiran) akan harta yang bisa hilang (dicuri) orang lain. Meskipun demikian, kemiskinan tidak lalu menawarkan kebahagiaan, keterbatasan dalam segala sesuatunya membuat orang miskin tidak bisa menikmati kebahagiaan di dalam hidupnya, bahkan untuk kebahagiaan kecil sekalipun.

Kejujuran dan ketulusan, yang ditunjukkan oleh tokoh Jamal, merupakan barang yang langka di dunia ini. Meski hidup di dunia yang buruk dan kejam, dirinya tidak terpengaruh dan masih memiliki nilai-nilai dasar kebajikan hidup. Hal yang seperti ini jarang dimiliki oleh orang yang senasib dengannya, karena yang ada hanya niat untuk memiliki hal yang dimiliki oleh orang lain. Kebajikan hidup tersebut juga tak ada di dalam diri orang kaya karena mereka dikuasai oleh nafsu serakah dan rasa ingin terus memiliki lebih.

Yogyakarta, Rabu, 4 Maret 2009

Iman Katolik dan Dialog Antar Iman

Jika aku ingin melihat agama lain selain Islam, maka aku tertarik dengan tiga, yakni: Katolik, Yahudi, dan Kong Hu Chu. Namun dari ketiganya, aku paling tertarik pada iman Katolik. Aku melihat ada doktrin luar biasa yang mencetak (membentuk) iman Katolik dengan segenap buah dari iman tersebut hingga saat ini.

Aku melihat gereja yang megah dan mewah. Aku melihat perpustakaan yang lengkap dengan segenap literatur lintas agama dan budaya. Aku melihat kekuatan media dengan sumber pustaka dan para intelektual yang kompeten di bidangnya masing-masing. Aku melihat kekuatan modal dengan segenap deretan pengusaha yang komitmen terhadap keagamaannya (keimanannya). Aku melihat pribadi-pribadi yang luar biasa (tangguh, cerdas dan kaya) di setiap perjalanan kehidupanku.

Aku heran, apa yang menarik dari iman Katolik ini?

Apa yang membuat iman Katolik ini begitu digdaya menghasilkan kekuatan yang hampir saja menyilaukan mataku?

Bisa saja mataku telah rabun atau salah pasang kaca mata (sudut pandang) sehingga selama ini aku memandang agama lain (salah satunya iman Katolik) secara sinis. Aku memandangnya sebagai superior-inferior. Agama Islam yang kuanut adalah yang terbaik sedangkan agama yang lain tak sebanding dengan ajaran agama Islam.

Namun perlahan, ketika aku telah mulai menua (jika tidak dikatakan dewasa), aku melihat hal yang sebaliknya. Aku melihat agamaku. Islam dan umatnya tak berdaya di tengah hegemoni kapitalisme global, umatku juga tak mampu berdaya melawan Zionis Yahudi, umat Islam juga tak mampu bersaing secara kompetitif dalam persoalan keduniawian dengan umat agama lain, salah satunya Katolik.

Hal tersebut tak membuatku menjadi rendah diri dan tidak percaya lagi pada agamaku. Tidak. Aku tidak mengambil langkah gegabah yang seekstrim itu. Aku ingin belajar, terbuka pula menerima kebenaran dari orang (agama) lain. Aku ingin melihat kehebatan umat agama (iman) lain dengan demikian aku melihat kekurangan (kecacatan) pada umat agamaku. Jika tidak demikian, aku bisa lupa diri dan terus merasa superior, padahal aku dan agamaku tidak berarti apapun di dalam pandangan umat beragama lain, selain sarang pencetak teroris.

Oleh karena itulah, untuk mengatasi ruang-ruang tanda tanya tersebut, perlu adanya dialog antar agama (iman). Aku tidak bisa menutup diri dengan hanya bergaul dengan orang yang satu kepentingan saja denganku (seagama, seiman). Aku harus mampu menerima kenyataan jika orang lain yang berbeda agama menerima kebenaran dan keyakinan akan kebenaran itu berada di dalam agamanya. Dengan demikian, tumbuh toleransi antar umat beragama. Toleransi bukan hanya sebatas lip service atau doktrin pendidikan formal saja, namun teramalkan di dalam kehidupan sehari-hari setiap orang Indonesia.

Yogyakarta, Senin, 2 Maret 2009