Arsip untuk Mei 23rd, 2008

SELAMAT DATANG TAHUN AJARAN BARU!

Tahun ajaran baru telah tiba. Ratusan ribu siswa baru di seluruh Indonesia menyambut dengan gembira. Ada harapan besar akan prestasi akademik yang lebih baik di tahun ini. Liburan panjang telah dilewati, setelah mengalami kepenatan menuntaskan soal-soal ujian guna mencapai standar kelulusan.
Kebijakan Pemerintah menggunakan ujian nasional (UN) sebagai standar kelulusan telah menuai hasil. Kepanikan senantiasa menghantui siswa, orangtua, dan guru selama setahun ajaran lalu, hingga detik-detik diumumkannya hasil UN tersebut. Tidak sedikit siswa yang gagal lulus ujian, meski banyak pula yang mampu naik tingkat. Kesedihan akan ketidaklulusan bercampur dengan kebahagian ketika mengetahui nama diri tertera dengan predikat lulus. Ketidaklulusan pula yang membuat nyali bagi calon peserta UN tahun ini menciut.
Agaknya kita perlu berkaca pada tahun yang lalu, bahwa memang perlu ada strategi dalam menghadapi tahun ajaran baru ini. Terlepas dari kebijakan Pemerintah mengenai standar pendidikan yang senantiasa berganti-ganti, kita harus mampu survive. Karena itu, mengatur strategi amatlah penting, terutama buat mereka calon peserta UN tahun ini.
Salah satunya caranya adalah dengan cara mengurangi kegiatan ekskul (kegiatan di luar sekolah). Hal ini guna menjaga kondisi fisik dan mental. Seandainya tidak bisa dikurangi seluruhnya, usahakan hanya punya satu kegiatan. Itupun harus dihentikan ketika menjelang ujian nasional kelak.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengelola waktu dengan baik. Apalagi tekanan-tekanan nilai rapor semester akan semakin terasa berat. Maklum, tuntutan akademik semakin tinggi. Apalagi jikalau kita menilik ketentuan standar jurusan.
Kemampuan bergaul juga amat penting. Kelompok belajar dengan siswa-siswa berprestasi di kelas bisa mulai dibentuk. Dengan demikian, calon peserta UN bisa termotivasi untuk giat belajar. Selain itu, mereka bisa saling berbagi trik menyelesaikan soal dengan cepat.
Bergaul dengan guru juga bisa mendukung kegiatan belajar. Bukannya hendak mencari muka, melainkan bila membutuhkan nasihat, guru akan tahu dan mau membantu meringankan beban.
Bila beberapa strategi di atas dapat calon peserta UN lakukan, kepanikan dalam menghadapi UN hanyalah masa lalu. Mereka akan tersenyum optimis dengan penuh percaya diri sambil berkata: “Selamat Datang Tahun Ajaran Baru!”

REFLEKSI SISTEM TI KPU

Masalah kerentanan sistem TI KPU (Teknologi Informasi Komisi Pemilihan Umum) memang sudah basi untuk dibicarakan, namun pengalaman Pemilu Legislatif 5 April 2004 bisa dijadikan pelajaran. Meski hasil perhitungan TI KPU hanya menjadi data sekunder (dikarenakan hasil yang sah ialah perhitungan manual) tidak ada salahnya saya coba me-review sedikit tentang sistem TI KPU. Apalagi hal ini sesuai dengan keterlibatan langsung penulis sebagai Supervisor Data Entry di Kecamatan Depok, Sleman, DIY (salah satu kecamatan terpadat di Indonesia, dengan 464 TPS).
Pemilu 2004 membutuhkan waktu lebih dari 1 bulan ketika perhitungan dilakukan secara manual dengan jumlah pemilih lebih 150 juta orang. Dukungan teknologi informasi dapat mempercepat proses ini dikarenakan waktu pernghitungan menjadi tak lebih dari dua pekan.
Sistem TI KPU ini telah menghasilkan kalkulator seharga 200 miliar, hal ini sudah lebih kecil dari desain sebelumnya yang bernilai 2,3 triliun. Dengan anggaran 200 miliar, jaringan tim TI KPU membangun jaringannya hingga tingkat kecamatan dengan lebih dari 8005 unit PC (Personal Computer) untuk PC tiap kecamatan, sedangkan desain sebelumnya hanya sekitar 350 unit PC di kabupaten atau kota.
Penghitungan suara pemilu dengan alat bantu TI akan menggunakan basis kecamtan sebagai entri data. Suara pemilih akan langsung dibawa ke kecamatan dari tiap TPS di seluruh Indonesia. Operator akan memasukkan data dari TPS ke komputer di kecamatan. Data yang telah dimasukkan ke komputer tersebut langsung dikirimkan ke Data Center di KPU Pusat. Operator direkrut dari para mahasiswa guna menghindari kesalahan input data, dengan jumlah sekitar 15 ribu orang. Alasan memilih mahasiswa sebagai operator ialah mereka sekaligus bisa menjadi kontrol apabila ada pihak yang berusaha berbuat curang. KPU akan mulai melakukan penghitungan dengan menggunakan suatu aplikasi, di mana aplikasi tersebut tetap melakukan analisis terhadap data yang berubah setiap waktu.
Data tidak akan terkirim melalui jalur internet karena jaringan internet bersifat publik dan rawan terhadap gangguan. Data dari kecamatan terkirim melalui jalur khusus yang akan digunakan untuk pengiriman data, di mana jalur tersebut tidak menggunakan jalur yang sudah ada namun Telkom benar-benar menarik kabel baru yang digunakan khusus untuk kepentingan Pemilu. Tim TI KPU bekerja sama dengan PT Telkom dan Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dalam hal ini.
Dengan jalur khusus ini, setiap operator di kecamatan akan memiliki user dan password yang khusus, jalur inipun hanya bisa digunakan untuk mengirimkan data itu, tidak bisa digunakan untuk browsing ke Internet sehingga bisa meminimalisir risiko gangguan.
Jaringan TI KPU yang dibangun sudah sedemikian aman dan realistis dengan pengamanan berlapis-lapis, termasuk memasang suatu aplikasi yang bisa mendeteksi adanya intrusi ke dalam sistem jaringan, yakni IDS (Intrusion Detection System), namun mengapa masih bobol juga?
Untuk mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan dan ketidaksamaan data yang dikirim oleh operator ke kecamatan ke Data Center, KPU telah membuat setiap komputer yang dikirim ke kecamatan memiliki setting seragam dan tidak dapat diutak-atik lagi.
Memang, sehebat apapun sistem yang dirancang oleh manusia tetap masih ada sisi kelemahannya. Tinggal bagaimana kita meminimalisir sisi kelemahan tersebut dan mendukung salah satu upaya memajukan bangsa kita lewat teknologi informasi.
Fastabiqul khairat

REDEFINISI KESUKSESAN

Setiap orang pasti ingin sukses. Tidak kenal usia, baik yang muda maupun yang telah melewati masa paruh baya. Kesuksesan adalah sebuah gambaran cita-cita ideal kehidupan yang akan dijalani setelah melalui rangkaian perjuangan untuk mencapainya. Tak ayal lagi, banyak orang berusaha mati-matian untuk meraih kesuksesan, tidak sedikit pula yang menuai kegagalan. Namun yang masih gagal ini bukan berarti adalah pribadi yang tersingkir, bisa jadi dia melarikan diri dengan cara bunuh diri misalnya, namun tidak sedikit yang terus bangkit untuk menaklukkan kerasnya kehidupan. Saat ini, telah banyak potret orang sukses di sekitar kita, baik itu teman, tetangga, maupun figur-figur yang terdeskripsikan kesuksesannya lewat literatur-literatur.
Orang-orang sukses tersebut membidangi kesuksesan yang beragam, dan ada beberapa yang sukses dalam satu bidang tertentu. Bidang ini merupakan pekerjaan yang menjadi kesenangan bagi yang melakukan, bahkan menimbulkan efek positif terhadap jiwanya. Yang menjadi ironi adalah seseorang yang sukses dalam satu bidang tidak menuai hal yang sama pada bidang yang lain. Kita dapat melihat contoh selebritis yang sukses dalam dunia entertainment namun tidak mampu mempertahankan kelangsungan pernikahannya. Di sini ada sebuah ketimpangan antara kesuksesan yang tinggi (dengan menjadi populer) dan kegagalan yang fatal (perceraian dalam ikatan pernikahan). Tentulah hal ini bukan menjadi harapan bagi kita, namun setidaknya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Adalah sebuah definisi yang keliru bila orang sukses itu kesehariannya hanya diisi dengan menekuni pekerjaannya, sampai-sampai melupakan waktu bahkan teman-keluarganya. Pekerjaan di sini tidak terbatas pada apa yang menghasilkan uang, namun dalam konteks yang lebih di mana apapun yang dilakukan manusia dalam kehidupannya. Ketekunan terhadap bidang pekerjaan yang digeluti memang akan menghasilkan seorang yang profesional, pintar, namun dalam saat yang sama di sisi lain menghasilkan orang tidak peka, asosial, dan mengalami kelainan mental.
Tinjauan terhadap waktu, maka pribadi yang workaholic seakan selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kekurangan waktu ini melahirkan budaya terburu-buru sehingga seakan tidak ada waktu luang untuk menikmati kehidupannya baik itu secara individu maupun kelompok, yang tidak berkaitan dengan urusan pekerjaan. Sikap terburu-buru ini sangat riskan menghasilkan pekerjaan yang tidak sempurna yang pada akhirnya memaksa orang tersebut untuk mengerjakan ulang dan menghabiskan waktu yang lebih banyak lagi. Di samping itu akan menumbuhkan sikap perfeksionis di mana tidak akan cepat puas dengan pekerjaan yang telah dilakukannya itu meski telah menghabiskan waktu yang tidak sedikit.
Dari segi hubungan sosial, waktu yang habis seluruhnya untuk pekerjaan akan mengambil waktu yang sedianya dapat digunakan untuk bercengkerama, mengenal lebih dalam teman maupun anggota keluarga yang lain. Hubungan sosial yang tidak seimbang ini akan menghasilkan kerumitan tersendiri pada diri orang tersebut manakala orang tersebut menemui kesulitan bahkan jalan buntu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada tempat untuk sejenak menenangkan pikiran dari kejenuhan pekerjaan.
Untuk itu perlu dipertanyakan kembali apa definisi kesuksesan itu, menurut Anda secara pribadi, sehingga bisa dijabarkan dalam tujuan hidup. Tujuan hidup ini nantinya akan memandu apa-apa saja yang dilakukan untuk menjaga keselarasan dalam hidup. Dari turunan ini pula akan ada pengalokasian waktu dengan tetap memandang diri pribadi sebagai seorang manusia bukanlah robot ataupun mesin yang dapat selalu tepat terhadap waktu.
Apabila hal tersebut telah terpenuhi, yang terakhir adalah memberi nilai pada setiap apapun yang kita lakukan (baik itu pekerjaan, organisasi, hubungan kekerabatan). Nilai ini bukan secara kuantitatif namun secara kualitatif apa saja yang mendasari kita melakukan sesuatu, tentunya niat memainkan peran cukup penting dalam hal ini. Sehingga hidup kita menjadi lebih bernilai, dengan segala dinamika kesuksesan dan kegagalan yang mengiringinya, dengan tanpa menggeneralisir keinginan manusia bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk BAHAGIA.

PENGHAMBA UANG

Uang telah menggerus peradaban manusia pada titik yang terendah. Seseorang bisa menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, bahkan tega memangsa saudaranya sendiri.

Pada awalnya, uang diciptakan sebagai alat tukar menukar. Namun perkembangan terkini menunjukkan, bahwa uang telah mengalami pergeseran makna dan status. Uang kini tidak jauh beda dengan tahta dan lawan jenis, simbol yang dikejar untuk mempertahankan maupun meningkatkan status yang dimiliki seseorang. Begitu maraknya kita simak tiap hari, jutaan manusia di seluruh dunia berlomba untuk mencari uang. Dengan alasan yang beragam, mulai dari menghidupi diri sendiri, menafkahi keluarga, memberikan penghidupan bagi orang lain, bahkan sekadar mengisi waktu luang. Namun, pada hakekatnya yang mereka lakukan tetaplah perlombaan mencari uang. Usaha yang dilakukan untuk memindahkan dari saku orang lain ke saku orang tersebut, sebagai sebuah analogi aktifitas produksi dan penjualan. Ataupun usaha memindahkan uang dari saku seseorang ke saku orang lain, yang dianalogikan dengan aktifitas konsumsi.
Uang telah menggerus peradaban manusia pada titik yang terendah. Seseorang bisa menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, bahkan tega memangsa saudaranya sendiri. Ukuran moralitas dan etika dalam sebuah peradaban menjadi tak berarti karena segala sesuatunya diukur berdasarkan nilai nominal uang. Prinsip kesederhanaan dan kebersahajaan juga dipelintir sehingga penerapannya berlangsung ekstrim. Kita tentunya mengetahui bahwa banyak hal yang tidak dapat dinilai oleh uang atau bahkan tidak bernilai. Ukuran yang menyangkut kejiwaan seseorang tidak bisa dinilai dengan uang. Kita tidak bisa membeli kebahagiaan seseorang dengan memberinya setumpuk uang, karena pada hakekatnya hal tersebut merupakan kesenangan semata.
Uang telah membuat manusia terlena. Adam Smith dalam teorinya mengatakan bahwa ‘seseorang yang berbuat terbaik bagi dirinya’ diterjemahkan oleh sekelompok orang menjadi uang hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, dalam hal ini meningkatkan kesejahteraan finansialnya. Sehingga dapat kita lihat bahwa sejumlah uang memang hanya berputar-putar pada kalangan tertentu saja. Penerjemahan sempit ini yang juga mendangkalkan sisi kedermawanan orang tersebut, dilandasai prinsip jikalau memberi uang maka harta yang dimiliki akan berkurang. Prinsip kikir/ pelit yang tidak dianjurkan dalam agama. Bagaimanapun, hukum perhitungan matematika tidak berlaku secara absolut dalam masalah uang. Jikalau kita hendak menilik adanya hal yang tidak bisa dinilai dengan uang, maka sudah sepatutnya prinsip ‘saling memberi, saling menerima’ menjadi pilihan. Memberi dengan menerima di sini bukan berarti mengharapkan pamrih, namun menunjukkan adanya hubungan timbal balik antar keduanya. Hal ini belum menunjukkan pemberian seseorang yang iba kepada peminta-minta. Namun, balasan pemberian tersebut bisa berwujud hal-hal immateri yang tidak ternilai harganya, misal: pahala, doa, dan sebagainya. Mengabdikan diri untuk mencari uang semata tidaklah jauh berbeda dengan syirik kepada Tuhan. Sesuatu yang kita menjadi budak darinya, tiada henti untuk memikirkannya, maka hal itulah yang kita per-Tuhan-kan.

—18012006—

PENDADARAN

Pendadaran, atau biasa disebut sidang Tugas Akhir (TA), merupakan saat paling mendebarkan ketika seseorang menempuh tingkat pendidikan di universitas. Model yang diterapkan pun bermacam-macam, mulai dari model tertutup dengan satu mahasiswa TA diuji oleh sejumlah dosen penguji, biasanya berjumlah ganjil, sampai model terbuka dimana sidang TA dapat dihadiri oleh mahasiswa sejurusan bahkan dibuka untuk umum.
Yang jelas, pendadaran merupakan perjuangan final seorang mahasiswa sebelum dirinya dinyatakan lulus. Kedirian dan kemandiriannya akan teruji di sana, di mana dia secara pribadi mengemukakan hasil kerjanya selama kurang lebih 6 bulan. Di dalamnya dia pun harus gesit menjawab pertanyaan dan berkelit dari pertanyaan-pertanyaan yang menjebak. Pendadaran juga akan menunjukkan kemampuan komunikasi mahasiswa dalam lingkup kecil, yakni di depan dosennya maupun bersama puluhan mahasiswa. Di sini akan tampak keberanian, kegugupan, sikap, dan perilaku seorang mahasiswa ketika berada di depan forum.
Pendadaran menjadi saat yang dinantikan bagi mereka yang tengah menyelesaikan TA. Jadwal pendadaran TA selalu dinantikan oleh mereka yang telah dirasa cukup telah menyelesaikan TA-nya. Mundurnya jadwal TA akan membuat mahasiswa resah dan harus menunggu lebih lama untuk saat-saat tersebut. Setelah melalui proses pendadaran, mahasiswa tentunya berharap untuk tidak harus merevisi TA yang telah dikerjakannya. Karena, jikalau banyak revisinya maka dia harus bekerja lebih keras lagi untuk segera menyelesaikannya. Tugas Akhir akan menjadi buah karya intelektual bernama mahasiswa ini dalam lingkup akademis.
Tugas Akhir yang telah diuji dalam pendadaran seharusnya bisa menjadi karya yang tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa bersangkutan, dalam hal ini terkait dengan nilai hasil TA tersebut. Karena, TA bisa pula dipublikasikan secara lebih luas dengan membahasakan TA tersebut lebih populer. Dengan demikian, TA akan bermanfaat untuk komunitas yang lebih luas, yakni masyarakat. Kerja yang tidak hanya membutuhkan waktu namun kerelaan tenaga untuk dapat bermanfaat pada orang banyak. Kerja sama dengan penerbit yang tertarik dengan minat topik TA tertentu akan memudahkan jalan mahasiswa dalam rangka pengabdiannya kepada masyarakat.
15 Januari 2006

Halaman Berikutnya »