Arsip untuk Mei 22nd, 2008

OSPEK NIR-KEKERASAN : MUNGKINKAH ?

Ospek sedianya merupakan masa transisi buatan yang diharapkan dapat mendewasakan pikiran mahasiswa baru yang masih dianggap anak kemarin sore agar mampu beradaptasi dengan dunia kampus yang meminta kematangan serta tanggung jawab berbeda ketika berada di bangku sekolah.

Salah satu elan vital dalam kehidupan bangsa Indonesia, yakni pendidikan, diharapkan mampu menjadi penyembuh bagi kompleksnya persoalan bangsa, seperti degradasi moral dan mutu sumber daya manusia. Namun, tak ubahnya perjalanan sejarah bangsa ini, catatan kelam juga ditorehkan dengan beberapa tragedi yang berujung pada kematian.
Tragedi yang berawal dari momok yang sering mengancam jiwa pelajar, calon mahasiswa, dicontohkan dengan pelaksanaan ospek atau inisiasi kampus yang dibumbui kekerasan yang berakhir pada tumbal nyawa.
Mahasiswa baru sebentar lagi akan disambut oleh ospek, inisiasi kampus, atau apapun namanya. Dengan catatan perjalanan yang ditinggalkan oleh kalangan intelek ini, ospek sering diwarnai praktik kekerasan yang sering menimbulkan korban, telah menjadi bumerang bagi mahasiswa baru, begitu pula orang tua mereka.
Memang, dalam kenyataannya, praktik kekerasan dalam ospek saat ini jauh berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sudah banyak panitia ospek yang menyambut yunior mereka dengan cara-cara bersahabat, sehingga generalisasi bahwa semua panitia ospek menggunakan kekerasan dan militerisme tidaklah adil.
Kekerasan dalam ospek tidak berwujud fisik semata, karena dapat pula berwujud kekerasan simbolik. Hal ini tampak dalam nama-nama jabatan panitia seperti “tim tatib” dan “keamanan”. Kekerasan simbolik ini bisa berubah menjadi kekerasan psikologis, karena ospek masih diwarnai dengan bentakan-bentakan arogan dan kata-kata kejam dari senior. Sakit tidak akan terasa secara fisik, namun dapat membuat stress yang berujung pada depresi. Padahal dampak yang ditimbulkannya akan lebih parah karena yang diserang adalah pikiran atau mental. Paradigma kekerasan dalam ospek seharusnya dihapuskan karena kemanfaatannya masih dipertanyakan dan sering meminta korban.
Ospek sedianya merupakan masa transisi buatan yang diharapkan dapat mendewasakan pikiran mahasiswa baru yang masih dianggap anak kemarin sore agar mampu beradaptasi dengan dunia kampus yang meminta kematangan serta tanggung jawab berbeda ketika berada di bangku sekolah.
Sebagai mahasiswa, tentunya kita malu dengan idealisme meneriakkan anti kekerasan dengan lantang dan menolak militerisme, namun kita malah menjadi kontributor dalam pelaksanaan kekerasan dan militerisme di kampus. Sudah saatnya kita sebagai agent of change, meninggalkan pola-pola kekerasan dalam menyambut adik-adik angkatan. Karena sesungguhnya, kewibawaan kita tidak akan bertambah hanya karena kita arogan pada mahasiswa baru, namun kewibawaan itu akan tumbuh ketika kita mampu menghargai keberadaan mereka dengan menyambutnya secara manusiawi.
Fastabiqul khairat
Wisma Al-Buruuj, Pogung Dalangan, Sleman, DIY, 15 Juli 2004

* Mahasiswa Teknik Industri UGM angkatan 2001, Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Gadjah Mada 2003 / 2004

ORISINIL ATAU PENJIPLAKAN?

Masalah orisinalitas sebuah film memang tak akan berhenti untuk diperbincangkan. Sebuah film yang dihasilkan oleh pegiat perfilman tidaklah lepas dari referensi film yang dimiliki, begitu pula wawasan dan pengalaman hidupnya.

Film Ekskul, produksi PT Indika Cipta Media, berhasil meraih empat piala dalam ajang penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2006, sehingga menjadi pemenang utama. Ekskul mendapatkan penghargaan untuk kategori “Editor Terbaik”, “Penata Suara Terbaik”, “Sutradara Terbaik” dan “Film Terbaik”. Sejumlah kalangan perfilman tidak menerima hasil keputusan dewan juri FFI tersebut. Mereka menganggap Ekskul tidak layak untuk menyandang predikat film terbaik, dikarenakan film tersebut terindikasi melakukan penjiplakan dalam soundtrack (ilustrasi musik) filmnya. Tentunya tidak terpenuhinya kriteria orisinalitas soundtrack film ini berpengaruh terhadap kualitas film tersebut.
Memang, di dunia perfilman, penjiplakan telah menjadi hal yang umum. Film Laela Majnun, CHIPS dan Manusia Enam Juta Dolar di era 70 dan 80-an jelas sekali menjiplak film dari luar negeri dengan judul dan cerita film kurang lebih serupa. Jadi, penjiplakan bukanlah hal yang baru lagi. Bahkan, hal ini telah dilakukan oleh beberapa pegiat perfilman kita sejak dulu. Namun, hal ini tidak menutup kondisi perfilman Indonesia bahwa tidak sedikit pula film buatan Indonesia yang orisinil.
Masalah orisinalitas sebuah film memang tak akan berhenti untuk diperbincangkan. Sebuah film yang dihasilkan oleh pegiat perfilman tidaklah lepas dari referensi film yang dimiliki, begitu pula wawasan dan pengalaman hidupnya. Ketika membuat sebuah film, pegiat perfilman pasti terinspirasi oleh film yang pernah ada untuk kemudian menerjemahkan inspirasi tersebut pada ide film yang hendak dibuatnya. Sehingga, faktor orisinalitas terletak pada seberapa baik terjemahan inspirasi tersebut menyatu dalam karya yang dibuat. Jika tidak nampak bahwa karya tersebut menjiplak karya lain, maka karya tersebut dapat dikatakan orisinil.
Memang, cara pandang tersebut akan terbentur pada masalah subjektivitas individu. Pandangan seseorang dengan orang lain terhadap sebuah film bisa jadi berbeda. Di satu pihak, seseorang bisa mengungkapkan bahwa film tersebut murni hasil inspirasinya. Sedangkan di pihak lain, orang menganggap bahwa film yang dihasilkan merupakan hasil penjiplakan. Namun, ada jalan tengah dalam permasalah ini. Jalan tengah tersebut ialah dengan mengusut kebenaran dari adanya penjiplakan tersebut, sehingga dapat ditemukan bahwa film tersebut memang semata-mata menjiplak film orang lain atau murni ide si pembuat film.
Yang menjadi masalah dalam orisinalitas film Ekskul ialah predikat yang didapatkannya cukup tinggi, yakni film terbaik FFI 2006. Bagaimanapun, FFI adalah barometer perfilman Indonesia. Bagus tidaknya film yang terpilih dalam FFI menunjukkan kondisi dan kualitas perfilman di tanah air. Tidak terpenuhinya kriteria orisinalitas soundtrack film Ekskul tentunya menggugurkan predikatnya sebagai film terbaik.
Tepat kiranya langkah yang diambil oleh sejumlah pegiat perfilman beberapa waktu lalu. Riri Riza, Nicholas Saputra, Mira Lesmana, dan kawan-kawan yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka terima dalam FFI 2004-2006 ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas hasil keputusan juri FFI 2006 terkait pemilihan Ekskul sebagai film terbaik, juga sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan perfilman di tanah air.
Bagaimanapun, pegiat perfilman yang mengembalikan penghargaan perfilman yang pernah mereka terima tersebut juga turut bertanggung jawab atas kondisi dan kualitas perfilman Indonesia. Tindakan yang diambil merupakan wujud keprihatinan atas merosotnya parameter kualitas yang digunakan dalam menilai sebuah film, ketika faktor orisinalitas karya dikesampingkan. Turunnya parameter kualitas film ini akan berpengaruh pada kinerja pegiat perfilman selanjutnya. Hal ini dikarenakan ketika kualitas (orisinalitas) film yang dibuat tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya, maka pegiat perfilman akan merasa cukup memenuhi kebutuhan pasar (konsumen) dan penyedia dana untuk memproduksi sejumlah film, tanpa perlu memandang kualitas film yang dihasilkannya itu. Pada akhirnya, idealisme pegiat perfilman untuk menghasilkan film berkualitas sebagai upaya pencerdasan bangsa tidak akan tersalurkan. Idealisme kualitas perfilman akan dikorbankan demi memenuhi tuntutan pasar dan jumlah dana dengan segala cara, salah satunya dengan cara penjiplakan.

Luqman Satriya Siambodo
Mahasiswa Teknik Industri
Universitas Gadjah Mada