Yogyakarta, Rabu, 24 Juni 2009
Haidar Bagir adalah salah satu tokoh intelektual muslim yang berpengaruh di Indonesia. Lulusan Teknik Industri ITB ini, selain dikenal sebagai seorang cendekiawan muslim, lewat pendidikan doktoral yang ditempuhnya, dan pendidikan magisternya di Harvard University. Tidak hanya itu, beliau juga mempunyai jiwa bisnis yang terkait dengan hobi yang ditekuninya, membaca dan menulis, yakni usaha penerbitan.
Mizan merupakan usaha penerbitan yang ditekuni olehnya bersama kedua rekanannya di Masjid Salman ITB. Usaha penerbitan Mizan pada awalnya fokus pada bahasa tentang Islam dan khazanah pemikirannya. Sejak tahun 1983 hingga saat ini, Mizan menjadi salah satu penerbitan besar di Indonesia. Bahkan, Mizan telah memperluas usahanya ke buku-buku umum, usaha di bidang pendidikan dan film.
Haidar Bagir dilahirkan dari keluarga pedagang di Solo. Tak heran, jiwa bisnis yang dimilikinya merupakan turunan dari ayahnya. Namun, yang membuatnya luar biasa adalah intelektualitasnya yang mumpuni di bidang pemikiran dan filsafat Islam. Suatu hal yang langka dan luar biasa dimiliki oleh enterpreneur (apalagi yang berbasis Islam/santri) di Indonesia ini. Biasanya, seorang pengusaha (enterpreneur) meninggalkan sisi intelektualitas di dirinya karena lebih fokus pada langkah taktis peningkatan modal, aset dan pengembangan usaha.
Bisa dikatakan, Haidar Bagir akan menjadi ikon perubahan muslim modern Indonesia saat ini, mengingat beliau adalah seorang intelektual muslim yang produktif, pengusaha muslim yang kuat dan terdidik secara akademik yang terbaik di negeri ini. Apalagi, gerbong transformasi juga diusung oleh adiknya Zainal Abidin Bagir (berpendidikan Matematika ITB) dengan tradisi pemikirannya yang digawanginya di Cross Religion and Cultural Studies (CRCS) UGM. Alhasil, keduanya akan saling melengkapi untuk membangun kehidupan intelektualitas (filsafat dan pemikiran Islam) di bumi Indonesia ini.
Yogyakarta, Jum’at, 19 Juni 2009
Dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah mendukung pasangan presiden dan calon presiden Jusuf Kalla-Wiranto dalam Pemilihan Presiden 2009. Hal ini diangkat sebagai tema berita oleh surat kabar Republika. Hal itu pulalah yang tersirat dari pengajian malam selasa PP Muhammadiyah di Kauman, dimana pengajian yang diisi oleh Ayahanda Kastolani itu mengetengahkan Maklumat PP Muhammadiyah terbaru terkait Pemilihan Presiden 2009.
Meski dalam Maklumat tersebut tidak secara tegas menyebutkan figur Jusuf Kalla sebagai calon presiden, namun dari pemillihan kata dan maksud yang terkandung dalam Maklumat itu mudah ditebak ke arah mana preferensi pilihan keputusan PP Muhammadiyah tersebut. Faktor identitas kemuslimanlah yang paling menjadi sorotan atas figur calon presiden dan wakil presiden berikut istri pendampingnya (keluarga).
Dalam konteks keluarga, Jusuf Kalla merupakan keturunan H. Kalla, seorang pedagang muslim yang giat di NU Sulawesi Selatan. Bisnis yang diturunkan ke generasi berikutnya, yakni kepada Jusuf Kalla makin berkembang pesat, sehingga menempatkan Jusuf Kalla sebagai salah satu pengusaha muslim nasional.
Latar belakang organisasi yang digeluti Jusuf Kalla adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga tidaklah diragukan komitmen dan keberpihakan beliau terhadap Islam. Beliau juga beristrikan Mufidah Kalla, seorang pegiat Aisyiah dan dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah di Sumatera Barat.
Begitu pula dengan Wiranto, purnawirawan TNI ini menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren Modern Gontor, sehingga jelaslah bahwa ada keberpihakan dirinya terhadap Islam. Memang, latar belakang keislaman Wiranto tidaklah sekental Jusuf Kalla, karena beliau dibesarkan dalam karir militer, bukan sipil berbasis Islam.
Pasangan ini juga pantas menyebut dirinya pasangan Nusantara, mengingat Jusuf Kalla berasal dari Sulawesi, Mufidah dari Sumatera, Wiranto dari Jawa dan istrinya berdarah Kalimantan. Memang, duet ini menjadi kombinasi yang unik akan pasangan calon presiden dan wakil presiden dibandingkan dengan pasangan lainnya, SBY-Boediono dan Mega-Prabowo yang lebih kental bernuansa Jawa.
Alhasil, pasangan ini memang pantas untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah (maupun NU) dan umat Islam dalam pemilihan Presiden 8 Juli nanti.
Yogyakarta, Jum’at, 19 Juni 2009
Manajemen proyek merupakan buku yang kucicil untuk kubaca hari ini. Buku ini kubeli secara diskon di toko buku Toga Mas kurang lebih sebulan yang lalu. Niatan diriku waktu itu adalah mengumpulkan kembali buku-buku yang menjadi kompetensi inti sehingga aku dapat kembali menjadi seorang industrial engineer yang baik, bahkan hebat.
Aku menemui hambatan di dalam hidup ini. Memang, aku terkendala dalam persoalan cakupan, waktu dan biaya dalam manajemen hidupku. Aku tidak bergerak dalam kompetensi inti, namun terlalu sibuk, bahkan terlalu banyak kompetensi sampingan (penunjang) yang ingin aku tempuh. Padahal, kompetensi intiku juga butuh konsentrasi tenaga, waktu, biaya dan pikiran. Oleh karena itu, hasil yang kuperoleh tidak dapat maksimal karena sumber daya yang kumiliki terpecah-pecah.
Aku jadi tahu, aku mesti memfokuskan diri pada hal-hal yang benar-benar penting di dalam hidupku. Dalam penggunaan segenap sumber daya: tenaga, waktu, biaya dan pikiran haruslah demikian. Hal ini jika aku ingin maju dengan cepat, efektif dan efisien. Kekeliruan yang terjadi padaku selama ini menyebabkan langkah-langkah di dalam hidupku tidak menjadikanku efektif dan efisien.
Dalam penggunaan tenaga, waktu dan pikiran, prioritasi faktor untuk hal-hal yang ingin ditempuh (dilakukan) merupakan langkah yang penting. Aku mengupayakan diriku untuk berkonsentrasi pada hal-hal terpenting untuk saat ini, misalnya studi, bahasa Inggris, dan kemampuan logika. Hidupku juga dipenuhi dengan target baik itu soal ketiga hal tadi maupun dalam soal agama (ibadah). Jadi, dari hari ke hari, hidupku senantiasa terpacu untuk berbuat lebih baik dan menjadi hebat.
Dalam penggunaan keuangan, terkait persoalan biaya, konsentrasiku pada kebutuhan primer terlebih dahulu, kebutuhan mendesak dan penting, baru kebutuhan sekunder (seperti majalah Tempo, Intisari, SM, dan buku). Aku mengerucutkan sumber pengetahuanku pada sejumlah referensi di atas saja, mengingat kemampuan keuanganku belumlah menunjang untuk pemenuhan kebutuhan referensi dari sumber lainnya (yang lebih banyak dan bagus). Dengan demikian, alokasi keuangan yang dapat dihemat dapat disimpan (ditabung) guna kesiapan masa depan, memperbesar kekayaan, membangun aset dan pemasukan pasif, serta beramal di kemudian hari.
Aku butuh langkah-langkah taktis, cepat dan strategis, mengingat aku sudah jauh tertinggal dan mengalami keterlambatan studi. Tidak hanya itu, keterlambatan dan keteledoran ini juga tercermin dari perjalanan sehari-hari yang tidak beres. Memang, secara perlahan aku mulai membenahi segalanya, mulai dari penjadwalan, target ibadah, target harian, pekanan, bulanan dan tahunan dalam hidup, dan aku memantapkan kedisiplinan diriku. Jujur, aku membutuhkan ruang untuk bekerja (menghasilkan pemasukan bentuk apapun secara halal) dalam waktu dekat, selepas studi ataupun sebelumnya. Jika aku tidak melakukan reformasi diri secara mendasar, maka aku tidak akan dapat bangkit dari keterpurukan hidup ini. Aku sadar, aku masih punya kesempatan untuk kembali memainkan peranan penting dalam kehidupan ini.
Yogyakarta, Rabu, 17 Juni 2009
Hidupku tersusun atas mozaik. Kumpulan bagian kehidupan yang mesti cerdas kurangkaikan sehingga menjadi secara keseluruhan kehidupanku. Tidak banyak manusia yang mengerti tentang mozaik hidupnya. Lebih banyak dari mereka yang menjalani hidup ini apa adanya, menjalaninya seperti air yang mengalir. Mereka tidak memaknai dan mengenali hidup mereka sendiri.
Mozaik dalam hidupku adalah bagian dari hidupku. Aku berusaha mengenali, memaknai dan mengambil hikmah perjalanan hidupku darinya, apalagi di masa-masa golden age (0-5 tahun), di masa-masa itulah, keseluruhan perjalanan hidupku tidak akan jauh berputar, meski aku tidak menafikan faktor lingkungan dan perkembangan diri. Namun, aku yakin, pasti ada keterkaitan antara capaian-capaian dan perjalanan hidupku saat ini dengan pengalaman hidupku di masa golden age tersebut.
Salah satunya pilihanku terhadap bidang keteknikan industri, maka jika ditarik garis lurus terhadap kehidupan masa kecilku, maka aku hidup di Ujung Pandang (Makassar) dahulu ada di lingkungan yang bertetanggaan dengan pabrik roti dan ladang tebu. Keduanya adalah bentuk manifestasi dari hal yang kucapai di saat ini.
Kehidupan keagamaan yang kumiliki tidak lepas dari didikan yang baik dari kedua orang tuaku, mulai dari pengajaran shalat, puasa, shalat jum’at, mengaji, buku-buku tafsir Al-Azhar dan Kisah Nabi dan Rasul karangan Hamka membuat hidupku di saat ini juga tidak jauh dari tema-tema agama. Aku bersyukur memiliki kedua orang tuaku sebaik beliau berdua, dalam kehidupan keagamaan yang menuju matang.
Begitu pula dengan minatku pada hal-hal yang berbau sosial, budaya, ekonomi dan politik, dikarenakan di masa kecil aku begitu akrab dengan tembang-tembang Iwan Fals dalam album “Surat Buat Wakil Rakyat”. Alhasil, nyanyian-nyanyian masa kecil membentukku jadi pribadi yang seperti ini.
Tidak hanya itu, dalam soal prinsip, aku tidak begitu menyukai menjadi bagian dari arus massa, pandangan umum, ataupun pendapat banyak orang. Aku menyakini kebenaran maupun sikap yang kutunjukkan adalah berdasarkan hasil pemikiran dan perenungan yang kulakukan, bukan berdasarkan atas pengaruh massa atau trend yang berkembang. Hal ini tercermin pula pada masa kecilku yang tidak mau mengalah pendapat terhadap sekelompok kawanku sehingga terpaksa harus berkelahi untuk mempertahankan pendapatku. Meskipun akhirnya aku tahu bahwa sebenarnya dirikulah yang salah, aku bangga karena aku telah mampu mempertahankan prinsip dan keyakinanku.
Aku yakin, akan ada banyak bagian-bagian dari hidupku yang bisa ditarik garis lurus terkait kehidupan yang kujalani kemarin, saat ini dan mendatang dengan masa-masa golden age yang pernah kulalui. Aku hanya perlu melihat kembali, merenung, memaknai, bertindak atasnya dan menjalani kehidupan ke masa depan dengan lebih baik.
Yogyakarta, Rabu, 17 Juni 2009
Siang hari Senin kemarin, aku menemani Zul mencari sejumlah informasi usaha di Yogyakarta. Kami bergerak menuju ke HIPMI DIY dan Kadin DIY. Kedua institusi ini merupakan penjaga gawang kegiatan ekonomi bisnis di wilayah DIY. Tentunya, mereka memiliki informasi terkait sektor usaha (bisnis) di wilayah DIY ini.
HIPMI merupakan wadah pengusaha muda yang berada di Indonesia. Mereka memiliki perwakilan di masing-masing propinsi, seperti layaknya organisasi-organisasi lainnya. Aku memandang bahwa HIPMI merupakan wadah yang baik bagi pengusaha muda untuk semakin mengembangkan diri dan usaha mengingat kekuatan jejaring dan tender proyek (usaha) yang bisa dimenangkan dan saling berbagi. Entahlah, bisa jadi ada juga persaingan di tingkat pengurus dan anggota HIPMI sendiri terkait kekuasaan di HIPMI mengingat HIPMI mempunyai akses dan daya tawar yang cukup tinggi ke kalangan penguasa (pemerintah).
Kadin merupakan lembaga pemerintah yang membidangi urusan dagang dan industri. Bisa jadi, urusan kebijakan, standardisasi, pelatihan merupakan bagian yang diurusi oleh Kadin ini. Kadin merupakan ruang dimana pemerintah mempunyai tangan kuasa dan pengelolaan terhadap kepentingan bersama atas perusahaan (dagang dan industri).
Tidak hanya itu, aku juga mengontak rekanku Sumartono yang berada di Dinas Perdagangan Pusat di DIY. Kuharap dia bisa membantu kami juga, ternyata tidak, namun dia menyarankan agar kami menuju ke Dinas Perindustrian dan Koperasi DIY. Kami sudah merasa cukup dengan data dari HIPMI dan Kadin, jadi kami menganggap pencarian ini cukup sudah.

Pesan dan Kesan