Arsip untuk Mei 2nd, 2008

MENEROPONG WAJAH IMM

Oleh: luqman_satriya@yahoo.com2

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’d: 11)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didirikan pada 14 Maret 1964 dengan tujuan mewadahi pegiat-pegiat Muhammadiyah yang tengah menjalani status sebagai mahasiswa. Hal ini mengingat di kala itu, perguruan tinggi sedang bermunculan di Indonesia, sehingga tidak sedikit pemuda-pemudi Muhammadiyah yang bisa menempuh pendidikan di tingkat universitas. IMM sebagai Ortom (organisasi otonom) di bawah payung Muhammadiyah tentunya memiliki visi yang sejalan dengan Muhammadiyah, yakni menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pijakan yang digunakan dalam mewujudkan cita-cita ini juga tidak berbeda dengan Muhammadiyah, yakni berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan jika kita menganalogikan dengan sistem, maka Muhammadiyah adalah sistem dan IMM beserta ortom lainnya adalah sub-sistem.

Cita-cita ideal memang tak mudah untuk diwujudkan. Tidak jarang cita-cita tersebut berbenturan bahkan bertolak belakang dengan realitas yang ada. Konsep yang ideal memang menjadi pemacu bagi seseorang/kader (sebagai bagian dari sistem) dan organisasi (sebagai kesatuan dari kader/subsistem), karena dengan demikianlah akan ada usaha terus-menerus untuk melakukan penyempurnaan diri dan organisasi. Hal ini mengikuti sabda Nabi, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Orang yang tidak melaksanakan anjuran Nabi tersebut tentulah merugi, karena menyia-nyiakan waktu, sebagaimana juga difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr.

Fenomena yang timbul belakangan ini memang menunjukkan realitas yang bertolak belakang dengan idealitas yang dicita-citakan oleh IMM (Muhammadiyah). Perilaku yang ditunjukkan oleh sejumlah oknum di IMM sering menimbulkan persepsi negatif orang luar. Sayangnya, hal ini turut berimbas pada persepsi orang terhadap organisasi dimana oknum tersebut berkecimpung. Orang awam pun terlalu mudah melakukan generalisasi terhadap organisasi meski ada sejumlah oknum lain yang tidak berperilaku demikian.

Kejadian ini diperparah dengan enggan terlibatnya kaum muda Muhammadiyah yang tahu persoalan yang terjadi ke dalam sistem organisasi tersebut, namun memilih untuk bergabung dengan organisasi lain yang dipandang lebih baik. Yang terjadi kemudian adalah persepsi yang tidak berubah dikarenakan terjadi regenerasi kader oknum yang berperilaku serupa (bertentangan antara cita-cita dan realitas), tanpa kemudian adanya counter/perlawanan (budaya tanding) dari kaum muda Muhammadiyah yang mampu menunjukkan kesesuaian antara cita-cita ideal Muhammadiyah dengan realitas kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.

Melarikan diri dari masalah (hijrah/eksodus kader ke organisasi lain) tidak akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh ortom. Apalagi jika kita memandang Muhammadiyah dan ortom dalam sebuah sistem, maka permasalahan yang ada di ortom akan berimbas pula pada Muhammadiyah di masa yang akan datang. Pada pandangan sistem yang lebih luas lagi, maka permasalahan di Muhammadiyah akan mencerminkan permasalahan umat Islam, karena Muhammadiyah merupakan salah satu representasi dari umat Islam yang ada di Indonesia.

Masalah yang tidak terpecahkan di ortom saat ini akan menjadi momok bagi Muhammadiyah karena pada hakikatnya seiring dengan berjalannya waktu, kader yang berada di ortom akan bertransformasi menjadi kader Muhammadiyah. Perbedaan yang terjadi antar keduanya hanyalah pada wilayah pengabdian yang lebih luas. Namun permasalahan dan perilaku yang sudah terbentuk sejak masa muda akan terbawa hingga kelak berkiprah di Muhammadiyah. Permasalahan yang biasanya muncul ke permukaan terkait persepsi orang terhadap IMM yakni: perilaku dan penampilan fisik, semangat keIslaman dan beribadah, dan masalah kecerdasan. Tentunya akan ada persepsi lain yang belum bisa terlingkupi oleh penulis.

Perilaku dan penampilan fisik merupakan hal yang sering dikeluhkan orang terhadap kader IMM. Dari mulai penampilan fisik yang dikatakan tidak Islami (misalnya memakai jeans atau meniru-niru Barat) atau masalah perilaku (misal bersikap terhadap orang lain/orang tua, merokok, atau berboncengan antar laki-laki dan perempuan). Semangat keIslaman dan beribadah kader IMM juga dinilai kurang (misalnya jarang atau bahkan tidak pernah shalat berjamaah, jarang baca Quran dan Sunnah, dan jarang atau bahkan tidak pernah aktif dalam forum-forum pengajian). Tidak heran bila kader IMM dan IMM terkesan kering dan tidak Islami.

Sebenarnya, ukuran Islami atau tidaknya seorang muslim menjadi relatif ketika masing-masing mempunyai wawasan dan pemahaman terhadap Islam (Quran dan Sunnah beserta ijtihad para ulama) secara benar yang berbeda. Begitu pula dalam kita ber-Muhammadiyah, dasar yang kita gunakan tidak akan pernah sama dan diketemukan jalan keluarnya manakala kita tidak memahami HPT (Himpunan Putusan Tarjih – produk ijtihad ulama-ulama Muhammadiyah) dengan baik. Tidak hanya itu, pengaruh lingkungan (dalam hal ini budaya atau nilai-nilai yang berlaku dalam organisasi maupun masyarakat) juga turut memegang peranan.

Masalah kecerdasan kader IMM juga sering dikeluhkan. Kader IMM dikatakan sering gagal dalam dunia akademik, tidak punya wawasan yang luas dan tidak mempunyai prestasi yang membanggakan. Hal ini akibat kurang tumbuhnya semangat kebersamaan dan saling memotivasi untuk berprestasi dan berkontribusi bagi persyarikatan, bangsa dan negara. Padahal jikalau kita mau menilik dengan lebih jernih lebih luas, maka tidak sedikit kader-kader yang berprestasi baik secara akademik, berwawasan luas dan memilki semangat keberislaman yang kuat.

Sedikit uraian dan permasalahan di atas yang sedikit dapat membantu meneropong IMM, diharapkan tidak menjadi momok menakutkan yang membuat kaum muda Muhammadiyah menjadi phobia (takut) terhadap IMM. Namun, kita harus memandang masalah tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi oleh kita sebagai seorang kader.

Bagaimanapun, tidak ada yang sempurna dalam hidup di dunia ini. Meminta organisasi menjadi sempurna tanpa adanya kekurangan hanyalah ilusi. Begitu pula dengan berharap orang lain berubah dan menjadi sempurna tanpa kemudian tidak ada usaha dari diri kita untuk berubah (bertransformasi) dan mentransformasikan orang lain dan organisasi.

1Disampaikan dalam Kajian Rutin Kelas VI Madrasah Mu’allimaat Muhamadiyah Yogyakarta tanggal 8 Februari 2008

2Mahasiswa Teknik Industri UGM, tengah menyelesaikan tugas akhir di PT. TELKOM, Ketua Umum IMM Cabang Bulaksumur-Karangmalang (UGM-UNY) 2006-2007

BERPIKIR

Oleh : Luqman Satriya Siambodo

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran (3): 190 – 191)

Manusia dikaruniai alat untuk berpikir dari Allah SWT. Sayangnya, alat ini tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kenyataannya, sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir. Padahal, jika ia mau berpikir semakin dalam maka kemampuan berpikirnya akan bertambah. Hal ini juga berlaku bagi semua orang.

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Ad – Dukhaan (44): 38 – 39)

Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

(QS. Al – Mu’minuun (23): 115)

Oleh karena itu, yang wajib kita pikirkan pertama kali ialah tujuan penciptaan diri, lalu melihat segala sesuatu di alam atau segala kejadian dan peristiwa dalam hidup.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya.

(QS. Ar – Ruum (30): 8)

Berpikir dan mengambil hikmah dari yang kita pikirkan dapat berguna untuk memahami kebenaran dan bernilai bagi kehidupan akhirat nanti.

Berpikir Secara Mendalam

Manusia telah diwajibkan oleh Allah untuk berpikir secara mendalam (merenung).

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad (38): 29)

Jika kita lalai tidak berpikir adalah karena lupa atau sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri dan kebenaran ajaran agama.

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al – A’raaf (7): 205)

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam (19): 39)

Taklid buta tanpa berpikir, dengan hanya mengikuti kebiasaan yang ada atau orang-orang terdahulu, benar-benar dalam kekeliruan. Karena mereka hanya beribadah dan beraktifitas tanpa rasa takut kepada Allah.

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak ingat?”Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?” Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

(QS. Al – Mu’minuun (23): 84 – 90)

Akal yang tidak dipakai berpikir akan menjadi lumpuh, sehingga penglihatan kabur, kelakuan tidak memperdulikan realitas, dan alat untuk membedakan benar-salah menjadi lemah.

Kehidupan dunia ini berlalu dan berakhir cepat. Anehnya, sering kita beraktifitas seolah-olah kita akan hidup di dunia selamanya, seakan-akan tidak ada kematian.

Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam. (QS. Qaaf (50): 22)

Kita dapat berpikir kapanpun dan dimanapun. Kita berpikir bahwa ada beragam pikiran dalam benak masing-masing orang. Kita berpikir bahwa tiap individu mempunyai dunia, keinginan, rencana, cara hidup, dan perasaannya sendiri.

Namun, yang pasti, semua orang pasti mati. Sadar akan kenyataan ini, kita akan berpikir : “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakukan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

Banyak orang tidak memikirkan kematian dan setelah kematian, karena mereka lebih senang memikirkan segala yang tidak perlu untuk dipikirkan, dan tak membawa banyak manfaat bagi mereka.

Tentang Apakah Manusia Biasanya Berpikir?

Jika kita mengingat-ingat apa yang telah kita pikirkan sehari ini, mencoba mencatat dan memikirkan kemanfaatannya, maka kita akan menemui banyak kesia-siaan apa yang telah kita pikirkan. Kita sering menghabiskan waktu karena terbawa pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS. Al – Mukminuun (23): 1 – 3)

Tidak terkendalinya pikiran mengalir terus dalam benak kita dan dengan sadar kita mengalihkan pikiran dari satu hal ke hal lain. Ketidakmampuan mengendalikan pikiran ini mengakibatkna kita khawatir dan hanyut dalam kesedihan dan ketakutan. Jika kita jauh dari agama maka kita akan mudah terbawa ke khayalan yang sia-sia.

Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. An – Nisaa’ (4): 119)

Allah telah memberikan jalan keluar dari keadaan yang buruk ini.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (QS. Al – A’raaf (7): 201 – 202)

Dengan berpikir kita akan mengetahui kebenaran, namun jika kita tidak berpikir maka syaitan akan senang menyambut kedatangan kita.

Sebab-sebab manusia tidak berpikir

Orang-orang yang terbiasa berpikir dangkal telah digambarkan dalam Al-Qur’an.

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar – Ruum (30): 7-8)

Sebab orang tersesat ialah karena yakin bahwa yang dilakukan “sebagian besar” orang adalah benar. Karena manusia biasanya menerima ajaran dari orang-orang sekitarnya, daripada berpikir sendiri mencari kebenaran tersebut.

Kemalasan mental adalah faktor lain yang menghalangi kebanyakan manusia dari berpikir. Karena kemalasan mental, manusia melakukan segala sesuatu sebagaimana yang pernah mereka saksikan dan terbiasa mereka lakukan.

Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.

(QS. An – Nahl (16): 17)

Kebanyakan manusia menghabiskan hidupnya dalam ‘ketergesa-gesaan’. Mereka harus belajar dan bekerja, menanggung hidup diri dan keluarga. Karena sibuk, mereka tidak mempunyai waktu untuk hal yang lain, termasuk berpikir. Sehingga mereka tidak peka terhadap peristiwa sekitar. Namun kenyataannya, uang, belajar, bekerja bukanlah tujuan akhir. Jika kita hidup tanpa berpikir, kita akan menjadikan sarana tersebut menjadi tujuan.

Menghilangkan Penghalang Berpikir

Kebebasan diri memang dimiliki oleh setiap manusia, namun ia tetap bertanggung jawab atas diri sendiri di hadapan Allah.

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. An-Nahl (16): 38)

Dan Sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); Maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat). (QS. Al-Furqaan (25): 50)

Kesudahan mereka yang tersesat karena mengikuti kebanyakan manusia dan tidak menaati perintah Allah karena lalai akan tujuan penciptaan mereka.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. Faathir (35): 37)

Oleh karena itu, kita hendaknya membuang segala sesuatu yang mencegah kita berpikir. Lalu, dengan ikhlas dan jujur kita memikirkan ciptaan atau kejadian ciptaan Allah dan mengambil hikmah dari apa yang kita pikirkan.

Luqman Satriya Siambodo

Mahasiswa Teknik Industri UGM

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Cabang Bulaksumur-Karangmalang Sleman 2006-2007

(Sumber : Bagaimana Seorang Muslim Berpikir,

Harun Yahya, Jakarta: Robbani Press, 2003)

RAMADHAN: BULAN LATIHAN

Oleh : Luqman Satriya Siambodo

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas terucap kecuali syukur atas karunia Allah SWT untuk segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW serta seluruh keluarga, sahabat dan segenap insan pengikut beliau. Hadirin jamaah shalat isya dan tarawih, semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya.

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,(QS. Al-Baqarah: 183)

Ibadah Puasa Ramadhan telah kita jalani saat ini hingga menjelang akhir. Sebagian umat Islam berbahagia karena hari kemenangan sebentar lagi akan tiba. Beban untuk terus berpuasa dari hari ke hari akan hilang. Larangan untuk makan-minum, hubungan suami-isteri, dari subuh hingga maghrib, tak perlu lagi dijalani. Kemenangan karena sebulan telah berhasil mengekang hawa nafsu pun patut dirayakan.

Namun tidak demikian halnya dengan sebagian umat Islam yang lain, mereka bersedih karena akan kehilangan bulan yang mulia ini. Mereka harus menunggu setahun lagi untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan, itu pun jikalau masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. Kesedihan itu muncul karena mereka belum berhasil memanfaatkan bulan penuh pahala ini dengan aktivitas ibadah. Masih saja ada celah dan kekurangan di sana-sini yang membuat mereka berintrospeksi diri untuk semakin menggiatkan aktivitas ibadah.

Di bulan Ramadhan, ibadah umat Islam memang mengalami peningkatan. Hal ini tampak pada maraknya masjid, mushola, surau dan langgar dengan aktivitas ibadah. Mulai dari sholat tarawih, shalat fardhu berjamaah, buka bersama hingga tilawah al-Qur’an. Waktunya pun dapat terukur, dari mulai sore hari aktivitas remaja dan anak-anak dalam Taman Pendidikan Al-Qur’an hingga malam hari jamaah secara bersama-sama mengkhatamkan al-Qur’an selepas shalat tarawih dan witir. Semangat beribadah begitu luar biasa di bulan Ramadhan ini, karena memang Allah memberi kemudahan yang luar biasa bahkan pahala yang berlimpah kepada umat Islam.

Patut disayangkan, kegairahan beribadah itu hanya mampu dilakukan dan dirasakan di awal bulan Ramadhan. Di akhir bulan Ramadhan, jamaah memang mengalami kemajuan, namun kemajuan di sini adalah shaf shalatnya bertambah maju, dalam arti jamaahnya semakin sedikit. Masjid kembali sepi, baik untuk ibadah shalat tarawih maupun fardhu. Al-Qur’an jarang dibaca secara bersama-sama lagi sehingga target untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ini akhirnya tak tercapai.

Fokus umat Islam memang tak lagi pada aktivitas ibadah. Pandangan mereka beralih pada persiapan hari kemenangan, hari raya Idul Fitri. Mulai dari kesibukan menyiapkan makanan kecil, opor ayam, ketupat, dan hidangan Lebaran lainnya untuk menyambut tamu dan sanak saudara. Tidak hanya itu, persiapan baju baru (Lebaran) pun tak dilupakan. Tak heran bila akhirnya pasar, pusat perbelanjaan, dan mall-mall yang menjadi ramai. Gayung pun bersambut, harga bahan makanan pokok kebutuhan hari Raya meningkat seiring meningkatnya permintaan. Di sektor sandang, tidak sedikit pedagang yang menawarkan potongan harga gila-gilaan guna menarik pembeli. Tak jarang pembeli yang gelap mata untuk membeli apa saja guna dipakai di hari Raya nanti.

Demikianlah, dalam pandangan umum, bulan Ramadhan menjadi tak berbeda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Tak ada efek yang begitu berarti dari aktivitas ibadah yang telah dilakukan pada sebagian besar umat Islam. Dia menjadi istimewa ketika di awal bulan umat Islam begitu giatnya beribadah, namun menjadi kehilangan makna manakala telah tiba di penghujung akhir. Tak heran bila ada kegelisahan di sebagian umat Islam bahwa kita, sebagai umat Islam, menjalani bulan Ramadhan ini hanya sebagai ritual belaka. Tidak ada perubahan berarti dalam diri, lingkungan, masyarakat, bangsa kita, bahkan umat Islam di seluruh dunia, dari tahun ke tahun.

Ibadah puasa Ramadhan yang pada hakikatnya mengajak kita untuk menjadi manusia yang bertaqwa, ternyata ketaqwaan itu belum mampu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran yang menjadi salah satu nilai dari puasa hanya menjadi pemanis belaka. Salah satu bentuk ketidakjujuran, yakni korupsi, masih juga kita lakukan, secara sadar maupun tidak, dalam bentuk kecil maupun besar. Bahkan, dari tahun ke tahun aktivitas korupsi yang terjadi di bangsa ini makin merajalela. Sehingga, bangsa ini tak beranjak dari salah satu negara terkorup di dunia. Korupsi seakan telah membudaya dan mengakar dalam jiwa bangsa ini.

Lalu, jikalau begitu, untuk apa kemudian kita berasyik-masyuk dalam beribadah di bulan Ramadhan? Jikalau di bulan-bulan lain perilaku kita tak jauh beda dengan bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadhan tak meninggalkan bekas dalam diri kita. Bulan Ramadhan seakan tak bisa jadi momentum pengereman akan nafsu duniawi, keserakahan, nafsu ingin memiliki, nafsu merampas hak orang lain, pada diri kita. Bulan Ramadhan hanya kita jadikan sebagai perlambatan sesaat akan hawa nafsu yang kita miliki, untuk kemudian kita pacu kembali pada bulan-bulan berikutnya. Benarkah logika demikian yang kita yakini?

Tentunya tidak.

Ibadah Ramadhan hendaknya tidak kita jalani sebagai ritual belaka. Harus ada pemaknaan akan hakikat masing-masing ibadah, mulai dari puasa, tarawih, qiyamul lail, tilawah dan tadarus Quran. Hal ini tentunya dengan tidak melupakan aspek fiqh dan syariah-nya. Kejujuran dan pengekangan terhadap hawa nafsu merupakan salah satu nilai ibadah Ramadhan. Perwujudan keduanya dalam kehidupan sehari-hari amatlah penting manakala kita ingin memdapatkan kehidupan yang lebih baik, yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, akan selalu ada usaha dari diri kita manakala pemaknaan akan ibadah Ramadhan ini belum seperti yang diharapkan. Usaha ini mendorong kita untuk senantiasa melakukan perbaikan terus-menerus akan aktivitas ibadah yang kemudian terimplementasikan dalam aktivitas kehidupan.

Sejujurnya kita patut bersedih akan kehilangan lagi bulan Ramadhan. Detik-detik menjelang akhir bulan Ramadhan ini hendaknya kita manfaatkan secara optimal guna benar-benar mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan Rasulullah sendiri mencontohkan bahwa beliau semakin meningkatkan aktivitas ibadahnya di akhir bulan Ramadhan, hingga melaksanakan i’tikaf di masjid. Upaya pendekatan diri kepada Allah SWT ini berguna agar ketika bulan Ramadhan telah pergi, masih ada bekas bulan Ramadhan yang menjadi bekal bagi kita. Bekal inilah yang digunakan untuk menjalani kehidupan pada sebelas bulan berikutnya, hingga bersua lagi dengan Ramadhan berikutnya.

Semoga kita dapat memperbaiki diri selama bulan latihan ini dan kita diberi umur panjang serta kesehatan agar bisa bersua kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Amin. Billahi fii sabil-al-haq, fastabiq-al-khairat

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

RUMAH KAMI

Oleh: Luqman Satriya Siambodo

Yogyakarta dilanda gempa bumi, akhir Mei lalu. Dukuh kami pun turut menjadi bagian dari wilayah korban gempa tersebut. Puluhan rumah roboh. Ada sembilan orang yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan. Belasan lainnya menderita luka-luka. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan.

Sebagian rumah yang masih berdiri tampak miring dan retak-retak. Kondisi rumah yang demikian tidaklah layak huni. Suatu saat bangunan itu bisa saja runtuh.
Kami masih merasa was-was akan terjadi gempa besar kembali. Apalagi gempa kecil kerap kali susul-menyusul terjadi. Karena masih khawatir, kami memilih untuk berada di luar ruangan.
Hari pertama kami terpaksa menggigil kedinginan karena hanya berteduh di pinggir-pinggir jalan. Sebagian lagi rela kehujanan karena tidak kebagian tempat berteduh. Malam itu gelap gulita karena listrik tidak menyala, mati sejak pagi hari. Hujan deras mengguyur, menambah dingin suasana hingga dinginnya menusuk tulang. Keadaan ini tidak banyak berubah hingga pagi menjelang.

Beruntung kami hanya mengalaminya pada hari pertama. Di hari ketiga, kami sudah bisa mendiami tenda. Bantuan tenda itu datang sehari sebelumnya. Untuk membuat tenda tersebut digunakan peralatan sederhana dan bahan yang ada di sekitar.
Untuk memenuhi kebutuhan tidur, kami harus berdesakan di dalam tenda. Tempat tidur laki-laki dan perempuan dipisahkan. Di sini kami semakin memaknai akan arti pentingnya memiliki tetangga. Di saat kami bisa merasakan tidur di bawah satu atap, tenda bersama.

Selain dipenuhi dengan orang, tenda ini juga menyimpan barang-barang berharga. Barang yang mudah diambil dan bisa diselamatkan warga juga ditempatkan di dalam tenda.
Tenda ini sejatinya bukan milik kami. Entah bantuan dari mana. Aku cuma menerima distribusi tenda ini dari Pak RT. Aku tidak terlalu mempersoalkan. Meski kuyakin bahwa setiap bantuan diberikan membawa misi, baik itu organisasi, partai politik, ataupun agama. Tidak semata-mata atas dasar kemanusiaan.
Kuterima saja bantuan yang berdatangan. Bukan masalah bagiku bantuan tersebut berasal dari mana, yang penting saat ini adalah kebergunaan dari barang bantuan tersebut. Apakah itu bahan makanan, tenda, atau penerangan.

Kami tidak rakus dan mementingkan diri sendiri. Gempa tidak membuat kami lupa dengan tetangga dan sanak saudara di sekeliling. Bantuan itu kemudian kami bagi rata. Tak lama setelah itu, kami distribusikan dari tenda ke tenda.
Memang, di saat seperti ini, masih ada saja manusia yang egois dan rakus. Sejumlah bantuan disimpan untuk kepentingan sendiri. Bahkan bantuan tersebut bertumpuk di tempat persembunyian. Bisa dikatakan, rasa solidaritas menjadi hilang. Ketika kepentingan perut diutamakan, keagungan hati dan ketajaman rasional menjadi dangkal. Sejalan dengan itu, nilai-nilai luhur seakan sirna karena terdesak oleh kebutuhan. Padahal, dalam kondisi setelah bencana seperti ini, amatlah dibutuhkan kebersamaan dan kegotongroyongan yang tinggi.

Kebersamaan kami sedang diuji. Seiring dengan ketiadaan akan apa-apa yang pernah dimiliki. Sanak saudara yang dicintai. Harta benda. Canda ria anak cucu yang tempo hari masih kami nikmati, kini telah hilang. Rumah yang senantiasa melindungi kami dari panas dan hujan. Dimana kami menyaksikan anak-anak tumbuh, kini roboh. Bangunan yang dulu kokoh berdiri, hilang dalam sekejap.

Kami yang masih hidup bersyukur masih diberi nyawa. Dengan demikian kami masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan hidup ini. Meski hari depan masih belum jelas dalam bayangan.
Hari depan yang tidak jelas juga muncul dari tidak adanya tempat untuk bernaung. Yang biasanya hidup nyaman di bawah atap rumah, kini terpaksa lebih banyak melihat langit angkasa sebagai atapnya.
Tidak hanya itu, sanak saudara yang meninggal tentu menimbulkan dampak kehilangan yang teramat sangat. Ada beberapa warga dukuh depresi. Gila. Hingga harus dilarikan ke rumah sakit jiwa. Memang, orang yang tidak kuat secara mental akan shock bila menerima bencana semacam ini. Hanya orang tabah dan rasionallah yang mampu menghadapi segala cobaan ini.

Aku pun masih sering kalut. Di hari pertama, aku cuma duduk dan melamun. Kebutuhan makan tercukupi dari bantuan yang datang, Bahkan kadang tidak makan di hari berikutnya, karena bantuan yang datang telah habis.

Beruntung aku punya Halimah, istriku yang tabah. Ketabahan akan kondisi mengenaskan yang menimpa keluarga kami dihadapinya dengan tegar. Konon, perempuan memang lebih tegar dalam menghadapi masalah bila dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki sebenarnya rapuh dan cenderung menutupi kelemahan itu dengan citra badan yang kuat dan perkasa.

Di saat itu, aku hanya mengamati satu-persatu puing-puing reruntuhan. Tak terasa kenangan manis yang terekam dalam pikiran terpanggil kembali. Kenangan akan masa-masa indah mendiami rumah tersebut, tentu tak akan bisa hilang.
Rumah ini dahulu hanya bisa kami kontrak. Setelah perlahan kami mulai bisa menabung tiap bulan, akhirnya rumah ini terbeli.

Aku dan istriku bekerja sebagai buruh pabrik susu di Yogyakarta. Dari hasil pekerjaan tersebut, kami bersusah payah memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan hingga melunasi rumah ini. Dengan begitu, kami sering mengorbankan keinginan hidup yang menggiurkan.
Aku masih berprinsip bahwa dalam keluargaku kebutuhan pokok yang terlebih dahulu harus terpenuhi. Kebutuhan akan makan dan minum, pakaian, dan tempat tinggal. Hal yang diluar itu sering hanya menjadi keinginan. Keinginan ini tidak akan habis bila terus kita turuti. Karena itu, sebisa mungkin, kami meminimalkan pemenuhan keinginan tersebut.

Hal ini berbuah pada tiadanya kemewahan dan kemegahan akan harta benda yang kami miliki. Ajaran ini hampir mirip dengan apa yang disampaikan dalam mata pelajaran Ekonomi semasa aku di Sekolah Menengah Pertama. Meski bangunan sekolah itu kini runtuh, namun bangunan ilmu yang diajarkan oleh guru-guru di sana kepadaku tidak turut runtuh. Masih relevan terpakai hingga kini.

Harta benda kami yang paling berharga adalah rumah. Rumah kami pun tampak sederhana. Hanya ada pagar tanaman menghias di bagian depan. Pohon jambu peninggalan pemilik lama masih kokoh di tempat. Buah yang manis dihasilkan tatkala musim berbuah tiba. Dedaunannya rimbun menambah asri.
Tanaman hias berjejeran di pinggir tembok rumah, tak kuingat masing-masing namanya. Istriku yang terbiasa menyirami dan merawat, di pagi maupun sore hari. Ketelatenan istriku tidak dapat kutandingi. Waktu tersebut biasa kugunakan untuk menimba air untuk keperluan kami. Atau mencari kayu bakar di hutan bersama Hamka, putra laki-lakiku semata wayang.

Di bagian dalam rumah hanya ada satu set kursi tamu lusuh warisan dari orang tuaku. Tidak ada hiasan dinding yang terpasang. Karena dinding itu sendiri belum kami plester dengan alasan klasik. Belum ada dana.
Ruang keluarga merangkap ruang tamu ini tidak menjadikan televisi sebagai barang hiburan utama. Melainkan yang kami punyai hanya sebuah akuarium bekas dengan salah satu sisi bagian yang agak retak. Akuarium itu pun berisi ikan yang tidak menarik, bukan ikan emas atau koi, seperti yang biasa dimiliki oleh pemilik akuarium. Namun, hanya ikan sungai yang kami dapatkan dari hasil memancing.
Dapur kami masih menggunakan kompor alam buatan sendiri. Bila hendak memasak, maka kami harus menggunakan kayu bakar. Memang pernah ada pemberian kompor minyak dari saudara atas kepindahan kami ke rumah yang baru. Namun, properti itu lebih banyak menganggur karena untuk menggunakan saja butuh biaya mahal. Harga bahan bakar yang digunakan kompor itu kini melambung tinggi. Kami tidak sanggup untuk memenuhi. Kami pun kembali ke alam.

Sayang, semua itu kini hilang. Tertimbun dalam reruntuhan yang ada di depan mataku. Aku belum tahu apakah benda-benda kenangan itu masih utuh atau tidak. Di pojok reruntuhan, masih berdiri dengan posisi miring lemari pakaian yang kami miliki. Lemari itu bersandar di dinding yang telah rontok sebagian. Adapun tempat tidur kayu yang kami biasa terlelap di atasnya tidak nampak. Timbunan reruntuhan itu mengubur semuanya.

Adzan maghrib telah berkumandang. Di sebelah barat tampak cahaya emas kemerahan. Sinar hangat itu muncul seiring mentari yang hendak berpamitan. Mereka hendak berganti giliran dengan malam yang bermandikan cahaya rembulan. Langit perlahan merangkak menuju gelap.

Aku bergegas menuju masjid pedukuhan seberang. Tak lupa kuajak Hamka. Sambil berjalan, dia masih sibuk membenahi sarung dan peci kecil yang dipakai. Halimah tidak ikut ke masjid, dia sedang menjalani siklus bulanan.

Aku bersyukur, hingga saat ini kami masih bisa menjaga shalat. Hal ini telah dibiasakan dalam keluarga sejak kecil, baik itu dari keluargaku maupun keluarga istriku. Didikan keluarga yang keras dalam hal agama menjadikan kami insan yang tidak tolerir terhadap hal-hal yang mengenyampingkan ibadah. Ibadah adalah nomor satu. Titik.

Aku masih ingat, almarhum ayah senantiasa mengajak shalat ke masjid. Masjid serasa menjadi rumah kedua kami. Betapa riangnya ayah mengajak anak-anak ke masjid. Guna mengisi waktu hingga shalat Isya tiba, aku dan teman-teman diajari mengaji oleh beliau. Ya, beliau seorang guru mengaji yang handal.
Tidak hanya itu, dakwah juga dijadikan sebagai panggilan hati. Beliau sering berdakwah ke pelosok daerah. Terutama daerah yang dijadikan incaran pemurtadan. Ataupun ke daerah yang masih sarat dengan aktivitas TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churofat).
Aktivitas dakwahnya tidak berhenti manakala bertemu dan menikahi ibuku. Bahkan, sering kami ditinggal selama beberapa pekan guna memenuhi tugas, panggilan dakwah. Meskipun sering bepergian, perhatian ke anak-anaknya tak berkurang. Belaian, nasihat, ajakan, sindiran halus, dan larangan masih terngiang di kepala. Kehadiran beliau masih terasa, walau telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Masjid terdekat ada di seberang sungai. Dukuh yang kami tinggali belum didirikan masjid. Kami harus menyeberangi jembatan untuk dapat mencapai ke sana. Hamka berlari ke teman-temannya ketika tahu mereka telah berada di sana. Aku sendirian menyusuri jalan setapak. Hanya ditemani gelapnya malam dan suara jangkrik. Padang ilalang melambai tertiup angin.

Di kejauhan terdengar sayup-sayup lagu pujian kepada Tuhan dan rasul. Bentuk budaya yang ada di daerah kami, sembari menunggu jamaah berkumpul. Budaya yang dianggap sebagai bid’ah oleh sebagian kalangan. Namun, budaya ini belum bisa hilang. Telah turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.
Dua dukuh yang berseberangan sungai ini amat kontras. Dukuh seberang terkenal sebagai dukuh santri. Anak-anak gemar shalat berjamaah dan mengaji, tak lupa pula yang telah berusia dewasa. Pemuda-pemudi dukuh ini tak jarang yang menempuh pendidikan pesantren di selatan kota Yogyakarta.

Hal ini jauh berbeda dengan dukuh yang kami tinggali, bisa dikatakan dukuh abangan. Orang yang rajin shalat berjamaah di masjid bisa dihitung dengan sebelah jari. Entah bila mereka melakukan kegiatan itu di rumah, atau bahkan tidak sama sekali. Yang kutahu, sebagian besar warga dukuh ini memiliki pesawat televisi bahkan merelakan untuk memiliki secara kredit. Cukup banyak waktu yang dihabiskan guna menyimak acara televisi. Apalagi tawaran hiburan dari televisi yang kian beragam membuat penonton enggan untuk beranjak dari menyimak acara televisi.

Tidak hanya itu, pos siskamling yang sedianya difungsikan untuk menjaga keamanan dan ketertiban malah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hampir tiap malam, pos tersebut dijadikan tempat berkumpul baik itu kaum tua dan muda. Mereka berkumpul untuk main kartu, karambol, pasang judi togel, bahkan hingga pesta mabuk-mabukan. Tidak heran bila setan pun turut pula berpesta pora dalam perkumpulan itu.
Apalah daya, nasihatku sering tak digubris. Mereka mengatakan aku sok alim dan sok suci. Anjuran untuk menunaikan shalat pun hanya jadi bahan tertawaan. Sebagai orang baru, aku diultimatum untuk tidak banyak tingkah dan membiarkan apa yang telah menjadi budaya di tempat yang kami tinggali.

Seakan mereka berujar, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa yang menganjurkan agar seseorang yang menetap di suatu tempat menaati aturan yang ada pada warga di tempat tersebut. Apakah mereka benar-benar memahami peribahasa ini? Atau mereka sengaja menafsirkan dengan seenak perutnya?
Yang jelas, jumlah mereka yang dominan tentunya mendukung untuk melanggengkan kemaksiatan yang dilakukan. Tidak hanya itu, beberapa santri dari dukuh seberang yang pernah ditugaskan ke dukuh kami untuk berdakwah banyak yang menyerah di tengah jalan. Mereka putus asa akan tekanan fisik maupun mental yang diberikan oleh penduduk dukuh abangan ini.

Namun, kondisi di dukuh santri lebih mengenaskan. Bukannya dalam hal keadaan warganya yang rusak, namun kondisi lingkungan yang timbul akibat bencana. Rumah yang ada di dukuh santri sebagian besar roboh, sedangkan jumlah rumah yang roboh di dukuh abangan yang kutempati tidak sampai separuh dari jumlah rumah keseluruhan. Konon, kampung dukuh santri termasuk jalur patahan gempa, sehingga efeknya begitu terasa. Lain halnya dengan kondisi rumah-rumah di dukuh abangan yang tidak separah itu. Aku jadi bertanya-tanya: adilkah jika Tuhan menghukum hamba-Nya yang alim dan taat beribadah sementara Dia malah membiarkan hamba-Nya yang lalim terus hidup? Bahkan hanya mau mengingat-Nya sejenak seusai gempa.

Hampir tiap waktu shalat berjamaah di masjid ini dipenuhi jamaah. Mungkin, hal itu pula yang masih membuat rumah Allah ini masih terus berdiri. Memang, jamaah waktu shalat Dhuhur dan Ashar paling sedikit jumlahnya, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Saat itu, warga tengah asyik di sawah dan ladang. Pakaian dan badan mereka kotor bercampur tanah. Kondisi yang tidak nyaman untuk melangsungkan shalat. Bisakah hal itu dijadikan alasan?

Muadzin mengumandangkan iqomah. Shalat berjamaah segera dimulai. Jamaah saling merapatkan shaf. Suasana mulai gelap, yang jelas membedakan hanya cahaya bulan. Kami shalat dalam keadaan remang-remang. Kurang menyenangkan, memang. Tapi, kami harus terbiasa dengan kondisi seperti ini. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Listrik memang belum menyala di tempat kami, semenjak gempa lalu. Maklum, daerah kami memang bukan jalur utama di daerah ini. Sehingga, pembenahan sarana prasarana umum amatlah wajar bila terlambat. Kami lalu menggunakan sarana yang ada. Lampu teplok pun jadi pilihan.

Bila dibandingkan dengan sebelum gempa, saat ini jamaah bertambah banyak. Syukurlah, berarti kesadaran warga untuk dekat dengan Tuhan makin tinggi. Kuharap hal ini bukan menjadi obat penenang sementara. Semoga bisa berlanjut hingga seterusnya. Shalat berjamaah yang terus terjaga dan warga bersama-sama meramaikan masjid dengan ibadah.

Meski demikian, kedekatan dengan Tuhan ini tidak lalu menjadikan hamba-Nya pasif. Kami pun harus menatap realitas kehidupan. Menata kembali kehidupan ke keadaan normal. Membangun lagi rumah yang telah ambruk. Dengan perlengkapan seadanya. Kami tetap harus kembali bekerja, sebagai penyambung hidup sehari-hari, meski belum ada kepastian bahwa tempat kerja kami selamat dari bencana. Entah kami akan mencari bantuan dan pekerjaan ke mana bila tempat kerja kami turut hancur. Kami hanya bisa bersabar, berdoa dan berusaha. Masalah hasil biarlah Allah yang menentukan.
Malam semakin gelap. Sebagian warga sudah mulai tertidur. Sedangkan beberapa kaum Adam masih terjaga.

Keesokan harinya, warga dukuh kami berembug di tanah yang cukup lapang dan teduh. Ada kesepakatan untuk membangun kembali rumah-rumah yang ada satu-persatu. Dengan bahan seminimal mungkin yang bisa didapatkan dari sisa-sisa reruntuhan.

Bangunan yang tidak terlalu parah kerusakannya, baik itu rumah, sekolah, maupun tempat ibadah, kami perbaiki terlebih dahulu. Supaya bisa segera dihuni dan digunakan untuk kemanfaatan bersama. Sedangkan bangunan yang miring akan dirobohkan. Hal ini kami lakukan sambil menunggu janji Pemerintah yang akan mengucurkan bantuan untuk membangun kembali daerah kami.

Ya, janji tinggallah janji ……

Yogyakarta, 29 Juni 2006

BILAL BIN RABAH: MUADZIN PERTAMA DALAM ISLAM

Oleh : Luqman Satriya Siambodo

Bilal bin Rabah, budak berkulit hitam, memiliki badan yang tinggi dan langsing, memiliki rambut yang tebal dan cambang yang tipis. Meski kulitnya hitam, memiliki garis keturunan yang rendah, dan betapa hina dirinya karena sebagai budak dia memilih memeluk Islam, dan bila dipuji senantiasa berkata: “Sungguh, saya ini hanyalah seorang Habsy, dan kemarin saya hanyalah seorang budak!”

Kehidupannya tidak berbeda dengan budak-budak yang lain. Hari-hari yang suram seakan tak punya harapan akan hari esok. Dia telah mendengar tentang dakwah Muhammad ketika mulai dibicarakan oleh penduduk Mekkah. Di suatu hari, Bilal menemui Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Bilal telah menerima cahaya Ilahi dan bergema di lubuk hatinya.

Ketika telah diketahui memeluk Islam oleh kaum Quraisy, ia segera menjadi sasaran penyiksaan sebagaimana orang-orang saleh lainnya. Dia dibaringkan dalam keadaan telanjang di atas batu membara. Dia disuruh meninggalkan agama barunya, namun ia menolak.

Kejam dan biadabnya siksaan ini diulangi setiap hari. Beberapa penyiksanya merasa kasihan dan sepakat akan membebaskan jika Bilal mau menyanjung tuhan-tuhan mereka. Namun, Bilal tetap menolak mengatakan dan terus mengatakan: “Ahad.. Ahad!”

Sehingga Bilal tetap didera panas dan tindihan batu. Ketika matahari tenggelam, mereka menegakkan badan dan mengikat leher Bilal, setelah itu menyuruh anak-anaknya mengelilingi bukit dan jalan di Mekkah. Namun, mulut Bilal tak mengucapkan apapun kecuali: “Ahad … Ahad!”

Hari selanjutnya, Bilal dibawa ke padang pasir. Dia tetap sabar, berani, tabah dalam menghadapi ganjaran di hari akhir siksaannya. Abu Bakar lalu datang menawarkan kebebasan Bilal karena kaum Quraisy telah putus asa menaklukkan Bilal. Setelah dibebaskan, Bilal berangkat bersama Abu Bakar menemui Rasulullah.

Setelah Rasulullah bersama kaum Muslimin hijrah dan menetap di Madinah, Rasulullah mengadakan/melembagakan adzan. Bilal dipilih oleh Rasulullah untuk menjadi muadzin pertama dalam Islam. Dengan suaranya yang merdu, ia mengisi hati, keimanan, dan telinga dengan keharuan ketika ia mengumandangkan:

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu alla ilaha illa Allah

Asyhadu alla ilaha illa Allah

Asyahadu anna Muhammad ar Rasulullah

Asyahadu anna Muhammad ar Rasulullah

Hayya ‘ala shalah

Hayya ‘ala shalah

Hayya ‘ala al-falah

Hayya ‘ala al-falah

Allahu Akbar Allahu Akbar

Laa ilaha illa Allah

Luqman Satriya Siambodo

Mahasiswa Teknik Industri UGM

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Cabang Bulaksumur-Karangmalang Sleman 2006-2007

Halaman Berikutnya »