Arsip untuk Mei 6th, 2008

KERJA, KERJA, DAN KERJA

Ketika kecil, kita sering ditanyai oleh orang yang lebih tua, jikalau sudah besar nanti apa yang menjadi cita-cita kita?

Banyak dari kita menjawabnya dengan jawaban klasik yakni jadi dokter, insinyur, atau guru. Namun, ketika telah dewasa, banyak diantara kita hanya terdiam bila ditanyakan hal serupa. Termangu sejenak dan kemudian menjawabnya dengan jawaban yang sering menggelikan dan tidak logis. Hal ini disamping pengaruh internal seseorang yang kurang bisa mengkomunikasikan cita-cita ke orang sekitar, juga terkait dengan faktor lingkungan dimana budaya kita tidak membiasakan untuk menulis apa-apa yang ada di pikiran, apa yang diimpikan oleh seseorang.

Budaya lisan ini tampak pengaruhnya saat seseorang dewasa sehingga mengalami kegamangan hidup ketika dihadapkan pada pilihan profesi yang beraneka ragam dan menarik. Profesi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dengan cara dan pola kerja yang berbeda pula, bermunculan bak jamur di musim hujan.

Kegamangan di tengah banyaknya pilihan profesi ini juga diperparah oleh ketidakmampuan (atau ketidaktahuan?) kita dalam menuliskan apa yang kita impikan, baik itu ingin sekolah di mana, karier, jodoh, maupun rezeki. Agama memang mengajarkan bahwa beberapa hal di atas sudah diatur oleh Tuhan, namun bukan berarti kita berpangku tangan begitu saja kepada-Nya. Harus ada ikhtiar (usaha) kita secara profesional untuk menjemput apa yang sudah diatur tersebut. Dalam arti ada keseimbangan antara usaha yang dilakukan oleh manusia bila dibandingkan dengan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Kerja juga tidaklah harus dimaknai dengan rutinitas yang monoton dalam kesehariannya. Memang, mayoritas cara kerja yang ada di dunia ini mengharuskan pekerja untuk mengikuti pola tertentu, dimana masuk kerja pukul sekian dan pulang pukul sekian. Dengan loyalitas dan kerja yang baik, pekerja akan mendapatkan imbalan gaji di setiap awal bulan atau sesuai ketentuan perusahaan.

Kerja kantoran memang banyak diminati oleh sebagian orang. Dengan duduk di belakang meja, pekerja dapat mengerjakan bermacam pekerjaan secara manual ataupun melalui komputer. Kerja seperti ini tidak menuntut kekuatan fisik yang tinggi, namun lebih kepada kekuatan mental dan pikiran untuk menghadapi tantangan pekerjaan yang menumpuk. Seringkali pekerja terjebak pada rutinitas ini sehingga mengakibatkan kebosanan yang akhirnya mengakibatkan stress. Stress yang berlarut ini kerap kali menimbulkan depresi bagi si pekerja.

Bagaimanapun, dapat bekerja merupakan dambaan setiap orang. Karena bekerja merupakan fitrah setiap manusia. Dengan bekerja manusia bergerak. Dengan bekerja manusia mengerahkan segenap potensinya baik tenaga, akal, maupun hati. Dengan bekerja manusia akan menunjukkan eksistensi dirinya. Dengan bekerja pun manusia bisa memiliki harga diri dengan tidak mengemis dan berpangku tangan kepada orang lain. Dengan bekerja manusia menunjukkan kepada dunia bahwa melalui potensi yang dikerahkannya telah tercipta karya maupun jasa yang dapat dinikmati orang di seluruh dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bekerja lebih dipilih ketimbang menjadi pengangguran. Pengangguran itu tidak mengenakkan. Menjadi beban bagi orang lain. Hanya berkutat di rumah tanpa sebuah pekerjaan dengan hidup tidak menentu amatlah menyiksa, apalagi bagi seorang kepala keluarga. Menjadi pengangguran memang menyuguhkan kenikmatan pada awalnya, namun kebosanan belakangan muncul. Sehingga kemudian terjadi kemuakan terhadap kondisi yang ada. Hidup menganggur yang kita turuti hanyalah jiwa pemalas dan pengecut yang diberi tempat dalam ruang jiwa kita.

Bekerja di sini tidaklah dimaknai sempit bekerja kantoran, karena pada dasarnya pilihan profesi teramat banyak, termasuk pula berdagang dan ikhlas mengurusi umat. Jadi, konteks bekerja menjadi luas dengan pemaknaan yang dalam tergantung dari pekerja itu sendiri. Begitu pula kita tidak bisa menggariskan pendapatan yang diperoleh dan jumlah jam produktif seseorang bekerja.

Bekerja merupakan pola produktif seorang manusia. Ketika seseorang hendak mengkonsumsi sesuatu maka selayaknyalah ada pola produktif yang mendahuluinya, yang akan menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk konsumsi tersebut. Pola produktif awal ini juga didukung oleh pola konsumsi terlebih dahulu pula yakni kebutuhan untuk makan-minum agar dapat memasok energi selama bekerja tersebut.

Bekerja juga merupakan bukti eksistensi manusia sebagai hamba Tuhan. Karena Tuhan tidak mengharapkan hambanya sehari-hari hanya menyembah dan mengingat Tuhan saja. Namun, Tuhan telah menjadikan manusia juga sebagai makhluk sosial dengan cita-cita ideal menjadikan manusia rahmat bagi seluruh alam.

Dengan bekerja, manusia akan membuktikan kepada Tuhannya bahwa ia tidak hanya mampu beribadah saja. Namun, dia mampu mengaplikasikan makna dan semangat ibadah yang dilakukannya dalam kehidupan di dunia. Jadi, seorang hamba tidak akan melarikan diri dari realitas pergulatan dunia yang ada, kemudian asyik-masyuk berkasih-kasih dengan Tuhan. Namun, hamba Tuhan yang baik akan merasa tertantang bahwa dengan bekerja maka ia akan bermanfaat bagi orang banyak.

Bekerja akan memberikan manfaat bagi orang lain. Kita bisa lihat, semenjak berangkat kerja dengan menaiki bis umum, maka kita akan iuran menafkahi perusahaan angkutan bis, sopir, dan kondekturnya. Ketika kita bekerja di sebuah perusahaan, misalnya, maka kita ikut menghidupi perusahaan yang akan menghidupi karyawannya, salah satunya kita. Ketika jam makan siang, maka kita akan beristirahat dan menikmati hidangan di sekitar tempat bekerja. Dengan begitu, kita telah membantu menghidupkan perekonomian usaha kecil yang bergerak di bidang usaha makanan. Upaya menghidupi itu tentunya dari hasil jerih payah kita, berwujud pendapatan yang kita terima yang kita gunakan untuk pola konsumsi di atas.

Begitu banyaknya manfaat yang kita berikan, sehingga sering tidak kita sadari bahwa kita juga telah memberi manfaat pada banyak orang. Tentunya, bila hal ini telah kita laksanakan maka tidaklah membuat kita sombong, namun kita harus rendah hati dan bersyukur serta memacu diri agar dapat bermanfaat pada orang yang lebih banyak lagi. Apalagi kita belum sampai pada dataran bekerja, masih dalam proses belajar ataupun dalam masa studi, maka belajarlah! Karena orang belajar naik sepeda pun berulang kali jatuh, orang belajar berenang berulang kali tubuh kemasukan air. Itu semua adalah resiko, resiko yang akan dibayar dengan proses yang kita jalani, usaha kita, dan akan menentukan hasil yang akan kita capai. Bila kita enggan untuk belajar maka kita akan kehilangan banyak hal. Yang pertama, waktu karena kesempatan yang sama tidak datang dua kali dalam hidup ini. Kedua, kemampuan menghadapi masalah. Ketiga, kemampuan mencari solusi dari masalah tersebut.

Kita harus menyadari bahwa bekerja merupakan salah satu aktualisasi ibadah. Sehingga seorang manusia akan merugi bila tidak mempunyai perencanaan tertulis dalam hidupnya dalam bekerja dan melewatkan kesempatan emas yang berlalu di hadapannya yang mengajaknya untuk bekerja.

26 Januari 2006

KETIKA SAAT – SAAT ITU BERLALU

Renungan Lebaran

Waktu terus berjalan, menggoreskan tinta bersejarah dalam kehidupan. Sejarah bagi anak manusia dan juga peradaban. Telah lama masa berganti, memutar balikkan segala rasa. Kesemuanya hampir ada, dari yang sangat bernilai sampai yang tanpa makna. Rasa kehilangan, kerinduan, dan ketidakpedulian, terus-menerus berganti. Seperti itulah perjalanan waktu, hingga suatu masa tiba. Saat-saat dimana sangat berlimpah karunia yang diberikan oleh Sang Pencipta. Saat-saat dimana begitu banyak manusia melaluinya dengan sia-sia, dan hanya segelintir yang menyambut dan memaknainya. Saat-saat yang begitu banyak manusia merasa terbelenggu, dan segelintir orang yang merasa rindu.

Kini, masa yang bergulir sekali dalam setahun itu tak terasa lewat begitu saja. Masa itu berlalu, sehari.. dua hari.., hingga akhirnya sampai di penghujung. Hari ini, saat-saat itu telah pergi. Segelintir kepala tertunduk, ditinggalkan tamu istimewa yang sudah dinanti-nantikan selama sebelas purnama. Sementara manusia lainnya tersenyum puas, karena masa “pembelengguan” hawa nafsu itu telah berakhir.

Seringkali jiwa-jiwa kita melalaikan kesempatan yang diberikan. Kita biarkan tamu istimewa itu datang dan pergi begitu saja hingga akhirnya menghilang dari hadapan kita. Kita tak peduli bahwa, siapa tahu, kita tak diberi kesempatan lagi untuk berjumpa lagi dengannya.

Sungguh, tamu istimewa itu telah pergi. Tamu yang membawa begitu banyak ‘oleh-oleh’ hikmah dan makna yang seringkali kita tinggalkan. Istimewakah dia sehingga kepergiaannya menyisakan butir bening di sudut mata karena menahan rindu.

Adakah kerinduan di hati kita? Kerinduan mengharapkan hadirnya kembali diri ini bersua dengan tamu istimewa? Kerinduan menghabiskan malam dengan bait-bait puisi pada-Nya? Adakah cinta pada-Nya tersirat pada rasa rindu dan kehilangan yang mendalam? Kalau rindu itu belum datang, hadirkanlah.

Akankah kerinduan ini berakhir pada perjumpaan, kita tak pernah tahu. Berharaplah pada-Nya agar dipertemukan lagi setahun mendatang dengan kerinduan bersemayam di relung sanubari, karena itulah kerinduan hakiki. Karena di sana terdapat kerinduan bermesraan dengan-Nya. Merindukan saat – saat lapar dan dahaga yang menyerang adalah bukti kita mencintai-Nya. Karenanya, berharaplah agar kerinduan ini berujung pada perjumpaan.

Silaturrahim, Bukan basa-basi

Persaudaraan merupakan nilai yang universal. Agama apapun dan budaya dari manapun pasti memuliakan persaudaraan. Budaya atau tradisi tanpa agama tidak akan memiliki kepastian, sedangkan ajaran agama memberi kepastian, karena mempunyai aturan dan hukum yang jelas.

Dalam kaitannya dengan Lebaran ini, memelihara persaudaraan tidak sekedar ucapan dan formalitas saja, namun harus diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga hubungan itu senantiasa akan terpupuk subur antar sesama.

Persaudaraan dan persahabatan inipun tidak ada putusnya, bahkan setelah salah satunya meninggal dunia. Tentunya dengan Lebaran ini kita kembali menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang yang pernah punya hubungan dengan kita sebagai pribadi maupun dengan orang tua kita. Hubungan ini bisa jadi karena garis keturunan, kekerabatan, pekerjaan atau juga hubungan akademisi. Semua hubungan inipun harus tetap dilestarikan.

Sebagai seorang muslim seseorang tidak diperkenankan memutus tali persaudaraan. Untuk itu segala gejala yang menjadi penyebab terputusnya persaudaraan hendaknya dicarikan pemecahannya. Mendatangi, memberi salam terlebih dahulu itu pekerjaan yang tidak mudah, tapi disitulah nilai persaudaraannya.

Ada tradisi khas orang Indonesia, yakni silaturahmi di hari raya Idul Fitri dan bulan Syawal, meskipun aktivitas ini tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa dan Idul Fitri, tetapi tradisi ini baik untuk dipertahankan. Sangatlah merugi jika kesempatan tersebut disia-siakan, karena kesempatan tersebut tidak akan ditemukan pada momen lainnya. Bagi yang masih punya masalah dengan sanak saudaranya, teman kuliah, dosen dan karyawan, kesempatan ini sangat cocok untuk saling bermaafan. Kepada mereka yang hubungannya masih renggang hendaknya saling merapatkan kembali. Kepada yang sudah dekat dan akrab kesempatan ini tetap lebih baik untuk memupuk tali persaudaraan.

Akhirnya, ungkapan yang diharapkan berasal dari relung hati ini senantiasa terucap dalam suasana Lebaran.

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Wisma Al – Buruuj, Yogyakarta, 5 Desember 2003

KEMALASAN

Betapa sering rasa malas hinggap dalam jiwa kita. Perasaan enggan untuk melakukan sesuatu karena suatu sebab. Perasaan ini sering menggoyahkan kita dalam proses pengambilan keputusan yang kita lakukan. Keputusan secara logika ‘Ya’ atau ‘tidak’ sering diintervensi oleh kemalasan kita. Intervensi ini menghasilkan keputusan yang mengakomodir kemalasan tersebut.

Bagaimanapun, kemalasan adalah mentalitas pecundang. Ketika banyak calon juara lainnya bertarung dengan kerasnya kehidupan, kita dengan selimut kelamasan malah meringkuk di balik ruangan. Kemalasan yang kita pertuhankan mengakibatkan kita hanya mampu berteriak pada anak-anak tanpa mampu melawan penindasan orang sebaya dan dewasa.

Kita dapat melihat kemalasan yang terjadi pada generasi muda kontemporer. Betapa kemalasan generasi muda ini banyak tumbuh ketika media hiburan telah membius mereka. Beragam tayangan hiburan di televisi, salah satunya, yakni sinetron, sepakbola, infotainment, film, dan lainnya, membuat generasi muda lebih suka menghabiskan waktu untuk nongkrong di depan televisi daripada menghabiskan waktu untuk belajar ataupun bekerja. Ini merupakan bentuk kemalasan yang terselubung, sering tidak disadari oleh pelakunya sendiri.

Kemalasan yang ditawarkan pada seseorang akan membuatnya terlena pada kesenangan sesaat. Seringkali memberikan alokasi yang cukup banyak untuk kemalasan ini akan membuatnya menyesal di kemudian hari.

Kemalasan merupakan salah satu bentuk kemanjaan yang membanggakan kebodohan diri sendiri. Ya, bodoh karena tidak mau berbuat sendiri bahkan sekadar untuk dirinya sendiri. Kebodohan karena menghilangkan kesempatan untuk meraih kesuksesan.

Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya.

Pemalas pun akan menuai apa yang ditanamnya, yakni air mata penyesalan dan kesempatan gemilang yang terbuang sia-sia.

KEKUATAN JARINGAN

Jaringan sering dimaknai sebagai salah satu kelebihan yang dimiliki oleh seseorang maupun organisasi. Kemampuannya membangun jaringan dimana terjalin hubungan konunikasi bahkan kerja sama dengan individu atau organisasi lain dalam suatu tujuan tertentu. Kekuatan jaringan yang dimilikinya menentukan pula efektifitas kompetensi internal yang telah dimiliki oleh individu/ organisasi tersebut.

Dalam kaitannya dengan individu, jaringan merupakan kemampuan menjalin silaturahim dengan banyak orang. Kedewasaan seseorang juga diukur manakala individu tersebut mampu membuat jaringan dengan rentang usia dan profesi relatif beragam. Di sini akan tampak kemampuan dalam berkomunikasi dengan berbagai jenis manusia tersebut. Tujuan individu akan lebih mudah tercapai dengan usaha yang tidak melelahkan , dalam hal ini efektifitas dan efisiensi kerja seseorang akan tercapai.

Jikalau hendak mengambil contoh, maka beberapa waktu lalu, ada novel fiksi yang cukup menuai sukses di pasar. Sang penulis merupakan karyawan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cukup mapan. Dalam arti, karya tulis ini dikerjakan oleh orang yang telah mapan hidupnya dan hidup dalam rutinitas kerja. Isi dari novel tersebut memang menggugah semangat perlawanan terhadap logika umum dan kapitalisme secara global dalam wujud konkret dan konteks lokal. Yang menarik, dari tinjauan kaidah linguistik masih ditemukan banyak cacat pada karya ini. Namun, karya tulis ini tetap laris di pasaran. Ternyata, kekuatan daya jual karya ini adalah kemampuan penulis untuk menerjemahkan idealisme yang dimilikinya dalam bentuk bahasa populer.

Di samping itu, sang penulis berhasil untuk memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk melakukan promosi dan distribusi karyanya. Perspektif luas yang digunakan oleh penulis ini pun menempatkan sejumlah tokoh ternama independen untuk turut memberikan setoreh catatan sebagai media pemikat buku di halaman belakang sampul, seperti layaknya sejumlah buku lainnya. Kelemahan dari segi linguistik yang dipastikan menuai sejumlah kritik mampu ditutupi oleh kekuatan jaringan yang dimiliki, di samping profesionalitas kerja yang dibawa dari pekerjaannya sebagai karyawan BUMN tersebut.

Dalam konteks organisasi, maka ketika organisasi mampu menjalin hubungan dengan sejumlah alumni, tokoh, organisasi lain, pemerintah, maka organisasi tersebut mempunyai nilai tambah bagi perjalanannya. Hubungan dengan sejumlah alumni organisasi tersebut akan memudahkan organisasi dalam keberlangungan hidupnya apalagi terkait dengan masalah finansial. Dukungan lainnya yakni berupa jaringan dari alumni yang akan turut memperkuat jaringan yang telah dimiliki organisasi.

Jaringan dengan sejumlah tokoh baik itu di masyarakat, media, dan nasional akan memperluas cakrawala dan pola pikir anggota organisasi. Sejumlah tokoh akan memberikan dukungan finansial, yang bila dibandingkan biasanya tidak seberapa besar bila dibandingkan dukungan finansial dari alumni.

Hubungan dengan organisasi lain dan pemerintah juga perlu dibangun dalam rangka melakukan konsolidasi dan mempermudah pencapaian tujuan organisasi. Tujuan antar organisasi satu dengan yang lainnya biasanya tidak jauh berbeda, namun hanya karena sekat organisasilah yang kerap menjadikan komunikasi antar organisasi tidak berjalan lancar. Seakan sudah menjadi hal yang umum, bahwa organisasi berjalan sendiri-sendiri dengan arah dan tujuannya masing-masing.

Dari sejumlah penjabaran di atas, kita jadi mengetahui sedikit manfaat yang dapat diperoleh dari kekuatan jaringan yang dapat kita bangun. Yang jelas, kita tidak dapat berjuang dan bergerak sendiri, karena hanya akan menimbulkan kekonyolan pada kerja yang kita lakukan.

14 Januari 2006

JUARA SEJATI

Keadaan yang menghimpit, cita-cita hidup yang tak kunjung diraih, membuat banyak manusia yang tak sabar bersegera putus asa. Ketika kekalahan demi kekalahan dalam berbagai bidang kehidupannya datang menerpa, lahir pandangan bahwa dunia ini memang bukan tercipta untuknya. Dunia telah mengasingkan dirinya menjadi seseorang yang kalah, seorang pengecut, bahkan menjadi seorang pecundang. Keterasingan yang membuat diri terlena oleh kedangkalan pemahaman agama yang melegitimasi keterasingan sebagai pengorbanan untuk kehidupan akhirat yang serba indah.

Kekalahan, kegagalan, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan dunia ini. Kekalahan ini bukanlah dimaknai sebagai akhir dari perjuangan hidup yang dilakukan, melainkan sebagai peringatan dan batu loncatan akan peningkatan prestasi hidup selanjutnya. Memang, takdir seseorang telah ditentukan oleh Tuhan, namun orang yang menyerah pada kekalahan yang dialaminya bukanlah menyerah pada takdir. Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau seseorang sebelum seseorang atau kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya tersebut.

Ketika takdir itu ada dan kita memang tidak mengetahui takdir kita, karena kewajiban kita hanya mengimaninya sebagai salah satu yang ghaib. Seandainya kita hanya bergulat pada realitas yang nyata, maka kita akan dihadapkan pada keterpurukan jiwa karena tidak mempercayai hal yang bersifat ghaib.

Kematian memang harus menjadi dasar perjuangan hidup bagi setiap manusia. Meyakini bahwa suatu saat kita akan mati dan di hari yang sakral nanti akan ada pertanggung jawaban yang harus dilakukan oleh seorang manusia, akan membentuk mentalitas kita dalam menghadapi hidup ini. Bukannya lalu apatis dan senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat kelak, karena belum jaminan bahwa kemenangan di akhirat kelak akan hadir ketika kekalahan demi kekalahan sebagai manusia terus diterima ketika hidup di dunia.

Kesadaran akan kematian ini akan membuat kita mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan dunia ini. Kematian tidak hanya dimaknai sebagai ketakutan simbolis akan siksa kubur dan hari akhir, namun sebagai batu loncatan untuk berbuat yang terbaik untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok, begitu sabda Nabi. Kita hidup untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri dan lingkungan kita. Berbuat yang terbaik untuk orang-orang terdekat dan menjadi rahmat bagi seluruh alam akan menjadikan kita bisa mengukir diri sebagai pribadi bermental pemenang.

Setiap insan dilahirkan untuk menjadi pemenang, bukan untuk menjadi pengecut bahkan pecundang. Tentunya, konsep kemenangan tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan pribadi maupun kelompok, alangkah lebih baiknya bila kemenangan ini dimaknai sebagai kemenangan bersama, win-win solution. Kemenangan bersama yang dimaknai ini akan melahirkan semangat bahwa dalam setiap kompetisi kehidupan tidaklah harus kemenangan satu pihak itu berbuah pada kekalahan pihak lain. Survival of the fittest tidak berlaku secara absolut.

Sejak kita belum ada, dalam hal ini ketika terjadi proses pembuahan maka sperma sang ayah akan membuahi ovum sang ibu. Dalam proses ini, jutaan sel sperma akan berlomba-lomba untuk menuju sel ovum. Di tengah jalan, banyak sel yang kandas, pincang, putus asa karena tidak mendapatkan jalan keluar. Semakin jauh perjalanan menuju ovum makin terseleksilah jutaan sel sperma. Perjuangan sel sperma dan kecepatannya menuju ke ovum menentukan menang tidaknya sel sperma tersebut untuk mendapatkan ovum. Hanya satu sel sperma yang dapat mencapai ovum sehingga terjadi pembuahan. Jutaan sel sperma lainnya tersingkirkan dan akhirnya mati. Di sini kita bisa lihat, bahwa sejak awal kehidupan manusia sendiri telah penuh perjuangan, kehadiran kita sebagai manusia di dunia ini merupakan hasil seleksi dari jutaan calon manusia, yang disortir untuk menjadi pemenang. Karena itu kehadiran kita di dunia ini merupakan kehadiran seorang pemenang, pemenang yang telah dilahirkan.

Inilah takdir kita yang sejati, terlahir sebagai pemenang. Begitu pula dengan hidup kita, takdir sejati kita adalah sebagai pemenang, bukan pecundang. Pencapaian sesuatu dengan keikhlasan, sabar dan syukur yang tiada batas, adalah mental seorang pemenang. Kematian yang akan membatasi seluruh perjuangan meraih kemenangan kita, karena ketika mati kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita hanya mampu menikmati hasil jerih payah selama di dunia, siapa yang menanam dia bakal menuai. Saat itulah dimulai fase pertanggung jawaban dan penganugerahan medali penghargaan untuk pemenang kehidupan dunia dengan kebahagiaan hidup di akhirat. Sedangkan si pecundang didepak untuk menikmati panasnya siksaan api neraka.

12 Januari 2006

Halaman Berikutnya »