Buku berkualitas biasanya dikerjakan oleh seorang tokoh dalam waktu cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Kerja intelektual menulis buku sering dilakukan di bawah tekanan, baik itu di dalam penjara, maupun di tempat pengasingan.

Bagi Anda yang senang membaca buku, pastilah mengenal sejumlah karya yang tergolong berkualitas, bahkan sering menjadi best-seller (buku laris). Meskipun buku laris tidaklah selalu identik dengan kualitas buku, karena tidak sedikit buku berkualitas dan tergolong ‘berat’ untuk konsumsi umum yang tidak menjadi best-seller. Kategori yang ditunjukkan oleh penjualan buku best-seller hanyalah tingkat jumlah buku yang terjual, sehingga menunjukkan hal apa yang menjadi kecenderungan pola konsumsi buku masyarakat. Hal ini lebih menunjukkan kemampuan pasar konsumsi buku untuk mengendalikan penerbitan buku agar disamping mementingkan aspek idealis mencerdaskan kehidupan bangsa, juga turut memikirkan kemauan pasar dan aspek finansial untuk menghidupi usaha penerbitan tersebut.

Buku berkualitas biasanya dikerjakan oleh seorang tokoh dalam waktu cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Kerja intelektual menulis buku sering dilakukan di bawah tekanan, baik itu di dalam penjara, maupun di tempat pengasingan. Kita dapat belajar dari perjuangan Pramoedya Ananta Toer menelurkan Tetralogi Pulau Buru ketika berada di tempat pembuangan. Begitu pula Hamka dengan karya Tafsir Al-Azhar yang dihasilkannya ketika mendekam di penjara akibat kebengisan pemerintahan Orde Lama.

Perjuangan untuk menghasilkan karya terbaik meski berada di bawah tekanan ditunjukkan pula Kuntoijoyo yang masih dapat menulis buku di tengah himpitan sakit menahun yang dideritanya hingga tutup usia. Perjuangan yang membuat kita tertunduk malu akan potensi yang tidak kita manfaatkan secara maksimal karena kondisi yang sehat sering membuat kita lupa diri. Begitu pula tidak adanya tekanan hidup membuat kita sering terbuai oleh kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan sering menipu.

Kerja penulisan buku memang membutuhkan kondisi sepi (meskipun hal ini tergantung pada pribadi masing-masing), karena dalam kondisi ini seseorang dapat berpikir lebih jernih. Pikiran jernih yang muncul didukung pula oleh suasana tenang dari lingkungan sekitar. Sehingga, sering kita mengetahui, penulis biasanya menulis bukan pada saat-saat sibuk manusia, namun di waktu kebanyakan orang tengah terlelap dalam mimpi. Para penulis biasanya mengambil waktu menjelang dan sesudah shalat shubuh, juga di waktu malam hari dengan mengurangi jatah waktu tidur yang dimilikinya.

Untuk dapat menulis buku yang berkualitas, maka seseorang harus rajin membaca. Kualitas bacaan seseorang akan tampak pada apa yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Tulisan yang berkualitas lahir dari kuantitas bacaan berkualitas yang telah dibaca.

Menulis buku, apalagi buku yang berkualitas, memang bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan pula hal yang sulit jika kita mau memulai. Kita bisa memulai dengan menuliskan hal-hal kecil tentang kehidupan kita sehari-hari, lalu menulis fenomena yang ada dengan kritis, kemudian menulis artikel untuk dimuat di media massa, dan beranjak ke penulisan buku yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Bagaimanapun, setiap perubahan butuh proses, semua kembali kepada pribadi kita untuk berani memulai, bersabar, dan giat berusaha.

15 Januari 2006