Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009


Berbisnis memiliki ruang hidupnya sendiri-sendiri. Berbisnis cara Cina (peranakan/etnis Tionghoa) tentunya berbeda dengan berbisnis cara pribumi. Keduanya pun menghasilkan tingkat kekayaan yang berbeda dan keberhasilan bisnis yang berbeda pula.

Orang pribumi (Jawa pada umumnya) berbisnis dengan masih memperhatikan fungsi sosial. Jika ada acara tetangga, kematian maupun hal-hal yang terkait dengan fungsi sosial (keluarga maupun masyarakat) dan tidak ada kaitannya dengan bisnis yang dilakukan, maka bisnis orang pribumi akan ditutup untuk sementara. Jika bisnis berupa toko, kantor, deal, ataupun perjanjian jual beli yang telah direncanakan sebelumnya, maka hal tersebut akan ditunda hingga pemenuhan kebutuhan sosialnya itu tunai.

Hal ini berbeda dengan ketika orang Cina berbisnis (etnis Tionghoa maupun keturunan Cina). Mereka tetap membuka bisnis yang dijalankan meski ada kegiatan sosial yang mesti dijalankan. Bagi mereka, kesempatan dan waktu teramat berharga sehingga kehilangan pelanggan (pembeli) adalah hal yang teramat malang bagi usaha (bisnis) mereka. Oleh karena itu, semangat bisnis orang Cina tidak redup oleh keadaan di luar diri dan bisnisnya, fungsi sosial berjalan sebagaimana mestinya, seiring sejalan dengan aktivitas bisnis yang terus dijalankan olehnya.

Ketika orang pribumi memiliki pendapatan dari bisnis tersebut, maka kecenderungan untuk melakukan investasi kembali teramat kecil. Keuntungan itu cenderung untuk pemenuhan kebutuhan bahkan keinginan untuk mengonsumsi. Seringkali, kebutuhan untuk mengonsumsi (pengeluaran) lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh. Bahkan, tak jarang dalam bisnis pribumi, tak bisa dipisahkan antara pendapatan pribadi (keluarga) dan pendapatan bisnis. Patut disayangkan, uang (harta) yang didapatkan dari bisnis itu tak menjadi entitas yang produktif lagi.

Lain halnya dengan ketika orang Cina memiliki pendapatan dari bisnis, maka dia akan berkecenderungan untuk menginvestasikannya dalam usaha penunjang bisnis utamanya. Pendapatan dari keuntungan usaha penunjang inilah yang dijadikan kebutuhan konsumsi, atau pemenuhan kebutuhan dilakukan melalui sektor lain yang juga dijadikan sebagai mata pencaharian. Dalam prinsip Cina, tidak boleh berlaku pasak lebih besar daripada tiang, namun pendapatan harus sebesar mungkin jika dibandingkan dengan pengeluaran.  Tidak hanya itu, dalam pengelolaan keuangan, pendapatan pribadi (keluarga) orang Cina dipisahkan dari pendapatan bisnis. Sehingga, keduanya dapat terpisah dan terkelola secara baik. Akhirnya, uang (harta) hasil bisnis itu dapat menjadi entitas yang lebih produktif lagi.

Dalam berbisnis, seorang pebisnis akan mencintai dengan sangat bisnis yang dijalankannya. Ibarat mata pencaharian, maka diri dan keluarga yang ditanggungnya atupun masa depan diri dan generasi penerus berada di tangan kendali bisnis yang dilakukan. Bisnis adalah kehidupannya sehingga dari waktu ke waktu tak hentinya pebisnis tersebut memikirkan bisnis yang dilakukannya, laba/rugi, ekspansi dan diversifikasi usaha. Bahkan, jika masih belum memungkinkan bagi pebisnis untuk memiliki rumah sendiri dari pendapatannya, maka dia akan menjadikan toko/kantor tempat menjalankan bisnis sebagai rumahnya pula (tentu dengan pembagian ruang yang berbeda). Alhasil, bisnis dan kehidupan pribadi pebisnis jadi menyatu.

Yogyakarta, 6 Mei 2009

Penantang Presiden SBY dalam Pemilihan Presiden 2009 merapatkan barisan. Golkar, Hanura, PDI-Perjuangan, Gerindra mulai sering menjalin komunikasi politik dan menggagas koalisi besar. Masing-masing partai politik ngotot menyorongkan ketua umumnya maju sebagai calon presiden menantang SBY. Sepekan yang lalu, Jusuf Kalla dan Wiranto mendeklarasikan duet tersebut sebagai capres-cawapres penantang SBY.

Perhitungan politik cukup berat jika capres Mega dan Jusuf Kalla berpisah jalan, dalam arti maju sendiri-sendiri. Memang, jika mereka mampu mengumpulkan jumlah suara yang tepat, maka tingkat keterpilihannya akan tinggi. Seperti halnya analisis yang kulakukan beberapa waktu lalu, peluang koalisi ini besar untuk menggagalkan SBY melanjutkan kepemimpinannya. Namun, syarat dukungan partai guna pencalonan presiden ini perlu mereka penuhi agar skenario kemenangan bisa berjalan dengan baik. Hal yang berkembang akhir-akhir ini menunjukkan bahwa peluang keduanya malah menjadi semakin sempit, sedangkan tingkat elektibilitas SBY bertambah asalkan SBY tidak melakukan blunder sebelum Pemilu Juli nanti.

Memang, guna mengalahkan sang juara bertahan (Presiden SBY) bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Upaya Presiden SBY untuk memenangkan kembali Pemilu Presiden ini, setelah kemenangan Partai Demokrat di Pemilihan legislatif (berdasarkan Quick Count), tentunya bakal menorehkan sejarah baru di Indonesia yakni sebagai Presiden pertama Indonesia yang berhasil menduduki jabatan presiden selama dua kali masa jabatan setelah orde reformasi. Kecerdasan dan kehati-hatian SBY mendapatkan tantangan dari kecepatan dan ketegasan JK-Wiranto saat ini, tentunya membutuhkan strategi tersendiri bagi tim pemenangan SBY agar bisa sukses tetap berada di Istana Negara.

Yogyakarta,6 Mei 2009

Dua dosa besar yang diwariskan oleh Orde Baru adalah utang bangsa ini yang begitu besar sehingga harus ditanggung oleh generasi selanjutnya dan pemiskinan ideologi sehingga generasi muda tak lagi memiliki cita-cita tinggi. Persoalan pertama memang mampu diatasi dengan pemberdayaan dan kekuatan ekonomi yang mampu dibangun oleh suatu negara, namun persoalan kedua bukanlah hal yang mudah karena terkait masalah mental dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa ini nantinya.

Kemiskinan ideologi ini ditunjukkan oleh ketidakmampuan para generasi muda untuk meneladani para pendahulunya, the founding fathers (bapak pendiri bangsa). Keluasan wawasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki para pendahulu juga kecintaan dan pengabdian sepenuhnya pada bangsa tentunya patut untuk diteladani. Mereka tidak berpikir untuk kepentingan diri mereka sendiri, kelompok ataupun golongan. Mereka berpikir dalam konteks bangsa dan dunia, mereka bekerja dan hidup untuk kedua hal tersebut. Oleh karena itu, capaian-capaian besar terjadi pada masa mereka baik dalam lingkup bangsa maupun dunia.

Miskinnya ideologi juga tampak pada dangkalnya pikiran dan target hidup yang ingin dicapai oleh generasi muda saat ini. Orientasi generasi muda saat ini tidak jauh dari menjadi populer (terkenal), kaya raya, hiburan dan kesenangan hidup atau keshalihan pribadi hingga mati masuk surga. Hampir tidak ada sebersit pun pikiran untuk masyarakat, bangsa dan negara, apalagi dunia. Alhasil, generasi muda Indonesia hidup dalam individualitas dan merasa asing antara satu dengan yang lainnya. Mereka tidak hidup bersama sebagai satu bangsa, memikirkan kepentingan bersama dan menomorsekiankan kepentingan pribadi/kelompok.

Ada dua skenario yang bakal muncul dari keadaan yang demikian. Skenario tersebut diantaranya adalah:

  1. Jika bangsa ini bisa maju, maka akan terjadi ketimpangan yang besar, yakni antara yang kaya dengan miskin, maju dan terbelakang, pintar dan bodoh, karena bangsa ini hidup dalam individualitas bukan kebersamaan (kegotongroyongan).
  2. Bangsa ini sulit maju karena entitas bangsa sibuk memikirkan tentang dirinya masing-masing, bukan memikirkan dan bertindak atas dasar satu kesatuan entitas tersebut. Alhasil, keadaan bangsa ini hanya berlangsung seperti sekarang ini (dalam wujud yang berbeda-beda) atau menjadi lebih parah dan memprihatinkan.


Antasari Azhar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ditahan atas dasar tuduhan menjadi dalang pembunuhan Nasrudin, direktur utama Rajawali Nusantara Indonesia. Posisi Antasari sebagai pemimpin lembaga yang kredibel, dihormati dan disegani di negeri ini, dipertaruhkan. Begitu juga dengan kredibilitas lembaga yang selama ini begitu kuat untuk menekan jumlah korupsi dan menyeret para koruptor mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Memang, kasus yang menimpa Antasari bukanlah kasus korupsi, melainkan tindak kriminal murni. Namun hal tersebut tidak mengurangi sangkut paut dirinya dan lembaga yang dipimpinnya. Motif yang mendasari dari tindak kriminal tersebut ditengarai akibat persaingan dalam romansa cinta segitiga antara Antasari, Rani Juliani, dan Nasrudin.

Rani Juliani adalah seorang gadis berusia 20-an tahun, pernah bekerja sebagai seorang caddy (pengantar peralatan golf di lapangan) di Modern Golf. Saat ini dirinya tengah menyelesaikan kuliah dan bekerja di sebuah bank. Perkenalan diantara ketiganya (terjadi masing-masing) tentulah terjadi ketika ada interaksi di lapangan golf tersebut. Bisa jadi, dari sana tumbuh benih-benih cinta yang mengakibatkan kecemburuan hingga berujung menjadi motif pembunuhan.

Menjadi pemimpin memang bukanlah yang mudah. Ketika seseorang menjadi pemimpin, akan ada tiga ujian, yakni harta, tahta, dan wanita. Jika seorang pemimpin mampu melewati dua ujian sebelumnya, yakni harta (misal korupsi) dan tahta (godaan kekuasaan dan penyalahgunaan) maka dirinya akan diuji oleh godaan yang terberat yakni wanita (lawan jenis). Seringkali, para pemimpin (laki-laki) rontok pada ujian yang ketiga ini.

Hal-hal yang sepele bahkan terkesan kekanak-kanakan seringkali terjadi akibat motif untuk mendapatkan (memperbanyak) wanita dalam kehidupan pribadinya. Layaknya lagu dari Queen, To Much Love Will Kill You. Memang, terlalu banyak cinta akan “membunuh” seseorang. Terlalu banyak cinta, terlalu banyak wanita (tidak puas dan merasa cukup dengan istri yang sudah ada) akan menjerumuskan seseorang, siapapun itu, hal ini juga berlaku pada kejadian yang menimpa Antasari saat ini.

Yogyakarta, 5 Mei 2009

Katolik dan Protestan merupakan sama-sama agama penganut Kristen (Nasrani). Menurut sejarah yang kutahu, Kristen Katolik merupakan agama yang kolot dan konservatif, sedangkan Protestan merupakan agama yang menjadi semacam pembaharuan atas tafsir Kekristenan. Keduanya memiliki kitab yang sama, struktur ibadah dan agama yang hampir sama sehingga keduanya seringkali susah dibedakan. Yang kutahu, penganut Katolik pada umumnya lebih militan terhadap agamanya dan berpandangan kolot (konservatif). Namun biasanya, dari pergaulanku selama ini kepada pemeluk agama ini, maka mereka seringkali menjadi orang yang cerdas dan pintar, paling tidak di bidang kompetensinya atau dalam filsafat. Pemeluk agama Katolik memiliki sumber daya yang besar, khususnya di Indonesia ini, mulai dari pengusaha, ilmuwan, penulis, pemilik media, sehingga agama ini makin menunjukkan kedigdayaannya. Sedangkan, penganut Protestan setahuku tidak terlalu militan terhadap agamanya. Mereka juga tidak terlalu menampakkan simbol-simbol yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang penganut ajaran Kristiani. Yang kutahu, mereka bangga dan percaya diri akan agama yang dianutnya. Meski kutahu, agama ini memiliki permasalahan (konflik terselubung) dengan agama Katolik. Aku tidak bisa melakukan kategorisasi terhadapnya, sempalan atau pembaharuan.