Oleh: luqman_satriya@yahoo.com2
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’d: 11)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didirikan pada 14 Maret 1964 dengan tujuan mewadahi pegiat-pegiat Muhammadiyah yang tengah menjalani status sebagai mahasiswa. Hal ini mengingat di kala itu, perguruan tinggi sedang bermunculan di Indonesia, sehingga tidak sedikit pemuda-pemudi Muhammadiyah yang bisa menempuh pendidikan di tingkat universitas. IMM sebagai Ortom (organisasi otonom) di bawah payung Muhammadiyah tentunya memiliki visi yang sejalan dengan Muhammadiyah, yakni menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pijakan yang digunakan dalam mewujudkan cita-cita ini juga tidak berbeda dengan Muhammadiyah, yakni berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan jika kita menganalogikan dengan sistem, maka Muhammadiyah adalah sistem dan IMM beserta ortom lainnya adalah sub-sistem.
Cita-cita ideal memang tak mudah untuk diwujudkan. Tidak jarang cita-cita tersebut berbenturan bahkan bertolak belakang dengan realitas yang ada. Konsep yang ideal memang menjadi pemacu bagi seseorang/kader (sebagai bagian dari sistem) dan organisasi (sebagai kesatuan dari kader/subsistem), karena dengan demikianlah akan ada usaha terus-menerus untuk melakukan penyempurnaan diri dan organisasi. Hal ini mengikuti sabda Nabi, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Orang yang tidak melaksanakan anjuran Nabi tersebut tentulah merugi, karena menyia-nyiakan waktu, sebagaimana juga difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr.
Fenomena yang timbul belakangan ini memang menunjukkan realitas yang bertolak belakang dengan idealitas yang dicita-citakan oleh IMM (Muhammadiyah). Perilaku yang ditunjukkan oleh sejumlah oknum di IMM sering menimbulkan persepsi negatif orang luar. Sayangnya, hal ini turut berimbas pada persepsi orang terhadap organisasi dimana oknum tersebut berkecimpung. Orang awam pun terlalu mudah melakukan generalisasi terhadap organisasi meski ada sejumlah oknum lain yang tidak berperilaku demikian.
Kejadian ini diperparah dengan enggan terlibatnya kaum muda Muhammadiyah yang tahu persoalan yang terjadi ke dalam sistem organisasi tersebut, namun memilih untuk bergabung dengan organisasi lain yang dipandang lebih baik. Yang terjadi kemudian adalah persepsi yang tidak berubah dikarenakan terjadi regenerasi kader oknum yang berperilaku serupa (bertentangan antara cita-cita dan realitas), tanpa kemudian adanya counter/perlawanan (budaya tanding) dari kaum muda Muhammadiyah yang mampu menunjukkan kesesuaian antara cita-cita ideal Muhammadiyah dengan realitas kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.
Melarikan diri dari masalah (hijrah/eksodus kader ke organisasi lain) tidak akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh ortom. Apalagi jika kita memandang Muhammadiyah dan ortom dalam sebuah sistem, maka permasalahan yang ada di ortom akan berimbas pula pada Muhammadiyah di masa yang akan datang. Pada pandangan sistem yang lebih luas lagi, maka permasalahan di Muhammadiyah akan mencerminkan permasalahan umat Islam, karena Muhammadiyah merupakan salah satu representasi dari umat Islam yang ada di Indonesia.
Masalah yang tidak terpecahkan di ortom saat ini akan menjadi momok bagi Muhammadiyah karena pada hakikatnya seiring dengan berjalannya waktu, kader yang berada di ortom akan bertransformasi menjadi kader Muhammadiyah. Perbedaan yang terjadi antar keduanya hanyalah pada wilayah pengabdian yang lebih luas. Namun permasalahan dan perilaku yang sudah terbentuk sejak masa muda akan terbawa hingga kelak berkiprah di Muhammadiyah. Permasalahan yang biasanya muncul ke permukaan terkait persepsi orang terhadap IMM yakni: perilaku dan penampilan fisik, semangat keIslaman dan beribadah, dan masalah kecerdasan. Tentunya akan ada persepsi lain yang belum bisa terlingkupi oleh penulis.
Perilaku dan penampilan fisik merupakan hal yang sering dikeluhkan orang terhadap kader IMM. Dari mulai penampilan fisik yang dikatakan tidak Islami (misalnya memakai jeans atau meniru-niru Barat) atau masalah perilaku (misal bersikap terhadap orang lain/orang tua, merokok, atau berboncengan antar laki-laki dan perempuan). Semangat keIslaman dan beribadah kader IMM juga dinilai kurang (misalnya jarang atau bahkan tidak pernah shalat berjamaah, jarang baca Quran dan Sunnah, dan jarang atau bahkan tidak pernah aktif dalam forum-forum pengajian). Tidak heran bila kader IMM dan IMM terkesan kering dan tidak Islami.
Sebenarnya, ukuran Islami atau tidaknya seorang muslim menjadi relatif ketika masing-masing mempunyai wawasan dan pemahaman terhadap Islam (Quran dan Sunnah beserta ijtihad para ulama) secara benar yang berbeda. Begitu pula dalam kita ber-Muhammadiyah, dasar yang kita gunakan tidak akan pernah sama dan diketemukan jalan keluarnya manakala kita tidak memahami HPT (Himpunan Putusan Tarjih – produk ijtihad ulama-ulama Muhammadiyah) dengan baik. Tidak hanya itu, pengaruh lingkungan (dalam hal ini budaya atau nilai-nilai yang berlaku dalam organisasi maupun masyarakat) juga turut memegang peranan.
Masalah kecerdasan kader IMM juga sering dikeluhkan. Kader IMM dikatakan sering gagal dalam dunia akademik, tidak punya wawasan yang luas dan tidak mempunyai prestasi yang membanggakan. Hal ini akibat kurang tumbuhnya semangat kebersamaan dan saling memotivasi untuk berprestasi dan berkontribusi bagi persyarikatan, bangsa dan negara. Padahal jikalau kita mau menilik dengan lebih jernih lebih luas, maka tidak sedikit kader-kader yang berprestasi baik secara akademik, berwawasan luas dan memilki semangat keberislaman yang kuat.
Sedikit uraian dan permasalahan di atas yang sedikit dapat membantu meneropong IMM, diharapkan tidak menjadi momok menakutkan yang membuat kaum muda Muhammadiyah menjadi phobia (takut) terhadap IMM. Namun, kita harus memandang masalah tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi oleh kita sebagai seorang kader.
Bagaimanapun, tidak ada yang sempurna dalam hidup di dunia ini. Meminta organisasi menjadi sempurna tanpa adanya kekurangan hanyalah ilusi. Begitu pula dengan berharap orang lain berubah dan menjadi sempurna tanpa kemudian tidak ada usaha dari diri kita untuk berubah (bertransformasi) dan mentransformasikan orang lain dan organisasi.
1Disampaikan dalam Kajian Rutin Kelas VI Madrasah Mu’allimaat Muhamadiyah Yogyakarta tanggal 8 Februari 2008
2Mahasiswa Teknik Industri UGM, tengah menyelesaikan tugas akhir di PT. TELKOM, Ketua Umum IMM Cabang Bulaksumur-Karangmalang (UGM-UNY) 2006-2007



3 comments
Comments feed for this article
6 Mei 2008 pada 13:29
Mufliha Fahmi
Yeah,,tul bgt. Setuju… Trus, kita akan melakukan apa neh???
13 Mei 2008 pada 07:23
Zulfi
Perlu banyak muhasabah mas…
Yg jelas, solusi yang ada semoga dapat mengokohkan gerakan bukan malah sebaliknya… Bentar lagi juga muktamar, semoga ada hasil yang bagus buat perkembangan IMM.Amien
23 Mei 2008 pada 03:57
supri x
Ya memang begitu adanya.
Tapi kalau ada orang yang permasalahan yang terjadi tapi malah pergi ke organisasi lain itu namanya pengecut, pengkhianat.
Yang baik itu kalau tahu permasalahan berusaha sekuat mungkin menyelesaikan. betul gak.
Mari kita perbaiki IMM kita bersama-sama. Allahu Akbar