Arsip untuk November, 2008

18 Jam bersama Odong

Pagi hari, 7 November 2006, selepas shubuh aku menyiapkan hal-hal yang perlu dibawa untuk perjalanan ke luar kota. Setelah semalam dipastikan bahwa aku akan berangkat dengan Odong ke pernikahan Immawati Nia di Tegal.
Odong itu orangnya idealis, taktis lapangan, fun, dan komunikatif. Jika bisa dibandingkan maka tipikal seperti ini mirip dengan mas Arief dan Adnan. Tentunya akan berbeda di wilayah sikap dan karakter individu. Namun secara garis besar hal yang prinsipil tidak jauh berbeda.
Jam 6 kurang aku menuju ke warung SS depan Jalan Monjali. Aku janjian degannya di sana, untuk mempermudah tempat bertemu daripada dia harus masuk ke kampung untuk mencari kostku terlebih dahulu. Aku bangunkan Zul untuk meminjam helm sehari itu. Aku tak ada kendaraan dan helm saat ini, makanya aku memilih untuk berpergian bersama dengan mobil atau motor atau kalau tidak bisa dengan bis. Hal itulah yang menyebabkan akhirnya aku bisa melalui hari bersama Odong.
Aku tiba di depan warung SS. Dia sudah tiba di sana, kurang lebih beberapa menit yang lalu. Katanya dia baru saja mengirimkan SMS bahwa dia sudah sampai di tempat. Ternyata orangnya tepat waktu. Yang dimaksudkan dengan jam 6 janjian itu jam 6 di tempat, bukannya jam 6 baru berangkat dari rumah. Syukurlah aku tak mengecewakannya, aku dan dia hanya berbeda 5 menit, itupun kalau patokan jam yang dipakai sama. Kebiasaan tepat waktu ini terbangun juga di komunitasnya yang lain, yakni Bike To Work, yang membiasakan diri tepat waktu untuk janjian. Luar biasa, hal yang baik untuk ditiru dan dibiasakan.
Dia sedang sarapan, rupanya. Sejumlah roti sebagai pengganjal perut dan minuman kesukaannya, susu kaleng cap Bear Brand (susu beruang) sebagai penambah energi. Aku hanya menikmati sepotong kecil roti saja, lagipula aku sudah sarapan. Hangatnya pagi menambah nikmat acara sarapan pagi itu.
Perlahan sambil menikmati roti itu, aku menyimak motor yang dibawanya. Sepeda motor Shogun warna merah hitam keluaran terbaru, tidak jauh berbeda dengan yang dipunyai kakak orang yang kucintai (memang, jika sudah cinta, pergi jauh pun ada hal yang menjadi mozaik kehidupan). Motor itu dipinjamnya dari teman yang dikenalnya lewat komunitas blog, pemiliknya seorang programmer yang berasal dari Purwodadi.
Perjalanan ke luar kota mulai kami tempuh. Magelang, Secang, Temanggung, kami tempuh dengan lancar. Tiba di Sukorejo, daerah asal Immawan Arief, kami lebih memperhatikan arah. Jalan dari tempat ini menuju ke arah Weleri pun sedikit berliku dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Memang, suasan pagi hari dan pemandangan sekitar yang masih rimbun menghijau membuat betah perjalanan ini. Aku menghirup udara segar pegunungan sambil merasakan nikmatnya hembusan angin. Hal yang tak akan kurasakan bila terus berkutat dengan kehidupan perkotaan, di Semarang dan Jogja.
Kami rehat sejenak di depan sebuah goa tempat peribadatan umat Kristen Katolik yang berada di tanjakan Weleri-Sukorejo. Odong mengeluarkan dan menghisap sebatang rokok yang dibawanya. Bukannya sok alim, aku memang tidak merokok. Aku tak berminat merokok meski pernah mencobanya saat duduk di bangku SMP. Tak enak, tak menarik. Selama ini aku tak perduli rekan-rekan sebayaku memiliki kebiasaan merokok. Mungkin saja mereka menganggapku tidak jantan (tidak laki-laki) karena tak merokok.
Tidak hanya rokok, sebagai laki-laki, aku juga kurang suka musik (terlebih yang keras/rock) dan olahraga (sport). Dalam hal musik, aku lebih memilih mendengarkan musik klasik dan musik dengan lirik yang bagus (biasanya bertema sosial). Dalam hal olahraga, aku hanya menyukai bermain catur, olahraga yang sering tidak dikategorikan sebagai olahraga karena lebih banyak menggunakan mental (pikiran). Tidaklah mengherankaan, seleraku sering berbeda dengan laki-laki pada umumnya, namun aku tak pernah minder. Aku justru bahagia dan bangga dengan hal yang kuyakini. Tak masalah aku dikucilkan atau dianggap tidak memenuhi standar pergaulan. Aku tak ingin menghilang dalam keyakinan diriku hanya untuk memenuhi kualifikasi manusia sebagai makhluk yang gaul (sosial?)

Odong menceritakan sejumlah hal, mulai dari sejarah keluarganya yang sebagian besar lama kuliah hingga drop out. Tidak heran, hal itu menurun pula padanya. Aku tentu berharap hal itu tak menurun lagi ke generasi Odong selanjutnya. Harus ada yang memutus tali rantai ketidak beresan dalam studi yang demikian. Aku tak akan mengikuti jejak yang demikian, aku hanya perlu mengambil hal-hal yang baik darinya, namun tidak dalam keyakinan bahwa drop out adalah jalan yang ditempuh. Aku masih mencintai kelulusan dalam dunia akademik dan akan mengusahakannya dengan sekuat tenaga. Aku akan membahagiakan kedua orangtuaku, aku tak sudi membuatnya kecewa.
Tidak hanya itu, kami juga berbincang perihal keahlian mengemudi mobil. Kelihaian dalam mengemudi tentunya akan berpengaruh pada kenyamanan dan keselamatan penumpang. Namun hal ini tidak diperoleh dengan sekali jalan, bisa dikatakan ada jam terbang dan jumlah rute dan kesulitan medan yang pernah ditempuh. Jikalau hanya dalam kota (jalur yang biasa saja) tentu tak akan selihai mereka yang sering bergelut dengan medan berliku bahkan off road. Aku sendiri belum bisa mengemudi mobil, aku akan belajar suatu waktu nanti. Hal ini bisa jadi kekurangan yang fatal apabila suatu saat keahlianku dibutuhkan.
Perjalanan lalu kami lanjutkan, Weleri-Batang kami tempuh dengan kecepatan lumayan tinggi, 70-90 km/jam. Memang, jalur Pantura sebagai urat nadi perekonomian Indonesia ini begitu lebar. Jalan yang disediakan dua jalur untuk dua arah. Tak heran bila jalan ini begitu luasnya dengan perbandingan motor, mobil, bis dan truk yang melintas. Praktis, kami mengambil kecepatan tinggi agar segera tiba di tujuan.
Tiba di kota Batang, kami istirahat sejenak di warung tenda pinggir jalan. Segelas teh hangat dan beberapa gorengan kami santap untuk sekedar mengisi perut yang sedikit lapar karena persediaan karbohidrat (energi) dari sarapan sudah habis. Di sana kami berbincang dengan seorang bapak berusia 30-an yang sedang menunggu mobilnya mendingin dikarenakan mengalami overheat. Ternyata beliau juga berasal dari Jogja, tepatnya Babarsari. Indonesia memang sempit, dimanapun kami berada kami akan bertemu dengan orang Jawa.
Perjalanan kami lanjutkan hingga menuju ke Tegal. Panas mulai menyegat, kulit tangan kubalikkan agar tak gosong diterpa sinar matahari. Aku mulai menanyakan arah pada sejumlah orang di sana mengingat kami belum tahu pasti daerah dan arah yang kami tuju.
Namun, aku tak bisa berbahasa Jawa di sana. Orang Jawa Tengah bagian barat menggunakan bahasa Jawa ngapak yang berbeda logat dengan bahasa Jawa bagian timur dengan logat yang halus atau kasar. Terang saja kami lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia daripada mesti tersenyum simpul apabila menyimak mereka berbahasa Jawa.
Setahuku, mereka juga sering malu berbicara dengan logat demikian bila bertemu dengan sesama orang Jawa (Tengah bagian timur hingga ke Jawa Timur). Mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar karena logat mereka akan tertutupi dalam akesn bahasa Indonesia yang condong ke Melayu. Tak heran, aku pernah berujar bahwa secantik apapun perempuan dari daerah ngapak tak begitu menarik hatiku karena logatnya yang ngapak. Memang sekilas tampak kejam, namun hal ini hanya masalah selera pribadi saja.
Tengah hari kami tiba di pernikahan Immawati Nia-Teddy. Badan kami basuh dengan air terlebih dahulu agar kotoran dan hitamnya jelaga tak mengotori wajah dan tangan. Air dari selang tempat cucian pernikahan tersebut kami gunakan dengan meminta ijin sejenak karena sedang digunakan untuk mencuci. Segarnya air siang itu, meski sedikit terasa asin. Maklum, daerah ini dekat dengan pantai. Air yang masih tersisa lalu dibasuh dengan handuk. Jadilah kami tampil tampan dan bersih.
Kami lalu menuju ke tempat acara berlangsung, mengisi daftar hadir, menyerahkan kado/sumbangan. Kami mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada mempelai lalu duduk sambil beristirahat terlebih dahulu. Perjalanan jauh memang melelahkan. Karawitan dan dangdut menjadi hidangan utama saat itu, bisa jadi ini permintaan Immawati Nia untuk momen terpenting dalam hidupnya. Setelah menikmati sejumlah hidangan dan berpamitan kami lalu beranjak pulang.
Bahagianya pasangan pengantin tersebut, menjadi raja dan ratu sehari-semalam. Tak tergantikan oleh momen apapun dalam hidup ini. Momen yang sangat penting dan berharga dalam hidup seseorang. Oleh karena itu betapa berharapnya seseorang akan hadirnya rekan-rekan yang dicintai, sanak-kerabat, handai taulan untuk sama-sama menikmati kebahagiaan yang mereka rasakan.
Perjalanan jauh terbayar sudah ketika telah sampai di tempat tujuan. Aku telah mampu membayar tekadku bahwa aku tak akan mau dan mudah digagalkan oleh sejumlah kondisi yang menghimpit. Aku tak mau mudah menyerah kalah lagi, cukuplah kemarin hari menjadi pelajaran bagiku. Saat ini, esok dan seterusnya, aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan membela diri dan mengusahakan diri untuk mencapai tujuan yang kumaksud (kuinginkan), tak menyerah hingga tujuan itu tercapai, menganggap penghalang dan hambatan yang terjadi hanya batu kerikil kecil saja. Terlalu dibesar-besarkan untuk menjadi alasan penghalang tercapainya tujuan. Perlahan aku akan mengubah sikap mentalku menjadi mental juara. Pasti bisa.

Sepulang dari sana, kami rehat sebentar di sebuah SPBU sebelum masuk kota Tegal. Ada keperluan untuk mengisi bensin, ke toilet dan menunaikan shalat. Luar biasa. SPBU ini begitu bagusnya, bahkan terpampang sebagai SPBU terbaik se Jawa Tengah. Tempat parkir yang luas, cafe, toilet yang nyaman dan bersih, ada ruang tunggu, musholla, tempat wudhu yang bersih dan terpisah antar jenis kelamin. Tidak hanya itu, ada pula ruang ganti pakaian, tempat bayi, dan tempat ibu menyusui. Bahkan, kami dapat saja tidur sejenak di sana dengan menyewa extra bed dengan charge Rp 15.000/jam. Kesemua sudut di luar (SPBU) dapat diakses melalui layar dengan fasilitas kamera CCTV di sudut ruangan dekat dengan toilet dan ruang tunggu (rehat). Kami dapat makan, minum, atau sekadar melepas lelah sejenak.

Kami lalu mampir ke rumah Idrus yang berada di area Kauman (berdekatan dengan alun-alun Kota Batang). Begitu mudahnya diakses, hingga Odong menyempatkan diri untuk tidur sekitar 1,5 jam di sana. Aku berbincang-bincang dengan Ayah Idrus tentang haji, puting beliung di UGM, hingga masalah telepon. Ternyata, perlahan aku mulai mampu berkomunikasi dengan orang yang berbeda usia, terpaut usia cukup jauh denganku. Hal ini menandakan kedewasaan diriku bergerak ke arah yang positif. Aku tak melupakan pula keakraban dan komunikasi dengan rekan sebaya dan anak-anak.
Malam harinya, selepas shalat Maghrib, kami ditraktir Idrus makan di warung tenda di Alun-alun. Malam minggu rupanya, tidak sedikit pula muda-mudi yang sedang menikmati malam dan hidangan kala itu. Hidangan berupa nasi megana khas kota Batang-Pekalongan, dipadu dengan gorengan (udang goreng) dan es jeruk (jeruk hangat). Mantap sekali masakan khas ini, bisa dikatakan kami melakukan wisata kuliner. Seusai makan dan menuju ke rumah, kami lalu berpamitan agar tidak kemalaman tiba di Jogja. Ayah Idrus senantiasa menyarankan agar menginap saja mengingat hari sudah malam dan perjalanan masih jauh. Kami menolak dengan halus dikarenakan masih ada sejumlah agenda esok hari.

Motor lalu dipacu kembali. Kulihat di kejauhan petir menampakkan kegarangannya di tengahnya pekatnya awan menghitam di malam hari. Hari akan hujan, pikirku. Bisa jadi kami kehujanan di tengah perjalanan. Rute yang ditempuh dari Weleri ke Sukorejo cukup berat, mengingat kami seringkali berpapasan dengan bis malam yang dalam waktu tersebut berangkat dari Jogja menuju Jakarta. Rute dari Sukorejo menuju Temanggung pun harus dilalui dengan hati-hati mengingat jalan yang basah dan licin oleh air hujan yang sudah selesai turun tadi. Kami datang di waktu yang tepat karena tidak berpapasan dengan hujan di malam ini.
Kami melepas lelah sejenak di masjid sebelah RS PKU Muh Parakan, Temangggung. Di sana Odong berbincang mengenai komunitas IRM (IPM) yang pernah digelutinya hingga PP (Pimpinan Pusat). Aktivitasnya ke sejumlah daerah dan peristiwa seputar menjadi fasilitator pelatihan. Kader itu tidak boleh cengeng, kalau demikian lebih baik pulang saja ke rumah untuk bermanja-manja. Kader mesti mau sedikit bersusah payah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, bila tak ingin demikian, tidaklah pantas menganggap dirinya seorang kader. Kupikir hal itu yang bisa kuambil jadi pelajaran dari percakapan malam itu.
Kami lalu menuju ke Magelang dan beristirahat sejenak di alun-alun sembari menikmati wedang di angkringan sambil lesehan. Tampak pasangan muda-mudi maupun berkelompok sedang berkumpul di alun-alun tersebut. Ada yang bercengkerama, sekadar jalan-jalan, atau menonton pertandingan bola di layar televisi raksasa. Di tempat ini, Odong banyak berkisah soal komunitas blog yang dimilikinya. Keegaliteran anggota komunitas tersebut, tanpa mengenal batas usia, profesi dan kelas sosial. Kabarnya, komunitas blog tersebut berisi orang-orang berduit yang sekadar melepas lelah sejenak akan rutinitas kehidupan yang sering kali membosankan dan membuat tekanan (stress).
Hujan turun cukup deras, meski hanya rintik-rintik manakala kami berada di Sleman hendak menuju ke Jogja. Kami basah kuyup (terutama diriku) meski Odong sudah memakai rain coat. Dalam hujan seperti ini, sering kaca mata kami berembun oleh hawa dingin yang dihembuskan oleh udara akibat hujan. Aku pun tiba di kost dengan segenap lelah yang terasa, berganti pakaian, mandi, dan menunaikan shalat. Rebahan kulakukan hingga akhirnya terlelap tidur. Hari yang melelahkan namun indah untuk dijadikan cerita.