Saya kira mahasiswa yang saat ini (belum) sukses tentunya sedang berada dalam fase di bawah roda, menurut Ebiet G. Ade, roda zaman terus berputar. Dengan filosofi ini maka pergiliran sukses tidaknya seseorang telah diatur dan akan dijalani masing-masing pihak.

Menjadi mahasiswa sukses, tentu setiap insan yang berhasil memasuki jenjang pendidikan tinggi mendambakan hal tersebut. Memang parameter untuk menjadi mahasiswa sukses bermacam-macam, tergantung pada masing-masing pribadi mendefinisikan kesuksesan tersebut. Dalam hal ini wawasan dan latar belakang pribadi tersebut sangatlah berpengaruh.

Meskipun ada perbedaan yang cukup signifikan bisa jadi hal ini tidak sejalan dengan apa yang telah menjadi persepsi umum orang lain, dalam hal ini masyarakat. Mahasiswa sukses bisa jadi identik dengan penyelesaian kuliah tepat waktu, Indeks Prestasi yang memuaskan dengan nilai di atas rata-rata. Ya, memang lebih banyak orang menilai hanya dari sisi hasil (output)-nya saja.

Mahasiswa dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) rata-rata atau bahkan di bawahnya, yang menuntutnya untuk menyelesaikan studinya dalam jangka waktu yang lebih lama, merupakan kasus lain. Mahasiswa ini, meskipun belum menyelesaikan masa kuliahnya, telah mendapat gelar yang cukup terhormat, yakni titel MA (Mahasiswa Abadi). Sebuah sindiran yang cukup mengena dan panas di telinga bagi para mahasiswa yang tak kunjung menyelesaikan studinya.

Namun kita coba melihat dalam perspektif lain, apakah mahasiswa tersbut bisa dikategorikan tidak sukses ataupun gagal. Saya pribadi tidak sepakat atas penyematan gelar sukses ataupun tidak pada tipikal mahasiswa dengan pendefinisian yang cukup jelas seperti di atas. Kita tentunya tidak bisa menilai sukses tidaknya seorang mahasiswa ketika dia sendiri sedang berproses (dalam hal ini menjalani masa kuliah). Jikalau ditinjau dalam logika bidang ilmu yang saya tekuni, dalam hal Teknik Industri, maka produk tidak dapat dikatakan mengalami cacat atau gagal produksi bila masih menjalani proses produksi. Dimana dalam proses produksi ini terjadi proses transformasi (pengubahan) dari input yang dimasukkan, baik itu berupa barang mentah, SDM, uang, dan teknologi untuk mengalami pemrosesan menjadi output berupa barang jadi.

Memang melogikakan proses pendidikan di universitas dengan proses produksi di industri kerap kali dikritik oleh teman-teman dari kelompok sosial apalagi dengan pendekatan yang terlalu analogis-teknis, namun hal ini bisa diatasi dengan melengkapi pendekatan ini dengan perspektif pendidikan yang humanis. Di sini saya mencoba melakukan simplifikasi persoalan dengan memodelkan sistem agar lebih mudah dimengerti.

Saya kira mahasiswa yang saat ini (belum) sukses tentunya sedang berada dalam fase di bawah roda, menurut Ebiet G. Ade, roda zaman terus berputar. Dengan filosofi ini maka pergiliran sukses tidaknya seseorang telah diatur dan akan dijalani masing-masing pihak. Tinggal bagaimana orang tersebut berusaha menjemput dan memutar roda itu agar pergiliran dia berada di bawah roda berlangsung cepat. Karena bila terus-menerus sukses maka yang ada hanyalah kehidupan yang statis, tidak dinamis dengan berputarnya roda.

Sukses tidaknya digambarkan dengan prototype mahasiswa/ alumni yang cukup terkenal dalam skala nasional, lokal, bahkan kampus sebenarnya tidaklah salah. Namun saya khawatir bahwa pada nantinya akan ada parameter baru bahwa mahasiswa/ orang sukses itu haruslah terkenal apalagi semasa dia hidup. Ya, tidak jauh beda dengan living legend dalam dunia entertainment.

Keterkenalan ini tidaklah masalah apabila memang sebanding dengan apa yang telah dia perjuangkan, misalnya IPK summa cum-laude (4) yang merupakan prestasi yang spektakuler. Atau misalnya menjalani aktifitas organisasi dengan posisi puncak dalam organisasi tersebut sembari tetap menjalankan amanah utama untuk kuliah dengan hasil yang di atas rata-rata. Wah, bisa jadi hanya 1 diantara 1000 mahasiswa dalam sebuah universitas yang masuk dalam kategori tersebut.

Yang jelas, banyak pula tokoh-tokoh besar yang berjasa pada dunia tidaklah terkenal ataupun berprestasi maksimum semasa hidupnya, bahkan tidak sedikit yang drop-out dari bangku pendidikan. Hal ini tidaklah hendak mengecilkan makna pendidikan sebagai salah satu wahana pencerdasan manusia, namun hendak membangkitkan semangat kepada mahasiswa yang dikategorikan gagal ataupun belum sukses menurut pendefinisian di atas. Semangat yang perlu dibangkitkan bahwa ada Jalan Lain Menuju Roma, bahwa hidup tidaklah selinier tersebut, karena bisa jadi rekan-rekan ini tidak digariskan untuk menjalani kehidupan yang seperti itu, meraih kesuksan model itu. Saya yakin mereka masih diberi rezeki yang berbeda dan

bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh perspektif kita (apalagi yang telah sukses dalam perkuliahan), karena Tuhan Maha Kaya, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nah, di sini yang perlu kita tekankan adalah sebesar apa kontribusi kita terhadap dunia, meski saya yakin semua orang tidak ingin kehilangan keduanya, baik dunia maupun pasca-dunia. Kontribusi ini tidaklah harus menjadi terkenal, bermain di belakang layar dan/ atau lingkup kecil pun tidak masalah karena tentunya Yang Di Atas Maha Tahu atas apa yang kita perbuat. Kekhawatiran akan gagalnya kita merencanakan kesuksesan semasa kuliah ini adalah tidak mendasar. Karena Jalan Kita Masih Panjang, masih ada waktu tersisa. Masih banyak pilihan untuk berbuat dalam idup ini, dan masih terlalu dini untuk menyerah di tengah jalan.

Sekian.

3 September 2005