ORISINIL ATAU PENJIPLAKAN?

Masalah orisinalitas sebuah film memang tak akan berhenti untuk diperbincangkan. Sebuah film yang dihasilkan oleh pegiat perfilman tidaklah lepas dari referensi film yang dimiliki, begitu pula wawasan dan pengalaman hidupnya.

Film Ekskul, produksi PT Indika Cipta Media, berhasil meraih empat piala dalam ajang penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2006, sehingga menjadi pemenang utama. Ekskul mendapatkan penghargaan untuk kategori “Editor Terbaik”, “Penata Suara Terbaik”, “Sutradara Terbaik” dan “Film Terbaik”. Sejumlah kalangan perfilman tidak menerima hasil keputusan dewan juri FFI tersebut. Mereka menganggap Ekskul tidak layak untuk menyandang predikat film terbaik, dikarenakan film tersebut terindikasi melakukan penjiplakan dalam soundtrack (ilustrasi musik) filmnya. Tentunya tidak terpenuhinya kriteria orisinalitas soundtrack film ini berpengaruh terhadap kualitas film tersebut.
Memang, di dunia perfilman, penjiplakan telah menjadi hal yang umum. Film Laela Majnun, CHIPS dan Manusia Enam Juta Dolar di era 70 dan 80-an jelas sekali menjiplak film dari luar negeri dengan judul dan cerita film kurang lebih serupa. Jadi, penjiplakan bukanlah hal yang baru lagi. Bahkan, hal ini telah dilakukan oleh beberapa pegiat perfilman kita sejak dulu. Namun, hal ini tidak menutup kondisi perfilman Indonesia bahwa tidak sedikit pula film buatan Indonesia yang orisinil.
Masalah orisinalitas sebuah film memang tak akan berhenti untuk diperbincangkan. Sebuah film yang dihasilkan oleh pegiat perfilman tidaklah lepas dari referensi film yang dimiliki, begitu pula wawasan dan pengalaman hidupnya. Ketika membuat sebuah film, pegiat perfilman pasti terinspirasi oleh film yang pernah ada untuk kemudian menerjemahkan inspirasi tersebut pada ide film yang hendak dibuatnya. Sehingga, faktor orisinalitas terletak pada seberapa baik terjemahan inspirasi tersebut menyatu dalam karya yang dibuat. Jika tidak nampak bahwa karya tersebut menjiplak karya lain, maka karya tersebut dapat dikatakan orisinil.
Memang, cara pandang tersebut akan terbentur pada masalah subjektivitas individu. Pandangan seseorang dengan orang lain terhadap sebuah film bisa jadi berbeda. Di satu pihak, seseorang bisa mengungkapkan bahwa film tersebut murni hasil inspirasinya. Sedangkan di pihak lain, orang menganggap bahwa film yang dihasilkan merupakan hasil penjiplakan. Namun, ada jalan tengah dalam permasalah ini. Jalan tengah tersebut ialah dengan mengusut kebenaran dari adanya penjiplakan tersebut, sehingga dapat ditemukan bahwa film tersebut memang semata-mata menjiplak film orang lain atau murni ide si pembuat film.
Yang menjadi masalah dalam orisinalitas film Ekskul ialah predikat yang didapatkannya cukup tinggi, yakni film terbaik FFI 2006. Bagaimanapun, FFI adalah barometer perfilman Indonesia. Bagus tidaknya film yang terpilih dalam FFI menunjukkan kondisi dan kualitas perfilman di tanah air. Tidak terpenuhinya kriteria orisinalitas soundtrack film Ekskul tentunya menggugurkan predikatnya sebagai film terbaik.
Tepat kiranya langkah yang diambil oleh sejumlah pegiat perfilman beberapa waktu lalu. Riri Riza, Nicholas Saputra, Mira Lesmana, dan kawan-kawan yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka terima dalam FFI 2004-2006 ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas hasil keputusan juri FFI 2006 terkait pemilihan Ekskul sebagai film terbaik, juga sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan perfilman di tanah air.
Bagaimanapun, pegiat perfilman yang mengembalikan penghargaan perfilman yang pernah mereka terima tersebut juga turut bertanggung jawab atas kondisi dan kualitas perfilman Indonesia. Tindakan yang diambil merupakan wujud keprihatinan atas merosotnya parameter kualitas yang digunakan dalam menilai sebuah film, ketika faktor orisinalitas karya dikesampingkan. Turunnya parameter kualitas film ini akan berpengaruh pada kinerja pegiat perfilman selanjutnya. Hal ini dikarenakan ketika kualitas (orisinalitas) film yang dibuat tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya, maka pegiat perfilman akan merasa cukup memenuhi kebutuhan pasar (konsumen) dan penyedia dana untuk memproduksi sejumlah film, tanpa perlu memandang kualitas film yang dihasilkannya itu. Pada akhirnya, idealisme pegiat perfilman untuk menghasilkan film berkualitas sebagai upaya pencerdasan bangsa tidak akan tersalurkan. Idealisme kualitas perfilman akan dikorbankan demi memenuhi tuntutan pasar dan jumlah dana dengan segala cara, salah satunya dengan cara penjiplakan.

Luqman Satriya Siambodo
Mahasiswa Teknik Industri
Universitas Gadjah Mada

1 Tanggapan ke “ORISINIL ATAU PENJIPLAKAN?”


  1. 1 ocha 20 April 2009 pukul 15:20

    pdhal film’na baguzzzz bgd. . .. . . .
    gu ajjah mpe nangis nntn’na. . . .. . . .^_^


Tinggalkan Balasan