Oleh : Luqman Satriya Siambodo
Perasaan bahagia dan senang menyelimuti Jundub bin Janadah (nama asli Abu Dzar al-Ghifari) ketika datang ke Mekkah. Penderitaan telah dilaluinya karena perjalanan yang sulit dan udara padang pasir yang panas. Dia memasuki kota Mekkah dengan menyamar, hal ini dilakukan agar tidak diketahui oleh penduduk Mekkah. Karena bila ia ketahuan hendak menemui Rasulullah, maka ia terancam dibunuh. Namun, ia tidak merasa takut, bahkan terus berjalan dan mencari informasi tentang Muhammad.
Pada suatu pagi, Abu Dzar menemui Muhammad yang sedang duduk sendiri. Setelah saling berucap salam, ia menanyakan pada Rasulullah apa yang tengah dibaca. Rasulullah menjawab bahwa yang dibacanya bukanlah syair, melainkan ayat Al-Qur’an yang suci. Ia lalu meminta Rasulullah membacakannya lagi.
Abu Dzar mendengarkan Rasulullah membaca ayat Al-Qur’an. Setelah itu, ia berseru bahwa ia bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Rasulullah lalu menanyakan asal Abu Dzar. Ketika tahu bahwa Abu Dzar berasal dari Ghifar, Rasulullah tersenyum dan kagum.
Kekaguman Rasulullah karena beliau tahu bahwa Ghifar merupakan suku yang terkenal dengan suku perampok. Orang-orangnya bermental pencuri dan akrab dengan kegelapan malam. Kesengsaraan sering dialami orang yang terjebak oleh mereka.
Dengan demikian, Allah SWT telah memberi petunjuk kepada Abu Dzar. Kebenaran merupakan arah yang dituju oleh pengetahuan Abu Dzar. Tanpa ragu ia segera memeluk Islam. Beliau termasuk orang yang awal memeluk Islam. Ketiak ia memeluk Islam, dakwah Islam masih disampaikan kepada Abu Dzar dan lima orang lainnya yang telah beriman oleh Rasulullah secara diam-diam.
Abu Dzar adalah orang yang radikal dan revolusioner, karena ia menentang kebatilan dimanapun ia berada. Meski saat itu ia melihat Rasulullah memilih berdakwah dengan cara berbisik, ia memandang bahwa Islam harus dikumandangkan secara keras oleh para pengikut Rasulullah. Ia lalu pergi ke Ka’bah dan mengucapkan dengan lantang dua kalimat syahadat. Orang-orang Quraisy mendengar deklarasi tersebut. Namun, Abu Dzar tidak gentar. Meski setelah itu ia dipukuli oleh orang musyrik hingga roboh. Keberanian yang diiserta kebenaran merupakan prinsip hidup Abu Dzar. Kebenaran jiwa dan akidahnya tampak dalam kebenaran akidahnya. Baginya, kebenaran bukanlah kebenaran bisu. Kebenaran tidak pernah diam. Kebenaran sama dengan keterbukaan dan pengungkapan serta menentang kebatilan, mendukung yang benar dan menolak yang salah.
Rasulullah sadar akan watak muridnya ini dan ia tahu kemampuan Abu Dzar yang luar biasa dalam menghadapi kebatilan. Namun, beliau sadar bahwa ajaran Islam belum waktunya dikumandangkan. Sehingga, beliau menyuruh Abu Dzar pulang ke rumahnya dan bila Abu Dzar mendengar pengumuman agama baru maka ia dapat memainkan perannya.
Abu Dzar kembali ke keluarga dan sukunya, mengajak mereka memeluk Islam. Seiring berlalunya waktu, Rasulullah hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin. Pada suatu hari, mereka dikejutkan oleh serombongan orang berkuda dan berjalan kaki. “Allahu Akbar” diteriakkan oleh rombongan itu sembari mendekat dan memasuki kota Madinah. Abu Dzar telah membuat kaumnya menjadi muslim tanpa terkecuali, mulai dari laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak. Tak diragukan lagi, Rasulullah kagum akan hal tersebut lalu bersabda, “Allah memberi petunjuk bagi siapapun yang dikehendaki-Nya.”
Luqman Satriya Siambodo
Mahasiswa Teknik Industri UGM
Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Cabang Bulaksumur- Karang Malang Sleman 2006/2007

0 Tanggapan ke “ABU DZAR AL-GHIFARI: Berani Membela Yang Benar”