Arsip untuk Januari, 2009

Perbuatan baik

           

            Usaha untuk berbuat baik janganlah sampai tampak sebagai perbuatan ujub dan riya’. Seseorang harus mampu menjaga diri dari dua perasaan yang merusak tersebut. Perbuatan yang tidak ikhlas, niat semata karena Allah SWT, akan tidak diterima (diridhai) oleh-Nya. Artinya, perbuatan itu hanya ditujukan dalam konteks hubungan antar manusia. Perbuatan itu tidak ditujukan untuk meraih ridha Allah semata.

            Perbuatan demikian akan tertolak dan usaha yang dilakukan oleh manusia tersebut menjadi sia-sia karena hal yang dilakukannya hanya bermanfaat pada tataran antar manusia. Perbuatan itu dilakukan hanya untuk meraih pandangan dan pujian dari manusia, yang amat relatif. Dapat saja seseorang di satu tempat memuji perbuatan baik, namun orang yang sinis akan tetap mencaci perbuatan sebaik apapun. Akhirnya, perbuatan baik itu tak mempunyai faedah apapun.

 

            Ketakutan masih sering membayangi diriku. Aku dihinggapi oleh ketakutan yang tak beralasan, di satu waktu muncul sebagai kekhawatiran (kecemasan). Aku mengalami ketakutan yang susah untuk dilawan. Bisa jadi ketakutan ini adalah ketakutan bawah sadar. Ketakutan ini membuatku tak dapat menggunakan akal sehat dan kecerdasanku. Aku menjadi begitu bodoh. Aku kehilangan keberanian, aku kehilangan segalanya.

            Apa yang aku takutkan? Apa yang aku cemaskan?

            Kesemuanya tampak menjadi hal yang tak begitu jelas. Aku perlu lebih jeli untuk melihat detail yang ada padanya. Aku tak ingin menjadi bodoh dan dungu atas ketakutan atas sesuatu hal yang aku sendiri tak tahu mengenai hal tersebut. Kemalangan dan kedunguan terbesar manakala aku tak mampu mengidentifikasi hal tersebut.

            Aku menghilangkan ketakutan akan sesuatu dengan mengerjakan sesuatu hal. Aku mengerjakan hal yang kutakutkan tersebut. Aku mengambil tindakan atasnya. Aku berada pada wilayah inisiatif, proaktif.

 

Yogyakarta, Rabu, 7 Januari 2009

Genocide Israel

Palestina kembali berduka. Zionis Israel dengan begitu biadab melakukan genocide pada masyarakat sipil Palestina. Sampai saat ini, ada ratusan orang meninggal dan luka-luka. Israel beralasan serangan yang dilakukan untuk menumpas Hamas. Hamas sebagai ormas di Palestina dicap telah melakukan peluncuran rudal ke pemukiman warga Israel. Padahal, terjadi perebutan tanah (lahan subur dan mata air) oleh Israel. Persoalan Israel-Palestina bukan permasalahan agama, namun permasalahan kemanusiaan, karena yang direbut paksa tanahnya juga orang-orang Kristen. Serangan balasan pun dilakukan Israel dengan tujuan menumpas Hamas.

Palestina merupakan tanah suci tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Bangsa Israel yang beragama Yahudi telah melakukan pendudukan dan perampasan terhadap rakyat Palestina di Yerusalem. Bisa dikatakan, Yerusalem merupakan jantung umat Islam sedunia. Yang menyedihkan, sikap negara-negara Islam di sekitar Palestian begitu dingin, padahal kecaman terhadap kebiadaban Israel ini telah bermunculan dari berbagai pihak (negara).

Sebenarnya, yang terjadi di sana bukanlah hanya konflik antar agama, Islam lawan Yahudi, atau dua negara, Palestina lawan Israel. Kejadiannya lebih merupakan tragedi kemanusiaan di tingkat dunia. Usaha untuk menggalang dukungan harus melintasi kepentingan agama dan negara, namun lebih pada upaya penghormatan kemanusiaan. Di bumi Palestina sendiri, Hamas dan Fatah bersatu untuk melakukan perlawanan terhadap Israel.

Bung Karno, seorang nasional dan internasionalis, dalam permasalahan seperti ini tentunya memiliki keberanian politik, jelas akan melakukan tindakan keluar dari keanggotaan PBB. Hal ini sebagai bentuk solidaritas internasional atas mandulnya PBB dalam mengusahakan perdamaian dunia. Namun, pemimpin nasional saat ini memiliki ambivalensi sikap terhadap persoalan Palestina. Seharusnya, Indonesia konsisten dengan persoalan serius ini dan tidak terlalu banyak pertimbangan sehingga hanya timbul retorika, bukan tindakan nyata dalam mengambil sikap.

Wawasan dan kepedulianku terhadap persoalan umat Islam internasional memang lemah. Aku tidak begitu mendalam memahami konflik yang terjadi di sana. Aksi-aksi solidaritas dan pembelaan terhadap Palestina pun tak pernah kulakukan. Aku mengoreksi kekeliruan ini. Aku akan mengasah kepedulian terhadap persoalan sambil mencarikan solusi (posisi tawar) terhadap konteks bangsa sendiri.

Yogyakarta, Sabtu, 3 Januari 2009

Cerdaskah tayangan televisi?

Yogyakarta, Sabtu, 3 Januari 2009

Tayangan stasiun televisi di Indonesia memang sebagian besar tak bermutu. Suguhan kepada pemirsa hanya seputar gosip artis, sinetron dan reality show. Tak heran, pemirsa televisi menjadi tidak cerdas. Bagaimanapun, mereka memperoleh tayangan demikian dengan gratis (tanpa harus membayar seperti pay-TV) sehingga tayangan televisi seperti apapun mau tidak mau, suka tidak suka mereka telan juga. Parahnya, pemilik stasiun televisi teramat berpatokan pada rating suatu tayangan, bukan pada mutu tayangan tersebut. Hal ini berakibat jika suatu tayangan tidak bermutu namun rating bagus (jumlah penonton banyak), maka akan dipertahankan dan dipoles sedemikian rupa sebagai ajang pengeruk pemasukan dari iklan.

Dahulu, hanya ada satu stasiun televisi milik Pemerintah. Sejumlah tayangan bermutu berwawasan kebangsaan ada di stasiun ini. Stasiun televisi ini tergusur oleh zaman manakala stasiun televisi swasta bermunculan sejak era 90-an. Meski demikian, stasiun ini tetap eksis dan konsisten dengan tayangan bermutu berwawasan kebangsaan ini di tengah pragmatisme tayangan stasiun televisi yang ditawarkan oleh pihak swasta.

Aku juga lebih memilih menonton TVRI (setelah MetroTV) daripada menonton tayangan sejumlah stasiun televisi swasta. Aku tak berminat untuk menyimak tayangan yang jika dinalar oleh orang awam pun akan terlihat tak bermutu. Sayangnya, sejumlah masyarakat masih memilih menyimak tayangan tersebut dengan alasan jenuh dengan rutinitas kerja (sehari-hari), sehingga mereka membutuhkan tayangan yang bersifat hiburan.

Lalu, apakah tayangan hiburan demikian selalu membodohi pemirsa?

Apakah tidak ada tayangan hiburan dari stasiun televisi swasta yang dapat menghibur sekaligus mencerdaskan pemirsanya?

Urip kuwi mung mampir ngombe

Urip kuwi mung mampir ngombe. Hidup (di dunia) itu layaknya seperti orang (dalam perjalanan) mampir untuk minum. Oleh karena sedang dalam perjalanan, maka orang tersebut hanya sebentar saja di dunia ini. Tidak lama. Tidak abadi. Orang yang dalam perjalanan (musafir) itu hanya sejenak untuk minum, (mungkin) berteduh dan melepas lelah.

Segala hal yang mengenakkan dan nyaman memang ada ketika musafir tengah rehat di tengah perjalanan. Namun bagaimanapun, perjalanannya masih harus dilanjutkan. Dia tidak bisa hanya berhenti di tempat rehat sementara itu, dia tidak dapat hanya berhenti (merasa cukup) dengan minum di tengah perjalanan tersebut. Harus ada cara pandang yang lebih jauh bahwa tujuan perjalanan yang masih harus ditempuh. Ada tempat tujuan abadi yang hendak dituju.

Tidak sedikit manusia yang hidup di dunia ini terlena oleh kehidupan dunia. Mereka merasa kehidupan di dunia ini telah mencakup segalanya, bahkan melingkupi segalanya. Mereka telah merasa cukup dengan dunia ini saja, hal itu pun tidak disadari karena mereka terkena penyakit tidak pernah merasa cukup akan kelebihan dunia yang mereka terima. Selalu saja ada perasaan kurang, bahkan jika bisa mereka juga akan membeli kematian sehingga mereka akan terus hidup.

Manusia tidak pernah merasa cukup dengan segala hal yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, manusia yang benar dan baik selalu mensyukuri akan hal-hal yang telah dinikmatinya di dunia ini. Demikianlah salah satu filosofi Jawa yang coba aku maknai hari ini.

Yogyakarta, Jum’at, 2 Januari 2009

BELAJAR KEARIFAN DARI ORANG DESA

Orang desa identik dengan pemalas, puas dengan keadaan dan tercukupinya kebutuhan dari sekelilingnya, tetapi sebentar, itu adalah perspektif orang kota.

Judul di atas memang bernada sedikit aneh, karena jarang orang yang tahu bahkan mencari tahu apa sebenarnya yang bisa diambil pelajaran dari orang-orang desa. Orang desa identik dengan pemalas, puas dengan keadaan dan tercukupinya kebutuhan dari sekelilingnya, tetapi sebentar, itu adalah perspektif orang kota. Memang pada beberapa individu dari orang desa persepsi tersebut melekat dengan sendirinya, namun di sini kita coba ambil pelajaran dari perspektif yang sedikit berbeda.

Kalau mau membandingkan dengan orang kota, maka orang kota identik dengan kemajuan (modernitas), kerja keras, kesibukan tiada henti, akrab dengan kemacetan lalu lintas, dan sering dilanda stress. Tak heran maka kajian dan pelatihan yang berbau spritualis dan menenangkan nurani amat laris di kota. Mungkin, jika hal ini diterapkan di desa, tidak akan ada respon yang berarti. Bisa dikatakan beberapa orang desa telah mencapai kondisi spritual yang lebih matang karena jauh dari hiruk pikuk modernitas kota.

Modernitas yang diagung-agungkan orang kota memang telah banyak membius orang desa untuk hijrah ke kota. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan hidup pokok, bius akan kemodernan ini membuat orang desa tak tahan untuk tiap hari hanya berputar-putar pada lingkup wilayah desa dan pola kehidupan yang tidak jauh berbeda. Adapun terkadang variasi pekerjaan yang bisa dilakukan di desa memang minim, sehingga menimbulkan pengangguran. Kekurang kreatifan dalam melakukan pekerjaan yang lebih variatif ini juga dipengaruhi oleh jenjang pendidikan orang desa yang rendah. Di desa, jenjang pendidikan yang rendah tidak terlalu berpengaruh kepada kemampuan bertahan hidup seseorang, karena keterjaminan hidupnya oleh alam dan tetangga sekitarnya, yang biasanya merupakan sanak saudaranya sendiri.

Orang kota memang bisa dikatakan lebih maju bila dibandingkan dengan orang desa, karena akses akan informasi, uang, dan kebutuhan lainnya yang tersistem dalam bungkus kemodernan. Namun hidup di kota bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi berharap menjadi benalu untuk sanak saudara ataupun tetangga, itu hanyalah mimpi. Untuk bisa hidup di kota, dalam arti tidak sekadar dapat bertahan hidup, minimal orang desa harus mempunyai keterampilan yang bisa jadi nilai jualnya di tengah persaingan hidup di kota. Di kota, meski tak selalu benar, jenjang pendidikan yang dimiliki oleh seseorang akan menentukan status sosialnya di masyarakat, apalagi bila telah sampai pada jenjang pendidikan universitas. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang desa, namun di kota kebutuhan akan pendidikan ini benar-benar terasa karena persaingan dalam meraih pekerjaan lebih tajam.

Persaingan dalam hal apapun yang menjadi ciri masyarakat kota menjadikan orang kota harus bekerja keras, bahkan mungkin sampai tak kenal henti, tak kenal keluarga dan tetangga. Perilaku ini menghasilkan orang kota yang individualis dan haus mengejar prestasi individu. Tidak jarang perilaku ini menghasilkan orang kota yang mengalami split personality. Tingkat pemahaman keagamaannya (keimanan) yang tinggi (spritualis) belum bisa mencapai kesempurnaan karena keterisolasian hubungannya dengan sesama. Hal ini juga tidak bisa menumbuhkan kesadaran Tauhid Sosial orang kota, sehingga sering hanya berkutat pada tauhid individu.

Ketidak seimbangan hidup ini sering menimbulkan stress bagi orang kota. Orang kota mengalami stress karena persaingan hidup di kota begitu keras. Stress ini pada tingkatan yang lebih parah dapat menimbulkan depresi, migrain, dan sejumlah penyakit orang kota lainnya.

Begitu seriusnya orang kota memaknai kehidupan, sehingga perilaku dan dialog yang dilakukan tidak jauh dari hal yang berbau konkret materiil yang secara khusus bisa disimbolkan uang. Seakan-akan kebahagiaan seseorang dapat diukur oleh banyaknya uang (harta) yang dapat dikumpulkan. Padahal dalam konsep kesederhanaan, selama kita mampu bersyukur akan apa yang telah dikaruniakan Tuhan dalam hidup, maka kebahagiaan bukanlah hal yang musykil.

Jika orang kota lebih suka menilai pencapaian lewat hasil yang didapatkan, bisa berwujud prestasi, uang, dan lainnya, maka orang desa tidak. Orang desa lebih menghargai proses pencapaian yang dilakukan oleh seseorang, bahkan ketika orang itu telah meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan dalam peringatan-peringatan yang sering diadakan oleh orang desa, yang masih mengakar pada kearifan lokal dan nilai-nilai yang dipelihara sejak dahulu. Hasil yang didapatkan akan dikembalikan kepada Tuhan, karena manusia berada dalam kapasitasnya berusaha. Keoptimalan berusaha memang akan tampak pada hasil usaha tersebut, namun orang desa lebih senang menghargai proses pencapaiannnya.

Di samping itu, orang desa masih memegang teguh budaya gotong royong. Di mana rasa saling tolong menolong sangat tinggi dalam masyarakat desa. Keinginan untuk saling membantu ini, disamping karena kedekatan hubungan kekerabatan, juga dalam rangka bersama-sama untuk mengatasi permasalahan hidup di desa yang dihadapi. Budaya gotong royong ini merupakan salah satu kekuatan kearifan lokal yang dimiliki oleh orang desa yang telah banyak tergerus oleh modernisasi dan globalisasi. Memang, orang kota yang cenderung individualis juga memiliki mentalitas gotong royong, semisal dalam bentuk team work. Namun, hal tersebut hanya terbatas pada pemecahan masalah pekerjaan maupun organisasi. Apabila kebutuhan akan team work berakhir karena telah tercapainya tujuan, orang kota akan kembali ke mentalitas semula.

29 November 2005

Halaman Berikutnya »