Arsip untuk Mei 12th, 2008

MEMBACA DENGAN CERDAS

Membaca, bisa diartikan sebagai sebuah usaha mendapatkan apa yang kita inginkan (sebagai pembaca) dari sebuah buku. Aktifitas membaca ini bukanlah hanya memandang serangkaian kalimat saja, namun lebih kepada memahami kandungan kalimat-kalimat yang dibaca.

Di tengah krisis percaya diri yang telah melanda bangsa kita ada sebuah krisis yang cukup parah bahkan berdampak jangka panjang bila tidak segera ditangani, yakni krisis membaca. Tentunya kita tidak ingin generasi penerus kita kelak menjadi generasi yang kerdil karena kurang minat membaca. Adapun hal ini juga dipengaruhi oleh citra bahwa membaca merupakan aktifitas yang menyebalkan dan membosankan, apalagi bila dibandingkan dengan hiburan yang dapat diperoleh lewat media elektronik yang lebih mudah dan atraktif. Gejala ini terjadi pula ada minat baca pada buku teks baik buku sekolah maupun buku kuliah. Padahal, informasi yang kita dapatkan dari guru ataupun dosen tentulah belum cukup tanpa pendalaman melalui membaca buku-buku yang dianjurkan.

Membaca, bisa diartikan sebagai sebuah usaha mendapatkan apa yang kita inginkan (sebagai pembaca) dari sebuah buku. Aktifitas membaca ini bukanlah hanya memandang serangkaian kalimat saja, namun lebih kepada memahami kandungan kalimat-kalimat yang dibaca. Dengan pemahaman ini akan terjadi sebuah proses refleksi dari apa yang telah kita baca.

Adapun kegunaan membaca bagi seseorang diantaranya pembaca akan diajak memasuki dunia pengetahuan yang begitu luas, pembaca diharapkan akan menjadi manusia yang lebih berakhlak, pembaca dapat meningkatkan kemampuannya pada bidang yang ditekuni, pembaca akan kaya akan perspektif, dan banyak lagi.

Dalam membaca kita menggunakan beberapa teknik yang secara sadar maupun tidak telah menjadi kebiasaan kita dalam membaca, diantaranya :

  1. Membaca tersurat, dalam teknik ini kita memahami bacaan dari teks-teks yang tertulis.
  2. Membaca tersirat, dalam teknik ini kita mencari pengertian tersirat dan membuat kesimpulan.
  3. Membaca tersorot, dalam teknik ini kita membayangkan kemungkinan menerapkan gagasan dalam kondisi nyata.

Manfaat yang bisa kita ambil dari membaca buku dapat menjadi motivasi bagi kita untuk meningkatkan minat baca. Manfaat yang umum digunakan sebagai alasan ialah menambah pengetahuan dan belajar dari pengalaman orang lain. Adapun manfaat secara medis bahwa membaca bisa membantu seseorang menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak. Motivasi ini perlu pula didukung dengan membangun sikap positif karena dalam falsafah Jawa, witing tresna jalaran saka kulino – rasa suka bermula dari kebiasaan. Kebiasaan inilah yang mengakibatkan seseorang ‘kecanduan’, dalam arti ketagihan dalam membaca.

Membaca bukan proses asal membaca, namun kita perlu membaca secara aktif. Membaca secara aktif ini dengan mempertanyakan secara kritis ide-ide yang diungkapkan penulis, dalam lain hal dengan mencari arti kata-kata yang tidak dipahami dari bacaan agar tidak terjadi keterputusan pemahaman antar kalimat dalam bacaan. Proses aktif ini juga dengan berusaha melibatkan seluruh indera dalam membaca misal membaca dengan keras kata yang tidak dipahami sehingga telinga ikut mendengar. Cara lain dapat dengan memberi warna atau garis bawah pada point-point penting dalam bacaan.

Kita perlu mengingat apa yang telah kita baca, agar aktifitas membaca kita tidak menjadi pekerjaan yang sia-sia. Kita bisa mengingat kembali dengan mengulang bahan yang telah kita baca, lewat proses ini kita dapat memperoleh informasi yang tidak didapat pada pemahaman pertama. Adapun cara lain untuk menajamkan ingatan ialah dengan mendiskusikan isi buku dengan rekan (dalam bentuk sharing bedah buku), hal ini dapat meningkatkan pemahaman dan ingatan.

Dalam akhir tulisan ini, mari kita coba mengenali buku yang akan kita baca. Pertama, kita dapat melihat cover belakang dari buku, dari sini bisa didapatkan uraian singkat tentang isi buku. Kedua, kita dapat menilik daftar isi, karena dalam bagian ini berisi point-point penting dan gagasan utama. Ketiga, kata pengantarpun baik untuk turut disimak, karena di dalamnya penulis menyampaikan tujuannya, alasannya untuk menulis, dan hal-hal khusus ataupun istimewa yang dipaparkan penulis dalam bukunya. Urutan langkah ini penting untuk membantu kita mendapatkan ‘kompas’ yang akan memberikan arahan kita dalam membaca. Setelah itu, kita dapat membaca isi buku tersebut. Kita dapat membaca dari awal sampai akhir atau langsung ke bab yang membuat kita tertarik, adapun kedua cara ini bisa bergantian agar aktifitas membaca menjadi variatif.

Akhir kata, banyaknya lembaran buku dan bacaan dalam ‘perpustakaan’ kita tidak akan berarti tanpa adanya minat baca yang tinggi dari masing-masing individu. Adapun perubahan dalam proses ini tergantung pada diri kita, bukan pada orang lain.

Fastabiqul khairat

Wisma Al-Buruuj, Pogung Dalangan, Sleman, DIY, 2 Juli 2004

* Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Gadjah Mada 2003 – 2004

Referensi : Hernowo, Quantum Reading, Kaifa

The Liang Gie, Cara Belajar yang Baik, PUBIB

MASTER PIECE WORK

Buku berkualitas biasanya dikerjakan oleh seorang tokoh dalam waktu cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Kerja intelektual menulis buku sering dilakukan di bawah tekanan, baik itu di dalam penjara, maupun di tempat pengasingan.

Bagi Anda yang senang membaca buku, pastilah mengenal sejumlah karya yang tergolong berkualitas, bahkan sering menjadi best-seller (buku laris). Meskipun buku laris tidaklah selalu identik dengan kualitas buku, karena tidak sedikit buku berkualitas dan tergolong ‘berat’ untuk konsumsi umum yang tidak menjadi best-seller. Kategori yang ditunjukkan oleh penjualan buku best-seller hanyalah tingkat jumlah buku yang terjual, sehingga menunjukkan hal apa yang menjadi kecenderungan pola konsumsi buku masyarakat. Hal ini lebih menunjukkan kemampuan pasar konsumsi buku untuk mengendalikan penerbitan buku agar disamping mementingkan aspek idealis mencerdaskan kehidupan bangsa, juga turut memikirkan kemauan pasar dan aspek finansial untuk menghidupi usaha penerbitan tersebut.

Buku berkualitas biasanya dikerjakan oleh seorang tokoh dalam waktu cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Kerja intelektual menulis buku sering dilakukan di bawah tekanan, baik itu di dalam penjara, maupun di tempat pengasingan. Kita dapat belajar dari perjuangan Pramoedya Ananta Toer menelurkan Tetralogi Pulau Buru ketika berada di tempat pembuangan. Begitu pula Hamka dengan karya Tafsir Al-Azhar yang dihasilkannya ketika mendekam di penjara akibat kebengisan pemerintahan Orde Lama.

Perjuangan untuk menghasilkan karya terbaik meski berada di bawah tekanan ditunjukkan pula Kuntoijoyo yang masih dapat menulis buku di tengah himpitan sakit menahun yang dideritanya hingga tutup usia. Perjuangan yang membuat kita tertunduk malu akan potensi yang tidak kita manfaatkan secara maksimal karena kondisi yang sehat sering membuat kita lupa diri. Begitu pula tidak adanya tekanan hidup membuat kita sering terbuai oleh kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan sering menipu.

Kerja penulisan buku memang membutuhkan kondisi sepi (meskipun hal ini tergantung pada pribadi masing-masing), karena dalam kondisi ini seseorang dapat berpikir lebih jernih. Pikiran jernih yang muncul didukung pula oleh suasana tenang dari lingkungan sekitar. Sehingga, sering kita mengetahui, penulis biasanya menulis bukan pada saat-saat sibuk manusia, namun di waktu kebanyakan orang tengah terlelap dalam mimpi. Para penulis biasanya mengambil waktu menjelang dan sesudah shalat shubuh, juga di waktu malam hari dengan mengurangi jatah waktu tidur yang dimilikinya.

Untuk dapat menulis buku yang berkualitas, maka seseorang harus rajin membaca. Kualitas bacaan seseorang akan tampak pada apa yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Tulisan yang berkualitas lahir dari kuantitas bacaan berkualitas yang telah dibaca.

Menulis buku, apalagi buku yang berkualitas, memang bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan pula hal yang sulit jika kita mau memulai. Kita bisa memulai dengan menuliskan hal-hal kecil tentang kehidupan kita sehari-hari, lalu menulis fenomena yang ada dengan kritis, kemudian menulis artikel untuk dimuat di media massa, dan beranjak ke penulisan buku yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Bagaimanapun, setiap perubahan butuh proses, semua kembali kepada pribadi kita untuk berani memulai, bersabar, dan giat berusaha.

15 Januari 2006

MALIOBORO, MASIHKAH BERHATI NYAMAN ?

Dengan demikian, kenikmatan pejalan kaki meyusuri Malioboro menjadi terpinggirkan.

Sebagai salah satu warga perantauan di Jogja, dengan status mahasiswa, tentunya tidak asing lagi untuk mendengar kata Malioboro. Sebuah ruas jalan yang terhubung dari rel kereta api Stasiun Tugu sampai dengan Perempatan Kantor Pos Besar. Jalur ini merupakan surga wisata belanja bagi warga dan wisatawan. Namun, Malioboro kini tak seindah dulu, karena banyaknya permasalahan publik yang membaur jadi satu di sini. Bagaimana tidak, mulai dari kumuhnya sampah yang berserakan, air parit yang menggenang, parkir yang tidak teratur, pedagang kaki lima (PKL), kemacetan lalu lintas, polusi asap kendaraan bermotor, tindak kejahatan, anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan minimnya pohon perindang. Ini semua tak lepas dari kaum produsen dan konsumen yang bergelut di tempat ini yang mengeksploitasi tubuh Malioboro dengan kegiatan jual-beli bernuansa nostalgia yang romantis.

Parahnya lagi, para pengguna jalan (baik konsumen, produsen, maupun sekadar numpang lewat) menyerbu kawasan ini dengan kendaraan bermotor. Dari Kleringan atau Pasar Kembang, antrean kendaraan bermotor sudah mengekor mengular. Dari tempat ini dan sepanjang jalan kita akan disuguhi aroma parfum racikan bensin bertimbal, bensin campur, dan solar. Tak ayal lagi, dampak dari polusi ini dapat ditebak, tingkat emisi gas buang yang melebihi ambang batas, membuat dada pengguna jalan sesak dan membuat kepala pusing. Ditambah lagi dengan suasana yang makin panas dan kesulitan peyeberang jalan untuk melintas dikarenakan padatnya arus kendaraan. Hal itu masih belum lengkap, karena ketika berhasil masuk kawasan inipun pengguna jalan harus berpikir keras mencari lokasi parkir kendaraannya.

Di sisi lain, PKL pun turut andil dalam carut-marutnya Malioboro. Penempatan tenda dan gerobak secara sembarangan di trotoar adalah salah satunya. Kepentingan publik pejalan kaki terpinggirkan oleh pemasangan lapak dan penempatan gerobak. Dengan demikian, kenikmatan pejalan kaki meyusuri Malioboro menjadi terpinggirkan. Tuduhan penyebab kumuh, bau, dan kotornya wajah Malioboro akibat sampah sisa dagangan yang dibuang sembarangan dan limbah air yang mengggenang di sepanjang trotoar, tak urung dialamatkan juga pada mereka. Sehingga cap kurang mampu menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan kota Jogja yang Berhati Nyaman.

Salah satu solusi yang ditawarkan ialah menutup ruas jalan bagi seluruh kendaraan bermotor. Dengan cara ini maka dibutuhkan lahan parkir yang aman, representatif dan nyaman guna melokalisir kendaraan bermotor yang akan masuk Malioboro. Dengan alternatif kendaraan bebas polusi, yakni andong, becak, dan sepeda untuk masuk area Malioboro. Mau tidak mau, petugas parkir sepanjang ruas jalan Malioboro akan alih profesi sebagai tukang becak, kusir andong, dan ojek sepeda dari taman parkir menuju Malioboro.

Polusi asap knalpot dapat ditekan seminim mungkin ialah salah satu keuntungan strategi ini. Pemanfaatan kursi dan tetamanan sepanjang Malioboro pasti akan lebih optimal. Akhirnya, akan tercipta suatu taman rekreasi yang asri dan artistik bagi masyarakat, dengan suasana yang aman dan nyaman. Tentunya hal ini tidak jauh dari citra yang hendak dibentuk Ngayogyakarta Hadiningrat dengan keserasian antara penghuni dengan lingkungannya. Semoga !

Fastabiqul khairat

Wisma Al-Buruuj, Pogung Dalangan, Sleman, DIY, 15 Juli 2004

* Mahasiswa Teknik Industri UGM angkatan 2001, Ketua Bidang IPTEK Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Gadjah Mada 2003 / 2004

MAJALAH ‘PLAYBOY’ BUATAN INDONESIA

Sebelum penerbitan Playboy, di pasaran telah marak kita saksikan bahwa jumlah media porno yang beredar juga tak kalah sedikit. Mulai dari FHM, ME, dan lainnya telah banyak menyuguhkan pornografi pada isi medianya.

Di pertengahan bulan Januari ini, isu mengenai majalah playboy sempat menjadi besar karena pertentangan keras akan ijin yang telah dikantunginya. Majalah yang identik dengan salah satu majalah porno terbesar di dunia itu, akan terbit di Indonesia. Hal ini benar-benar merupakan pukulan besar bagi bangsa Indonesia. Di tengah carut-marutnya perekonomian bangsa dan degaradasi moral yang melanda, kita bakal disuguhi permasalahan tontonan pornografi melalui media cetak tingkat dunia. Jikalau majalah tersebut jadi terbit, maka Indonesia akan menjadi negara kedua di Asia (setelah Jepang) yang menerbitkan majalah playboy. Kegilaan ini diperparah dengan realitas bahwa mayoritas warga negara Indonesia beragama Islam, dimana agama ini memiliki larangan untuk tindakan pamer aurat di muka umum.

26 Januari 2006

Majalah ini telah mengantungi ijin untuk terbit sejak bulan November tahun lalu. Entah mekanisme apa yang dilalui sehingga Departemen Agama (Depag) pun sampai kecolongan lagi. Bisa jadi momentum ini benar-benar dimanfaatkan oleh pihak manajemen Playboy Indonesia dikarenakan Depag sedang panen musim haji. Departemen lainnya juga bisa dipastikan disibukkan permasalahan di bidangnya masing-masing yang telah cukup kompleks dan menguras waktu, uang, tenaga, dan pikiran.

Yang jelas dari bidang media, pengaturan dari kalangan Pemerintah lewat Undang-Undang (UU) Pers pun masih rancu, dikarenakan aturan yang lebih jelas dalam RUU Pornografi belum juga rampung dibahas. UU Pers melakukan pembebasan terhadap khalayak untuk melakukan tindak penerbitan dengan tidak akan dilakukan pembredelan, sensor, dan segenap tindakan model Orde Baru lainnya. Namun, kran kebebasan yang dibuka lebar ini tidak disia-siakan begitu saja oleh pemegang modal. Dengan uang yang dimiliki, seseorang kini bisa memiliki usaha penerbitan karena mudahnya mengurus surat ijin untuk penerbitan tersebut. Sehingga pasca reformasi, bisa kita lihat gairah penerbitan yang cukup meyakinkan, meskipun seleksi alam pun akhirnya memupuskan harapan beberapa penerbitan sehingga yang bertahan mampu dihitung dengan jari.

Menariknya, keberadaan pornografi dalam media cetak bukanlah hal yang baru. Beberapa media kriminal dan klenik bersegmen pembaca dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah telah menyuguhkan pornografi sebagai salah satu isi medianya. Isi media tersebut bervariasi, bisa foto, cerita porno karangan redaksi bahkan tak jarang kiriman pembaca. Sebelum penerbitan Playboy, di pasaran telah marak kita saksikan bahwa jumlah media porno yang beredar juga tak kalah sedikit. Mulai dari FHM, ME, dan lainnya telah banyak menyuguhkan pornografi pada isi medianya. Media cetak berbau pornografi ini tidak lagi dijual secara rahasia (sembunyi-sembunyi), melainkan sudah dijual bebas di kios-kios pinggir jalan, perempatan lampu lalu lintas, bis kota, terminal, dan tempat-tempat strategis lainnya. Yang jelas, eksploitasi tubuh wanita melalui media cetak ini bukanlah hal yang baru.

Pihak manajemen Playboy bahkan telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh, yang pada intinya tetap melanggengkan mulusnya jalan penerbitan media ini. Para tokoh, dalam hal ini wakil rakyat, mengingatkan agar isi media ini nantinya masih tetap mengindahkan nilai-nilai budaya Indonesia (ketimuran) dan tidak sevulgar isi media aslinya yang berasal dari negeri Paman Sam tersebut. Namun, yang tidak masuk akal, bahwa setiap media pasti memiliki ideologi, yang terwujud dalam visi misinya. Manakala sebuah media sudah dicitrakan sebagai media porno, maka nilai ketimuran yang masih menghargai budaya malu tidak akan mendapat tempat di media tersebut.

Tidak hanya dengan sejumlah tokoh, pihak manajemen telah menjalin komunikasi dengan mitra kerjanya, yakni salah satunya pedagang kios majalah di Jakarta. Dari pertemuan tersebut, pihak manajemen mencoba memprediksi sejauh mana minat pasar akan keberadaan majalah Playboy ini. Dari pihak pedagang kios mengakui tidak ada masalah dengan rencana penerbitan majalah porno ini karena majalah sejenis telah biasa dijual oleh mereka. Bahkan, pedagang berani memesan edisi perdana ini dalam jumlah besar karena dipastikan akan laku keras. Bagaimanapun, pihak manajemen Playboy diuntungkan dengan publikasi gratis kontroversi ini di media elektronik, sehingga menghiasi isi berita di sejumlah stasiun televisi. Bahkan, demonstrasi penolakan terhadap pornografi, yang lebih dikerucutkan pada penggugatan ijin terbit majalah Playboy, akan menambah rasa penasaran masyarakat akan edisi perdana majalah porno tersebut. Hal ini memang tidak dialami oleh penerbitan perdana majalah porno sejenis di Indonesia.

Di lain waktu, pihak manajemen bahkan telah menyiapkan audisi kepada sejumlah dara Indonesia untuk tampil di edisi perdana ini. Busana yang dikenakan tentunya tidak asing lagi, mulai dari kain tipis transparan, swim suit, dan pakaian dalam. Memang, ada beberapa dara Indonesia yang telah go international dengan tampil seksi di beberapa media porno terbesar di dunia. Model media porno ini memang tidak dikenal di Indonesia, namun pembaca media tersebut di seluruh dunia mengenal dan bahkan menjulukinya dengan Naomi Campbell-nya Asia.

Fenomena pornografi telah menjadi permasalahan moral yang semakin rumit dan kompleks. Marak kita simak bahwa tindak asusila dan pemerkosaan terjadi, bahkan oleh dan kepada anak di bawah umur, lantaran terpengaruh oleh pencitraan gambar-gambar porno di media cetak maupun elektronik. Memang, pengaruh citra media cetak tidaklah sedahsyat pornoaksi dan film porno karena pencitraan melalui media elektronik merupakan citra bergerak. Sehingga, secara tidak langsung mengajari penonton cara untuk melakukan ‘perbuatan’ tersebut.

Akhirnya, kita sebagai generasi muda yang masih menjunjung tinggi budaya ketimuran, maka salah satu tindakan perusakan moral ini harus dibendung sedemikian rupa jika bangsa Indonesia masih menginginkan generasi penerusnya menjadi generasi yang bermoral dan beradab.

MAHASISWA SUKSES: ANTARA IDEALITA DAN REALITA

Saya kira mahasiswa yang saat ini (belum) sukses tentunya sedang berada dalam fase di bawah roda, menurut Ebiet G. Ade, roda zaman terus berputar. Dengan filosofi ini maka pergiliran sukses tidaknya seseorang telah diatur dan akan dijalani masing-masing pihak.

Menjadi mahasiswa sukses, tentu setiap insan yang berhasil memasuki jenjang pendidikan tinggi mendambakan hal tersebut. Memang parameter untuk menjadi mahasiswa sukses bermacam-macam, tergantung pada masing-masing pribadi mendefinisikan kesuksesan tersebut. Dalam hal ini wawasan dan latar belakang pribadi tersebut sangatlah berpengaruh.

Meskipun ada perbedaan yang cukup signifikan bisa jadi hal ini tidak sejalan dengan apa yang telah menjadi persepsi umum orang lain, dalam hal ini masyarakat. Mahasiswa sukses bisa jadi identik dengan penyelesaian kuliah tepat waktu, Indeks Prestasi yang memuaskan dengan nilai di atas rata-rata. Ya, memang lebih banyak orang menilai hanya dari sisi hasil (output)-nya saja.

Mahasiswa dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) rata-rata atau bahkan di bawahnya, yang menuntutnya untuk menyelesaikan studinya dalam jangka waktu yang lebih lama, merupakan kasus lain. Mahasiswa ini, meskipun belum menyelesaikan masa kuliahnya, telah mendapat gelar yang cukup terhormat, yakni titel MA (Mahasiswa Abadi). Sebuah sindiran yang cukup mengena dan panas di telinga bagi para mahasiswa yang tak kunjung menyelesaikan studinya.

Namun kita coba melihat dalam perspektif lain, apakah mahasiswa tersbut bisa dikategorikan tidak sukses ataupun gagal. Saya pribadi tidak sepakat atas penyematan gelar sukses ataupun tidak pada tipikal mahasiswa dengan pendefinisian yang cukup jelas seperti di atas. Kita tentunya tidak bisa menilai sukses tidaknya seorang mahasiswa ketika dia sendiri sedang berproses (dalam hal ini menjalani masa kuliah). Jikalau ditinjau dalam logika bidang ilmu yang saya tekuni, dalam hal Teknik Industri, maka produk tidak dapat dikatakan mengalami cacat atau gagal produksi bila masih menjalani proses produksi. Dimana dalam proses produksi ini terjadi proses transformasi (pengubahan) dari input yang dimasukkan, baik itu berupa barang mentah, SDM, uang, dan teknologi untuk mengalami pemrosesan menjadi output berupa barang jadi.

Memang melogikakan proses pendidikan di universitas dengan proses produksi di industri kerap kali dikritik oleh teman-teman dari kelompok sosial apalagi dengan pendekatan yang terlalu analogis-teknis, namun hal ini bisa diatasi dengan melengkapi pendekatan ini dengan perspektif pendidikan yang humanis. Di sini saya mencoba melakukan simplifikasi persoalan dengan memodelkan sistem agar lebih mudah dimengerti.

Saya kira mahasiswa yang saat ini (belum) sukses tentunya sedang berada dalam fase di bawah roda, menurut Ebiet G. Ade, roda zaman terus berputar. Dengan filosofi ini maka pergiliran sukses tidaknya seseorang telah diatur dan akan dijalani masing-masing pihak. Tinggal bagaimana orang tersebut berusaha menjemput dan memutar roda itu agar pergiliran dia berada di bawah roda berlangsung cepat. Karena bila terus-menerus sukses maka yang ada hanyalah kehidupan yang statis, tidak dinamis dengan berputarnya roda.

Sukses tidaknya digambarkan dengan prototype mahasiswa/ alumni yang cukup terkenal dalam skala nasional, lokal, bahkan kampus sebenarnya tidaklah salah. Namun saya khawatir bahwa pada nantinya akan ada parameter baru bahwa mahasiswa/ orang sukses itu haruslah terkenal apalagi semasa dia hidup. Ya, tidak jauh beda dengan living legend dalam dunia entertainment.

Keterkenalan ini tidaklah masalah apabila memang sebanding dengan apa yang telah dia perjuangkan, misalnya IPK summa cum-laude (4) yang merupakan prestasi yang spektakuler. Atau misalnya menjalani aktifitas organisasi dengan posisi puncak dalam organisasi tersebut sembari tetap menjalankan amanah utama untuk kuliah dengan hasil yang di atas rata-rata. Wah, bisa jadi hanya 1 diantara 1000 mahasiswa dalam sebuah universitas yang masuk dalam kategori tersebut.

Yang jelas, banyak pula tokoh-tokoh besar yang berjasa pada dunia tidaklah terkenal ataupun berprestasi maksimum semasa hidupnya, bahkan tidak sedikit yang drop-out dari bangku pendidikan. Hal ini tidaklah hendak mengecilkan makna pendidikan sebagai salah satu wahana pencerdasan manusia, namun hendak membangkitkan semangat kepada mahasiswa yang dikategorikan gagal ataupun belum sukses menurut pendefinisian di atas. Semangat yang perlu dibangkitkan bahwa ada Jalan Lain Menuju Roma, bahwa hidup tidaklah selinier tersebut, karena bisa jadi rekan-rekan ini tidak digariskan untuk menjalani kehidupan yang seperti itu, meraih kesuksan model itu. Saya yakin mereka masih diberi rezeki yang berbeda dan

bisa jadi tidak bisa ditangkap oleh perspektif kita (apalagi yang telah sukses dalam perkuliahan), karena Tuhan Maha Kaya, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nah, di sini yang perlu kita tekankan adalah sebesar apa kontribusi kita terhadap dunia, meski saya yakin semua orang tidak ingin kehilangan keduanya, baik dunia maupun pasca-dunia. Kontribusi ini tidaklah harus menjadi terkenal, bermain di belakang layar dan/ atau lingkup kecil pun tidak masalah karena tentunya Yang Di Atas Maha Tahu atas apa yang kita perbuat. Kekhawatiran akan gagalnya kita merencanakan kesuksesan semasa kuliah ini adalah tidak mendasar. Karena Jalan Kita Masih Panjang, masih ada waktu tersisa. Masih banyak pilihan untuk berbuat dalam idup ini, dan masih terlalu dini untuk menyerah di tengah jalan.

Sekian.

3 September 2005

Halaman Berikutnya »