MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH KULTURAL

Sebuah lompatan tengah dilakukan oleh salah satu organisasi modern terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yakni dengan melakukan Dakwah Kultural. Muhammadiyah yang selama perjalanannya dikenal anti Takhayul, Bid’ah, dan Churofat (TBC) dalam hal ini akan berhadapan dengan budaya sebagian besar masyarakat Indonesia yang kental dengan nuansa ketiga hal di atas. Anggapan bahwa dengan purifikasi yang dilakukan Muhammadiyah berarti Muhammadiyah anti terhadap budaya juga tidak sepenuhnya benar, namun di sini Muhammadiyah belum bisa menempatkan diri mana budaya yang bisa mendukung gerakan da’wah yang dilakukannya.

Mengangkat budaya lokal sebagai media dakwah tentunya cukup menarik karena fenomena berdirinya Muhammadiyah identik dengan pengadopsian kemajuan kala itu, yakni dalam hal media amal usaha yang berupa wilayah pendidikan dengan pendirian sekolah-sekolah; wilayah kesehatan dengan pendirian rumah sakit; dan wilayah sosial dengan pendirian panti asuhan. Di sini bisa dikatakan Muhammadiyah telah bergerak melampaui zamannya karena waktu itu Islam identik dengan pendidikan pesantren tradisional. Definisi kemajuan pada kala itu juga perlu dipertegas karena dalam hal ini Muhammadiyah mengadopsi pola-pola (budaya) Barat dalam menjalankan gerakan dakwahnya, terutama dalam rangka membendung Kristenisasi. Di sini akan jadi pertanyaan, mengapa tidak dengan budaya lokal?

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemantik lahirnya gagasan Dakwah Kultural. Ranah dakwah yang kurang disentuh oleh Muhammadiyah, terbukti dengan kurang efektifnya Lembaga Seni dan Budaya yang dimiliki oleh organisasi ini dirasakan keberadaannya dalam masyarakat Indonesia. Memang bisa dikatakan Lembaga ini sudah bermain di belakang layar dalam beberapa sinetron yang bertemakan Islam yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta. Dan ini bisa dikatakan sukses dalam perspektif organisasi dikarenakan dakwah kultural bisa dijalankan lewat media televisi yang notebene untuk saat ini berpengaruh besar pada pembentukan budaya masyarakat Indonesia.

Memang muncul beberapa pandangan terhadap Dakwah Kultural, sebuah konsep yang dihasilkan dari Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar Bali pada bulan Januari tahun 2002. Pandangan pertama yakni kekhawatiran bahwa Dakwah Kultural ini mempunyai makna Muhammadiyah akan membenarkan praktik-praktik keagamaan yang sarat dengan TBC. Dakwah itu pada hakikatnya kultural sehingga tidak perlu diberi kata sifat kultural, merupakan ciri pandangan kedua. Dan pandangan ketiga bahwa dakwah kultural ini merupakan sebuah keniscayaan atas realitas sosial budaya yang selama ini diabaikan oleh gerakan dakwah Muhammadiyah.

Fenomena Dakwah Kultural ini cukup menarik bila kita hendak melakukan studi empiris terhadap dua ormas Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. NU yang bercorak berpegang teguh pada nilai-nilai tradisi, dari kalangan mudanya terjadi lompatan pembebasan pemikiran, begitu pula secara institusi NU mulai membangun sekolah-sekolah modern karena selama ini pesantren yang dimiliki merupakan hak milik/ atas nama kyai yang mendirikan, bukan atas nama organisasi. Di sisi lain, Muhammadiyah melirik pengembangan dakwah melalui pesantren, bisa jadi karena keterbatasan sekolah yang selama ini telah didirikan dimana harus mengikuti kurikulum Pemerintah.

Dakwah Kultural ini bisa jadi sebuah kilas balik dari gerakan dakwah yang selama ini dilakukan oleh Muhammadiyah, bisa jadi ini sebuah kemunduran jikalau kemodernan yang dilakukan Muhammadiyah dalam tiga konsentrasi wilayah garap dakwahnya tidak mampu mengikuti perkembangan zaman lagi (dalam sebuah anekdot Muhammadiyah telah berpikir dan bergerak melampaui zamannya-kala itu). Namun hal ini bisa dikatakan sebuah kemajuan manakala Muhammadiyah berusaha memperluas wilayah dakwahnya terhadap masyarakat Indonesia, terutama yang anti terhadap gerakan purifikasi anti TBC, dan setidaknya bisa memperkecil potensi konflik yang selama ini jadi penyebab antara dua organisasi Islam di Indonesia ini.

Pola Dakwah yang berkembang saat ini bisa dikatakan tidak mampu mengakomodir terhadap perkembangan

Lalu bagaimana sebaiknya Muhammadiyah bergerak dalam Dakwah Kulturalnya ini?

0 Tanggapan ke “MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH KULTURAL”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan