dapat kita lihat bahwa organisasi tidak lagi hanya menjadi wadah pemeras anggotanya untuk menjadi buruh organisasi. Namun, berpikiran jernih dan jauh ke depan dengan tidak mengesampingkan profesionalisme dalam berorganisasi, dengan tetap menjaga hubungan baik dengan sesama, amatlah penting
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah lontaran dari salah satu rekan saya, bahwa aktifitasnya di sebuah organisasi mahasiswa hanya membuatnya lelah. Lelah di sini baik itu secara fisik (karena mengeluarkan tenaga dan waktu) maupun secara mental (karena menguras pikiran). Di satu sisi, bila organisasi tersebut berupa pemerintahan mahasiswa ataupun pusat minat bakat mahasiswa, maka dia hanya dilelahkan oleh tumpukan kerja-kerja teknis. DI sisi lain, organisasi pergerakan mahasiswa yang juga digelutinya hanya mampu menawarkan dimensi intelektual melalui cara diskusi yang memakan banyak waktu dan sering tak berujung. Dia menangkap bahwa ada permasalahan cukup penting yang sering dilupakan oleh para aktivis organisasi ini.
Permasalahan itu diantaranya adalah: pertama, terisolasinya pegiat organisasi ini dari lingkungan sekitar. Dikarenakan kesibukan berorganisasi menyita waktunya, hingga tak sempat untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Adapun beberapa organisasi sering menanamkan budaya organisasi, yang didalamnya terpengaruh oleh doktrin yang didapat oleh masing-masing pegiat organisasi, bahwa yang terjadi di masyarakat umum tidaklah benar. Tindakan menjaga diri memang tidak dapat disalahkan karena sebagai manusia seseorang juga wajib untuk menjaga diri hal-hal yang dilarang agama. Namun, cara yang ditempuh bukanlah secara ekstrim dengan cara mengisolasi diri. Seberapa tangguh iman dan kepercayaan seseorang pada Tuhan akan terbukti dengan menghadapi ujian hidup di lingkungan masyarakat.
Dikarenakan hal tersebut, meski di tengah tuntutan studi dan kerja organisasi yang padat maka usahakanlah untuk meluangkan waktu untuk teman, tetangga dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, seseorang dapat melepas lelah dan penat studi dan organisasi yang kita jalani, di samping menjaga hubungan silaturahmi dengan sesama.
Kedua, organisasi memang mendidik orang untuk lebih paham mengelola hidup dan dirinya. Namun dalam kenyataannya, organisasi juga menjebak seseorang pada kerja-kerja teknis organisasi dan diskusi dalam organisasi tersebut, yang kerap menyita waktu dan terkesan formalistik. Sering, ketika pasca berorganisasi, ketika tidak ada hubungan struktural organisasi lagi, maka hampir tidak ada hubungan antar pegiat organisasi tersebut. Organisasi ya organisasi, namun hubungan pertemanan tidaklah sampai terpengaruh baik-buruknya kinerja organisasi.
Organisasi juga seharusnya bisa mewadahi anggotanya sebagai komunitas, sehingga tidak hanya terjebak pada diskusi dan kerja teknis belaka. Betapa idealnya hubungan yang masih dibangun pasca berorganisasi, baik itu ketika salah satu aktivis organisasi menikah, punya anak, lulus studi, dan lainnya, rekan-rekan yang lain masih dapat saling bersilaturahmi. Hubungan antar pribadi dalam komunitas organisasi pun tidaklah seperti hubungan formalistik organisasi. Namun, diharapkan tingkat pengenalan antar aktivis ini sampai ke wilayah keluarga, dan hal-hal yang bersifat pribadi.
Dari sana, dapat kita lihat bahwa organisasi tidak lagi hanya menjadi wadah pemeras anggotanya untuk menjadi buruh organisasi. Namun, berpikiran jernih dan jauh ke depan dengan tidak mengesampingkan profesionalisme dalam berorganisasi, dengan tetap menjaga hubungan baik dengan sesama, amatlah penting. Mari memulai bersama budaya baru organisasi yang lebih baik!
3 Februari 2006



No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini