Ospek sedianya merupakan masa transisi buatan yang diharapkan dapat mendewasakan pikiran mahasiswa baru yang masih dianggap anak kemarin sore agar mampu beradaptasi dengan dunia kampus yang meminta kematangan serta tanggung jawab berbeda ketika berada di bangku sekolah.
Salah satu elan vital dalam kehidupan bangsa Indonesia, yakni pendidikan, diharapkan mampu menjadi penyembuh bagi kompleksnya persoalan bangsa, seperti degradasi moral dan mutu sumber daya manusia. Namun, tak ubahnya perjalanan sejarah bangsa ini, catatan kelam juga ditorehkan dengan beberapa tragedi yang berujung pada kematian.
Tragedi yang berawal dari momok yang sering mengancam jiwa pelajar, calon mahasiswa, dicontohkan dengan pelaksanaan ospek atau inisiasi kampus yang dibumbui kekerasan yang berakhir pada tumbal nyawa.
Mahasiswa baru sebentar lagi akan disambut oleh ospek, inisiasi kampus, atau apapun namanya. Dengan catatan perjalanan yang ditinggalkan oleh kalangan intelek ini, ospek sering diwarnai praktik kekerasan yang sering menimbulkan korban, telah menjadi bumerang bagi mahasiswa baru, begitu pula orang tua mereka.
Memang, dalam kenyataannya, praktik kekerasan dalam ospek saat ini jauh berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sudah banyak panitia ospek yang menyambut yunior mereka dengan cara-cara bersahabat, sehingga generalisasi bahwa semua panitia ospek menggunakan kekerasan dan militerisme tidaklah adil.
Kekerasan dalam ospek tidak berwujud fisik semata, karena dapat pula berwujud kekerasan simbolik. Hal ini tampak dalam nama-nama jabatan panitia seperti “tim tatib” dan “keamanan”. Kekerasan simbolik ini bisa berubah menjadi kekerasan psikologis, karena ospek masih diwarnai dengan bentakan-bentakan arogan dan kata-kata kejam dari senior. Sakit tidak akan terasa secara fisik, namun dapat membuat stress yang berujung pada depresi. Padahal dampak yang ditimbulkannya akan lebih parah karena yang diserang adalah pikiran atau mental. Paradigma kekerasan dalam ospek seharusnya dihapuskan karena kemanfaatannya masih dipertanyakan dan sering meminta korban.
Ospek sedianya merupakan masa transisi buatan yang diharapkan dapat mendewasakan pikiran mahasiswa baru yang masih dianggap anak kemarin sore agar mampu beradaptasi dengan dunia kampus yang meminta kematangan serta tanggung jawab berbeda ketika berada di bangku sekolah.
Sebagai mahasiswa, tentunya kita malu dengan idealisme meneriakkan anti kekerasan dengan lantang dan menolak militerisme, namun kita malah menjadi kontributor dalam pelaksanaan kekerasan dan militerisme di kampus. Sudah saatnya kita sebagai agent of change, meninggalkan pola-pola kekerasan dalam menyambut adik-adik angkatan. Karena sesungguhnya, kewibawaan kita tidak akan bertambah hanya karena kita arogan pada mahasiswa baru, namun kewibawaan itu akan tumbuh ketika kita mampu menghargai keberadaan mereka dengan menyambutnya secara manusiawi.
Fastabiqul khairat
Wisma Al-Buruuj, Pogung Dalangan, Sleman, DIY, 15 Juli 2004
* Mahasiswa Teknik Industri UGM angkatan 2001, Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Gadjah Mada 2003 / 2004

Pesan dan Kesan