Ketika kecil, kita sering ditanyai oleh orang yang lebih tua, jikalau sudah besar nanti apa yang menjadi cita-cita kita?
Banyak dari kita menjawabnya dengan jawaban klasik yakni jadi dokter, insinyur, atau guru. Namun, ketika telah dewasa, banyak diantara kita hanya terdiam bila ditanyakan hal serupa. Termangu sejenak dan kemudian menjawabnya dengan jawaban yang sering menggelikan dan tidak logis. Hal ini disamping pengaruh internal seseorang yang kurang bisa mengkomunikasikan cita-cita ke orang sekitar, juga terkait dengan faktor lingkungan dimana budaya kita tidak membiasakan untuk menulis apa-apa yang ada di pikiran, apa yang diimpikan oleh seseorang.
Budaya lisan ini tampak pengaruhnya saat seseorang dewasa sehingga mengalami kegamangan hidup ketika dihadapkan pada pilihan profesi yang beraneka ragam dan menarik. Profesi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dengan cara dan pola kerja yang berbeda pula, bermunculan bak jamur di musim hujan.
Kegamangan di tengah banyaknya pilihan profesi ini juga diperparah oleh ketidakmampuan (atau ketidaktahuan?) kita dalam menuliskan apa yang kita impikan, baik itu ingin sekolah di mana, karier, jodoh, maupun rezeki. Agama memang mengajarkan bahwa beberapa hal di atas sudah diatur oleh Tuhan, namun bukan berarti kita berpangku tangan begitu saja kepada-Nya. Harus ada ikhtiar (usaha) kita secara profesional untuk menjemput apa yang sudah diatur tersebut. Dalam arti ada keseimbangan antara usaha yang dilakukan oleh manusia bila dibandingkan dengan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Kerja juga tidaklah harus dimaknai dengan rutinitas yang monoton dalam kesehariannya. Memang, mayoritas cara kerja yang ada di dunia ini mengharuskan pekerja untuk mengikuti pola tertentu, dimana masuk kerja pukul sekian dan pulang pukul sekian. Dengan loyalitas dan kerja yang baik, pekerja akan mendapatkan imbalan gaji di setiap awal bulan atau sesuai ketentuan perusahaan.
Kerja kantoran memang banyak diminati oleh sebagian orang. Dengan duduk di belakang meja, pekerja dapat mengerjakan bermacam pekerjaan secara manual ataupun melalui komputer. Kerja seperti ini tidak menuntut kekuatan fisik yang tinggi, namun lebih kepada kekuatan mental dan pikiran untuk menghadapi tantangan pekerjaan yang menumpuk. Seringkali pekerja terjebak pada rutinitas ini sehingga mengakibatkan kebosanan yang akhirnya mengakibatkan stress. Stress yang berlarut ini kerap kali menimbulkan depresi bagi si pekerja.
Bagaimanapun, dapat bekerja merupakan dambaan setiap orang. Karena bekerja merupakan fitrah setiap manusia. Dengan bekerja manusia bergerak. Dengan bekerja manusia mengerahkan segenap potensinya baik tenaga, akal, maupun hati. Dengan bekerja manusia akan menunjukkan eksistensi dirinya. Dengan bekerja pun manusia bisa memiliki harga diri dengan tidak mengemis dan berpangku tangan kepada orang lain. Dengan bekerja manusia menunjukkan kepada dunia bahwa melalui potensi yang dikerahkannya telah tercipta karya maupun jasa yang dapat dinikmati orang di seluruh dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Bekerja lebih dipilih ketimbang menjadi pengangguran. Pengangguran itu tidak mengenakkan. Menjadi beban bagi orang lain. Hanya berkutat di rumah tanpa sebuah pekerjaan dengan hidup tidak menentu amatlah menyiksa, apalagi bagi seorang kepala keluarga. Menjadi pengangguran memang menyuguhkan kenikmatan pada awalnya, namun kebosanan belakangan muncul. Sehingga kemudian terjadi kemuakan terhadap kondisi yang ada. Hidup menganggur yang kita turuti hanyalah jiwa pemalas dan pengecut yang diberi tempat dalam ruang jiwa kita.
Bekerja di sini tidaklah dimaknai sempit bekerja kantoran, karena pada dasarnya pilihan profesi teramat banyak, termasuk pula berdagang dan ikhlas mengurusi umat. Jadi, konteks bekerja menjadi luas dengan pemaknaan yang dalam tergantung dari pekerja itu sendiri. Begitu pula kita tidak bisa menggariskan pendapatan yang diperoleh dan jumlah jam produktif seseorang bekerja.
Bekerja merupakan pola produktif seorang manusia. Ketika seseorang hendak mengkonsumsi sesuatu maka selayaknyalah ada pola produktif yang mendahuluinya, yang akan menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk konsumsi tersebut. Pola produktif awal ini juga didukung oleh pola konsumsi terlebih dahulu pula yakni kebutuhan untuk makan-minum agar dapat memasok energi selama bekerja tersebut.
Bekerja juga merupakan bukti eksistensi manusia sebagai hamba Tuhan. Karena Tuhan tidak mengharapkan hambanya sehari-hari hanya menyembah dan mengingat Tuhan saja. Namun, Tuhan telah menjadikan manusia juga sebagai makhluk sosial dengan cita-cita ideal menjadikan manusia rahmat bagi seluruh alam.
Dengan bekerja, manusia akan membuktikan kepada Tuhannya bahwa ia tidak hanya mampu beribadah saja. Namun, dia mampu mengaplikasikan makna dan semangat ibadah yang dilakukannya dalam kehidupan di dunia. Jadi, seorang hamba tidak akan melarikan diri dari realitas pergulatan dunia yang ada, kemudian asyik-masyuk berkasih-kasih dengan Tuhan. Namun, hamba Tuhan yang baik akan merasa tertantang bahwa dengan bekerja maka ia akan bermanfaat bagi orang banyak.
Bekerja akan memberikan manfaat bagi orang lain. Kita bisa lihat, semenjak berangkat kerja dengan menaiki bis umum, maka kita akan iuran menafkahi perusahaan angkutan bis, sopir, dan kondekturnya. Ketika kita bekerja di sebuah perusahaan, misalnya, maka kita ikut menghidupi perusahaan yang akan menghidupi karyawannya, salah satunya kita. Ketika jam makan siang, maka kita akan beristirahat dan menikmati hidangan di sekitar tempat bekerja. Dengan begitu, kita telah membantu menghidupkan perekonomian usaha kecil yang bergerak di bidang usaha makanan. Upaya menghidupi itu tentunya dari hasil jerih payah kita, berwujud pendapatan yang kita terima yang kita gunakan untuk pola konsumsi di atas.
Begitu banyaknya manfaat yang kita berikan, sehingga sering tidak kita sadari bahwa kita juga telah memberi manfaat pada banyak orang. Tentunya, bila hal ini telah kita laksanakan maka tidaklah membuat kita sombong, namun kita harus rendah hati dan bersyukur serta memacu diri agar dapat bermanfaat pada orang yang lebih banyak lagi. Apalagi kita belum sampai pada dataran bekerja, masih dalam proses belajar ataupun dalam masa studi, maka belajarlah! Karena orang belajar naik sepeda pun berulang kali jatuh, orang belajar berenang berulang kali tubuh kemasukan air. Itu semua adalah resiko, resiko yang akan dibayar dengan proses yang kita jalani, usaha kita, dan akan menentukan hasil yang akan kita capai. Bila kita enggan untuk belajar maka kita akan kehilangan banyak hal. Yang pertama, waktu karena kesempatan yang sama tidak datang dua kali dalam hidup ini. Kedua, kemampuan menghadapi masalah. Ketiga, kemampuan mencari solusi dari masalah tersebut.
Kita harus menyadari bahwa bekerja merupakan salah satu aktualisasi ibadah. Sehingga seorang manusia akan merugi bila tidak mempunyai perencanaan tertulis dalam hidupnya dalam bekerja dan melewatkan kesempatan emas yang berlalu di hadapannya yang mengajaknya untuk bekerja.
26 Januari 2006

Pesan dan Kesan