Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri.
Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau telah tergerus pula oleh arus globalisasi. Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan. Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan. Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem, sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini. Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan. Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah alternatif yang dapat menampung ekonomi lemah tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah negeri, Nasrani, bahkan internasional.
Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai sekarang.
Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah. Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan kader-kader yang masih idealis bertahan pada prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.
Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri. Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa struktural pusat memang tidak mengakar dan asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah yang berada di Ranting terhadap Pusat atas inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.
Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting. Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu dilaksanakan dalam konteks lokal oleh Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang, maupun ranting.
Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah. Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau. Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah. Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit independen terhadap struktural maupun amal usaha Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan dengan norma agama dan standart profesionalitas organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah organisasi.
Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah cenderung memihak yang dominan dan banyak materi, seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang kreatif dan autonom. Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa ksatria pasti menjawab sanggup
*Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini