Arsip untuk Mei 19th, 2008

MULTIKULTURALISME : ANCAMAN ATAU TANTANGAN ?

Menarik juga memperbincangkan masalah multikulturalisme, apalagi bagi kita yang suka dengan kajian budaya dan segenap dinamika perkembangannya. Dari sini penulis coba mengangkat sebuah fenomena yang sudah ada yang kita ketahui secara sadar maupun tidak sadar ada dalam masyarakat kita. Indonesia dengan multikultural (budaya yang jamak) memiliki beragam suku, agama, dan ras namun masih banyak menghadapi masalah dengan kejamakan budaya yang dimilikinya ini. Pemahaman bahwa ada yang berbeda dan ada yang lain yang menjadi dasar bagi multikulturalisme belum menjadi sebuah keumuman dalam masyarakat kita. Hal ini tentunya perlu pemahaman mendasar akan multikulturalisme dalam lingkup masyarakat Indonesia.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa penduduk di seluruh dunia semakin bercampur baur. Perpindahan penduduk antar daerah, negara, dan benua bukanlah hal yang aneh lagi. Karena hal tersebut semakin mudah dilakukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tingkat kemajuan ekonomi yang dimiliki oleh suatu negara. Dari percampur bauran itu terjadi saling tukar informasi sehingga timbul penguatan yang dapat menghasilkan tekanan-tekanan terhadap pemerintah yang mapan. Tekanan ini tidak hanya ditujukan kepada struktur pemerintahannya namun bisa pula pada turunan kebijakannya yakni sistem pendidikan yang dibentuk dan sistem ekonominya. Proses ini amat penting sebagai sebuah bentuk kekuatan penyeimbang dari hegemoni Pemerintah dalam menerapkan kebijakan-kebijakannnya sehingga dapat menghasilkan posisi equal dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pencampur bauran penduduk ini tidak lain disebabkan oleh diaspora (penyebaran) penduduk dunia dewasa ini. Proses ini menumbuhkan masyarakat yang hidup dalam kedekatan sehingga mereka berinteraksi dengan berbagai individu yang memiliki beragam latar belakang suku dan bangsa. Proses interaksi ini tentunya membutuhkan kemampuan saling beradaptasi (mutual adaptation) sehingga dapat diperoleh kemajuan bersama. Kemajuan bersama yang didasarkan atas pertukaran beragam gagasan dari berbagai penjuru dunia yang bersifat material, manufaktural bahkan kultural.

Multikultualisme bisa dimaknai sebagai sebuah keyakinan bahwa individu-individu dari berbagai kebudayaan secara tetap hidup berdampingan (living together) dengan individu-individu lainnya yang memiliki perilaku, kebiasaan, dan kepercayaan dan penampakan fisik yang benar-benar berbeda.

Namun, masyarakat multikultural bukannya tidak menemui masalah tersembunyi, dikarenakan bisa terjadi disparitas dalam kebudayaan dan sumber daya yang akan melahirkan ketidak puasan dan konflik sosial. Di samping itu, potensi untuk berbenturan semakin besar ketika perbedaan nasionalitas, etnisitas, dan ras timbul bersamaan dengan perbedaan agama, posisi sosial, dan ekonomi.

Berkaca dari permasalahan tersebut, maka multikulturalisme menekankan pentingnya belajar dan memahami kebudayaan lain secara simpatik. Dari pemahaman ini diharapkan dapat tumbuh suatu apreasiasi terhadap budaya yang berbeda tersebut, dalam artian penilaian secara positif. Dengan apresiasi positif ini, maka kemudahan akses terhadap sistem pengetahuan dan budaya baru dapat terjadi.

Tentunya perlu ada sebuah paradigma mendasar dalam mengahapi multikulturalisme, yang mana kita akan saling mengajak untuk menghargai kebudayaan-kebudayaan orang lain, namun tetap setia pada kebudayaan kita sendiri. Dalam artian kita tidak hendak melakukan pencampur bauran budaya namun kita masih tetap loyal pada budaya masing-masing dengan tetap menghargai kebudayaan lain.

MUHAMMADIYAH DAN DAKWAH KULTURAL

Sebuah lompatan tengah dilakukan oleh salah satu organisasi modern terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yakni dengan melakukan Dakwah Kultural. Muhammadiyah yang selama perjalanannya dikenal anti Takhayul, Bid’ah, dan Churofat (TBC) dalam hal ini akan berhadapan dengan budaya sebagian besar masyarakat Indonesia yang kental dengan nuansa ketiga hal di atas. Anggapan bahwa dengan purifikasi yang dilakukan Muhammadiyah berarti Muhammadiyah anti terhadap budaya juga tidak sepenuhnya benar, namun di sini Muhammadiyah belum bisa menempatkan diri mana budaya yang bisa mendukung gerakan da’wah yang dilakukannya.

Mengangkat budaya lokal sebagai media dakwah tentunya cukup menarik karena fenomena berdirinya Muhammadiyah identik dengan pengadopsian kemajuan kala itu, yakni dalam hal media amal usaha yang berupa wilayah pendidikan dengan pendirian sekolah-sekolah; wilayah kesehatan dengan pendirian rumah sakit; dan wilayah sosial dengan pendirian panti asuhan. Di sini bisa dikatakan Muhammadiyah telah bergerak melampaui zamannya karena waktu itu Islam identik dengan pendidikan pesantren tradisional. Definisi kemajuan pada kala itu juga perlu dipertegas karena dalam hal ini Muhammadiyah mengadopsi pola-pola (budaya) Barat dalam menjalankan gerakan dakwahnya, terutama dalam rangka membendung Kristenisasi. Di sini akan jadi pertanyaan, mengapa tidak dengan budaya lokal?

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemantik lahirnya gagasan Dakwah Kultural. Ranah dakwah yang kurang disentuh oleh Muhammadiyah, terbukti dengan kurang efektifnya Lembaga Seni dan Budaya yang dimiliki oleh organisasi ini dirasakan keberadaannya dalam masyarakat Indonesia. Memang bisa dikatakan Lembaga ini sudah bermain di belakang layar dalam beberapa sinetron yang bertemakan Islam yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta. Dan ini bisa dikatakan sukses dalam perspektif organisasi dikarenakan dakwah kultural bisa dijalankan lewat media televisi yang notebene untuk saat ini berpengaruh besar pada pembentukan budaya masyarakat Indonesia.

Memang muncul beberapa pandangan terhadap Dakwah Kultural, sebuah konsep yang dihasilkan dari Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar Bali pada bulan Januari tahun 2002. Pandangan pertama yakni kekhawatiran bahwa Dakwah Kultural ini mempunyai makna Muhammadiyah akan membenarkan praktik-praktik keagamaan yang sarat dengan TBC. Dakwah itu pada hakikatnya kultural sehingga tidak perlu diberi kata sifat kultural, merupakan ciri pandangan kedua. Dan pandangan ketiga bahwa dakwah kultural ini merupakan sebuah keniscayaan atas realitas sosial budaya yang selama ini diabaikan oleh gerakan dakwah Muhammadiyah.

Fenomena Dakwah Kultural ini cukup menarik bila kita hendak melakukan studi empiris terhadap dua ormas Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. NU yang bercorak berpegang teguh pada nilai-nilai tradisi, dari kalangan mudanya terjadi lompatan pembebasan pemikiran, begitu pula secara institusi NU mulai membangun sekolah-sekolah modern karena selama ini pesantren yang dimiliki merupakan hak milik/ atas nama kyai yang mendirikan, bukan atas nama organisasi. Di sisi lain, Muhammadiyah melirik pengembangan dakwah melalui pesantren, bisa jadi karena keterbatasan sekolah yang selama ini telah didirikan dimana harus mengikuti kurikulum Pemerintah.

Dakwah Kultural ini bisa jadi sebuah kilas balik dari gerakan dakwah yang selama ini dilakukan oleh Muhammadiyah, bisa jadi ini sebuah kemunduran jikalau kemodernan yang dilakukan Muhammadiyah dalam tiga konsentrasi wilayah garap dakwahnya tidak mampu mengikuti perkembangan zaman lagi (dalam sebuah anekdot Muhammadiyah telah berpikir dan bergerak melampaui zamannya-kala itu). Namun hal ini bisa dikatakan sebuah kemajuan manakala Muhammadiyah berusaha memperluas wilayah dakwahnya terhadap masyarakat Indonesia, terutama yang anti terhadap gerakan purifikasi anti TBC, dan setidaknya bisa memperkecil potensi konflik yang selama ini jadi penyebab antara dua organisasi Islam di Indonesia ini.

Pola Dakwah yang berkembang saat ini bisa dikatakan tidak mampu mengakomodir terhadap perkembangan

Lalu bagaimana sebaiknya Muhammadiyah bergerak dalam Dakwah Kulturalnya ini?

MUHAMMADIYAH DALAM CENGKERAMAN GLOBALISASI

Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri.

Persyarikatan yang kita cintai ini, mau tidak mau telah tergerus pula oleh arus globalisasi. Muhammadiyah yang dahulu didirikan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan Kristenisasi, mengalami kemunduran dalam menyikapi perkembangan dunia dalam konteks kekinian. Bentuk perlawanan terhadap globalisasi yang berwujud kolonialisme kala itu kini hanya tinggal kenangan. Kini, Muhammadiyah tengah mengalami kegamangan dalam penyikapannya terhadap globalisasi dikarenakan wajah globalisasi begitu sarwa-jamak yang tidak mudah diterjemahkan kawan atau didefinsikan untuk dilawan. Amal usaha yang banyak dalam segi jumlah tidaklah bisa menjadi alasan karena hal ini cuma merupakan replikasi atau bisa disebut pengulangan dari apa yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, bahkan bisa dikatakan menyimpang dari tujuan semula. Penolong Kesengsaraan Oemoem, sebagai semboyan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak menemukan makna filosofisnya di Persyarikatan ini. Sekolahan yang dibangun pun tidak bisa menampung golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan. Seharusnya bisa dimunculkan rumah sakit maupun sekolah alternatif yang dapat menampung ekonomi lemah tersebut sehingga dapat menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sama. Adapun kelak yang menjadi penyangga dari sistem alternatif ini adalah rumah sakit dan sekolah yang telah ada yang memang mengejar kualitas dan fasilitas yang lebih baik untuk golongan ekonomi mampu agar tidak kalah bersaing dengan sekolah negeri, Nasrani, bahkan internasional.

Sikap yang tidak jelas terhadap globalisasi malah menempatkan kader-kader Muhammadiyah sebagai agen proyek asing dengan maraknya proyek yang diterima dengan funding (pembiayaan) dari luar negeri. Apologi yang diungkapkan dari kader-kader ini adalah apabila proyek ini tidak diambil maka Muhammadiyah hanya bisa gigit jari karena tidak kebagian. Saya benar-benar heran dengan pernyataan ini, bukankah Muhammadiyah itu dihidupi/ dibiayai oleh warganya sendiri? KH Ahmad Dahlan dahulu adalah seorang pedagang batik dalam misinya menghidup-hidupi Muhammadiyah secara finansial. Bahkan pernah seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah hanya berprofesi sebagai penjual bensin eceran, toh Muhammadiyah masih tetap eksis sampai sekarang.

Memang tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tidak sabar terhadap perkembangan globalisasi, dan dengan cepatnya perkembangan itu Muhammadiyah sudah diminta untuk berlari padahal baru saja bisa berjalan. Ketidak sabaran ini terjadi karena adanya kader-kader karbitan yang tidak mengikuti alur perkaderan Muhammadiyah mulai dari tingkatan paling bawah, atau proses yang dijalani terlalu cepat bahkan tidak bernilai dalam proses perkembangannya sebagai kader Muhammadiyah. Kader-kader seperti ini mudah sekali tergoda oleh cepatnya pertumbuhan yang seharusnya terjadi di Muhammadiyah dan menekan bahkan memaksa menekan kader-kader yang masih idealis bertahan pada prinsip-prinsip dasar ber-Muhammadiyah.

Pertumbuhan cepat yang didanai oleh proyek asing adalah perkembangan semu, yang tidak mengakar dan memberdayakan warga Muhammadiyah. Pola pikir kader Muhammadiyah yang menjadi agen proyek asing seperti inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan cukup tajam antara pimpinan pusat dengan warga cabang bahkan ranting. Visi dan misi idealis dan ideologis tereduksi oleh kepentingan pragmatis dan sesaat akan pemenuhan proyek-proyek yang mekanisme finansialnya bukan merupakan ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah dengan kemampuan swadayanya didanai oleh warganya sendiri. Betapa perubahan di tingkatan struktural Pusat Muhammadiyah tidak begitu memberikan pengaruh yang signifikan pada warga dan Pimpinan Muhammadiyah maupun ortom di tingkatan Ranting menunjukkan bahwa struktural pusat memang tidak mengakar dan asyik-masyuk dengan kepentingan sendiri. Di sini sering terjadi protes keras dari warga Muhammadiyah yang berada di Ranting terhadap Pusat atas inkonsistensi atas Putusan-putusan yang telah dibuat.

Hal ini dapat dimaknai wajar dalam sebuah organisasi sebagai mekanisme otokritik, namun amatlah tidak wajar apabila ini berlangsung karena tidak adanya kesamaan visi dan misi yang ideal antara pusat dan ranting. Sehingga bisa kita lihat program kerja yang cuma jadi mimpi dari struktural pusat Muhammadiyah mampu dilaksanakan dalam konteks lokal oleh Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah di daerah, cabang, maupun ranting.

Amal usaha terpusat yang coba diterapkan pun tidak mampu menyentuh struktural bawah Muhammadiyah. Pendirian amal usaha ini lebih memanfaatkan jaringan Muhammadiyah yang telah ada namun tidak memperhatikan potensi dan kearifan lokal di masing-masing struktural bawah Muhammadiyah. Sehingga bisa kita saksikan bahwa amal usaha Muhammadiyah terutama di luar ketiga segmen yakni: pendidikan, kesehatan, panti asuhan; tengah dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau. Kondisi ini diperparah dengan adanya korupsi baik di tingkatan struktural maupun amal usaha Muhammadiyah. Muhammadiyah yang menggembar-gemborkan anti korupsi dengan menggalang aliansi antar umat beragama ternyata begitu keropos. Tidak adanya mekanisme audit independen terhadap struktural maupun amal usaha Muhammadiyah membuat tidak adanya pengawasan keuangan yang ketat terhadap Muhammadiyah. Hal ini tak ayal lagi meningkatkan budaya korupsi di Muhammadiyah sembari turut menyemarakkan korupsi yang terjadi di birokrasi Pemerintah. Hal ini amatlah bertentangan dengan norma agama dan standart profesionalitas organisasi, karena dalam era globalisasi, transparansi dan akuntabilitas merupakan syarat sehatnya sebuah organisasi.

Muhammadiyah memang beradaptasi dengan globalisasi karena ketidakmampuannya untuk melawan hegemoni sistem tersebut. Dalam proses adaptasi ini Muhammadiyah cenderung memihak yang dominan dan banyak materi, seperti yang saya gambarkan di atas. Dengan dalih adaptasi kita akomodasi konsep-konsep yang merugikan Persyarikatan. Kita harus pragmatis, realistis dan perut harus diprioritaskan. Ini bukanlah adaptasi yang kreatif dan autonom. Apakah Muhammadiyah dapat tegak menghadapi tantangan-tantangan itu dan setia pada prinsip-prinsip pokoknya seperti diamanatkan para pendirinya? Jiwa ksatria pasti menjawab sanggup

*Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa

Muhammadiyah Bulaksumur Karangmalang tahun 2005-2006

MEWASPADAI BAHAYA FLU BURUNG

Virus ini menyebar lewat satwa unggas, yakni ayam, burung, dan itik. Virus ini hidup di dalam saluran pencernaan unggas, lalu dikeluarkan oleh unggas bersama kotoran.

Sejak awal kemunculannya, yakni di Hongkong pada tahun 1997, flu burung telah menebar ancaman. Penyebarannya yang melalui virus H5N1 ini telah menimbulkan keresahan penduduk dunia yang berada di Vietnam (2003 dan 2005), Thailand (2004), dan juga di Indonesia (2003- sekarang). Sehingga, dikhawatirkan flu burung ini akan mewabah dalam skala geografis yang luas.

Virus ini menyebar lewat satwa unggas, yakni ayam, burung, dan itik. Virus ini hidup di dalam saluran pencernaan unggas, lalu dikeluarkan oleh unggas bersama kotoran. Penularan terjadi dari kotoran secara oral atau melewati saluran pernapasan. Dilihat dari cara penyebarannya, maka orang beresiko besar terserang flu burung, ialah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Pada awalnya, kita akan kesulitan untuk mendeteksi seseorang bila terinfeksi flu burung. Gejala awal dari flu burung ini memang tidak jauh berbeda dengan gejala influenza biasa. Bersin-bersin, yang dialami penderita flu biasa, dapat sembuh dengan sendirinya dalam 2-3 hari. Namun, untuk kasus flu burung, gejala influenza tak kunjung reda dan akan diikuti oleh demam, batuk, sesak dan sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala dan lemas.

Sejak tahun 1997, korban flu burung baru berjumlah puluhan orang. Sehingga, kita tidak perlu resah berlebihan, namun tetap harus waspada. Kita dianjurkan untuk sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun. Bagi pemilik binatang juga diimbau untuk rajin membersihkan kandang binatang. Dengan tindakan pereventif (pencegahan) seperti ini, kita akan mampu mencegah penularan virus tersebut di lingkungan sekitar kita.

MENYONGSONG BABAKAN SEJARAH BARU

Pemilihan Umum yang memilih Presiden dan Wakil Presiden merupakan sejarah besar bagi bangsa Indonesia. Setelah mencatatkan diri sebagai penyelenggara Pemilu terbesar dengan multi variabel pilihan dalam 5 April lalu, bangsa ini akan dihadapkan pada budaya baru, memilih Presiden dan Wakil Presidennya sendiri.

Beberapa jam lagi kita akan menyongsong sebuah sejarah baru, dimana kita berharap akan terjadi sedikitnya perubahan yang terjadi dimulai dari awal bulan ini. Mengapa saya katakan perubahan, awal bulan ini akan dilangsungkan tiga event besar. Pertama, tanggal 4 Juli, Amerika Serikat, negeri Paman Sam yang jauh di sana, tengah merayakan deklarasi kemerdekaannya yang sangat meriah dengan suguhan permainan kembang api di malam hari. Kedua, malam/dini hari nanti, dari kancah persepakbolaan Eropa, akan digelar partai final yang ditunggu-tunggu antara tuan rumah Portugal dan kuda hitam Yunani. Menariknya partai dalam Euro 2004 kali ini sama antara partai pembukaan dan partai penutup, di mana tuan rumah tentunya tidak mau mengulangi kesalahannya sehingga kalah dalam partai perdana, sedangkan sang kuda hitam mau tidak mau hendak mempersembahkan gelar bagi negaranya. Apapun hasilnya, kita lihat saja nanti. Ketiga, dalam lingkup nasional, bangsa kita akan memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilu Pilpres 5 Juli 2004, besok.

Pemilihan Umum yang memilih Presiden dan Wakil Presiden merupakan sejarah besar bagi bangsa Indonesia. Setelah mencatatkan diri sebagai penyelenggara Pemilu terbesar dengan multi variabel pilihan dalam 5 April lalu, bangsa ini akan dihadapkan pada budaya baru, memilih Presiden dan Wakil Presidennya sendiri. Sebuah budaya yang mungkin hanya jadi impian ketika kursi kepresidenan menjadi begitu sakral dan tanpa campur tangan rakyat. Namun keinginan tersebut kini berada di depan mata, kita sebagai bangsa Indonesia memiliki hak untuk menentukan siapa yang dipercaya berduet dalam memimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan.

Sebagaimana kita ketahui, pergantian kepemimpinan di Indonesia tidak pernah berjalan mulus. Selalu terjadi pertumpahan darah, instabilitas politik, ekonomi, dan pro-kontra. Lewat Pemilu kali ini kita coba belajar untuk melakukan pergantian kepemimpinan secara lebih arif dan damai, karena bukan pada perkara menang ataupun kalah, namun siapakah yang lebih dipercaya rakyat untuk memimpin bangsa ini. Yang menang tentulah tidak lalu berbangga diri karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, begitu pula yang kalah, hendaklah berbesar hati dan mendukung terpilihnya pemimpin yang lolos ke putaran kedua ataupun terpilih secara kuantitatif.

Pemilihan kepemimpinan secara langsung akan lebih mendewasakan bangsa Indonesia bahwa tidak selalu kemauan, keinginan, dan harapan kita sama dengan elemen bangsa yang lain. Memang masih sedikit dari bangsa Indonesia yang berasal dari kalangan terdidik ataupun mengerti apa yang terjadi di sekitar perebutan kekuasaan, namun hal tersebut tidaklah menjadikan diri kita pesimis akan hasil Pemilu kelak karena inilah hasil terbaik yang layak kita terima. Hasil sebagai warga negara, sebagai pengagum salah satu calon, bahkan yang apatis terhadap apa yang tengah terjadi. Kita akan memilih sesuai dengan hati nurani, memilih dengan kearifan, bukan karena uang ataupun tekanan. Karena bagaimanapun juga, apa yang kita lakukan esok hari akan kita tuai hasilnya selama lima tahun ke depan.

Akhir kata, marilah kita buka lembaran baru sejarah bangsa Indonesia setelah kelamnya sejarah yang telah kita lewati. Tentunya, sebagai seorang warga negara yang baik, tidak akan terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya, bukan ?

Fastabiqul khairat

Wisma Al-Buruuj, Pogung Dalangan, Sleman, DIY, 4 Juli 2004

* Mahasiswa Teknik Industri angkatan 2001, Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Gadjah Mada 2003 / 2004

Halaman Berikutnya »